Saya menulis :

Sejauh yang kami tahu, masalah isbal itu bukan masalah manhajiyyah, tapi itu adalah masalah khilafiyyah mu’tabaroh.

Berarti boleh ,,, zaya isbal tapi niat dlm hati yg paling dalam saya ga sombong,,,!?

Saya :

Tergantung pola pandang fiqh nya.

Kalau pola pandang fiqh nya bahwa hal itu adalah larangan yang memiliki illat (sebab), sehingga dalil yang mutlaq harus dibawa ke yang muqoyyad, maka boleh.

Sedangkan kalau pola pandang fiqh nya bahwa dalil yang mutlaq itu berdiri sendiri, dan tidak bisa digabungkan dengan dalil yang memberikan illat. Maka ya tidak boleh isbal, baik itu sombong ataupun tidak sombong

Saya suka kata dr Zakir Naik soal ini… Terlepas ikhtilaf yang ada, orang yang cinta Rasulullah tidak akan mempermasalahkannya. Dia akan bercingkrang tanpa banyak bertanya. Tapi dengan pendapat bersebrangan, barangkali butuh kebijaksanaan untuk bertoleransi…

Saya :

Gimana misal jika saya kasih syubhat bahwa rasulullah sendiri pernah isbal, dan hadits ini shohih diriwayatkan bukhori.

Bahkan imam Bukhori sendiri membuat nama bab khusus masalah isbal dengan memasukkan hadits itu. Dan sebagaimana yang kita tahu bahwa ini adalah termasuk dari fiqh Imam Bukhori rohimahulloh.

oh serius? boleh liat haditsnya?

Saya :

Serius.

Silahkan lihat shohih Bukhori, pada kitab ke 57 kitaabul libaas (Pakaian), bab ke 18 yang berjudul man jarro izaarohu min ghoiri khuyalaa’ (Menjulurkan kain pakaian bukan karena sombong).

Di situ terdapat dua hadits. Satu masalah hadits mengenai Abu Bakar, dan yang terakhir adalah hadits rasulullah pergi ke masjid ketika gerhana matahari dengan mengulurkan pakaian (isbal).

Silahkan lihat hadits yang terakhir itu saja

Menurut Al Hafizh, beliau isbal karena terburu-buru dan takut. Jadi bukan disengaja isbalnya.

Sebagaimana abu bakr yang isbalnya karena melorot.

Intinya isbal itu boleh ketika tidak disengaja atau karena ada udzur, semisal ibnu mas’ud yang betisnya kecil sehingga kalau terlihat akan ditertawakan orang, padahal beliau imam shalat.

Saya :

Na’am penjelasan saya hanya bertujuan untuk memberikan bukti bahwa rasulullah sendiri juga pernah Isbal.

Ini yang kadang “kurang terbuka” untuk dijelaskan.

Masalah pola pandang fiqh nya lebih merojihkan ikut jumhur ulama yang menetapkan bahwa larangan itu karena adanya illat.

Atau tetap merojihkan memahami kemutlakan dalil bahwa tidak boleh isbal, baik itu sombong ataupun tidak.

Maka sepertinya itu bukan tujuan dari tulisan status awal saya.

Mungkin jugakah krn para ulama tidak memasukkan Isbal ini dlm bab aqidah di kutub mereka?namun setahu saya ustadz firanda memasukkan isbal dikategori aqidah di webnya. Nyimak…….

Saya :

Na’am ini hanya masalah fiqh, bukan masalah aqidah apalagi masalah manhaj.

Konskwensi fiqihnya bagaimana,apakah tdk berdosa kalau pola pandang orang tsb beranggapan ranah isbal khilafiyah dlm fiqih kalau beranggapan hal ini mustahab saja.Dan bagaimana jg seharusnya mengambil sikap,sedangkan seseorang tsb banyak melihat dgn jelas2 larangan dan ancama isbal.

Saya :

Waro’ dan fiqh itu kadang dua hal yang berbeda.

Waro’ adalah sikap pribadi yang tidak boleh dipaksakan kepada orang lain untuk mengikutinya.

Seseorang boleh saja bersikap waro’ meninggalkan hal hal yang bisa dipahami bahwa hal itu boleh dengan pola pandang fiqh yang lain, namun dia tidak boleh memaksakan orang lain menempuh jalan waro’ seperti yang dia pilih.

Bisa jadi orang lain berhati hati dengan tidak mengharamkan apa yang dianggap boleh dari sudut pandang lain, dan bagi dia ini adalah sikap waro’ yang sesuai baginya walaupun berbeda dengan sikap waro’ orang lain.

Walloohu A’lam

Advertisements