Berdakwah itu tidak hanya cukup bermodalkan kecerdasan saja, tapi keikhlasan juga.

Kalau dakwah itu hanya berdasarkan kecerdasan dan keilmiahan saja, maka saya kira mahasiswa ataupun lulusan universitas umum itu juga tidak kalah pandai dibandingkan lulusan universitas syariah ataupun universitas Timur tengah.

Cukup berbekal dengan :
– pemahaman manhaj yang haq,
– Mempunyai pengalaman dan wawasan dengan literatur Islam yang pokok,
– dan menguasai ilmu alat seperti bahasa Arab, ushul Fiqh, dan qaidah fiqh;

Maka mereka tidak kalah pandai kalau dibandingkan lulusan universitas syariah ataupun Timur tengah itu.

Namun apa itu cukup?

Kalau menurut saya pribadi kok kayaknya masih kurang.

Apa benar yang lulusan universitas umum yang cerdas itu mau untuk masuk ke kampung kampung?

Mau tinggal dan membina pesantren yang umumnya ada di pedesaan?

Mau untuk mencari nafkah dengan jalan diluar keahlian yang dipelajarinya di universitas? (terus lama kuliah buat apa?)

Dan kadang karena profesi Da’i itu tidak disupport oleh bantuan pemerintah seperti halnya Saudi, penghasilan mereka tidak menentu padahal mereka juga mempunyai anak istri yang harus diberi nafkah.

Apa mau lulusan universitas umum yang memiliki kecerdasan itu, menempuh jalan kehidupan yang penuh keikhlasan untuk berdakwah seperti itu?

Maka dari itu berdakwah itu tidak cukup hanya bermodal kecerdasan saja, tapi keikhlasan juga.

Yang merasa cerdas namun masih kurang terbukti keikhlasan nya, harap menghormati ustadz yang sesungguhnya yang kedua tidak hanya bermodalkan kecerdasan saja. Namun juga bermodalkan keikhlasan selain kecerdasan juga.

Titel antum itu bukan ustadz, dan gelar antum itu bukan BA. atau Lc.

Lha wong kamu itu cuman lulusan universitas umum, yang tidak menempuh jalan dakwah yang penuh keikhlasan seperti halnya para asatidz itu kok.

***

Tanya :

Masih kurang faham ana.. apa hubungannya antara tidak bertitel BA atau LC dengan dia tdk ikhlas?

Teringat kisah yg diceritakan ustadz Firanda, ttg seorg guru ngaji di satu pelosok indonesia.. yg bahkan dia tdk bisa bahasa arab sama sekali.. namun dakwahnya bisa membuat seorang kafir masuk islam.. dan org kafir tsb melayangkan surat kpd ulama saudi..

Comment :

Perlu syarah nih ustadz,biar tidak gagal faham yang bertitel “dianggap” tidak ikhlas..hehehehe…

Jawab :

Bukan tidak ikhlas, tapi “belum terbukti” keikhlasannya.

Maksudnya adalah jika dibandingkan dengan yang benar-benar totalitas menempuh profesi sebagai Da’i atau ustadz yang jalannya sudah “direncanakan” sejak kuliah di universitas syariah atau Timur tengah.

Ini hanya sebagai motivasi saja karena ikhlas itu masalah hati. Dan “secara dhohir” kita umumnya bisa lebih berprasangka baik terhadap para Da’i atau ustadz yang lebih menempuh jalan terjal dalam Berdakwah.

Kiranya jelas kan ukhti?

Respond :

Iya.. ana faham sekarang.. apa maksud tulisan ini dibuat… Sebagaimana ana juga memahami tulisan seseorg yg berisi nasehat kpd mereka yg hendak menempuh pendidikan di lembaga syari’ah…. Butuh waktu memang utk mencernanya, tapi ana yakin semua bertujuan utk saling mengingatkan dlm hal pelurusan niat..

Advertisements