Kebetulan di salah satu group WA ada pembicaraan mengenai JT, di sana saya menyampaikan sedikit pertanyaan kritik terhadap JT.

Saya sedikit beranggapan “siapa tahu” pertanyaan kritik saya itu bermanfaat bagi yang lain, maka saya tuliskan lagi pertanyaan kritik saya di sini.

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik

*****

1. Kenapa tidak dimunculkan perkataan Syaikh ibn Baz rohimahulloh dan juga Syaikh Albani mengenai JT?

Nanti akan kita tarjih dengan berdasarkan qaidah al jarh muqoddamun alaa ta’diili idzaa mufassor.

2. Apa penafsiran laa ilaaha illallooh menurut JT?

3. Apakah JT telah rujuk dari cara istidlal masalah khuruj yang didapatkan oleh Syaikh Muhammad ilyas al kandahlawi melalui mimpi, yang kemudian menafsirkan ayat kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnaas (QS Ali Imron : 110), sebagai khuruj dengan memahami kata ukhrijat itu?

Dan juga telah rujuk dari penafsiran pembatasan atau pengkhususan 4 bulan sebagai waktu maksimal untuk khuruj, dengan berdalil pada awal ayat ayat At Taubah (QS At Taubah : 2)?

4. Maukah JT meninggalkan manhaj khuruj nya? Atau apakah JT bisa disebut sebagai JT jika meninggalkan khurujnya?

5. Kenapa JT membagi ilmu menjadi dua, yakni ilmu fadhail dan ilmu masail. Serta memfokuskan diri kepada masalah fadhail, karena beranggapan ilmu masail itu memecah belah umat (au kama qoola).

****
Itu saja dulu kira kira sedikit kritik dan pertanyaan dari saya 🙂

Advertisements