Manhaj Muwazanah itu sesuai jika diterapkan untuk masalah biografi, dan untuk menetapkan hukum bagi seseorang.

Karena seseorang itu mungkin memiliki kebaikan atau udzur, yang bisa memberikan keringanan hukum atau dispensasi baginya. Sehingga hal itu harus diletakkan di dalam mizan, agar kita adil dalam menghukuminya.

Tapi untuk masalah tahdzir (memperingatkan akan suatu bahaya), maka merupakan kedzoliman menerapkan manhaj Muwazanah untuk dibandingkan kebaikan dan keburukannya.

Karena yang menjadi takaran dalam timbangan itu adalah seberapa besar bahaya dan madhorot yang ditimbulkannya, bukan kebaikan dan keburukannya.

Maka dari itu rasulullah ketika mentahdzir Muadz bin Jabal yang terlalu lama memimpin sholat jamaah isya dengan membaca Al Baqarah, beliau berkata :

An uriidu an takuuna fattaanan yaa Mu’aadz?
(Apakah engkau ingin menjadi tukang pembawa fitnah, wahai mu’adz?)

Padahal mu’adz itu termasuk sahabat utama yang memiliki banyak sekali kebaikan. Apalah artinya kesalahan mu’adz di dalam mengimami sholat isya, dibandingkan dengan kebaikannya yang sangat luar biasa itu?

Akan tetapi disini yang menjadi timbangan itu bukan itu. Madhorot dan fitnah yang ditimbulkannya lah yang menjadi timbangan dalam hal ini.

***
Sebagian orang tidak memahami perbedaan antara apa yang harus diletakkan dalam timbangan ketika menghukumi sesuatu, dan apa yang harus diletakkan dalam timbangan ketika mentahdzir sesuatu.

Demikian juga kurang memahami perbedaan dalam menghukumi sesuatu, dengan mentahdzir sesuatu.

Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ada orang yang mencoba memancing air keruh dari ketidak fahaman orang orang dalam masalah ini.

Orang-orang yang mencampur campur antara qaidah timbangan hukum dan qaidah timbangan tahdzir, baik itu dengan hanya menerapkan qaidah tahdzir saja dalam semua kasus.

Atau yang hanya menerapkan qaidah muwazanah saja dalam semua kasus.

Maka mereka itu semua hakikatnya adalah para penyebar fitnah!

Kita harus bersikap adil dalam menghukumi, walaupun itu terhadap orang yang kita benci dan kita tahdzir.

Dan kita tidak boleh membuat syubhat pembelaan terhadap orang yang ditahdzir atas dasar cinta buta kita, yang jelas madhorot dan bahaya kesalahan orang itu bagi masyarakat luas.

Dah gitu aja

Advertisements