Khowarij dan Murjiah kontemporer : Seputar hukum islam yang digantikan dengan undang-undang buatan, pada hal-hal yang Islam mengatur akan hal itu.

Leave a comment

Di dalam Shohih Muslim,

Di Kitabul Jihad was siyar (كِتَاب الْجِهَاد وَالسِّيَرِ ) [Kitab jihad dan ekpedisi],

Di bab kedua (باب تَأْمِيرِ الإِمَامِ الأُمَرَاءَ عَلَى الْبُعُوثِ وَوَصِيَّتِهِ إِيَّاهُمْ بِآدَابِ الْغَزْوِ وَغَيْرِهَا ) [Bab Imam menunjuk pimpinan ekpedisi perang dan menasehati mereka mengenai adab-adab perang dan hal-hal yang terkait],

Sahabat Buraidah bin Al-Hashib radhiyalloohu ‘anhu menceritakan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam mengenai adab-adab perang. Di dalam hadits yang panjang itu, ada kutipan perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alahi wa sallam yang menarik perhatian saya.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ ، فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ أَمْ لَا ؟

“Dan jika kamu telah mengepung penjaga benteng (Ahlul Hishn), lalu mereka memintamu untuk menghukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah.

Maka janganlah kamu hukumi mereka dengan berdasarkan hukum Allah. Akan tetapi hukumilah mereka dengan berdasarkan hukummu (ketentuan/ketetapan darimu).

Karena kamu tidak tahu, apakah kamu akan memberikan hukum Allah kepada mereka atau tidak. (atau karena kamu tidak tahu apa hukum Allah pada mereka) “ [Hr. Muslim, hadits no. 1731]

***
Perkataan Rasulullah ini cukup menakjubkan saya, karena Rasulullah sendiri memberikan dispensi bagi orang-orang yang tidak mengetahui hukum Allah untuk menggantinya dengan kebijakannya sendiri.

Sehingga faedah bagi kita pada abad modern ini, tidak setiap orang yang menetapkan hukum atau undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah itu bisa langsung OTOMATIS dikafirkan.

Karena bisa jadi mereka tidak tahu akan hukum Allah, sehingga mereka hanya menetapkan apa yang mereka kira baik.

Atau karena terkena tekanan “kalah suara” akibat sistem demokrasi, sehingga pendukung hawa nafsu (Ahlul Hawa’), orang munafik, dan orang-orang kafir beserta pendukungnya berhasil memaksa mereka untuk bersikap kompromistis.

Atau karena mereka terkena syubhat-syubhat faham-faham Sekulerisme, Liberalisme, atau Pluralisme; yang kemudian beranggapan hukum Allah itu lentur dan harus bisa disesuaikan dengan zaman.

Sebagaimana ini adalah salah satu syubhat Munawir Syadzali, hingga beliau ingin agar hukum waris direvisi dan laki-laki serta wanita mendapatkan bagian yang sama.

Atau syubhat-syubhat kaum liberal yang lainnya seperti syariat poligami itu hanya karena waktu zaman perang saja, untuk melindungi janda-janda yang suaminya korban jihad. Sehingga kebanyakan istri Rasulullah itu janda, dan hanya Aisyah saja yang perawan.

Atau syubhat-syubhat bahwa hukum hudud dan jinayat itu bisa diganti dengan hukuman penjara saja.

Atau terjebak sistem konstitusi dan argumentasi kontrak sosial, dengan berkilah menggunakan dalil kisah historis Piagam Madinah.

Dan lain-lain yang pada intinya karena syubhat itu, maka mereka menetapkan hukum-hukum yang lain dari yang telah ditetapkan Allah.

***
Tulisan ini bukan berarti membolehkan untuk tidak berhukum dengan hukum Allah, atau menggantinya dengan undang-undang buatan. Tidak seperti itu.

Hukum asal orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, atau pemerintah yang mengganti suatu hukum yang telah ditetapkan Allah dengan Undang-Undang buatan parlemen, maka orang ini bisa termasuk orang yang dzolim, atau orang fasiq, ataupun dikafirkan hingga berubah menjadi orang kafir.

Namun hal ini saya tulis untuk membahas hukum takfir muayyan (spesifik kepada individu atau golongan tertentu), yang mana harus terpenuhi syarat-syaratnya dan sebab-sebabnya. Serta hilangnya mawani’ (penghalang-penghalang) atau udzur-udzur, yang menyebabkan hukum pengkafiran tidak bisa diterapkan kepadanya sebelum adanya verifikasi.

Secara ringkas hadits itu saya tulis untuk memberikan nasehat kepada orang-orang yang bermanhaj KAFIR OTOMATIS, terhadap pemerintah yang menerapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena zaman modern ini, sangat besar sekali syubhat dan udzur akan hal itu.

Dan yang benar adalah PENGKAFIRAN DENGAN CARA PERINCIAN, terhadap tiap-tiap orang yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat. Karena kondisi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan hadits yang saya sebutkan di atas, memberikan kita justifikasi untuk memahami duduk perkara yang benar terhadap pemerintah yang menetapkan undang-undang buatan untuk menggantikan hukum-hukum syariat.

Jadi apakah bisa dikafirkan? Bisa, asal terpenuhi sebab, syarat, dan hilangnya mawani’ serta udzurnya pada individu tertentu yang dituju. Tidak bisa dan tidak boleh digeneralisir.

Jadi apakah tidak bisa dikafirkan?
Tidak bisa dikafirkan selama ada syubhat ataupun udzur yang tampat terlihat pada pemahaman mereka atas nama Islam. Sehingga mereka merasa bahwa yang mereka lakukan itu tidak bertentangan dengan Islam, karena buruknya pemahaman mereka.

Walau tidak jatuh dikafirkan, namun mereka boleh dicela, dihina, di-ghibah, dianggap orang fajir, fasiq, dzolim, dan bahkan munafik karena buruknya pemahaman yang mereka miliki.

Adapun bagi orang yang dipaksa atau terpaksa. Atau yang sebenarnya ingin menerapkan undang-undang yang sesuai dengan hukum Islam, namun tidak mempunyai kekuasaan akan hal itu karena terikat sistem demokrasi. Maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan udzur dan bahkan penghargaan atas upaya serta jasa-jasanya memperjuangkan hukum Islam di dalam penetapan undang-undang.

LikeShow more reactions

Comment

Salah Satu Syubhat Takfiri berkedok Qoul Ulama Ahlus Sunnah – bagian 2

Leave a comment

2. Masalah qoul Syaikh Abdullah al-Atsari di footnote kitab beliau

a. Apa dalil dari perkataan beliau?

Metode pembahasan ini sebenarnya sama seperti ketika kita membahas qoul Syaikh Utsaimin sebelumnya. Yakni apa dalil dari perkataan beliau ini? Atau apakah perkataan beliau ini tidak berlawanan dengan dalil?

Apa maksud tidak berlawanan dengan dalil ?

Karena jika konsistensi perkataan beliau kita uji dengan apa yang terjadi pada zaman Kholifah Ali bin Abi Tholib yang tidak berhukum dengan hukum syariat, dan mengganti dengan selainnya, maka tentu perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari ini tentu gugur.

Kenapa?

Karena sepanjang pemerintahan Kholifah Ali bin Abi Tholib, beliau tidak pernah menegakkan hukum qishosh terhadap para pembunuh Kholifah Utsman bin Affan. Padahal beliau mampu untuk itu.

Bahkan hingga terjadi perang Shiffin dengan Gubernur Muawiyah rodhiyalloohu ‘anhu yang menuntut untuk ditegakkan hukum Qishosh atas pembunuh Utsman, beliau juga tetap tidak menegakkan hukum qishosh kepada para pembunuh Utsman.

Bahkan hingga terjadi peristiwa tahkim setelah sebelumnya beliau hampir memenangkan perang melawan Mu’awiyah, fihak Ali mempersyaratkan agar fihak Muawiyah tidak menuntut balas terhadap darah Utsman guna syarat akan Tahkim ini. Dan hal inipun akhirnya diterima oleh fihak Muawiyah. Hingga sampai zaman Kholifah mu’awiyah pun, para pembunuh Utsman tidak pernah ditegakkan hukum qishosh atasnya.

Dan Ijma’ para shahabat itu adalah dalil bagi kita.

Satu-satunya fihak yang menentang akan terjadinya peristiwa tahkim ini, yang menganggap orang-orang yang bertahkim itu baik dari fihak Ali ataupun fihak Muawiyah tidak berhukum dengan hukum Allah. Yang menganggap mengganti hukum Allah dengan hukum buatan, yang ditentukan dengan cara tahkim itu. Yang kemudian mengkafirkan secara semena-mena serta mengobarkan pemberontakan, adalah fihak firqoh Khowarij yang tersesat.

Apakah kalau begitu, satu-satunya fihak yang benar dalam masalah seputar mengganti hukum Allah dengan hukum buatan dengan cara Tahkim itu, berarti hanya fihak Khowarij yang sesat itu? Tentu tidak.

Kalau begitu tentu perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari tidak boleh kita letakkan secara mutlak dalam aplikasi nyatanya. Harus kita dudukkan sesuai dengan duduk perkara yang sebenarnya, sebagai pemaparan teori awal. Sebagaimana ketika kita membahas qoul Syaikh Utsaimin yang sebelumnya.

Kalau begitu, bagaimanakah praktek nyatanya bagi kita dalam memahami perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari tersebut? Hal ini akan kita terangkan pada point berikut.

b. Darimanakah qoul itu sebenarnya berasal?

Kalau kita telusuri kitab-kitab aqidah dan manhaj para ulama Salaf, baik itu kitab Aqidah Ath-Thohawiyyah dan syarh-nya, Kitab Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Syarhus Sunnah, dan lain-lain; kita tidak temukan qoul salaf sebagai landasan dari perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari itu.

Dari penelaahan yang saya lakukan, saya justru menemukan asal perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari itu berasal dari kitab fiqh sebenarnya. Yakni dalam kitab fiqh Al-Ahkaamus Sulthooniyyah tulisan Imam Al-Mawardi. Perkataan Syaikh Abdullah Al-Atsari ini mirip dengan perkataan Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkaamus Sulthooniyyah.

Qoul ini sebenarnya digunakan juga dalam kitab-kitab fiqh syafi’iyyah dalam pembahasan masalah khilafah. Sehingga dalam kitab “Fiqh Islami” tulisan Al-Ustadz Sulaiman Rosyid, yang mana ini merupakan kitab fiqh Syafi’iyyah asli buatan Indonesia, di bab Kitaabul Khilafah kita akan menemukan perkataan yang serupa dengan qoul Syaikh Abdullah Al-Atsari itu.

Al-Ustadz Sulaiman Rosyid pun juga melandaskan tulisan dalam perkataan beliau itu, dengan merujuk kepada Al-Ahkaamus Sulthooniyyah tulisan Imam Al-Mawardi itu.

Setelah jelas bahwa qoul ternyata sebenarnya bukan berasal dari kitab-kitab aqidah dan manhaj dari para ulama Salaf yang klasik, melainkan berasal dari kitab fiqh klasik syafi’iyyah, maka mudah bagi kita untuk meletakkan duduk perkaranya.

c. Duduk perkara qoul Syaikh Abdullah Al-Atsari dalam tinjauan fiqh.

Berhubung ini adalah perkataan fiqh, maka penting bagi kita untuk menelusuri teori istinbath dan istidlal yang digunakan hingga mengeluarkan perkataan itu sebagai produk fiqh. Ini yang pertama.

Dan yang kedua, adalah apakah relevan produk fiqh yang disusun oleh teori itu diterapkan secara praktek nyata pada zaman sekarang ini? Kenapa? Karena hukum fiqh itu disusun berdasarkan qaidah “Al-Hukmu yadurru ma’a illatihi, wujudan wa adaman” (Hukum itu berkisar kepada ada atau tidaknya penyebab yang menyebabkan terjadi atau tidaknya hukum itu).

Sehingga kalau illat (penyebab) yang diterapkan pada kitab Al-Ahkaamus Sulthooniyyah itu tidak ada pada zaman kita, maka produk fiqh yang merupakan qoul yang di-reproduce oleh Syaikh Abdullah Al-Atsari itu juga tidak bisa diterapkan 100% relevansinya dengan hal yang memiliki illat (penyebab) yang berbeda. Terutama pada zaman kita sekarang ini.

Maka dari ini penting bagi kita untuk mengetahui bagaimanakah teori khilafah diangkat, sesuai dengan rujukan kitab Al-Ahkaamus Sulthooniyyah. Dan dalil yang melatar belakangi syarat yang disebutkan jika sang kholifah ternyata mengingkari syariat Allah Ta’ala, atau menggantinya, dan tidak mau berhukum dengan syariat-Nya serta berhukum dengan selainnya.

Sehingga Tidak ada (kewajiban) mendengar dan taat atas kaum Muslimin kepada mereka, karena mereka telah menyia-nyiakan tujuan kepemimpinan (imamah), yang mana atas dasar tujuan tersebut ia diangkat, berhak didengar, ditaati, dan tidak boleh dikudeta.

***
Imam Al-Mawardi menyebutkan dalam teori kepemimpinannya bahwa kholifah hanya dipilih dengan dua mekanisme, yakni berdasarkan wasiat kholifah yang sebelumnya sebagaimana penunjukan Umar oleh Abu Bakar. Dan berdasarkan keputusan dewan Ahlul Halli wal Aqdi yang memutuskan untuk mengangkat seorang kholifah, sebagaimana Utsman dipilih oleh dewan siding Ahlul Halli wal Aqdi yang ditunjuk Umar.

Imam Al-Mawardi sama sekali tidak menyebutkan teori pemilihan pemimpin dengan cara mugholabah (cara dengan saling mengalahkan), baik itu yang terangkat setelah melalui cara pemberontakan. Sebagaimana Ali yang diangkat oleh para pemberontak pembunuh Utsman sebagai Kholifah, sedangkan Ali berlepas tangan terhadap pemberontakan dan pembunuhan itu.

Atau yang dipilih dengan cara mugholabah (saling mengalahkan) dengan mekanisme demokrasi seperti sekarang ini.

Imam Al-Mawardi sama sekali tidak menerangkan masalah pemimpin yang dzu syaukah (yang memiliki kekuatan), yang menduduki kekuasaan dengan cara mugholabah.

Oleh karena itu duduk perkaranya sudah berbeda, atau illat-nya sudah berbeda.

Untuk menerangkan lebih luas masalah ini, silakan lihat tulisan kami : https://kautsaramru.wordpress.com/…/bagaimana-waliyul-amri…/

***
Karena illat-nya sudah berbeda, tentu hal yang melatarbelakangi perkataan baik itu Imam Al-Mawardi ataupun Syaikh Abdullah Al-Atsari itu tentu berbeda juga. Berikut akan kami terangkan perbedaannya.

Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Seorang muslim itu terikat kepada syarat yang telah disepakatinya, kecuali syarat yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dan berkata Tirmidzi : Hadist ini hasan shohih)

Para kholifah yang diangkat dengan cara wasiat kholifah sebelumnya, atau yang diangkat dengan pemilihan oleh dewan Ahlul Halli wal Aqdi sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkaamus Sultoohiyyah terikat dengan syarat-syarat harus menerapkan syariat dan hukum-hukum Islam.

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah “Seorang Muslim itu terikat berada di atas syarat-syarat yang telah disepakatinya” tadi.

Atas hal itulah, maka jabatan kholifah itu terikat dengan seputar menerapkan syariat Islam dan hukum-hukumnya, serta tidak boleh menggantinya dengan hukum buatan. Jika syarat itu dilanggar, maka itu berarti dia melepaskan jabatannya karena dengan syarat itulah dia menjabat dan dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi ataupun kholifah sebelumnya.

Maka dari itu wajar jika Syaikh Abdullah Al-Atsari berkata,

“Para pemegang urusan (ulil amri) yang mengingkari syariat Allah Ta’ala, atau menggantinya, dan tidak mau berhukum dengan syariat-Nya serta berhukum dengan selainnya, maka ketaatan kaum Muslimin kepadanya telah lepas.

Tidak ada (kewajiban) mendengar dan taat atas kaum Muslimin kepada mereka, karena mereka telah menyia-nyiakan tujuan kepemimpinan (imamah), yang mana atas dasar tujuan tersebut ia diangkat, berhak didengar, ditaati, dan tidak boleh dikudeta.”

Ini adalah awal pemaparan teori Ideal terlebih dahulu.

Bahkan Imam Al-Mawardi sebenarnya lebih jauh lagi memperinci dengan mengatakan, bahwa yang berhak menurunkan kholifah itu adalah Ahlul Halli wal Aqdi yang telah mengangkatnya. Tentu saja jika kholifah tersebut telah dianggap melanggar syarat-syarat yang menyebabkan dia diangkat.

Namun hal ini belum menjawab bagaimana dengan perihal Kholifah Ali Bin Abi Tholib, sedangkan seluruh ulama Ahlus Sunnah sepakat untuk menganggap beliau sebagai kholifah yang sah?

Bagaimana juga dengan daulah Abbasiyyah yang bisa mengambil alih kekuasaan daulah ummayah dengan cara pemberontakan? Sedangkan seluruh Imam Madzhab yang 4 itu berada pada zaman daulah Abbasiyyah, dan mereka mensepakati keabsahan pemerintahan daulah Abbasiyyah.

Apalagi jika kita melihat para pemimpin pada zaman modern ini yang dipilih baik itu melalui cara demokrasi, ataupun kudeta militer. Mereka semua tidak diangkat sebagai penguasa dengan berdasarkan teori syarat dan mekanisme yang disebutkan oleh Imam Al Mawardi tadi.

Oleh karena itu, karena syarat nya tidak ada maka konsekuensinya juga tidak ada. Qoul yang dikatakan oleh Imam Al-Mawardi dan Syaikh Abdullah Al-Atsari kurang tepat untuk diterapkan pada kebanyakan pemerintahan zaman sekarang, yang mana mereka diangkat dengan berdasarkan syarat dan illat yang berbeda.

Maka dari itu, saya pernah menulis secara sederhana masalah syarat minimal yang harus dimiliki oleh seorang Penguasa Muslim dan syarat kelengkapannya.

Lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/…/ulil-amri-pemegang-kek…/

Coba bandingkan hal itu dengan qoul Syaikh Utsaimin selaku ulama kontemporer zaman sekarang, yang telah kami terangkan panjang lebar duduk perkaranya. Maka insya Allah antum akan memahami benang merah dan duduk perkaranya dengan mudah.

***
Semoga jawaban dan tulisan kami ini mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik.

Salah Satu Syubhat Takfiri berkedok Qoul Ulama Ahlus Sunnah – bagian 1

Leave a comment

Wa’alaikumussalaam

Mari kita coba jawab satu persatu.

1. Masalah Qoul Syaikh Utsaimin rohimahulloh.

Sebenarnya ada 3 kaedah dalam memahami perkataan seorang ‘alim :

a. Apakah perkataan ‘Alim tersebut tidak sesuai dengan dalil ?
Kalau misal tidak sesuai dalil, maka tinggal kita tolak dan ikuti dalil yang jelas. Karena secara ushul fiqh perkataan seorang Alim itu bukan dalil, melainkan memerlukan dalil.

Namun biasanya kalau kita menerapkan qaidah ini secara “hitam-putih”, maka orang akan mendiskreditkan kita dengan bersikap seakan-akan lebih tahu dari Ulama. Atau dianggap kurang ajar berani menyalah-nyalahkan ulama.

Argumentum ad hominem kalau bahasa logical fallacy-nya. Yakni usaha untuk menjatuhkan argumentasi seseorang dengan cara menyerang kepribadian seseorang itu, dibandingkan berfokus kepada argumentasi topic yang dibicarakan.

Untuk mengatasi hal itu, maka mari kita terapkan dua kaedah berikut ini.

b. Laziimul qoul laisa bil qoul (Konsekuensi dari suatu perkataan atau pendapat, bukanlah perkataan)

Maksud dari qoidah ini adalah bisa jadi Syaikh Utsaimin berbicara masalah itu secara umum saja, dengan tanpa tunjuk hidung terhadap pemerintahan suatu negara tertentu yang menerapkan undang-undang buatan. Atau dengan kata lain, ini hanya untuk pemaparan teori awal saja.

Dan ketika perkataan Syaikh Utsaimin itu digunakan untuk “praktek nyata”, guna menghukumi suatu negara tertentu yang menerapkan undang-undang buatan yang menggantikan syariat Islam. Syaikh Utsaimin tidak rela dan tidak ridho jika pemaparan teori awal tersebut digunakan secara semena-mena, dengan tidak mengetahui cara praktek di lapangannya.

Hal ini akan kami buktikan pada kaedah yang ketiga.

c. Qoulul ‘Aalim yufassiru ba’dhuhu ba’dho (Perkataan seorang ‘Alim itu menjelaskan atau mentafsirkan perkataannya yang lain).

Jika orang tersebut tadi menurunkan perkataan syaikh Utsaimin yang bersifat global, atau istilahnya hanya untuk pemaparan teori awal. Maka mari kita turunkan perkataan Syaikh Utsaimin dalam masalah “praktek nyata”, ketika berhadapan dengan masalah yang menyebutkan secara spesifik negara yang berhukum dengan hukum buatan manusia. Atau negara yang menerapkan undang-undang buatan guna menggantikan syariat Islam.

Di dalam kitab Fatawa Al ‘Ulama Al Akabir FiiMaa Uhdhira min Dima’in fi Aljazair, hal. 138, Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai sekelompok pemuda yang baru keluar dari penjara dan mereka mengkafirkan pemerintah Aljazair karena berhukum dengan hukum buatan manusia.

Syaikh menjelaskan bahwa selama penguasa masih shalat, maka mereka muslim dan tidak boleh dikafirkan.

Mereka adalah penguasa syar’i dan bai’at diberikan kepada mereka.

Adapun berkaitan dengan undang-undang buatan, maka Syaikh menjelaskan bahwa yang benar darinya harus diterima, dan yang keliru darinya jika memungkinkan bisa didiskusikan kembali dengan ahlul hal wal ‘aqd dan para ahli di bidangnya, jika tidak maka yang keliru harus ditolak.

Kemudian Syaikh bertanya:
“Berapa lama Aljazair di bawah penjajahan Perancis?”
“130 tahun”
“130 tahun! Baik. Mungkinkan mengubah undang – undang yang dibuat Perancis ini dalam waktu antara sore sampai paginya? Tidak mungkin!”

Maka yang paling penting sekarang bagimu adalah memadamkan fitnah ini semampumu, dengan segenap kemampuanmu, kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita dari kejelekan fitnah-fitnah”

***
Atau jika masih belum puas, maka mari kita turunkan lagi perkataan Syaikh Utsaimin yang lain. Ketika menjelaskan (syarh) hadits di Shohih Bukhori, Syaikh Utsaimin berkata,

“Sebagian orang menyangka bahwa yang disebut negara Islam adalah yang berhukum dengan syariat, dan ini karena kebodohannya. Sebab yang dinamakan negara Islam adalah yang di dalamnya tegak syiar-syiar Islam.” [Syarh Shahih Al Bukhari 2/625]

Dari perkataan Syaikh Utsaimin akan negara Islam ini, maka mari kita lihat praktek nyata nya ketika beliau ditanya masalah Aljazair yang menerapkan undang-undang buatan, untuk menggantikan aturan syariat berikut ini,

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin ditanya:
“Apakah benar Anda mengatakan untuk terus menerus berkonfrontasi melawan pemerintah Aljazair?”

Beliau menjawab: “Aku tidak mengatakan apa-apa tentang itu.”

Penanya:
“Dalam keadaan yang kacau dan semakin memanas seperti ini, apakah disyariatkan untuk berhijrah ke negeri kafir?”

Beliau menjawab:
“Yang wajib adalah bersabar. Karena negeri Aljazair adalah negeri Islam. Di sana adzan dikumandangkan untuk memanggil orang shalat, di sana ditegakkan shalat jumat dan shalat berjama’ah. Maka yang wajib adalah bersabar, sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”

[Madarikun Nazhar, hal 435 terbitan Darul Furqan.]

***
Atau jika masih belum puas dengan perkataan Syaikh Utsaimin yang menafsirkan perkataan beliau yang lain, mari kita turunkan perkataan Syaikh Ibn Baz guru dari Syaikh Utsaimin untuk menerangkan hal ini.

Kenapa? Karena pemahaman sang murid umumnya diambil dari apa yang diajarkan oleh gurunya.

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya:

“Apakah pemerintahan negeri Kuwait itu ulil amri yang wajib ditaati sementara diketahui mereka tidaklah berhukum dengan hukum syariat?”

Beliau menjawab:

“Ya, mereka adalah ulil amri. Juga yang seperti mereka di negeri Kuwait, Yordania, dan negeri Suriah, mereka adalah waliyyul amr yang wajib untuk ditaati dalam kebaikan sebagaimana sabda Nabi, “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf,” mereka ditaati dalam hal yang ma’ruf dan tidak boleh seorang pun ditaati dalam kemaksiatan, tidak mereka dan tidak pula selain mereka.

Jika mereka mengatakan, “Minumlah khamr!” Maka jangan menaati mereka. Jika mereka mengatakan, “Makanlah riba!” Maka janganlah menaati mereka. Jika mereka mengatakan, “Bersujudlah!” Maka janganlah menaati mereka.

Adapun jika mereka memerintahkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau memerintahkan dengan sesuatu yang berfaidah bagi kaum Muslimin atau hal yang menjauhkan keburukan, maka wajib menaati mereka, atau peraturan lalu lintas agar manusia tak bertabrakan dan saling membahayakan satu sama lain.”

****
Semoga dari sini sudah jelas dulu bagaimana duduk perkara qoul Syaikh Utsaimin tersebut. Memahami perkataan Syaikh Utsaimin haruslah diikuti dengan memahami perkataan Syaikh yang lain. Jika tidak maka yang terjadi hanyalah pemahaman yang salah dan tidak sempurna.

Hal ini sepertinya seperti memahami qoul ulama Salaf, “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, maka dia kafir. Barangsiapa yang mengatakan ‘saya tidak tahu apakah Al-Qur’an ini Kalamulloh (perkataan Allah) atau makluk’, maka dia juga kafir”.

Ini perkataan umum yang sangat tegas.

Namun pada prakteknya, ketika sudah menyentuh individu secara spesifik. Takfir secara Aam (umum) ini tidak bisa digunakan untuk takfir secara mu’ayyan (spesifik yang dituju), karena bisa jadi ada sebab, syarat, mawani’ (penghalang) dan udzur pada orang yang spesifik yang dituju itu. Sehingga takfir secara ‘aam tidak berlaku.

Dan hal ini juga yang dilakukan oleh para Ulama Salaf ketika menghukumi para kholifah dan pejabat pemerintah yang mendukungnya, yang berkata bahwa “Al-Qur’an itu adalah makhluk”. Bahkan mereka memaksakan aqidah ini kepada seluruh rakyat dan para ulamanya dengan ancaman hukuman atau ancaman bunuh.

Namun para Ulama Salaf pada masa itu, terutama Imam Ahmad bin Hanbal, tidak mengkafirkan para kholifah dan pejabat pemerintah yang mendukungnya itu.

Semoga ini mudah untuk difahami.


Tanya :

Memang qaul syaikh utsaimin yg dimaksud yg mana akhiy?

Jawab :

Al-’Allamah Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah Ta’ala berkata:

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah karena meremehkan, atau menganggap hina, atau meyakini bahwa yang lainnya lebih mendatangkan kemaslahatan dan lebih bermanfaat bagi makhluk, atau yang semisalnya, maka dia kafir dan keluar dari Islam. Di antara mereka adalah orang yang membuat undang-undang untuk manusia yang menyelisihi syariat Islam agar dijadikan sebagai metode yang manusia berjalan di atasnya.

Karena mereka tidaklah meletakkan undang-undang yang menyelisihi syariat Islam tersebut melainkan mereka meyakini bahwa hal tersebut lebih bermaslahat dan bermanfaat bagi makhluk. Karena telah diketahui secara akal yang pasti dan secara fitrah bahwa tidaklah manusia berpaling dari suatu metode menuju metode yang lain yang menyelisihinya, melainkan dia meyakini adanya keutamaan metode yang dia condong kepadanya dan adanya kekurangan pada metode yang dia berpaling darinya.”

Definisi Madzhab

Leave a comment

Terjemahan yang pas akan Madzhab itu sepertinya “School of Thought in Fiqh”.

Comment :

Islamic school of thoughts?

Balas :

Boleh,
tapi jangan lupa tambahkan “In Fiqh” atau “In Islamic law” di belakangnya.

Comment :

Bukannya juga ada madzhab aqidah?
Kenapa pake school ya?

Balas :

School itu kalau bahasa Indonesia-nya, Perguruan.

Terjemahan Perguruan lebih baik dibandingkan aliran menurut saya hehe

Comment :

Terlihat lebih pas kalo pake perguruan daripada sekolah (y).

QS Al Maidah ayat 51 – Kesimpulan dan Nasehat Masalah Perbedaan Terjemahan

Leave a comment

Sebelumnya viral di berbagai media sosial, berbagai macam broadcast atau share picture terjemahan QS Al Maidah ayat 51 yang diterjemahkan menjadi “Teman Setia”.

Disebutkan disitu bahwa terjadi kedzoliman bahkan pemalsuan, dengan cara merubah terjemahan dari “Pemimpin” ke “Teman Setia” dalam tema larangan mengangkat pemimpin kafir yang ada dalam ayat itu.

***
Sebelumnya harus kami katakan broadcast ini “tidak bertanggung jawab”, terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan (jumping to the conclusion), dan bahkan sporadis, walau maksudnya baik dan larangan mengangkat pemimpin kafir itu benar.

Dikatakan “jumping to the conclusion”, karena terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Pemimpin” pada QS Al Maidah ayat 51 itu ada. Dan terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah ayat 51 itu juga ada.

Sekali lagi kami katakan,
terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Pemimpin” pada QS Al Maidah ayat 51 itu ada. Dan terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah ayat 51 itu juga ada

Bagaimana sejarahnya?

***
Terjemah Al Qur’an ke bahasa Indonesia, yang resmi dari negara dengan permintaan melalui SK Menteri Agama RI itu sebenarnya ada beberapa versi.

Ini yang kemudian dipakai sebagai acuan standard oleh Depag, dan juga yang dijadikan acuan standard para penerbit percetakan Mushaf Al Qur’an yang beraneka ragam itu.

Dijadikan acuan, karena mushaf terbitan para penerbit “non-goverment” yang beraneka ragam itu harus mengajukan mushaf cetakan mereka ke Lembaga pentashih dan terjemahan Al Qur’an di bawah Depag, untuk diverifikasi dan diberikan persetujuan boleh dicetak dan dijual ke masyarakat luas.

Yang diteliti dan diverifikasi itu adalah penulisan teks Arab-nya, dan terjemahan bahasa Indonesia nya.

Acuan versi terjemahan bahasa Indonesia yang resmi dari negara Indonesia, sebenarnya ada 3 versi :

1. Terjemahan resmi bahasa Indonesia yang pertama kali, pada tahun 1971.

Yang mana team penterjemah mendapat amanah negara melalui SK Menteri Agama no.26 tahun 1967, untuk melakukan terjemahan resmi negara yang pertama kali ke bahasa Indonesia.

Sebelumnya memang sudah ada terjemahan ke bahasa Indonesia lainnya, yang dibuat oleh para Ulama Indonesia secara Independen. Bukan resmi permintaan negara. Seperti tafsir dan terjemah yang dibuat oleh Al Ustadz Ahmad Hassan rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz Bachtiar Surin rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz Mahmud Yunus rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz T.M. Hasbie Ash Shiddiqie rohimahulloh, dan lain-lain.

Terjemahan resmi negara itu akhirnya selesai pada tahun 1971 oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an. Team ini dikepalai oleh Al Ustadz R.H.A. Soenarjo rohimahulloh, yang beranggotakan 10 ulama Indonesia lainnya seperti Al Ustadz T.M. Hasbie Ash Shiddiqie, Al Ustadz Kyai Haji Maksum Ali, Al Ustadz Kyai A. Musaddad, dan lain-lain.

Di terjemahan resmi ini, QS Al Maidah ayat 51, Auliya’ dalam konteks ayat itu diterjemahkan “Pemimpin-pemimpin”.

Mushaf Al Qur’an dan terjemahan bahasa indonesia cetakan Saudi Arabia, yang biasanya di bagikan secara gratis kepada jamaah haji dan umroh dari Indonesia, mengacu kepada terjemahan ini.

2. Revisi terjemah resmi bahasa Indonesia yang pertama kali, pada tahun 1989

Depag dengan team yang lain, melakukan revisi pada terjemahan resmi bahasa Indonesia tahun 1971. Pada versi terjemahan tahun 1989 ini, di QS Al Maidah ayat 51 tetap diterjemahkan dengan “Pemimpin”, bukan “Teman setia”.

Maka dari itu Mushaf Al Qur’an dari berbagai penerbit dengan cetakan tahun 1988 ke bawah, menggunakan acuan terjemahan resmi 1971. Sedangkan 1989 ke atas, menggunakan acuan resmi 1989 hingga datang revisi terjemahan yang selanjutnya.

Di semua mushaf Al Qur’an cetakan pada tahun-tahun itu, akan menggunakan kata “Pemimpin” sebagai terjemah QS Al Maidah 51.

3. Revisi terjemah resmi bahasa Indonesia yang kedua, pada tahun 2002.

Dengan team lajnah pentashih dan penterjemah Al Qur’an yang lain, baru Depag pada versi terjemah resmi tahun 2002 ke atas hingga 2016 pada saat ini, merubah terjemahan “Pemimpin” dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah 51.

Maka dari itu, mushaf terjemah dari berbagai macam cetakan penerbit yang telah ditashih terjemahannya oleh Lajnah Pentashih di bawah Depag, pada tahun 2002 hingga sekarang selalu mengacu kepada revisi terjemahan yang kedua ini. Dan QS Al Maidah ayat 51 selalu diterjemahkan ke “Teman Setia”.

Di sinilah “root cause” nya sebenarnya.

Semua mushaf cetakan yang telah disetujui oleh Lajnah Pentashih di bawah depag, selalu menggunakan terjemahan “Teman Setia” ini kecuali mushaf terjemah bahasa Indonesia cetakan Saudi Arabia.

Mushaf terjemah cetakan Saudi Arabia tetap memakai standart terjemah resmi bahasa Indonesia tahun 1971, yang paling awal.

Menteri Agama kita sekarang Lukman Saifuddin, sebenarnya juga telah melakukan permintaan ke Saudi, agar Mushaf terjemah Indonesia cetakan Saudi Arabia juga direvisi terjemahannya.

Namun saya belum melihat mushaf terjemahan Indonesia cetakan Saudi, yang menggunakan revisi terjemahan yang baru ini. Mungkin karena permintaan ini baru dilakukan barangkali.

Lihat : http://lajnah.kemenag.go.id/…/180-menag-ingin-ada-perbaikan…

—–
Catatan :

Saya sebelumnya berterima kasih kepada semua teman saya, yang telah membantu saya dengan menshare data-data dan foto akan terjemah QS Al Maidah ayat 51 dari berbagai macam tahun penerbitan dan juga dari berbagai macam penerbit.

Hal tersebut sangat membantu kami dalam melakukan penelusuran ini.

***

Setelah mengetahui sejarah terjemahan resmi Al Qur’an, dan juga edisi revisinya, maka barulah kita faham duduk perkara kapan acuan terjemahan resmi Al Qur’an dari Depag itu mulai berubah dari “Pemimpin” ke “Teman Setia”.

Setelah faham duduk perkara itu, maka mungkin masih ada pertanyaan “Kalau begitu siapakah anggota team Lajnah Pentashih” yang merevisi terjemahan resmi Al Qur’an pada tahun 2002 itu?

Pada Mushaf terjemah “Syaamil Al-Qur’an” terjemah perkata yang saya punyai, cetakan tahun 2007.

Disebutkan di tanda tashih bernomor P.VI/I/TL.02.1/266/2007 bahwa lajnah pentashih tersebut diketuai oleh Haji Muhammad Shohibut Thohir, sekretaris Haji Anang Sudrajat, dan dianggotai oleh 20 orang ulama lainnya yang di bagian anggota nomor satu beranggotakan Dr. Haji Muhammad Quroisy Syihab.

Disini saya tidak sebutkan nama anggota lainnya, karena takut terlalu panjang, dan nama anggota lainnya bisa dilihat pada foto di bawah ini yang bertuliskan Arab-Indonesia.

***
Sekarang kembali ke permasalahan pokok, yakni apakah terjemah “Teman Setia” yang baru itu salah, sehingga yang benar itu harusnya diterjemahkan “Pemimpin”?

Ataukah terjemah “Pemimpin” yang dulu itu sebenarnya yang salah, sehingga direvisi menjadi “Teman Setia” pada revisi terbaru itu?

Al jawab semua terjemahan itu benar, hanya berbeda cara pendekatannya saja. Karena Auliya’ itu merupakan jamak taksir dari kata Wali. Dan kata wali itu merupakan kata musytarak, yang memiliki lebih dari 1 arti yang mana semua arti itu benar dan saling memperkuat.

Wali itu bisa berarti teman setia atau orang dekat, pembela, pelindung, pemimpin, penolong dan lain-lain yang memiliki hak tawali’ untuk kita berikan wala’ berupa loyalitas dan cinta dalam masalah agama kepadanya.

Hal ini masuk kedalam pembahasan Aqidah Tauhid Wala’ wal Baro’.

Ini bukan berarti kita tidak boleh berbuat baik kepada orang kafir. Berbuat baik dan bermuamalah kepada orang kafir yang tidak memerangi kita (terutama dalam masalah agama) itu boleh dan tidak ada masalah, sebagaimana yang tersebut dalam QS Al Mumthohanah ayat 8.

Namun jika hal itu sudah dalam masalah syariat aturan agama, maka tidak ada wala’ kepada orang kafir. Dan larangan menjadikan orang kafir sebagai wali itu, baik itu diterjemahkan teman setia ataupun pemimpin, merupakan syariat aturan agama yang tidak boleh kita langgar.

Kita boleh mencintai orang kafir dalam sebatas kecintaan tabiat atau hubungan darah, sepanjang itu tidak melanggar syariat Islam. Ini sebagaimana faedah yang bisa diambil dalam QS Al Qoshshoh ayat 56.

Kami sudah pernah membahas masalah ini, silakan lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/…/pluralisme-dan-pengaru…/

***
Yang jadi permasalahan itu sebenarnya adalah penggiringan opini dan pemahaman, bahwa yang dimaksud Auliya dalam QS Al Maidah 51 itu adalah teman setia saja, adapun kalau mengangkat pemimpin kafir itu tidak mengapa.

Kalau ini adalah maksud dari “bermain air keruh” seputar revisi penterjemahan itu, maka hal ini harus kita tentang dan kita tolak.

Karena ini tidak lain hanyalah merupakan tafsir liberal atau tafsir bil ahwa’ (tafsir berdasarkan hawa nafsu), demi kepentingan Pluralisme yang dia inginkan.

Hal ini seperti orang yang mentafsirkan boleh mengangkat pemimpin kafir dengan Qiyas pilot, sebagaimana yang telah kami bantah pada tulisan kami yang sebelumnya.

Jadi nasehat kami ada tiga :
1. Orang yang menuduh bahwa terjemahan QS Al Maidah 51 itu sengaja dirubah dan dipalsukan itu jatuh ke dalam kesalahan, dan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.

2. Hendaklah orang-orang yang menshare kesimpulan yang terburu-buru itu meminta maaf atau menghapus tulisan share-nya, baik yang tertulis di media online ataupun media sosial seperti facebook dan broadcast lainnya. Jangan jadikan diri anda sebagai corong fitnah.

3. Orang-orang yang sengaja menggiring pemahaman bahwa bahwa yang dimaksud Auliya dalam QS Al Maidah 51 itu adalah teman setia saja, adapun kalau mengangkat pemimpin kafir itu tidak mengapa. Yakni dengan “bermain air keruh” seputar revisi penterjemahan itu, maka hal ini harus kita tentang dan kita tolak.

Orang-orang Pluralis Liberal beserta orang-orang awam yang terkecoh, yang berusaha menipu atau tertipu dengan hal ini, harus kita tentang, kita tolak, dan kita luruskan duduk permasalannya. Namun bukan dengan cara yang salah.

***
Semoga tulisan dan nasehat ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

terjemah-al-maidah-51-bag-4

Investigasi bersama kapan terjemah “Pemimpin” di QS Al Maidah ayat 51 mulai diganti “Teman Setia”

Leave a comment

Terjemah resmi depag 1971 s/d revisi terjemah depag tahun 1989, masih diterjemahkan “Pemimpin” .

Mushaf cetakan tahun 2000 tampaknya masih mengacu ke revisi terjemah depag tahun 1989, yang masih diterjemahkan “Pemimpin” .

Apakah ada lagi teman yang punya cetakan terjemahan Al Qur’an resmi depag, yang mengacu kepada edisi revisi terjemah depag yang lebih baru dari 1989?

Akan coba kita telusuri mulai revisi terjemah tahun berapa, QS Al Maidah ayat 51 itu baru mulai diganti dari “pemimpin” ke “teman setia”.

***
Saya juga ingin tahu komposisi team Lajnah pentashih terjemah Al Qur’an, yang mulai merubah terjemahan dari “pemimpin” ke “teman setia” itu.

Mohon bantuan dilihat Mushaf terjemahan milik teman teman semua. Akan kita coba investigasi bersama.

Ajakan untuk tidak menebar fitnah seputar terjemahan QS Al-Maidah 51

Leave a comment

Saya harap teman teman di facebook saya yang menshare berita atau status terjemahan Al Qur’an surat Al Maidah ayat 51,

bahwa kata “pemimpin” diganti secara dzolim menjadi “teman setia”, atau dipalsukan, atau yang semisal, harap segera dihapus.

Terjemahan versi depag resmi yang “Pemimpin” itu ada.

Demikian juga terjemahan depag resmi yang “teman setia” juga ada.

Older Entries