Ketika kita masih kecil, ketika melakukan sesuatu, kita ingin orang tua melihat kita.

“lihat, lihat abi “,” abi, abi, lihat “.

Tentu saja pujian, dan sanjungan dari orang tua yang diharapkan oleh anak kecil itu. Walaupun sepele, tapi penghargaan dan pujian itu besar artinya untuk anak kecil itu.

***
Ketika beranjak lebih besar, ketika melakukan sesuatu yang berprestasi, kita ingin orang lain juga ikut melihat kita. Tidak hanya sekedar orang tua kita.

Wajar kalau orang tua memuji kita, namun tidak itu yang kita inginkan karena itu sama saja masih dianggap kayak anak kecil.

Akan tetapi pengakuan, kekaguman, dan penghargaan dari orang lain lah yang kita harapkan.

Prestasi dan pengakuan orang lain inilah yang ingin kita dapat dan bangga banggakan.

—-
Catatan samping :
Apalagi bagi para jomblowan dalam memperjuangkan akhwat idaman.

Atau wanita yang ingin dipuji cantik dan suka selfie selfie an, terlepas itu akhwat ataupun wanita umum.

Maka modus ini benar benar sangat terlihat.
—-

***
Ketika kita beranjak bertambah ilmunya, terutama ilmu berkaitan dengan masalah niat dan hati, maka mulailah kita menapaki tahapan paling kritis dan paling terjal dalam kehidupan kita.

Sekali lagi inilah tahapan paling sulit, paling curam, dan paling terjal dalam seluruh fase kehidupan kita.

Apakah itu yang dimaksud?

Yakni tahapan ketika kita mempunyai potensi, ketika kita beramal, dan ketika mempunyai suatu prestasi keutamaan sendiri; kita lebih ingin agar Allah yang melihatnya dan menerima amalan itu.

Pengakuan, kekaguman, dan penghargaan dari orang lain itu tidak dirasa penting, bahkan merasa malu jika orang lain memuji seperti halnya orang dewasa yang malu dipuji oleh orang tuanya, karena dianggap seperti anak kecil.

Nah dalam fase ini, kita lebih banyak berusaha mempertahankan status quo kita sebagai “anak kecil” yang minta dipuji dan diakui orang lain, dibandingkan malu dan menutup nutupinya.

Status quo anak kecil ini kadang secara alam bawah sadar terus berusaha untuk dipertahankan, walaupun kita sudah tahu ilmunya.

Kami ulangi lagi. Tetap terus berusaha dipertahankan walaupun kita sudah tahu ilmunya.

Kalau misal hal ini terjadi, dan kita tetap ngeyel dengan “comfort zone” itu, maka apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya?

Hal yang paling utama untuk mengatasinya adalah dengan mengakui dulu bahwa kita itu masih “anak kecil”.

Tidak perlu malu, akui saja bahwa kita masih anak kecil. Tapi yang penting kita sadar akan kondisi kita, dan mau berjuang untuk berubah.

Ini yang paling penting.

Advertisements