Kenapa seorang Muslim yang berhukum dengan hukum Thoghut tidak langsung “OTOMATIS” dikafirkan, melainkan hanya dikafirkan dengan “PERINCIAN” setelah terpenuhi sebab, syarat, dan tidak ada udzur atau syubhat baginya?

– Hmm, saya coba jawab dengan cara lain ya. Gpp kan?
+ Iya gpp.

– Menurut antum orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah itu kafir nggak?
+ Tentu, kafir.

– Bukankah itu berarti dia berhukum dengan hukum thoghut, karena dia sudah melewati batas hingga menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah?
+ Ya, tentu. Ini hukum thoghut. Dia berhukum dengan hukum thoghut yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan yang dihalalkan Allah. Dia kafir, jelas. Dia pengikut dan pembela hukum thoghut.

– Khoir, tapi Rasulullah berkata bahwa sunguh benar-benar nanti akan ada ummatku yang menghalalkan zina, Sutera, khomr, dan alat-alat musik. Hadits tersebut shohih riwayat Bukhori.

Ok, lupakan masalah perkataan ma’azif (alat-alat musik) yang ada di hadits itu. Fokus kepada perkataan “Zina” dan “Khomr” dulu. Bukankah jelas zina dan khomr itu harom?

Dan Rasulullah jelas menggunakan perkataan ( يَسْتَحِلُّونَ ) “menghalalkan” di situ. Namun kenapa Rasulullah tetap mengatakan mereka dengan perkataan ( أُمَّتِى ) ” ummatii” atau ummatku di situ? Bukankah ummat Rasulullah itu orang Islam, bukan orang kafir?

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. ” (Hr. Bukhori)

+ Hmmmmm……

– Oleh karena itu orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah itu memang perbuatan harom, kufur, dan terancam dikafirkan. Demikian juga dengan orang-orang yang berhukum dengan hukum Thoghut hingga menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan demikian juga sebaliknya.

Akan tetapi mereka tidak bisa “OTOMATIS” dikafirkan, kecuali dengan “PERINCIAN” dan verifikasi masalah sebab, syarat, dan udzur atau syubhatnya. Kalau itu terpenuhi baru dikafirkan.

Sebenarnya beda antara kami dan kalian itu hanya dalam masalah manhaj “OTOMATIS” dan manhaj “PERINCIAN”, kami juga sama-sama kok membenci dan mengingkari hukum Thoghut, sistemnya, dan pelakunya. Akan tetapi kami tidak gegabah dalam menghukumi pelakunya.

Apalagi hingga sampai menghasung pemberontakan, pembunuhan, dan terorisme kepada suatu pemerintahan negara beserta masyarakatnya. Yang mana hal itu akan menyebabkan tercabutnya nikmat Allah berupa keamanan, dan tumpahnya darah di mana-mana.

+ ………..

Advertisements