Karena tampaknya masih banyak yang gagal faham,
maka berikut mari kita bahas logical fallacy “guilty by association” dalam masalah istilah “Ustadz Sunnah” dan “Kajian Sunnah”, dengan berdasarkan naungan hadits rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadits shohih riwayat Bukhori, Muslim, dan lainnya;
ketika sedang berada di medan perang yang belum berkecamuk, terdapat seorang muhajirin yang suka bercanda. Dia terlewat batas dalam bercanda hingga memukul pantat seorang Anshar, dengan maksud untuk bercanda. (Orang Arab itu gak masalah kalau antum pegang-pegang kepalanya, tapi jangan coba-coba pukul pantatnya).

Sang Anshor tidak terima dengan candaan sang muhajirin, maka dia berusaha memanggil teman-temannya “Yaa Anshoor (tolong aku)”. Sang Muhajirin pun tahu gelagat yang tidak baik, maka dia membalasnya dengan juga memanggil teman-temannya “Yaa muhaajiriin (tolong aku)”.

Rasulullah kemudian mendengar hal ini, maka Rasulullah pun marah. Beliau berkata, “Seruan jahiliyyah apa ini?” ( مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ). Dan kemudian Rasulullah melerai mereka dan menyuruh untuk meninggalkan hal itu.

Seharusnya kasus ini selesai sampai di sini. Akan tetapi sang gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul mencoba bermain di air keruh, dengan memanfaatkan moment ini. Dia menghasut bahwa nanti jika orang-orang muhajirin kembali di madinah dan sudah kuat, maka mereka akan mengusir orang-orang Anshoor dari kampung halaman mereka sendiri yakni Madinah.

Abdullah bin Ubay bin Salul berkata,
( لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ )

“Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.”

Saking dahsyatnya hasutan Abdullah bin Ubay bin Salul dengan memanfaatkan kartu logical fallacy “guilty by association” itu, hasutan ini sampai diabadikan di dalam Al Qur’an surat Al – Munaafiquun ayat 8.

Umar bin Khoththob sangat murka dengan propaganda “guilty by association” ini, bahkan dalam shohih Bukhori disebutkan beliau memberikan usulan kepada rasulullah “Tidakkah kita sebaiknya bunuh saja orang yang tercela ini wahai Rasulullah?”.

Rasululloh pun menenangkan Umar dan menolak keinginan beliau karena madhorotnya nanti lebih besar, dan orang-orang nanti akan berdalih untuk mendiskreditkan dakwah dan pribadi rasul dengan berkata, bahwa beliau telah membunuh temannya.

***
Hadits di atas memberikan kita banyak sekali hukum dan ilmu bagi kita.

Rasulullah dengan cerdas bisa menangkap jebakan logical fallacy “guilty by association” itu, karena Rasulullah sendiri termasuk orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun rasulullah sama sekali tidak pernah menghapuskan penggunaan nama assosiasi penisbatan, “Muhajirin” dan “Anshor”.

Di sisi lain faedah yang juga bisa kita ambil adalah, orang yang umumnya berusaha memanfaatkan momen di air keruh itu kebanyakan adalah orang yang dalam hatinya terkena penyakit atau terkena fitnah.

****
Saya berikan contoh lain yang lebih mudah lagi, kalau misal kita masih susah menangkap maksud hadits di atas.

Seperti misal istilah “Quroisy” maka ini adalah nama associasi dan penisbatan. Nama ini bahkan juga diabadikan di dalam Al Qur’an sebagai nama surat, yakni surat Al-Quroisy.

Nama penisbatan atau nama asosiasi ini tidak pernah sekalipun di batalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Padahal kita faham di balik nama asosiasi Quroisy ini, selain ada nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Ali yang bernaung di balik nama asosiasi ini, ada juga nama Abu Lahab dan Abu Jahal di dalamnya.

Rasulullah sendiri malah melegitimasi nama asosiasi Quroisy ini, dengan tetap memberikan jabatan-jabatan yang umumnya dipegang oleh suku-suku Quroisy untuk mengelola Makkah, setelah terjadinya Fathul Makkah dan ditaklukkannya Makkah.

Bahkan Rasulullah juga berkata “Aimmatu minal Quroisy” (Para pemimpin itu berasal dari Quroisy).

Kami ulangi lagi,
kita faham di balik nama asosiasi Quroisy ini, selain ada nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Ali yang bernaung di balik nama asosiasi ini, ada juga nama Abu Lahab dan Abu Jahal di dalamnya.

Bahkan ketika Abu Lahab dicela, maka dia diturunkan ayat dan nama surat sendiri yakni Qur’an surat Al Lahab ( atau disebut juga dengan nama lain sebagai surat Al Masad). Dan tidak disebutkan di dalam surat Al Lahab itu nama Quroisy sebagai nama asosiasinya untuk melegalkan logical fallacy “Guilty by Association”.

Oleh karena itu kesalahan Abu Lahab itu tetaplah kesalahan Abu Lahab, kesalahan Abu Jahal itu tetaplah kesalahan Abu Jahal. Dan penisbatan kesalahan itu hanya dinisbatkan kepada Abu Lahab dan Abu Jahal saja, bukan kepada Quroisy sebagai nama asosiasinya.

Demikianlah metode Al Qur’an dan Assunnah dalam memahami duduk perkara, dan terlepas dari logical fallacy “guilty by asslciation”.

Al Qur’an dan As sunnah hanya mencela nama assosiasi atau penisbatan, jika memang pondasi dasar atau manhaj dari yang dinisbatkan itu bathil dan menyalahi Al Qur’an dan As Sunnah. Seperti misal nama asosiasi penisbatan Al Kaafiruun, Al Munaafiquun, dan Khowarij (sebagaimana nama ini ada dalam hadits rasulullah).

Demikian juga para ulama memakai metode ini untuk mencela dan memperingatkan nama asosiasi atau penisbatan, baik itu kepada manhaj atau jamaah, yang pondasi dasar dari manhaj atau jamaah itu bathil dan bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Seperti misal : mu’tazilah, jahmiyyah, syi’ah, dan lain-lain.

Boleh anda protes dan mencela ustadz mu’tazilah atau kajian mu’tazilah. Karena memang pondasi dasar dan manhaj mu’tazilah itu bathil.

Boleh anda protes dan mencela ustadz syi’ah atau kajian syi’ah Karena memang pondasi dasar dan manhaj syi’ah itu bathil.

****
Bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, atau bagi orang-orang yang belum mengetahui ilmu akan hal ini, maka mereka umumnya akan mudah terfitnah dan terprovokasi.

Demikian juga tampaknya yang kami lihat, yang juga menimpa kepada orang-orang yang terlanjur salah dalam memahami agama dengan kungkungan hizbiyyah. Orang-orang hizby umumnya hanya akan melihat orang lain hizby juga sama seperti dia.

Mereka mudah untuk terjatuh ke dalam logical fallacy dengan berbagai macam bentuknya.

Baik itu logical fallacy “guilty by association” yang kami jelaskan ini, ataupun logical fallacy “anecdotal”, “black and white”, atau “with me or againts me” yang telah kami jelaskan pada tulisan sebelumnya. Dan maksud tulisan kami yang sebelumnya itu jelas, tanpa perlu bagi kami untuk mengulanginya lagi. Silakan merujuk lagi pada tulisan kami yang sebelumnya.

Bahkan sebenarnya yang kami takutkan dari fitnah dan logical fallacy ini, adalah hal ini akan banyak menimpa para wanita. Bukan banyak menimpa kepada laki-laki.

Kenapa?
Karena laki-laki itu logis dan mudah untuk dijelaskan dengan logika. Sehingga mudah baginya untuk rujuk atas ketidak fahamannya.

Sedangkan wanita, maka umumnya dia akan lebih banyak mengkedepankan perasaan dalam menilai sesuatu.

Bahkan sejatinya logical fallacy “guilty by association” ini sebenarnya adalah manhaj dari para wanita.

Sebagaimana perkataan Rasulullah dalam menasehati wanita agar jangan banyak kufur kepada suaminya. Setelah suaminya banyak sekali berbuat kebaikan kepadanya, maka ketika ada satu kesalahan saja dia langsung menjadi “queen of drama” bahwa suaminya tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali kepadanya.

Kenapa seperti itu? Karena yang dia ingat-ingat dari sang suaminya itu hanya kesalahannya saja. Yang dia asosiasikan kepada suaminya itu hanya kesalahan yang satu itu. Dan hanya itu yang dia ungkit-ungkit terus.

Bahkan tidak perlu orang yang faham agama sebenarnya untuk memahami hal ini. Orang awwam pun tahu ketika dia mengetahui bahwa ada wanita yang tersakiti oleh seorang laki-laki, maka dengan modus insya Allah di jalan yang benar untuk menikahinya dan tidak mempermainkannya, dia berkata,

“Tidak semua laki-laki seperti itu….”

****
Sekedar closing.

Apakah demikian juga manhaj orang yang selalu mengungkit-ungkit Abu Jahal dan Abu Lahab, untuk tidak setuju dengan istilah Quroisy? Apakah ini hanya untuk memperdaya orang-orang yang memiliki sifat seperti wanita saja dalam menilai suatu hal? Walloohu A’lam.

Saya bukan orang yang sedang ingin merangkai kata-kata indah atau motivasi dalam hal ini, walaupun mungkin saya insya Allah sebenarnya juga bisa. Namun saya hanya berusaha untuk menerangkan dalam bahasa yang ringan agar mudah untuk difahami semua orang.

Semoga ini mudah untuk difahami. Dah gitu aja

Advertisements