Sejauh yang saya tahu,

Orang yang mengikuti sunnah dewasa ini, yang memberikan ketaatan dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa muslim.

Tidak ikut mengangkat senjata atau menghasung masyarakat untuk memberontak melawannya.

Dan tetap membenci serta mengingkari kedzoliman yang dilakukan oleh pemerintah, dengan cara yang sesuai sunnah.

Maka orang yang berusaha mengikuti sunnah seperti ini, kadang suka dituduh atau diberikan gelar sebagai murjiah.

****
Dia dituduh sebagai murjiah karena tetap taat dalam hal yang ma’ruf kepada pemerintah Islam, meskipun pemerintah itu dianggap dzolim, fasik, tidak menegakkan “sebagian” hukum Islam di negaranya, serta lebih memilih hukum buatan manusia sebagai penggantinya.

Sedangkan dalam pandangan kacamata sunnah, pemerintah tersebut tidak bisa “otomatis” dijatuhi hukum sebagai orang yang kafir secara spesifik karena tidak berhukum dengan hukum Allah, karena adanya syubhat dan udzur yang ada.

Perbedaan antara pengkafiran secara otomatis dalam masalah berhukum dengan hukum Allah yang umumnya dianut oleh manhaj takfiri;

Dengan pengkafiran secara terperinci yang melihat harus terpenuhi nya sebab, syarat, dan tidak adanya mawani'(penghalang) atau udzur sesuai manhaj Ahlus Sunnah.

Umumnya sudah kami tulis di tulisan kami yang lain, yang kami kumpulkan di blog kami.

***
Orang yang memberikan tuduhan murjiah itu, umumnya hanya “menggoreng” perkataan An-Nadlr bin Syumail mengenai murjiah yang didapatkan dari kitab sejarah saja.

Mereka tidak menurunkan riwayat dan penjelasan mengenai murjiah, yang berasal dari kitab kitab induk Aqidah.

Kenapa?
Karena penjelasan mengenai murjiah di dalam kitab kitab induk Aqidah umumnya selalu dikaitkan dengan masalah definisi dan pemahaman mengenai iman ala murjiah, yang bertentangan dengan manhaj Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kitab kitab induk Aqidah, tidak pernah mengaitkan sikap politik yang sesuai sunnah terhadap pemerintah yang fasik lagi dzolim, sebagai ciri khusus dan utama dari Aqidah murjiah.

Saya belum pernah mengetahui bahwa ada kitab induk masalah Aqidah, yang menurunkan perkataan An-Nadlr bin Syumail sebagai penjelasan mengenai murjiah.

****
Umumnya orang yang suka menuduh murjiah di era kontemporer ini, mengaitkan dengan riwayat dari An-Nadlr bin Syumail berikut ini :

سئل النضير بن شميل عن الإرجاء فقال: ذلك دين يعجب الملوك

“An-Nadliir bin Syumail penah ditanya tentang irjaa’, lalu ia berkata : ‘Itu adalah agama yang membuat senang para raja”.

Perkataan ini ditinjau dari kualitas riwayatnya, maka tidak diketahui darimana sumbernya yang disertai sanadnya

Atau dikaitkan dengan riwayat An-Nadlr bin Syumail yang lain:

دخلت على المأمون فقال لي كيف أصبحت يا نضر قال قلت بخير يا أمير المؤمنين قال تدري ما الإرجاء قال قلت دين يوافق الملوك يصيبون به من دنياهم وينقص من دينهم قال لي صدقت

“Aku masuk ke tempat Al-Ma’muun, lalu ia bertanya : ‘Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Nadhr?’. Aku menjawab : ‘Baik-baik saja wahai Amirul-Mukminin’. Ia bertanya lagi : ‘Apakah engkau mengetahui apa irjaa’ itu?’. Aku menjawab : ‘(Irjaa’ adalah) agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan dunia dengannya dengan mengurangi agama mereka’. Al-Makmuun berkata : ‘Engkau benar”.

Sanad riwayat ini adalah sebagai berikut :

أبو الحسين بن أبي الحديد أنا جدي أبو عبد الله أنا أبو المعمر المسدد بن علي بن عبد الله بن العباس بن أبي السجيس الحمصي قدم علينا نا أبو بكر محمد بن سليمان بن يوسف الربعي نا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن أبي ثابت العطار نا أبو عبد الله السجستاني مستملي أبي أمية عن أبي داود المصاحفي سليمان بن سلم قال سمعت النضر بن شميل : …..

[Taariikh Dimasyq, 33/301]

Riwayat ini lemah dengan sebab Al-Musaddad bin ‘Aliy dan jahalah dari Abu ‘Abdillah As-Sijistaaniy.

Al-Kattaaniy rahimahullah berkata mengenai Musaddad bin ‘Aliy : “Padanya terdapat sikap bermudah-mudahan” [Taariikhul-Islaam, 7/86].

****
Riwayat dan pemahaman yang tidak tepat ini, sebenarnya juga digunakan oleh Ahmad Amin yang kemudian dibantah oleh Dr. Muhammad Dhiyauddin Ar Rayyis dalam kitab beliau An Nadzoriyyatus Siyaasah Al Islaamiyyah, karena hal ini bertentangan dengan fakta sejarah.

Lihat juga tulisan kami yang terdahulu di :

https://kautsaramru.wordpress.com/2016/07/26/murjiah-dan-pandangan-politiknya-dalam-masalah-bermuamalah-kepada-pemerintah-muslim/

Advertisements