Di dalam Shohih Muslim,

Di Kitabul Jihad was siyar (كِتَاب الْجِهَاد وَالسِّيَرِ ) [Kitab jihad dan ekpedisi],

Di bab kedua (باب تَأْمِيرِ الإِمَامِ الأُمَرَاءَ عَلَى الْبُعُوثِ وَوَصِيَّتِهِ إِيَّاهُمْ بِآدَابِ الْغَزْوِ وَغَيْرِهَا ) [Bab Imam menunjuk pimpinan ekpedisi perang dan menasehati mereka mengenai adab-adab perang dan hal-hal yang terkait],

Sahabat Buraidah bin Al-Hashib radhiyalloohu ‘anhu menceritakan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam mengenai adab-adab perang. Di dalam hadits yang panjang itu, ada kutipan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam yang menarik perhatian saya.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ ، فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ أَمْ لَا ؟

“Dan jika kamu telah mengepung penjaga benteng (Ahlul Hishn), lalu mereka memintamu untuk menghukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah.

Maka janganlah kamu hukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah. Akan tetapi hukumilah mereka dengan berdasarkan hukummu (ketentuan/ketetapan darimu).

Karena kamu tidak tahu, apakah kamu akan memberikan hukum Allah kepada mereka atau tidak. (atau karena kamu tidak tahu apa hukum Allah pada mereka) “ [Hr. Muslim, hadits no. 1731]

***
Perkataan Rasulullah ini cukup menakjubkan saya, karena Rasulullah sendiri memberikan dispensi bagi orang-orang yang tidak mengetahui hukum Allah untuk menggantinya dengan kebijakannya sendiri.

Sehingga faedah bagi kita pada abad modern ini, tidak setiap orang yang menetapkan hukum atau undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah itu bisa langsung OTOMATIS dikafirkan.

Karena bisa jadi mereka tidak tahu akan hukum Allah, sehingga mereka hanya menetapkan apa yang mereka kira baik.

Atau karena terkena tekanan “kalah suara” akibat sistem demokrasi, sehingga pendukung hawa nafsu (Ahlul Hawa’), orang munafik, dan orang-orang kafir beserta pendukungnya berhasil memaksa mereka untuk bersikap kompromistis.

Atau karena mereka terkena syubhat-syubhat faham-faham Sekulerisme, Liberalisme, atau Pluralisme; yang kemudian beranggapan hukum Allah itu lentur dan harus bisa disesuaikan dengan zaman.

Sebagaimana ini adalah salah satu syubhat Munawir Syadzali, hingga beliau ingin agar hukum waris direvisi dan laki-laki serta wanita mendapatkan bagian yang sama.

Atau syubhat-syubhat kaum liberal yang lainnya seperti syariat poligami itu hanya karena waktu zaman perang saja, untuk melindungi janda-janda yang suaminya korban jihad. Sehingga kebanyakan istri Rasulullah itu janda, dan hanya Aisyah saja yang perawan.

Atau syubhat-syubhat bahwa hukum hudud dan jinayat itu bisa diganti dengan hukuman penjara saja.

Atau terjebak sistem konstitusi dan argumentasi kontrak sosial, dengan berkilah menggunakan dalil kisah historis Piagam Madinah.

Dan lain-lain yang pada intinya karena syubhat itu, maka mereka menetapkan hukum-hukum yang lain dari yang telah ditetapkan Allah.

***
Tulisan ini bukan berarti membolehkan untuk tidak berhukum dengan hukum Allah, atau menggantinya dengan undang-undang buatan. Tidak seperti itu.

Hukum asal orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, atau pemerintah yang mengganti suatu hukum yang telah ditetapkan Allah dengan Undang-Undang buatan parlemen, maka orang ini bisa termasuk orang yang dzolim, atau orang fasiq, ataupun dikafirkan hingga berubah menjadi orang kafir.

Namun hal ini saya tulis untuk membahas hukum takfir muayyan (spesifik kepada individu atau golongan tertentu), yang mana harus terpenuhi syarat-syaratnya dan sebab-sebabnya. Serta hilangnya mawani’ (penghalang-penghalang) atau udzur-udzur, yang menyebabkan hukum pengkafiran tidak bisa diterapkan kepadanya sebelum adanya verifikasi.

Secara ringkas hadits itu saya tulis untuk memberikan nasehat kepada orang-orang yang bermanhaj KAFIR OTOMATIS, terhadap pemerintah yang menerapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena zaman modern ini, sangat besar sekali syubhat dan udzur akan hal itu.

Dan yang benar adalah PENGKAFIRAN DENGAN CARA PERINCIAN, terhadap tiap-tiap orang yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena kondisi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan hadits yang saya sebutkan di atas, memberikan kita justifikasi untuk memahami duduk perkara yang benar terhadap pemerintah yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat.

Jadi apakah bisa dikafirkan? Bisa, asal terpenuhi sebab, syarat, dan hilangnya mawani’ serta udzurnya pada individu tertentu yang dituju. Tidak bisa dan tidak boleh digeneralisir.

Jadi apakah tidak bisa dikafirkan?
Tidak bisa dikafirkan selama ada syubhat ataupun udzur yang tampat terlihat pada pemahaman mereka atas nama Islam. Sehingga mereka merasa bahwa yang mereka lakukan itu tidak bertentangan dengan Islam, karena buruknya pemahaman mereka.

Walau tidak jatuh dikafirkan, namun mereka boleh dicela, dihina, di-ghibah, dianggap orang fajir, fasiq, dzolim, dan bahkan munafik karena buruknya pemahaman yang mereka miliki.

Adapun bagi orang yang dipaksa atau terpaksa. Atau yang sebenarnya ingin menerapkan undang-undang yang sesuai dengan hukum Islam, namun tidak mempunyai kekuasaan akan hal itu karena terikat sistem demokrasi. Maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan udzur dan bahkan penghargaan atas upaya serta jasa-jasanya memperjuangkan hukum Islam di dalam penetapan undang-undang.

LikeShow more reactions

Comment

Advertisements