Kemarin seorang bapak teman komunitas sunnah, dengan bangga bercerita kepadaku.

Anak laki-lakinya yang paling besar, yang sudah berumur sekitar 20 an tiba-tiba berkata sendiri dia nggak ingin pacaran, inginnya ta’aruf dan langsung nikah saja.

Bapaknya sangat bangga akan dorongan kemauan anaknya itu sendiri. Apalagi di zaman sekarang, yang pergaulan anak muda itu memang sudah benar-benar mengkhawatirkan. Dengan gaya khas logat betawinya sang bapak berkata “kalau lo mau, gua kawinin sekarang juga ayo!”.

Kami kemudian tertawa bersama-sama, dan turut bahagia mendengar kisah beliau. Akan tetapi sebenarnya pelajaran terpenting yang saya ambil dari beliau itu bukan itu. Kata-kata berikut ini yang saya anggap sebagai pelajaran penting bagi saya.

Sang bapak itu sembari memberikan support kepada anaknya, dia berkisah akan wejangan yang dia berikan kepada anaknya.

“Bagus tuh nak. Kalo bisa kamu coba lihat contoh bapak ibu yang sudah sama-sama mengenal sunnah. Kan enak kalau pasangan suami istri sudah sama-sama mengenal sunnah.”

“Coba kamu lihat tuh temen-temen ibumu yang suaminya pade belum kenal sunnah, kan jadinya repot”.

****
Saya sendiri faham betapa besar nikmat berumah tangga suami istri, yang sudah sama-sama mengenal Sunnah. Maka dari itu saya bisa memahami maksud sang bapak itu.

Ungkapan gembira dan pengharapan dari sang bapak kepada anaknya itulah, yang kemudian saya ingat dan saya ambil pelajaran.

Bahwa betapa besarnya nikmat jikalau kita berumah tangga suami istri, yang sudah sama-sama mengenal sunnah. Ini adalah nikmat yang harus selalu kita syukuri.

Advertisements