Setelah kita mengetahui bahwa baru pada masa Daulah Abbasiyah, Filsafat mulai menginfiltrasi Aqidah Islam dan memunculkan firqoh-firqoh yang menyimpang dari sunnah sebagaimana yang kita jelaskan sebelumnya. Terutama pada hal yang berkaitan dengan masalah Tauhid Asma wa Shifat.

Maka kita faham, bahwa aqidah yang benar dalam masalah Asma wa Shifat itu adalah aqidah yang berasal pada periodisasi awal Islam, sebelum filsafat mulai menginvasi ummat Islam. Yakni pada masa Salaf dengan manhaj Salaf nya, dalam memahami Aqidah Asma’ wa Shifat Allah.

Dan demikian juga yang dipertahankan oleh para Ulama Sunnah yang mengikuti manhaj Salaf, setelah filsafat mulai masuk dengan proxy war nya meng-infiltrasi aqidah Ummat Islam.

Ini sebagaimana yang tampak dari perjuangan Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh, hingga karena beratnya perjuangan dan siksaan yang diterima olehnya, beliau disebut sebagai Imamnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sekali lagi kami ulangi :

Aqidah yang benar dalam masalah Tauhid Asma wa Shifat Allah itu adalah, aqidah yang berasal pada periodisasi awal Islam sebelum filsafat mulai menginvasi ummat Islam. Yakni pada masa Salaf dengan manhaj Salaf nya dalam memahami Asma’ wa Shifat Allah.

Dan demikian juga yang dipertahankan oleh para Ulama Sunnah yang mengikuti manhaj Salaf, setelah filsafat mulai masuk dan meng-infiltrasi aqidah Ummat Islam.

****
Kita mengetahui, bahwa para imam “pendiri” 4 madzhab itu, adalah pengikut manhaj Salaf dalam masalah Aqidah Tauhid Asma wa Shifat Allah. Yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad.

Mereka bukanlah Ahli filsafat, ataupun golongan ulama yang mendasarkan aqidah Asma’ wa Shifat mereka kepada filsafat.

Bagaimana mungkin mereka mendasarkan aqidah Asma’ wa Shifat mereka kepada filsafat?

Sedangkan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah selaku firqoh filsafat yang paling berusaha untuk “mengkompromikan diri” dengan Sunnah itu saja, baru muncul setelah imam “pendiri” 4 madzhab fiqh itu meninggal dunia.

Di sini kita coba kesampingkan dulu Jahmiyyah dan Mu’tazilah, karena firqoh bentukan filsafat itu memang sudah muncul pada masa 4 imam Madzhab. Terutama pada masa Imam Ahmad yang menerima cobaan yang sangat hebat, dari para penguasa yang terpengaruh oleh Aqidah mu’tazilah.

Kita coba fokuskan saja ke Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

****
Walau para empat imam madzhab itu bukanlah ulama yang beraqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, kita tidak menyangkal bahwa para penganut madzhab fiqh mereka di kemudian hari, setelah para imam mereka meningga, terbagi menjadi dua golongan :

1. Ada yang beralih menganut aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah dalam masalah Tauhid Asma’ wa Shifat Allah
2. dan ada juga yang tetap mempertahankan Aqidah Salaf sebagaimana para imam pendiri madzhab mereka.

Hal ini sebagaimana yang kami sebutkan pada tulisan kami sebelumnya, bahwa banyak dari kalangan yang menisbatkan diri mengikuti madzhab fiqh Syafi’iyyah, mengadopsi Aqidah Asy’ariyyah dalam masalah Asma wa Shifat Allah dengan pemahaman filsafat.

Dan juga pengikut madzhab fiqh Hanafiyyah, yang mengadopsi Aqidah Maturidiyyah dalam masalah Asma wa Shifat Allah dengan pemahaman filsafat.

Namun apakah semua pengikut madzhab Syafi’iyyah dan Hanafiyyah bersikap seperti itu?

Al jawab tidak.
Ada juga yang tetap berpegang teguh dengan manhaj Salaf, mengikuti Rasulullah dan para sahabat nya dalam ber-aqidah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para imam “pendiri” madzhab mereka.

*****
Mengungkapkan fakta bahwa ada ulama pengikut madzhab fiqh yang tetap berpegang teguh kepada manhaj Salaf dalam masalah Aqidah Asma wa Shifat. Yang menentang pemahaman Filsafat digunakan dalam masalah Aqidah Tauhid Asma wa Shifat Allah. Dan secara otomatis menolak aqidah Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan hal-hal lain yang berbau filsafat dan mencukupkan diri kepada manhaj Salaf.

Maka hal ini dirasa cukup penting juga untuk kita ketahui, guna menambah wawasan kita.

Kenapa?
Karena ada sebagian orang yang mengklaim, bahwa yang disebut Ahlus Sunnah itu hanyalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah saja.

Bagaimana mungkin?
Maka apakah para Sahabat dan ulama Sunnah yang lahir dan meninggal sebelum Aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah itu berarti bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

It doesn’t make any sense. Delusion? Yes, perhaps.

*****
Sekarang mari kita coba telusuri madzhab-madzhab yang dijadikan kambing hitam untuk “self claim”, bahwa Ahlus Sunnah itu hanya yang mengaku mengikuti faham Asy’ariyyah dan Maturidiyyah saja.

IMAM AHMAD
Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama yang menisbatkan kepada madzhab Hanbali. Maka secara umum, mereka beraqidah dengan manhaj Salaf dalam masalah Tauhid Asma wa Shifat.

Terlebih lagi karena Imam Ahmad sendiri menulis kitab Ushulus Sunnah atau “Pokok-pokok Sunnah” (yang kita terima melalui jalur sanad anaknya Imam abdullah bin Ahmad). Di dalamnya tersebut masalah Aqidah Asma wa Shifat yang shohih.

Dan juga imam Ahmad sendiri juga menulis kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah (Bantahan kepada Jahmiyyah), dan juga rela disiksa karena mempertahankan Aqidah Salaf dalam masalah Asma’ wa Shifat.

Maka jauh dari harapan, jika beliau kemudian menjadikan filsafat sebagai pondasinya dalam masalah asma wa Shifat.

Jika Imam Ahmad menulis kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah (Bantahan terhadap Jahmiyyah), maka kenapa beliau tidak menulis kitab Ar-Radd ‘Alal Asy’ariyyah dan Ar-Radd ‘Alal Maturidiyyah?

Al jawab ya nggak mungkin donk! Kan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah itu baru muncul setelah beliau meninggal. Kan beliau bukan “time traveller”, gimana sih?

Yang pokok adalah beliau tidak menggunakan dasar filsafat dalam masalah Asma wa Shifat. Bahkan menentangnya. Sebagaimana yang kita lihat terhadap Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Hal inilah yang kita jadikan acuan.

Sehingga jika mungkin ada sebagian kecil ulama yang mengaku bermadzhab hanbali yang menyimpang dari hal itu, dan berbalik ke manhaj filsafat, maka itu tidak kita anggap sebagai hal yang signifikan.

IMAM SYAFI’I
Kita tidak menyangkal bahwa pengikut madzhab Syafi’i ada yang mengambil manhaj Asy’ariyyah dalam masalah Asma wa Shifat, dan berbeda dari Imam Syafi’i sendiri yang tidak mendasarkan aqidahnya kepada filsafat.

Bahkan sebenarnya isu “self claim” bahwa yang ahlus Sunnah itu hanyalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, fihak “oknum” madzhab syafi’iyyah lah yang sebenarnya yang berkepentingan dengan hal ini.

Kenapa disebut “oknum”?
Karena memang faktanya tidak semua ulama yang menisbatkan diri kepada madzhab syafi’i itu, ber aqidah asy’ariyyah dalam masalah Tauhid Asma wa Shifat Allah. Bahkan banyak juga yang menentang filsafat dan Asy’ariyyah. Anti main stream kalau orang-orang sekarang bilang.

Lebih detail, maka silakan lihat link berikut :
https://tulisansulaifi.wordpress.com/…/ulama-syafiiyah-ant…/

IMAM MALIK
Imam Malik lah sebenarnya perumus yang paling utama mengenai qoidah mengenai Asma wa Shifat, terutama setelah ada pertanyaan masalah sifat Allah istawa’ (bersemayam), dengan mendasarkan kepada para ulama Salaf.

Dikatakan mendasarkan kepada para ulama Salaf karena beliau berpandangan bahwa hal itu bid’ah, hal yang baru. Yang tidak pernah ada sebelumnya.

Mari kita lihat riwayat beliau berikut ini,

Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdirrahman Ash-Shaabuniy rahimahullah (373-449 H) berkata :

أخبرنا أبو محمد المخلدي العدل ، ثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن مسلم الإسفراييني، ثنا أبو الحسين علي بن الحسن، ثنا سلمة بن شبيب،ثنا مهدي بن جعفر بن ميمون الرملي ، عن جعفر بن عبد الله قال: جاء رجل إلى مالك بن أنس يعني يسأله عن قوله : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كيف استوى؟ قال فما رأيته وجد من شيء كوجده من مقالته ، وعلاه الرحضاء ، وأطرق القوم ؛ فجعلوا ينتظرون الأمر به فيه ، ثم سُرِّي عن مالك فقال: ( الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة ، وإني لأخاف أن تكون ضالاً ) ثم أمر به فأخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata :

“Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”.

Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi.

Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].

Secara konsekuensi seharusnya pengikut imam Malik yang menisbatkan diri kepada madzhab Maliki, mengikuti hal tersebut. Namun andaikata jika ada yang berbalik dan mengikuti manhaj filsafat, atau Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, maka hal ini cukup kita katakan bahwa mereka menyimpang dari imam madzhab mereka. Sedangkan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah selalu berusaha mentakwil sifat Allah dalam masalah istawa’.

IMAM ABU HANIFAH
Maka kitab beliau “Fiqhul Akbar” cukup untuk dikatakan bahwa beliau melandaskan kepada Salaf dalam masalah Asma wa Shifat.

Adapun pengikut madzhab beliau, maka kita tidak memungkiri bahwa ada pengikut madzhab Hanafiyyah yang mengambil manhaj Maturidiyyah dalam masalah Asma wa Shifat, dan berbeda dari Imam Abu Hanifah sendiri yang tidak mendasarkan aqidahnya kepada filsafat.

Namun kami merasa ada suatu hal yang perlu kami catat. Bahwa Imam Ath Thohawi yang sezaman dengan Imam Abu Manshur Al Mathuridi pendiri maturidiyyahm tidak mendasarkan aqidah asma wa Shifat beliau kepada Maturidiyyah.

Bahkan beliau justru membuat kitab Aqidah sendiri yang berjudul Al Aqidah Ath Thohawiyyah, yang mendasarkan diri kepada manhaj Salaf.

Demikian juga Imam Ibnu Abil Izz, selaku pengikut madzhab Hanafi yang ada pada zaman yang jauh dengan zaman Imam Al Maturidi dan Imam Ath Thohawi. Maka beliau juga tidak mengikuti maturidiyyah dan bahkan membuat kitab syarah (penjelasan) dari kitab Al Aqidah Ath Thohawiyah yang mendasarkan diri kepada manhaj Salaf, dan bukan filsafat, di dalam semua Aqidah termasuk Asma wa Shifat juga.

****
Semoga ini bermanfaat bagi kita semua.

Advertisements