Menjadikan filsafat sebagai pondasi untuk memahami sifat-sifat Allah itu hanya akan menghilangkan Ridho Allah.

Lho kok bisa?
Lihat saja sifat-sifat yang ditetapkan oleh mereka dengan cara filsafat, terutama Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.
Tidak ada sifat Ridho Allah di sana kan?
Nah makanya itu hanya akan menghilangkan Ridho Allah.

*****
Anda gundah gulana? Bingung? Dan makin “Absurd” dalam memahami Tauhid?
Jangan-jangan itu gara-gara anda menghilangkan sifat Ridho Allah, makanya tidak diridhoi sama Allah.

Maka dari itu,
mari kita cari Ridho Allah dengan menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang telah Allah Khabarkan di dalam Al Qur’an, dan yang Rasulullah khabarkan di dalam Sunnah yang shohih.

****
Para Sahabat saja ketika dikhabarkan mengenai sifat Allah oleh Rasulullah, nggak protes dan tanya-tanya. Lha sampeyan kok protes dan tanya-tanya bagaimana-nya (takyif)?

Para Sahabat faham maksud kata itu sesuai pengertian bahasa Arab, dan tidak men-tafwidh maknanya (menggantungkan dan menyerahkan maknanya kepada Allah. Tidak menetapkan makna yang definitif karena menganggap tidak faham apa yang dimaksud).

Ridho itu ya ridho. Maknanya jelas dan tidak samar.

Para Sahabat menetapkan makna yang jelas dan tidak samar itu apa adanya, dengan tanpa merubahnya atau mentakwilnya, apalagi menyamakannya dengan makhluk.

Ridhor robbi fii ridhol waalidi (Ridho Allah di dalam ke ridhoan orang tua), demikian kata Rasulullah.
Namun tentu saja Ridho Allah itu beda dengan ridho orang tua, walau sama-sama disebut “Ridho”.

Persamaan sekedar nama sifat antara Makhluk dan Kholiq itu itu hanya sekedar nama saja, bukan sama secara hakikat.

****
Nah yang di tafwidh itu adalah masalah kaifiyat hakikat nya. Bukan makna dan maksudnya secara pengertian bahasa Arab.

Jadi men-tafwidh pengertian maksud bahasanya itu salah, yang benar adalah men-tafwidh kaifiyat hakikatnya.

Maka dari itu para sahabat nggak suka tanya-tanya masalah kaifiyat hakikatnya itu bagaimana, karena maknanya jelas dan tidak ada maksud untuk menyamakan dengan makluk hanya gara-gara sama pemakaian kata saja.

Nggak mungkin Rasulullah menyampaikan wahyu Al Qur’an dan perkataan Sunnah yang shohihah mengenai sifat-sifat Allah, namun beliau nggak mudeng apa maksud dari kata itu dan mentafwidh maknanya.

Nggak mungkin Rasulullah menyampaikan wahyu Al Qur’an dan perkataan sunnah mengenai Ridho Allah dan Allah istawa (bersemayam) di atas Arsy yang ada di atas langit tertinggi, namun Rasulullah nggak mudeng maksud dari kata “Ridho” dan “istawa” (bersemayam) dan mentafwidh maknanya.

Kalau seperti itu berarti banyak banget donk ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang Rasulullah sampaikan, namun beliau sendiri sebenarnya tidak faham apa maksudnya dan mentafwidh maknanya.

Kenapa? Karena mayoritas ayat-ayat di dalam Al Qur’an itu banyak sekali mengkhabarkan mengenai sifat-sifat Allah, ataupun nama-namanya yang terbentuk dari sifat-sifat itu (Asmaul Husna).

****
Jadi qoidah Aqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah Asma (nama-nama) dan Sifat-sifat Allah itu, mengikuti apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabat nya.

Kita menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang dikhabarkan di dalam Al Qur’an dan Sunnah yang Shohihah itu dengan apa adanya, sesuai dengan pengertian makna bahasa Arab yang dipakai.

Kita tidak men tafwidh makna, maksud, dan pengertiannya dari jenis bahasa yang digunakan. Karena hal itu jelas.

Yang kita tafwidh adalah kaifiyat dan hakikat nya, karena kita tidak menyamakannya dengan makhluk Nya.

Kita juga tidak menta’wilkannya atau memalingkan maknanya ke makna lain, karena pengertian makna yang dimaksud itu jelas pengertiannya dan Rasulullah beserta para Sahabat nya juga tidak mentakwilkannya.

Kita juga tidak meniadakannya, dengan menganggap itu hanya sekedar kata tanpa makna pengertian yang dimaksud.
Allah dan Rasul Nya itu menyampaikan Khabar itu untuk kita tetapkan, bukan untuk kita batalkan dan tiadakan.

Dan kita tidak menanyakan kaifiyat bagaimana hakikatnya, karena pengertian bahasa yang digunakan untuk sifat itu sudah jelas maknanya. Karena berkata-kata mengenai Allah tanpa ilmu itu Harom. Karena Rasulullah tidak menjelaskan melainkan dengan menyebutkan kata yang jelas pengertian maknanya. Dan juga karena para Sahabat tidak usil tanya-tanya dan protes sebagaimana kaum filsafat itu.

****
Secara ringkas,
Kita menetapkan seluruh sifat-sifat Allah dan nama-nama Allah (Asmaul Husna) yang Allah tetapkan yang berasal dari sifat-sifat Allah, sebagaimana yang dikhabarkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Masalah sifat Allah itu lebih luas daripada nama-nama Allah, karena ada sifat-sifat Allah yang menjadi nama-nama Allah dan ada juga yang tidak.

Kita menetapkan seluruh sifat-sifat Allah dengan tanpa membatalkan atau mengingkarinya (laa ta’thil).

Kita menetapkan seluruh sifat-sifat Allah dengan tanpa menyamakannya dengan makhluk Nya, hanya karena sekedar persamaan istilah kata yang dipakai (laa tasybih atau laa tajsim)

Kita menetapkan seluruh sifat-sifat Allah dengan tanpa memalingkannya atau merubah maknanya atau mentakwilnya, karena maksud pengertian dari kata itu secara bahasa sudah jelas artinya (laa tahrif atau laa ta’wil).

Dan kita juga menetapkan seluruh sifat-sifat Allah dengan tanpa mempertanyakan bagaimana hakikat nya atau kaifiyat nya, karena pengertian bahasa sudah jelas dengan tanpa menyamakannya dengan makhluk Nya. Dan juga karena para sahabat dan ulama salaf nggak pernah protes dan tanya-tanya (laa takyif).

Kita mentafwidh hakikatnya dan menganggap bahwa hakikatnya itu sesuai dengan ke Maha Sucian Allah. Dan bukan mentafwidh makna pengertiannya secara bahasa, karena maksud pengertian secara bahasa akan kata itu jelas.

Jadi bukan termasuk Ahlus Sunnah orang yang mentafwidh makna pengertiannya dari sifat Allah, yang ditunjukkan secara bahasa dari kata yang digunakan.

Advertisements