Yg pengalaman kerja di bank atau tau ilmunya.

Sisa pendapatan kerja di bank yg lalu lalu setelah kita tobat, boleh dipake buat wakaf beli buku agama islam utk kaum muslimin di masjid masjid gak?

***
Diskusi :

Ada khilaf ulama masalah memanfaatkan riba.

Dalam kasus ini apakah hasil bekerja di lembaga ribawi, bisa disamakan dengan uang yang didapat kan dengan cara ribawi?

Root cause nya disini dulu setau saya. Karena pegawai tersebut adalah orang gajian atau diupah. Bukan mendapatkan uang dari aqod riba secara langsung.

Sehingga apakah ini termasuk harta hasil kedzoliman, atau harta hasil riba?

Kasus “what if” seri 1 :
——–
Misal kita menguatkan bahwa itu disamakan dengan uang hasil riba, karena toh dia bekerja di lembaga ribawi.

Bukan uang hasil kedzoliman. Maka baru kita masuk ke khilaf ulama tersebut

****
Ulama ada yang mutlak melarang menggunakan uang hasil riba itu, seingat saya ini pendapat Imam Syafi’i. Sehingga uang itu hanya disimpan dan dijaga di baitul maal saja

Ulama yang lain membolehkan untuk memanfaatkan.

Dan sini ada lagi perbedaan pendapat.

Sebagain yang membolehkan, memutlakkan boleh untuk apa saja. Termasuk masalah keagamaan.

Sedangkan yang lain hanya boleh dalam masalah sosial saja. Tidak boleh dalam masalah keagamaan

***
Ulama kontemporer yang lebih cenderung mutlak tidak boleh memanfaatkan uang hasil riba itu adalah Syaikh Utsaimin, dan juga Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam video yang saya lihat.

Ustadz Abdul Hakim melarangnya dengan bersandar qiyas kepada uang hasil judi.

Orang zaman dulu itu yang berjudi hanya orang kaya saja. Adapun hasil judinya tidak dimakan sendiri, tapi didermakan untuk sosial.

Atas Qiyas inilah Ustadz Abdul Hakim berpendapat tidak boleh memanfaatkan uang hasil riba untuk keperluan sosial

Lihat : https://www.youtube.com/watch?v=vlKCXIkRFh4

***
Komentar saya :
1. Riba beda dengan judi (maisir) sehingga tidak bisa diqiyaskan. Riba itu ada di aqod muamalah hutang piutang, sedangkan maisir (judi) itu tidak tergantung dengan aqod masalah hutang piutang.

2. Dalam QS Al Baqarah : 275, disebutkan alladziina ya’kuluunar ribaa (Orang-orang yang memakan harta riba).

Maka ini menunjukkan bahwa orang orang kaya atau yang berbisnis dengan riba pada zaman jahiliyyah itu memakan harta hasil riba. Dan sikap ini berbeda dengan harta hasil perjudian

Sehingga riba tidak bisa diqiyaskan dengan maisir (judi)

***
Adapun jumhur ulama yang membolehkan untuk memanfaatkan uang hasil riba, umumnya berpendapat dengan meng-qiyaskan dengan hadits hadits masalah Luqothoh (barang temuan).

Atas dasar hal inilah mereka membolehkan untuk memanfaatkan uang riba itu

Sedangkan Ulama yang memperinci hanya boleh untuk masalah sosial saja, dan tidak boleh untuk hal-hal keagamaan. Berdalil dengan hadits “innallooha toyyibun, laa yaqbalu illaa thoyyiban”

(Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik)

Dari perbedaan pendapat itu, saya pribadi lebih menguatkan pendapat yang membolehkan untuk keperluan sosial saja. Tidak boleh untuk masalah keagamaan.

Walloohu A’lam

Kasus “what if” seri 2 :
——–
Jika dimisalkan harta itu tidak bisa dimisalkan sama seperti uang riba, tapi lebih tepat ke harta hasil kedzoliman.

Maka saya ingat. Ada pertanyaan ke Syaikh Utsaimin seingat saya, masalah apakah keluarga sang pekerja di lembaga ribawi boleh makan dari uang gaji yang didapatkan sang pekerja itu?

Beliau membolehkan

Dalil untuk ini setau analisis saya, dengan memakai dalil Rasulullah pernah bermuamalah kepada orang Yahudi dengan Aqod yang halal.

Padahal orang Yahudi itu salah satu penghasilan nya dari riba.

Jadi qaidah yang dipakai itu adalah apa aqodnya, bukan masalah uang itu bersumber dari mana.

Hal ini boleh untuk kita qiyaskan ke masalah yang ditanyakan.

Walloohu A’lam


Tanya :

Berarti gaji pns pajak dan bea cukai masuk kategori “what if” dari yg kedua ya mas?

Jawab :

Ya

Tanya :

Berarti apapun harta hasil kedzoliman haram bagi diri sendiri, tapi halal jika diberikan keluarga? Tolong dijelaskan juga mas, kok bisa syeikh training mengqiyaskan dg hadits rasul yg bermuamalah dg yahudi

Jawab :

Untuk fatwa Syaikh Utsaimin tersebut, bisa dilihat di sini :
http://pengusahamuslim.com/2153-ayahku-pegawai-bank.html

Adapun jawabnya kenapa boleh? Dalam artian harom bagi sang ayah, namun halal bagi sang keluarga. Maka jawabnya karena aqodnya dan caranya berbeda.

Sang ayah mendapatkan uang dengan cara kedzoliman, atau hal yang melanggar syariat.

Sedangkan keluarganya mendapatkannya dengan cara yang tidak melanggar syariat.

Tolak ukurnya adalah bukan pada dari mana asal uang itu, tapi bagaimana cara mendapatkan uang itu atau aqodnya.

Saya berikan contoh lain : antum buka warteg. Kebetulan yang makan disitu pegawai bank.

Nah yang pegawai bank itu halal nggak buat antum? Tentu halal bukan.

Demikian juga sang keluarga. Karena cara mendapatkan nya dengan pemberian atau hadiah dari sang ayah. Sedangkan hukum pemberian atau hadiah itu mubah.

Memang perasaan “agak gimana” gitu ya.

Tanya :

Lalu bagaimana hadits rasulullah yg menyatakan “tidak akan masuk surga daging yg tumbuh dari yg haram dan neraka lebih baik baginya”?

Ana masih belum mengerti antara akad muamalat penjual dg pembeli dg pemberian nafkah suami ke keluarganya? Bukankah pemberian nafkah itu wajib?

Jawab :

Hadits itu maksudnya untuk yang berusaha untuk mendapatkan uang dengan jalan yang harom.

Bukan untuk orang lain, walaupun dia diberikan hasil dari uang harom itu.

Perhatikan hadits bariroh itu. Bukankah sedekah itu hukumnya haram bagi rasulullah dan keluarganya? Rasulullah dilarang makan sedekah.

Namun ketika daging yang disedekahkan kepada bariroh, lalu diberikan kepada rasulullah sebagai hadiah. Maka daging yang mulanya harom bagi rasulullah, menjadi halal bagi beliau dan kemudian beliau memakannya.

Apakah ini terkena hadits “tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari yang haram”? Tentu tidak.

Saya berikan hadits yang lain. Rasulullah menyebutkan bahwa tidak akan bergeser langkah kaki anak Adam sebelum ditanyakan empat perkara.

Salah satunya adalah “dari mana mendapatkan harta mu, dan ke mana engkau membelanjakan hartamu?”

Apakah yang terkena pertanyaan seputar harta harom ini ayahnya saja? Ataukah termasuk keluarga nya juga?

Saya berikan contoh lain : ada pencuri tertangkap, dan dia sudah memberikan nafkah kepada keluarganya dari hasil curiannya itu.

Apakah nanti jika diputuskan untuk hukum potong tangan, maka yang dipotong tangannya hanya pencurinya saja? Ataukah keluarganya juga ikut dipotong tangan karena dianggap menikmati harta hasil curian itu?

Tentu hanya sang pencuri saja yang dipotong tangannya karena dia yang mencuri, sedangkan keluarganya tidak karena keluarganya tidak ikut mencuri.

Apakah kira kira sampai sini sudah jelas?

Btw untuk adilnya,
Sekarang saya coba kutipkan pendapat yang “berseberangan” dengan hal itu, yang dikembalikan kepada kewaro’-an Abu Bakar Ash Shiddiq rodhiyalloohu ‘anhu.

Mungkin sikap Abu Bakar ini lebih cocok dengan apa yang antum fahami.

Hanya saja sikap waro’ ini sebenarnya lebih merupakan pendapat pribadi yang berlaku bagi diri sendiri. Belum tentu berlaku bagi orang lain. Karena ini bukan fatwa, melainkan sekedar “good example”.

Berikut adalah kisah Shohih mengenai Abu Bakar masalah makan makanan yang merupakan pemberian dari orang lain, yang orang lain tersebut mendapatkan nya dengan cara yang haram.

Dari ‘Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar radliallahu ‘anhu (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.

Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar radliallahu ‘anhu memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar radliallahu ‘anhu balik bertanya: “Makanan ini (dari mana)?”. Budak itu menceritakan: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang anda makanan ini”. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar segera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”. (HR. Bukhari no. 3629)

Advertisements