Tanya :

Ada salah satu firqoh yang menyatakan dakwah itu kewajiban. bahkan boleh meninggalkan keluarga atau kewajiban mencari nafkah, karena memenuhi kewajiban berdakwah. soal ilmu itu urusan kesekian, yang penting mau berdakwah. Apa pendapat antum?

Jawab :

Hal itu salah dan tidak tepat.

Hukum asal dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar itu fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain.

Dalilnya adalah QS Ali Imran ayat 104, disana disebutkan kata “minkum” (sebagian dari kamu) sehingga jelas ini adalah dalil untuk fardhu kifayah, bukan fardhu ‘Ain.

Ini adalah basic pemahaman yang harus kita fahami secara umum dulu.

Adapun uniknya khusus jika untuk keluarga, maka hukum dakwah dan amar Ma’ruf Nahi Mungkar itu hukumnya fardhu ‘ ain. Bukan fardhu kifayah lagi.

Dalil untuk ini adalah ayat yang terkenal “Quu anfusakum wa ahlikum naaron” dalam QS At Tahrim ayat 6.

Jadi meninggalkan fardhu’ ain hanya demi fardhu kifayah, yang sebenarnya belum jatuh kewajiban fardhu kifayah bagi dia, karena dia masih belum cukup ilmu dan kemampuan. Maka ini adalah kesalahan dalam memahami Islam alias penyimpangan manhaj.

Saya ulangi lagi,

meninggalkan fardhu’ ain hanya demi fardhu kifayah, yang sebenarnya belum jatuh kewajiban fardhu kifayah bagi dia, karena dia masih belum cukup ilmu dan kemampuan. Maka ini adalah kesalahan dalam memahami Islam alias penyimpangan manhaj.

***
Terlebih lagi tidak pernah ada riwayat bahwa para sahabat Berdakwah ke luar daerah asalnya dalam waktu yang lama, dengan cara meninggalkan keluarganya.

Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan seperti itu, maka apalagi para sahabat. Tidak pernah rasulullah pergi meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama hanya karena alasan dakwah. Yang ada jika hanya untuk keperluan perang.

Bahkan untuk keperluan perang sekalipun, sahabat juga membawa istri nya jika memungkinkan. Sebagaimana ini adalah riwayat yang Shohih mengenai mengenai khabar rasulullah bahwa ummu haram termasuk yang meninggal diantara pasukan maritim Islam yang pertama kali ada.

Dan ternyata terbukti di zaman Utsman, di bawah komando gubernur Muawiyah, ummu Haram ikut di kapal perang angkatan Maritim itu bersama suaminya Abu Ubaidah.

Jadi jika para sahabat kadang membawa istrinya dalam kancah perang jika aman, apalagi jika dalam dakwah dalam waktu yang lama.

Mereka jauh lebih memahami maksud ayat-ayat dan aplikasinya yang benar, sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya.

****
Kalau begitu kenapa kok ada firqoh yang menyimpang, hingga dengan alasan Berdakwah sampai meninggalkan keluarga?

Nah ini asal mulanya berasal pemahaman yang nggak benar, yang seenaknya menafsirkan ayat QS Ali Imron 110 dengan alasan dapat “wangsit” dari mimpi, dan digabungkan dengan otak atik gathuk ke At Taubah ayat 2.

Penjelasannya bisa lebih panjang, tapi “root cause” nya dari situ 🙂

Walloohu A’lam

***

Diskusi :

kalau gak salah, saad bin abi waqqas ra dan rombongan pergi berdakwah ke china. berangkat di jaman khalifah abu bakar ra, kembali ke madinah di jaman utsman bin affan ra

kalau pun nabi tidak pernah mencontohkan berdakwah meninggalkan keluarga dalam waktu lama, maka pengertian “lama” atau pun “sebentar” itu bukankah relatif terhadap waktu, kondisi, budaya, pada saat kejadian ?

Jawab :

Sejauh yang saya tahu, kisah Sa’ad bin Abi Waqqosh dan rombongan pergi ke China pada zaman Abu Bakar dan kembali pada zaman Utsman itu adalah kisah yang mustahil dan mengada-ada.

– Pada zaman Abu Bakar yang hanya berlangsung sekitar 2 tahun, kholifah Abu Bakar dan para sahabat fokus kepada memerangi orang2 Arab yang murtad setelah Rasulullah meninggal, memerangi para Nabi Palsu, memerangi kabilah2 Arab yang menolak membayar Zakat, dan pengumpulan Al Qur’an untuk yang pertama kali dalam 1 mushaf.

Dan tentu saja Sa’ad bin Abi Waqqosh termasuk di dalamnya.

Satu-satunya ekspedisi yang ada pada Zaman Abu Bakar adalah ekspedisi pasukan Usamah bin Zaid ke Syam. Bukan ke China. Dan ini dilakukan karena inilah amanah Rasulullah dengan menunjuk Usamah sebagai pimpinan pasukan, yang belum tercapai karena beliau terlebih dahulu meninggal. Baru pada zaman Abu Bakar hal itu terjadi.

– Pada zaman Umar, Sa’ad bin Abi Waqqosh ditunjuk sebagai panglima pimpinan pasukan oleh Umar untuk menyerang Persia. Dan sejarah perang Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad ketika melawan Pasukan Persia adalah kisah dan riwayat yang paling terkenal, yang tidak terbantahkan.

– Sejarah pasukan maritim Islam yang pertama kali ada itu pada zaman Kholifah Utsman atas prakasa Muawiyah. Sebelumnya Mu’awiyah pernah mengusulkan pada zaman Umar namun ditolak karena pertimbangan tertentu, dan baru disetujui pada zaman Utsman.

Sa’ad dan rombongannya mestinya pergi ke China pake jalur laut dengan pake kapal kan? Mustahil pakai Unta. Apalagi jalur darat pada zaman-zaman sebelum Utsman itu masih dikuasai Romawi dan Persia. Hingga Romawi dan Persia mulai ditaklukkan dan lepas daerah kekuasaannya pada zaman Umar dan Utsman.

– Ohya hadits “Utlubul ‘ilma walau bisy syiin” (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China) itu hadits palsu.

Demikian sedikit kritik dari saya

Advertisements