Catatan penting : Sebelum membaca tulisan kami dibawah ini, kami sarankan untuk membaca tulisan kami OS Sunnah Seri 1 yang berjudul “Bedanya bermanhaj sunnah dan tidak bermanhaj sunnah”.

Tulisan OS Sunnah seri 1 itu ada di status kami sebelumnya. Hendaklah merujuk kesana untuk lebih memahami apa yang kami bicarakan.

Bagi yang sudah membaca yang seri 1, maka kami persilahkan untuk menikmati tulisan kami yang seri 2 ini. Selamat menikmati.

*****
Ketika kita telah diberi hidayah oleh Allah untuk mempunyai OS (operating system) sunnah.
Ketika system manhaj kita compatible dengan program dan aplikasi sunnah.

Ketika OS manhaj sunnah kita mempunyai imunitas otomatis untuk menolak dan tidak compatible dengan software software program dan aplikasi bid’ah.

Maka ini tidak berarti otomatis membuat diri kita menjadi ma’shum. Tidak otomatis kita bebas dari kedzoliman, kemaksiatan, akhlak dan adab yang buruk.

Kok bisa?
Lha iya donk. Coba kamu lihat laptop atau HP orang-orang yang bandel dan perlu dididik itu.

Bukankah walau OS mereka bermanhaj sunnah, program-program aplikasi sunnah mereka tidak error, akan tetapi bisa saja storage hard disk mereka diisi oleh file-file yang “nggak nggenah”?

Memang sejak kapan kalau OS nya sudah bermanhaj sunnah dan banyak program aplikasi sunnah yang diinstall, maka itu berarti storage foldernya nggak bisa diisi oleh file-file yang “nggak nggenah”? Mana di hidden folder lagi.

Sekali lagi, sejak kapan kalau OS nya sudah bermanhaj sunnah dan banyak program aplikasi sunnah yang diinstall, maka dia tidak bisa browsing internet dan buka-buka yang nggak nggenah?

Hayo itu yang ngakunya ber OS sunnah dan cengar-cengir ketika membaca tulisan saya ini. Ngapain sampeyan kok cengar-cengir mas? Ngerasa ya?!

Lho kok malah malingin wajah… iya mas, kamu, kamuuu….

****
Tulisan ini sebenarnya hendak menggaris bawahi, bahwa orang-orang yang ber OS sunnah itu bukan orang ma’shum.

Namun ada juga garis bawah lain yang harus diberi stabilo besar, bahwa apakah jika memang ada file-file nggak nggenah di dalam storage hard disk nya, maka ini berarti OS nya rusak dan salah?

Apakah ini berarti program dan aplikasi sunnahnya jadi salah dan harus dimodifikasi dengan kebid’ahan?

Tentu saja tidak.

Dan cara memperbaiki file-file nggak nggenah itu adalah dengan cara menghapusnya dengan permanent erase, dan juga memberikan restriksi agar tidak bisa browsing yang nggak nggenah nggak nggenah.

Bukan dengan cara memodifikasi OS sunnah nya dengan kebid’ahan, demikian juga program aplikasi sunnah yang telah terinstall. Bukan begitu caranya. Wong OS dan program nya itu sudah bener kok. Orangnya saja yang nggak benar.

Begitulah seharusnya keadilan yang harus kita tegakkan, dan penanganan yang tepat sesuai dengan sumber penyakitnya masing-masing.

****
Akan tetapi fakta ketika terjadi “pertempuran OS”, maka umumnya OS-OS yang menyimpang dan bid’ah itu memanfaatkan file-file dan browsing-browsing yang nggak nggenah itu sebagai kesalahan OS Sunnah nya.

Tidak adil memang, dan harusnya orang itu mudah untuk mengetahui jenis tipuan-tipuan seperti ini. Akan tetapi karena manusia itu sejatinya adalah makhluk emosional dan baper, maka tetap saja ada segelintir orang yang termakan tipuan murahan logical fallacy seperti ini.

Sekali lagi kami ulang, Akan tetapi karena manusia itu sejatinya adalah makhluk emosional dan baper, maka tetap saja ada segelintir orang yang termakan tipuan murahan logical fallacy seperti ini.

Logical fallacy yang umumnya disebut sebagai “Guilty by association” ini, sebenarnya sudah kami bahas dan kami bantah pada tulisan kami beberapa saat yang lalu dengan menggunakan keterangan Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi kali ini kami coba tampilkan lagi di sini, dengan bahasa yang lebih mudah.

*****
Bukti bahwa bermanhaj sunnah itu tidak otomatis menjadikan seseorang itu ma’shum, itu ada pada contoh dalam diri para sahabat.

Sebelumnya, apakah disini yang membaca tulisan kami ini ada orang yang beranggapan bahwa para sahabat itu tidak bermanhaj Sunnah? Jika ada, maka antum tidak perlu lagi membaca kelanjutan tulisan kami. Itu hanya akan membuang-buang waktu antum yang berharga.

Namun jika antum haqqul Yaqin bahwa para sahabat itu benar-benar bermanhaj sunnah, mengikuti Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, maka kami persilahkan untuk meneruskan membaca tulisan kami.

Ini sengaja kami konfirmasi agar kita berada “on the same page”. Percuma ngobrol lama-lama sama orang yang pikirannya tidak nyambung.

Khoir, mari kita lanjutkan.

========
Disebutkan dalam hadits shohih riwayat Bukhori dan Muslim,

لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ } شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا : أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟

“Ketika Allah menurunkan ayat: “Orang-orang beriman itu mereka yang tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman” (Surah Al-An’am: 82)”.

Ketika mendengar ayat tersebut, para sahabat menjadi gelisah. Mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah dari kalangan kami yang tidak zalim pada dirinya?”

Dan kemudian Rasulullah menjawab bahwa yang dimaksud dzolim disitu adalah berbuat syirik, sebagaimana QS luqman. Jadi bukan semua kedzoliman.
=========

Fokus kita disini adalah pada perhatikan dengan benar-benar perkataan Shahabat ( أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟ ) “Siapakah di antara kami yang tidak mendzolimi dirinya?”

Di sini para sahabat memahami bahwa dirinya itu juga bisa dzolim, bisa dosa, akan tetapi ketika Rasulullah mendengar hal itu maka apakah Rasulullah kemudian menyalahkan OS manhaj Sunnah para sahabat?

Al jawab tidak!

Rasulullah tidaklah sepicik orang-orang yang mendiskreditkan manhaj Sunnah, hanya gara-gara ada orang yang mengaku bermanhaj sunnah namun terjatuh kedalam kesalahan dan kedzoliman.

Rasulullah tidaklah sepicik orang-orang yang mendiskreditkan manhaj Sunnah, hanya gara-gara ada orang yang mengaku bermanhaj sunnah namun memiliki perangai adab dan akhlak yang buruk.

Apalagi untuk menggeneralisir bahwa semua pengikut manhaj sunnah seperti itu. Dzolim, kasar, buruk akhlak dan adabnya. Tidak Rasulullah tidaklah sepicik itu.

Zaman Rasulullah ada orang yang mencuri, ada orang yang bahkan berzina. Ketika Rasulullah ditanya masalah pendapat orang-orang yang melamar Fathimah binti Qois, maka Rasulullah menyebutkan kekurangan dan keburukan akhlak para pelamar itu, sebagaimana hadits ini diriwayatkan Bukhori Muslim.

Namun Rasulullah adil dalam bersikap, dan tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah kesalahan OS manhajnya.

Anda heran? Ya! Rasulullah sebutkan keburukan akhlaknya, namun beliau tidak pernah menyalahkan OS manhaj sunnahnya. Apalagi menggeneralisir dan mengkaitkan orang lain jadi ikut-ikutan kena getahnya.

Itu adalah kesalahan pribadi, maka itu ya kesalahan pribadi. Bukan kesalahan komunal untuk digeneralisir dengan logical fallacy “guilty by association”.

*****
Adapun perkara hal itu harus diingkari, maka ya itu harus dingkari. Dan kajian-kajian sunnah, ustadz-ustadz sunnah, serta teman-teman atau komunitas sunnah juga sudah memperingatkan dan mengingkari hal itu.

Baik itu yang ditujukan secara umum, ataupun yang ditujukan kepada pribadi.

Yang namanya file-file nggak nggenah itu harus dimusnahkan, browsing-browsing yang nggak nggenah itu harus direstriksi, dan oknum-oknum yang menyebabkan wajah dakwah sunnah itu tercoreng juga harus dibina dan diluruskan.

Dan kemudian sebagaimana do’a Rasulullah ketika Kholid bin Walid salah dalam membunuh orang, beliau mengangkat tangan dan berkata “Ya Allah, aku berlepas diri dari Kholid” sebanyak dua kali. Sebagaimana ini adalah hadits riwayat Bukhori.

Maka jika kemudian tetap ada orang yang tergelincir ke dalam kesalahan-kesalahan itu, maka itu adalah kesalahan pribadi orang tersebut. Adanya file-file nggak nggenah dan browsing2nya itu adalah pertanggung jawab pribadi oknum tersebut.

Tidak ada dosa waris atau dosa komunal dalam Islam, jika memang kita telah berusaha Amar ma’ruf nahi munkar dan menasehati semampu kita.

Semoga ini mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Advertisements