Yang disebut dengan “ibadah” itu adalah membaca Al-Qur’an.

Sedangkan penulisan dan penyusunan mushaf Al-Qur’an itu adalah “sarana ibadah”, bukan ibadah secara khusus itu sendiri.

Maka dari itu yang diatur dengan detail itu adalah cara membaca Al-Qur’an. Yakni makhroj nya harus tepat, sesuai tajwid cara bacanya, tartil, dan sesuai dengan contoh bacaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun untuk cara penulisan dan penyusunan Al-Qur’an itu, tidak diatur dengan detail harus dengan cara tertentu. Asalkan yang penting bisa dibaca dengan benar, sesuai dengan cara bacaan yang Allah turunkan dan rasulullah ajarkan, maka hal itu tidak masalah.

Allah menurunkan Al-Qur’an itu adalah pada bacaan dan cara bacaannya, bukan kepada cara penulisannya.

*****
Maka dari itu pada zaman rasulullah, para sahabat yang bisa menulis, menulis Al-Qur’an di berbagai media yang ada. Di pelepah kurma, di kulit binatang, dan lain lain. Dan rasulullah tidak melarangnya, tidak menegurnya, dan juga tidak memberikan panduan secara terperinci baik itu dari segi cara menulisnya ataupun media penulisannya.

Asalkan bisa dipahami dan dibaca dengan benar, maka masalah sarana apa saja itu tidak masalah.

Rasulullah sendiri adalah seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), dan demikian juga sebagian besar sahabat yang lain. Hanya sedikit sahabat saja yang bisa baca tulis pada waktu itu.

Sebagian besar sahabat menjaga pemeliharaan cara membaca Al-Qur’an dengan benar, dengan cara hafalan yang dikembalikan kepada yang rasulullah ajarkan bacaannya.

Sedangkan sebagian kecil sahabat menjaganya dengan cara hafalan dan juga dengan sarana ibadah penulisan.

Dan demikianlah keadaannya hingga kemudian pada zaman sahabat; sarana ibadah penulisan (disamping hafalan yang bersanad kepada rasulullah) dituliskan ulang, dikumpulkan, dan dibukukan menjadi satu pada zaman Abu Bakar. Untuk digunakan sebagai “sarana” buku acuan standart untuk “cara membaca Al-Qur’an” dengan benar.

Sekali lagi,
Cara pemeliharaan “cara membaca Al-Qur’an” dengan benar ini, selain dipelihara melalui pengumpulan dan penulisan mushaf standart, juga dipelihara dan dijaga dengan cara hafalan yang diwariskan secara turun temurun, dan bersanad hingga kembali kepada cara rasulullah membaca Al-Qur’an.

****
Melalui sarana mushaf Al-Qur’an standart, yang dipelihara umumnya hanya satu dialek cara baca Al-Qur’an yang dijadikan standart Mushaf. Yakni cara baca dialek Quraisy, karena rasulullah adalah orang Quraisy.

Adapun cara baca dialek lainnya selain dialek Quraisy, yang juga rasulullah kuasai dan ajarkan juga. Dipelihara cara bacanya dengan “cara hafalan” saja, tidak dengan cara mushaf tulisan.

Yang mana sanadnya juga kembali kepada bagaimana cara rasulullah membacanya (baca : sanadnya kembali ke rasulullah), yang dilestarikan dan diwariskan turun temurun hingga zaman sekarang dengan cara metode hafalan yang terverifikasi.

****
Pada zaman Utsman, karena daerah wilayah kekuasaan Islam semakin besar dan semakin banyak orang yang masuk Islam. Maka Mushaf “sarana” buku acuan standart agar umat Islam bisa membaca dan memahami Al-Qur’an dengan benar pun diperbanyak, dan dibagikan di kota-kota utama daerah kekuasaan Islam.

Dan mulailah reproduksi mushaf Al-Qur’an besar-besaran dimulai, dengan mengacu kepada mushaf standart. Di sinilah juga muncul istilah Rasm ‘Utsmani, yakni tata cara penulisan Al-Qur’an yang mengacu kepada penulisan Al-Qur’an yang dilakukan pada zaman Kholifah ‘Utsman, yang diterima oleh para shahabat lainnya sebagai standart penulisan Al-Qur’an.

Pada zaman Ali, karena masih ada orang yang kesusahan cara membaca Al-Qur’an dengan benar, apalagi karena banyaknya orang non Arab (‘Ajam) masuk Islam.

Maka melalui jasa Abul Aswad Ad-Du’ali (murid Ali) atas perintah Kholifah Ali, standart huruf bahasa Arab yang juga dipergunakan dalam penulisan Al-Qur’an, ditambahkan standardnya dengan cara adanya penambahan titik pada beberapa huruf Arab tertentu untuk membedakan dari huruf Arab yang lain.

Dan puncaknya adalah pada masa gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofy pada zaman kekholifahan Ummayyah, khusus untuk huruf Arab yang dituliskan di dalam Al-Qur’an, diberi bantuan tanda syakal (seperti fathah, kasroh, dhommah, dll) untuk menjaga agar jangan sampai ada yang membaca Al-Qur’an dengan cara yang salah.

Adapun untuk huruf Arab selain Al-Qur’an dibiarkan “gundul” tanpa syakal begitu saja tidak masalah. Karena orang Arab faham dan bisa membacanya walaupun tanpa syakal, dan membacanya juga bukan ibadah yang harus sama sebagaimana Rasulullah membacanya.

*****
Maka dari itu, yang disebut sebagai penyimpangan syariat atau kebid’ahan itu adalah pada cara membaca Al-Qur’an nya jika berbeda dengan yang rasulullah Ajarkan. Karena membaca Al-Qur’an adalah “ibadah”

Bukan kepada “sarana ibadahnya” yang berupa tulisan, mushaf, dan cara penulisannya; sepanjang sarana ibadah itu menunjang untuk beribadah dengan cara yang benar.

Hal ini sama seperti ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk membangun masjid sebagai sarana Ibadah.

Maka andaikata model bangunan masjid yang kita bangun itu berbeda dengan model masjid rasulullah yang sangat sederhana, yang dibangun hanya dari batang pohon kurma dan pelepahnya, maka hal itu tidak masalah karena itu hanya masalah sarana ibadah saja.

Dan kebanyakan masjid pada zaman sekarang yang kita buat, berbeda dengan masjid yang ada pada zaman rasulullah. Dan hal itu tidak masalah.

Yang jadi masalah adalah jika di dalam masjid itu ada kemaksiatan, dan digunakan untuk memecah belah persatuan umat Islam. Maka hal ini tidak boleh, dan inilah yang disebut sebagai masjid Dhiror sebagaimana yang Allah larang di dalam QS. At-Taubah.

Atau sebagaimana contoh ibadah yang lain, yakni haji.

Allah dan Rasul-nya perintahkan kita untuk beribadah haji dengan mengikuti “cara ibadah manasik” yang rasulullah ajarkan. “Sarana Ibadah” untuk pergi haji pada zaman rasulullah waktu itu hanya ada unta, kuda, atau berjalan kaki.

Adapun jika kita pada zaman sekarang naik pesawat, naik bus, atau sarana transportasi lainnya untuk naik haji maka hal itu tidak masalah. Toh itu hanya masalah “sarana ibadah” saja.

Yang jadi masalah adalah, jika kita ibadah haji tidak sesuai dengan tata cara ibadah haji yang rasulullah ajarkan. Baru itu yang menjadi masalah.

Atau misal lain, masalah syariat perang jihad.

Pada zaman Rasulullah “sarana perang” yang ada hanya pedang, panah, kuda, dan unta. Maka apakah jika kita berjihad pada zaman sekarang dengan bom, senapan, rudal, tank, dan helikopter maka hal itu tidak diperbolehkan?

Hal itu tidak masalah. Yang dimasalahkan adalah jika kita melanggar atau membikin aturan sendiri, yang bertentangan dengan syariat tata cara aturan jihad yang diajarkan rasulullah. Itu yang jadi masalah.

*****
Kenapa masalah “ibadah” dan “sarana ibadah” ini kita terangkan panjang lebar?

Ini karena ada orang yang salah faham, atau yang sengaja membikin-bikin syubhat, dengan cara “mempermasalahkan” dan “menyamakan” masalah sarana sarana ibadah dengan masalah ibadah, untuk memperbolehkan adanya ibadah ibadah baru yang dibikin bikin sendiri.

Yang mana cara ibadah ini tidak pernah dicontohkan serta tidak pernah diajarkan oleh rasulullah dan para sahabatnya.

Kalau dalam bahasa fiqh, “pengecohan” seperti ini namanya adalah qiyas ma’al fariq. Qiyas mempersamakan hal yang jauh, yang sama sekali berbeda, atau qiyas yang rusak dan tidak sah.

Kalau dalam term ushul fiqh, maka orang seperti ini tidak faham masalah mashlahatul mursalah yang tidak mengapa jika berkaitan hanya dengan sekedar sarana prasarana saja. Bukan dalam masalah ibadah dan aturan syariat itu sendiri, karena itu adalah masalah tauqifiyyah (paten) yang kita harus tinggal sami’naa wa atho’naa saja.

Kalau dalam bahasa ilmiah modern, hal ini disebut sebagai logical fallacy (kesalahan berpikir atau gagal faham). Bisa juga disebut “Not Apple to Apple” alias yang diperbandingkan itu tidak sepadan dan tidak adil (not fair)

*****
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi kita semua, dan bisa menerangkan masalah duduk perkaranya.

Baarokalloohu fiik

Advertisements