Tanya :
Bagaimana cara mulai menghitung zakat Maal?

Jawab Ustadz Dr. Erwandi hafidzahulloh :

Nishob zakat maal kan 85 gram emas, atau sekian 40 juta sekian (sesuai dengan harga emas saat ini).

Misal bapak gaji 25 juta. Dipotong untuk keperluan selama sebulan, habis 10 juta. Jadi bisa nabung sekitar 15 juta per bulan.

Nah bulan pertama, masih belum mulai dihitung waktu haul zakat, karena belum nishob. Masih 15 juta. Bulan kedua demikian. Bulan ketiga juga demikian.

Nah ketika bulan ke 4, tabungan sekitar 45 juta, sudah masuk nishob zakat. Baru bulan keempat ini perhitungan haul 1 tahun kita mulai.

Misal bulan keempat itu adalah bulan agustus, dan bertepatan dengan bulan Romadhon. Maka konversikan perhitungan haul 1 tahun itu ke bulan romadhon, karena perhitungan haul 1 tahun itu menggunakan penanggalan Qomariyyah (Tanggalan Islam), bukan penanggalan Syamsiyah (Tanggalan Masehi).

Ketika kita sampai di bulan romadhon tahun depan, berarti kita sudah haul, kita lihat kembali harta kita.

Apabila mencapai atau lebih dari nishob zakat maal 85 gram emas. Atau lebih dari 40 juta sekian untuk nishob zakat Maal.

Maka baru kita keluarkan zakat maal 2.5% dari harta kita tersebut.

Apabila ternyata harta kita tidak mencapai batas nishob. Atau kurang dari 40 juta sekian. Maka kita tidak terkena kewajiban zakat Maal walau sudah haul, karena tidak mencapai nishob.

[Jawaban ini saya tulis ulang, dengan bahasa yang tidak sama persis ketika saya ikut kajian beliau beberapa bulan yang lalu. Hanya berdasarkan ingatan saya dan point-point pokoknya. Namun semoga ini bermanfaat bagi kita semua]

Tambahan :

Jika waktu penghitungan haul, ternyata kita ada perlu mengeluarkan uang hingga uang tersisa di bawah Nishob. Maka hitungan haul dianggap batal.

Hitungan haul diulangi lagi hingga harta kita terkumpul mencapai nishob seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya. Walloohu A’lam

Advertisements