Membenci serta berlepas diri (baca : baro’), dan mencintai serta loyal (baca : wala’) itu adalah “tuntutan” dari Tauhid. Bukan syarat Tauhid.

Apa perbedaanya?

Jika itu dikatakan syarat tauhid, maka jika “syarat” tidak terpenuhi maka otomatis tauhid nya batal, alias kafir.

Adapun jika dikatakan tuntutan tauhid, maka jika “tuntutannya” tidak terpenuhi maka berarti tauhidnya lemah dan pantas untuk mendapatkan celaan, hinaan, serta hukuman.

Namun tauhidnya “tidak otomatis” batal dan “tidak otomatis” berubah menjadi kafir, hingga hal-hal yang menyebabkan vonis kafir muayyan (secara personal) kepadanya terpenuhi.

Pada zaman Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam terdapat shahabat yang tergelincir kesalahan dalam masalah wala’ dan baro’.

Dia mengirim utusan untuk memberikan surat kepada keluarga atau kabilahnya, bahwa Rasulullah dan pasukannya akan bersiap menyerang daerahnya. Yang mana disana bermukim salah satu kabilah keluarga sahabat tersebut, yang masih memusuhi Islam.

Sahabat itu hanya bermaksud untuk menyelamatkan kabilah keluarganya itu saja. Beliau tidak berniat untuk mengkhianati Rasulullah.

Hal ini ketahuan oleh Rasulullah dan berhasil digagalkan. Akan tetapi Rasulullah tidak langsung serta merta mengkafirkan sahabat itu. Dicela dan dibenci, iya. Dikafirkan secara otomatis, tidak.

Di sinilah bedanya Ahlus Sunnah Salafiyyah di abad modern ini, dengan khowarij kontemporer dan murjiah kontemporer.

Manhaj Pluralisme Agama (At-Ta’addudiyyah Ad-Diiniyyah) memang membuat kerusakan Aqidah Tauhid yang sangat parah di dalam masalah Wala’ dan Baro’. Saking parahnya, bahkan hingga menciptakan dua kutub yang sangat ekstrim dalam mensikapinya.

Yakni kutub khowarij kontemporer di satu sisi yang gemar “otomatis” mengkafir-kafirkan, tanpa perincian. Dan kutub murjiah kontemporer di sisi lain, yang menganggap wala’ dan baro’ itu tidak mempengaruhi pemahaman dan definisi Iman dan tauhid sama sekali.

Sedangkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpegang di atas manhaj Salaf, berada di antara kedua kutub ekstrim dalam masalah Al Wala’ dan Al Baro’ itu

*****
Kita wajib ber-wala’ terhadap seluruh perkataan, perbuatan, keyakinan, dan juga TERHADAP PELAKUNYA akan seluruh hal yang sesuai syariat, yang dicintai, dan yang diridhoi Allah subhaanahu wa ta’aala.

Kita juga wajib baro’ terhadap seluruh perkataan, perbuatan, keyakinan, dan juga TERHADAP PELAKUNYA akan seluruh hal yang bertentangan dengan syariat, yang dibenci, dan yang dimurkai Allah subhaanahu wa ta’aala.

Jadi tidak seperti “kata-kata manis yang menipu”, bahwa kita hanya benci terhadap perkataan, perbuatan, keyakinannya saja. Tapi kepada orangnya kita tidak membencinya.

Orang seperti ini berarti pemahaman wala’ dan baro’nya juga tidak benar. Kenapa?

Karena tidak bisa kita katakan bahwa kita hanya benci terhadap perkataan, perbuatan, keyakinannya Iblis saja. Namun kita tidak membenci sosok sang Iblis itu sendiri.

Tidak bisa kita katakan bahwa kita hanya benci terhadap perkataan, perbuatan, keyakinannya Syaithon saja. Baik itu syaithon jenis jin ataupun syaithon jenis manusia. Namun kita tidak membenci sosok Syaithon itu sendiri.

Bagaimana mungkin? Allah sendiri yang menyuruh kita untuk mengganggap setan dan Iblis sebagai musuh, dan menyuruh kita untuk memusuhinya.

*****
Adapun sikap yang benar terhadap pelakunya, kita membenci pelakunya sesuai dengan kadar penyimpangannya dan juga dengan mempertimbangkan udzur-udzur yang ada. Sekali lagi, dan juga dengan mempertimbangkan udzur-udzur yang ada. Jadi jangan gegabah.

Dan jika kecintaan kita kepadanya karena hanya sekedar “tabi’at” kita sebagai manusia. Entah itu karena dia adalah ayah kita, ibu kita, saudara kita, dan hal-hal lain yang bersifat tabiat kecintaan sebagai seorang manusia.

Maka hal ini tidak membatalkan ataupun mengurangi kadar kekuataan Aqidah Wala’ wal Baro’ kita, sepanjang “kecintaan tabiat” kita itu tidak melanggar syariat.

Lho kok bisa? Kenapa “kecintaan tabi’at” yang manusiawi itu dikecualikan?

Karena Rasulullah sangat mencintai dan menyayangi pamannya Abu Tholib yang meninggal dengan kecintaan tabi’at manusiawi. Bukan dengan kecintaan atas dasar syariat yang menyebabkan Allah ridho ataupun marah.

Dan Allah pun menurunkan ayat pasca meninggalnya Abu Tholib, yang membenarkan adanya kecintaan tabi’at Rasulullah sebagai manusia kepada Abu Tholib dengan firman Nya ” Innaka laa tahdii man ahbabta..” [Sesungguhnya Engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk hidayah kepada orang yang kamu cintai…. QS. Al Qoshshoh : 56]

Lihat juga perkataan Syaikh Al Utsaimin rohimahulloh masalah “kecintaan tabiat” dan Aqidah Al Wala dan Al Baro’ ini

*****
Kaidah-kaidah yang kami sebutkan di atas berlaku juga untuk masalah kebid’ahan dan kemaksiatan juga. Jadi tidak hanya berlaku untuk masalah Iman Tauhid dan Kafir Musyrik saja.

Sama seperti Pluralisme Agama yang membuat kerusakan yang sangat parah, dalam masalah Aqidah Tauhid Wala dan Baro’.

Pluralisme Manhaj juga membuat kerusakan yang sangat parah dalam masalah mauqif (sikap) wala dan baro’ terhadap Sunnah dan Bid’ah, berikut juga terhadap pelakunya.

Semoga tulisan ini mudah difahami, dan bermanfaat bagi kita semua.

Baarokalloohu fiik.

Advertisements