Melakukan ritual ibadah Maulidan dengan tujuan untuk ma’rifatur rasul (mengenal Rasulullah), agar kita bisa mentauladaninya itu hanyalah alasan yang sepertinya “terdengar baik” namun aplikasinya salah.

Belum lagi kalau dibumbui “tipuan fiqh” bahwa karena ma’rifatur rasuul itu hukumnya wajib, maka wasilah dengan cara Maulidan yang bertujuan mengantarkan kita kepada hal yang wajib itupun, hukumnya wajib.

Disebut “ritual ibadah” karena ada tata cara khusus dan dzikir-dzikir yang sengaja dilantunkan dalam rangka maulidan. Demikian juga karena ada keyakinan aqidah khusus di dalam acara Maulidan, seperti keyakinan khurofat bahwa ruh baginda Rasulullah akan hadir di tempat acara maulidan dilaksanakan, sehingga kita berdiri dan menyambutnya.

*
Istilah sosok “Uswatun Hasanah” (contoh suri tauladan yang baik) di dalam Al-Qur’an, yang kita diperintahkan untuk mentauladaninya itu hanya dua kali diberikan. Yang pertama diberikan kepada Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam, dan yang kedua diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam.

Tentu saja kita tidak akan bisa mentauladaninya sebagai uswatun hasanah, jika kita tidak mengenalnya (me-ma’rifatinya). Kalau begitu kenapa untuk Rasulullah sengaja dilakukan maulid, sedangkan kepada Nabi Ibrahim (bapaknya para Nabi) kita tidak melakikan maulid atas nama beliau?

Tidak tahu tanggal lahir beliau? Tapi tetap kita bisa me-ma’rifati beliau dan mengambil suri tauladan dari beliau kan? Ya bisa, yakni dengan mempelajari Al-Qur’an yang mana kisah beliau bertebaran di sana. Bahkan ada nama surat khusus yang diberi nama Ibrahim (surat ke 14). Dan juga mempelajari hadits-hadits rasulullah yang menyebutkan mengenai kisah dan ibroh suri tauladan dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam.

Itulah cara kita mengenal mema’rifati Nabi Ibrohim dan mentauladaninya sebagai uswatun hasanah. Tidak perlu sampai harus ada maulidan atas nama Nabi Ibrahim segala. Demikian pula cara kita mengenal dan mentauladani rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan cara mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka dari itu dulu pada zaman Salaf dan para imam madzhab, mereka tidak pernah ada maulidan. Karena mereka sehari-hari disibukkan dengan mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berusaha menerapkan sunnah Rasulullah pada kehidupan sehari-hari.

Lha kok sekarang sampai diadakan Maulidan segala. Mana lagi sebenarnya tanggal lahir rasulullah itu masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Apa jangan-jangan sehari-hari itu jarang mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah ya? Atau jangan-jangan merasa asing dan jarang menerapkan sunnah rasulullah pada kehidupan sehari-hari ya? Pantas anarkis dan jauh dari contoh suri tauladan rasulullah.

*
Semoga nasehat dan tulisan ini bermanfaat, agar kita disibukkan mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berusaha menerapkan sunnah Rasulullah pada kehidupan sehari-hari. Baarokalloohu fiik

Advertisements