Dakwah “soft” itu dimulai embrio nya sejak awal tahun 1970. Beliau orang yang intelektual dan dikenal santun. Selalu suka tersenyum di banyak kesempatan.

Bagaimana orang tidak terkesima? Selain lahir dari lingkungan sangat agamis, jebolan gontor ini juga pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI selama 2 periode.

Bahkan hebatnya lagi, disertasi doktoral nya itu membahas mengenai Ibnu Taimiyah dengan judul “Ibn Taimiya on Kalam and Falsafah: Problem of Reason and Revelation in Islam”

Slogan yang dibawakan pada tahun 1970 itu pun juga sangat crunchy, yakni “Pembaharuan”. Itu adalah slogan yang sangat crunchy pada waktu itu. Mungkin hampir sama dengan slogan “Salaf” yang juga sangat crunchy sekarang ini.

Memang tidak semua yang mengusung slogan crunchy itu, pada hakekatnya benar benar crunchy.

Ketika dakwah yang soft, intelektual, dan sangat santun itu akhirnya mendapat tempat di hati masyarakat. Bahkan sang pioneer nya juga sampai mendapat gelar julukan “Guru bangsa”. Maka mulailah dia menunjukkan hakekat nya.

Chaos dan kerusakan pemahaman beragama pun terjadi di mana mana dengan mengambil tema Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi.

****
Jika sekarang banyak orang yang tertipu dan tersihir dengan slogan crunchy “Salaf” yang dibawakan dengan gaya soft dan penuh tazkiyatun nufus (pensucian jiwa).

Namun ternyata ini bermasalah dalam manhaj nya yang penuh syubhat terhadap ulil Amri. Atau mungkin apa yang disebut dengan jargon “Salafi Haroki”.

Dan terlebih lagi ada juga senior mantan salah satu organisasi jihad yang sama dengannya yang telah bertaubat, yang menasihati Ummat dan membongkar kedoknya.

Maka hendaklah orang orang jangan tertipu dengan gaya yang soft dan penuh tazkiyatun nufus itu. Apalagi para akhwat dan para ummahat yang memang kelemahannya itu di “telinga”. Hendaklah benar benar berhati hati akan hal ini

—–

Tanya :

Klo ambil faidah dr tazkiyatun nufusnya aja boleh ga ustad?

Jawab :

Sejauh yang saya tahu,
tidak ada jaminan bahwa tazkiyatun nufus nya tidak bercampur dengan penyimpangan manhaj nya dalam masalah ulil Amri.

Malah banyak yang “tergiring” dengan syubhat seputar ulil Amri, karena tertarik dengan gaya penyampaiannya yang lembut dan tazkiyatun nufus nya.

Jadi sebaiknya jangan.

Tapi kalau dia mengajarkan tajwid, dan hanya tajwid saja yang diajarkan. Maka boleh saja antum mengambil faedah tajwid darinya, karena tajwidnya tidak bercampur dengan syubhat penyimpangan manhaj nya.

Semoga antum faham apa yang saya maksud. Walloohu A’lam

Advertisements