Riba itu adalah hal yang benar-benar berlawanan dengan syariat Islam secara jelas.

Maka dari itu bagi faham Takfiri, kalau mereka konsisten dengan qaidah “otomatis kafir” nya yang tanpa perincian itu. Bagi orang yang mentabdil (mengganti) hukum aqad syariah kepada aqad ribawi dalam berbagai macam transaksinya, mereka itu harusnya dikafirkan juga.

Semua bank (baik yang nasional ataupun yang swasta) dan semua pegawainya, harusnya dikafirkan karena mereka berhukum dengan hukum thoghut yang bertentangan dengan syariah. Demikian juga para nasabahnya yang ikut bertransaksi dengan memakai hukum thoghut. Semua kafir.

Tidak ketinggalan juga badan usaha finansial dan leasing yang memakai Riba, semua harus dikafirkan termasuk juga orang-orang yang memakai jasanya. Semua yang mengambil KPR ribawi dan juga leasing ribawi untuk kepemilikan kendaraan itu harus dikafirkan. Semuanya berhukum dengan hukum thoghut.

Bahkan juga bagi faham ekstrim yang menganggap uang kertas itu termasuk Riba, maka semua yang memegang, mempunyai, dan bertransaksi dengan uang kertas itu seharusnya dikafirkan juga. Semuanya berhukum dengan hukum thoghut. Makanya semuanya kafir.

Faktanya tidak.

Padahal masalah berhukum dengan hukum Allah itu tidak hanya dibebankan kepada pemerintah saja. Semua kaum muslimin terkena kewajiban itu. Dan tidak ada bedanya antara hukum Allah yang satu dan hukum Allah yang lain.

Tidak ada aturan, kalau tidak berhukum dengan hukum Allah dalam masalah pemerintahan dan sistemnya, maka dia otomatis kafir. Tapi kalau masalah finansial, dia tidak kafir.

Apa mungkin tidak dikafirkan gara-gara mereka sendiri masih pegang uang kertas, punya tabungan di bank, ada cicilan KPR ribawi, dan masing ngredit kendaraan di Leasing ya?

Dah gitu aja

Advertisements