Tidak perhatian terhadap dakwah Tauhid, atau tidak memahami dakwah Tauhid itu, ditandai jika negerinya dilanda dengan kesyirikan namun dia tidak berusaha berdakwah untuk memberantasnya.

Apalagi malah jalan jalan ke luar negri dengan tujuan untuk berdakwah, katanya.

Rasulullah tidak pernah jalan jalan dakwah ke luar negeri sebelum kesyirikan di negeri Arab beres. Namun hebatnya dakwah beliau bisa meng-global ke luar negri, walau fokus nya lokal dulu.

Dan demikian juga fokus dakwah para sahabat, masih di sekitar kawasan Arab saja, hingga datangnya zaman ekspansi dakwah setelah Tauhid terpancang kuat, mulai zaman kholifah Umar.

****
Misal ada dakwah global “jalan-jalan”, tapi negara lokal tempat asal munculnya manhaj dakwah global jalan jalan ini, tidak ada gaungnya gerakan dakwah tauhid olehnya.

Maka ini menunjukkan bahwa metode dakwah ini :
1. Tidak menaruh perhatian terhadap dakwah Tauhid

2. Atau tidak memahami prioritas dakwah tauhid itu sendiri.

3. Atau memahami Tauhid dengan itu hanya sekedar Tauhid rububiyah saja. Yang mana ini tidak ada bedanya dengan pemahaman musyrikin jahiliyyah zaman dulu

Orang musyrikin pada zaman jahiliyyah dulu faham bahwa pencipta dan pemberi rizki mereka satu satunya itu ya Allah. Nggak perlu harus ada dakwah Tauhid rasulullah kepada mereka, maka mereka sudah faham kok dengan sendirinya.

4. Atau tidak memahami syirik itu apa, baik dalam masalah peribadahan ataupun Asma wa Shifat Allah.

Jadinya mau ada orang islam pemahaman tauhid nya wihdatul wujud, Allah ada di mana mana, tawasul dan tabaruk ke kuburan Syaikh Syaikh Thoriqot, suka pake jimat, maka itu semua dianggap tidak masalah.

5. Atau jangan jangan, di buku panduan pedoman dakwah global jalan jalan itu sendiri, yang khas buatan sendiri dan sering dibacakan itu. (bukan di riyadhus Sholihin tulisan Imam An Nawawi ya).

Di dalamnya itu sendiri, ternyata terdapat hal hal yang mengandung penyimpangan aqidah tauhid?

Wah, pantas saja kurang perhatian sama dakwah tauhid “yang sebenarnya” ya…

Advertisements