Fiqh Jenazah : Haruskah Tali ikatan kafan jenazah itu dilepas ketika menguburkan jenazah?

Leave a comment

Awalnya ketika saya kopdar di suatu komunitas, topik masalah melepaskan tali ikatan kafan jenazah itu muncul.

Karena saya tidak tahu hadits dan ilmu terperinci masalah sunnah melepas tali jenazah itu, maka saya hanya bisa nimbrung menyarankan coba lihat saja ke buku Ahkaamul Janaaiz tulisan Syaikh Albani rohimahulloh.

Saya sendiri karena masih penasaran akan hal itu, maka ketika saya sedang pulang ke rumah ortu, saya coba check lagi buku Ahkaamul Janaaiz tulisan Syaikh Albani tersebut. Karena buku saya, kebanyakan saya simpan di rumah ortu.

Setelah saya coba ublek ublek buku itu, ternyata saya belum menemukan apa yang saya cari.

***
Akan tetapi Alhamdulillah hari ini saya sudah menemukan jawaban akan hal itu dari Ustadz Sulam Mustareja hafidzahulloh.

Di sesi ta’lim rutin kitab bulughul maraam, yang kebetulan sekarang tepat membahas bab masalah jenazah, saya bertanya kepada beliau :

“Apakah ada hadits mengenai melepaskan tali ikatan kafan ketika memasukkan dan menguburkan jenazah? ”

Beliau menjawab :
Hadits melepaskan tali ikatan kafan jenazah itu tidak ada.

Akan tetapi syaikh Utsaimin menyarankan agar tali ikatan kain jenazah itu dilepaskan. Alasan nya karena jenazah itu lama kelamaan bisa bengkak, hingga kemudian pecah.

Sekarang apakah ikatan kain jenazah itu dilepas maka jenazah itu tidak bengkak dan kemudian pecah?

Jawabannya tentu saja sama saja, oleh karena itu, itu adalah hal yang sia sia (melepaskan tali ikatan kafan jenazah).

Maka dari itu, ikatan kafan itu dilepas boleh. Tidak dilepas pun juga boleh.

Saya sendiri lebih berpendapat menguatkan untuk tidak dilepas agar lebih mempercepat proses penguburan.

Nah adapun di Jawa biasanya ada cerita, kalau ikatan jenazah itu tidak dilepas, maka jenazah yang masih terikat kain kafan nya itu akan keluar dari kuburan. Meloncat – loncat sambil bilang “culi”, “culi “.

Maksudnya itu adalah “uculi” dalam bahasa jawa yang artinya minta untuk dilepaskan tali ikatan pengikatnya.

Nah ini khurofat. Ini tidak boleh

(sekian akhir dari jawaban beliau)

***
Setelah selesai jawaban itu, seorang ikhwah teman saya ngobrol sama saya.

“Nah kalau begitu gimana masalah melepaskan ikatan untuk membuka wajah jenazah, dan menempelkan pipinya ke tanah waktu dikubur? ”

Saya bilang, coba aja tanya lagi ke ustadz Sulam.

Maka beliau pun bertanya ke ustadz Sulam, walau kajian sudah selesai. Saya pun menunggu karena juga ingin tau jawabannya.

Setelah teman saya kembali, ternyata dia berkata bahwa jawaban ustadz Sulam juga sama seperti tadi.

Walloohu A’lam.

***
Semoga sedikit sharing Fiqh ini berguna bagi kita semua.

Baarokalloohu fiik

Tahdzir (mengingatkan akan bahaya) terhadap manhaj PHK dalam memahami agama

Leave a comment

Mengharamkan apa yang halal itu sama bahayanya dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah.

Namun sayangnya, atas nama konspirasi hal itu kadang dianggap sepele.

Padahal ini adalah masalah hukum Allah juga, sama seperti masalah hukum hukum buatan yang dibuat oleh pemerintah.

Namun bedanya, kalau sama pemerintah langsung “kenceng”. Tanpa melihat perincian dalam masalah pengkafiran, sebagian langsung mengkafir-kafirkan pemerintah.

Tapi kalau sama saudara sendiri penggemar isu konspirasi, lebih suka kasih udzur dan bahkan ikut ikutan menyebarkannya.

Padahal itu sama sama hukum Allah.

***
Dulu ada isu konspirasi produk produk Amerika, hingga seakan akan orang menjadi mengharamkannya. Dan kemudian para ulama pun menasehati nya dengan berdasarkan ilmu.

Setelah isu itu reda, maka diganti dengan isu konspirasi masalah vaksin imunisasi.

Cukup seru dan rame.

Setelah sekarang agak reda, maka sekarang ganti masalah isu konspirasi game pokemon Go.

***
Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari hal ini?

1. Bahwasanya Islam mengajarkan bahwa konspirasi itu harus disikapi dengan manhaj yang shohih dengan berdasarkan ilmu. Bukan dengan membangun opini ummat secara paranoid dan hoax.

2. Manhaj yang kami sebut dengan manhaj PHK ini (Paranoid, Hoax, dan Konspirasi), secara umum berniat untuk menyebarkan kecemasan, keraguan, dan ketakutan di tengah tengah masyarakat.

Dan puncaknya kembali kepada merata nya ketidak faham mengenai agama, ketidak jelasanan dalam beragama, dan peremehan kepada aturan hukum syariat itu sendiri.

3. Manhaj PHK yang bertujuan untuk menyebarkan ketakutan dan kekacauan di tengah masyarakat ini, secara umum berlawanan dengan perintah Allah dalam QS An Nisaa ayat 83.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا (٨٣)

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS An-Nisaa : 83)

4. Tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk menihilkan adanya makar ataupun konspirasi dari orang orang kafir.

Namun tulisan ini juga tidak berarti menyetujui ajakan agar masyarakat hidup di dalam perasaan takut, tidak tenang, was was, khawatir, ragu ragu, dan bahkan bersikap paranoid.

Yang mana sikap hidup seperti itu akan berakibat kepada peremehan aturan syariat, mengenai masalah menghalalkan dan mengharamkan sesuai aturan syariat.

Dan kalau itu terjadi, maka ketidak jelasan dan ketidak fahaman akan masalah agama akan tersebar kemana mana.

Makar ataupun konspirasi itu hendaklah disikapi dengan cara :
– menverifikasi validitasnya dulu
– menyerahkan kepada yang berwenang atau yang mempunyai kapabilitas untuk menangani hal itu.
– tidak menjadikan hal itu sebagai manhaj atau pondasi pokok dalam memahami agama.

5. Sedikit nasehat dan ilmu lebih lanjut, bisa dilihat dari khutbah jumat Syaikh Husain Alusy Syaikh (imam masjid Nabawi) yang diterjemahkan oleh Ustadz Firanda berikut ini.

Lihat : https://www.firanda.com/…/khutba…/691-bahaya-menyebarkan-isu

Sekedar Arsip Masalah Fenomena Menikahi Wanita Saat Kondisi nya Hamil Karena Zina

Leave a comment

Berikut hanya sekedar arsip pertanyaan yang lebih cenderung saya carikan solusinya, daripada tarjih perbedaan pendapat ulama nya.

Apakah ini agar lebih sesuai dengan fahmul waqi’ dan fiqhul waqi’?

Hmm, itu kalimat haq yang lebih cenderung digunakan untuk kebatilan pada era sekarang ini. Jadi saya lebih suka meninggalkan istilah itu daripada mengkritik dengan mengatas namakan istilah itu.

Apakah meninggalkan istilah itu lebih sesuai dengan fahmul waqi’ dan fiqhul waqi’ itu sendiri?

Hehee, gua suka gaya lho bro 🙂

***
mas tanya boleh yaa,,, wanita hamil kn haram dinikahi. trs kok naib gelem nikahne. sore mau di tv, sbgian ulama mengharamkan sbgian gpp. kok aneh ya mas,, seng bener pye mas??

#
Wanita hamil yang dinikahinya itu maksudnya wanita hamil yang bagaimana?

1. Kalau wanita hamil dari hasil pernikahan resmi terus ditinggal mati oleh suaminya, atau dicerai ketika hamil, maka haram dan tidak boleh dinikahi hingga melahirkan.

Dalilnya jelas dari Al Qur’an,

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. (Qs Ath-Tholaq : 4).

Begitu juga firman Allah Ta’ala :

Dan janganlah kalian bertetap hati untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya. (Qs. Al-Baqarah:235).

2. Kalau wanita hamil yang dimaksud adalah wanita hamil karena hasil perzinaan, nah baru para ulama berbeda pendapat masalah boleh tidaknya berikut juga perinciannya.

Baik itu dari :
– Apakah yang menikahinya itu adalah laki laki yang menzinainya, ataukah laki laki lain?

– apakah disyaratkan wanita itu Taubat dari perzinaan dan lepas iddah hamil dengan telah melahirkan, ataukah tidak

– masalah anak yang dikandungnya, apakah bisa dinisbatkan kepada laki laki yang menzinainya kemudian menikahinya ataukah tidak. (adapun bagi laki laki yang tidak menzinainya hingga hamil, tentu saja tidak bisa dinisbatkan kepadanya)

Nah menikahi wanita hamil yang dimaksud itu yang tipe yang mana?

***
wanita hamil dr perzinahan. yg menikahi ya yg berzinah dg dia. gmna mas?

#
Kalau menurut madzhab syafi’i dan madzhab hanafi, boleh dan sah.

Adapun kalau menurut madzhab maliki dan madzhab Hanbali, hal itu haram dan tidak sah.

Untuk menentukan mana yang lebih kuat, maka aku masih butuh penelaahan lebih lanjut mengenai keshohihan masing masing dalil yang digunakan dari kedua kubu itu, berikut keshohihan argumentasi dari masing masing fihak.

Adapun kalau mau aman, nikahilah setelah melahirkan saja.

Adapun malu karena hamil dan lahir karena belum menikah, maka anggap saja itu adalah tanggung jawab dan Taubat karena telah melakukan perzinaan.

Atau bisa juga dikasih alternatif lain sebagai berikut.

Silahkan nikah aja ketika hamil, tapi anggap saja itu tidak sah.

Ini hanya untuk menyelamatkan muka dan menghindari madhorot yang lebih besar. (baca : jangan sampai aborsi karena bayi itu sudah bernyawa dan ditiupkan ruh.)

Setelah melakukan nikah yang tidak sah itu, maka harus langsung dipisah. Tidak boleh tinggal serumah apalagi seranjang, karena itu zina.

Nah setelah anaknya lahir, baru akad nikah nya diulang lagi. Dan ini baru nikah yang sah.

Dan ingat anak hasil zina hanya boleh dinasabkan ke ibunya, tidak ke bapaknya.

***
kl yg menikahi bukan yg menzinahi gmna mas?

#
Kalau yang menikahi bukan yang menzinai, maka nikahnya tidak sah.

Nikahnya baru sah kalau dilakukan setelah selesai iddah hamilnya, yakni setelah selesai melahirkan.

Walloohu A’lam

Murji’ah dan Pandangan Politiknya Dalam Masalah Bermuamalah Kepada Pemerintah Muslim

1 Comment

Saya sebenarnya agak heran dengan tuduhan-tuduhan “murji’ah” dalam masalah sikap muamalah terhadap pemerintah muslim. Apalagi jika pemerintah itu ternyata adalah pemerintah yang dzolim.

Keheranan dan kritik saya terhadap tuduhan itu, akan saya jelaskan pada point-point berikut ini agar hal ini mudah difahami bagi kita semua.

***
Point pertama,

Sepanjang yang kami ketahui, Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah umumnya memperbandingkan antara khowarij dan murji’ah, sebagai dua aliran sesat extrim yang saling bertolak belakang, hanya dalam masalah aqidah dan pemahaman mereka mengenai Iman.

Mereka tidak pernah memperbandingkan antara Khowarij dan murji’ah, dalam masalah sikap muamalah mereka terhadap pemerintah muslim.

Baik khowarij ataupun Murji’ah, mereka sama-sama menyimpang dalam aqidah pemahaman mereka masalah Iman.

Khowarij berpandangan bahwa Iman itu adalah satu bagian yang utuh, tidak terbagi-bagi antara pokok dan cabangnya. Sehingga mereka beranggapan hilangnya salah satu cabang keimanan dengan dosa-dosa besar, maka otomatis akan langsung hilang dan batal keimanan itu seluruhnya. Oleh karena itu khowarij memang terkenal mudah mengkafir-kafirkan orang lain, karena orang itu sudah dianggap tidak mempunyai iman.

Berbeda dengan Murji’ah. Mereka berpandangan bahwa iman itu hanya di keyakinan dan lisan saja. Iman itu tidak bisa bertambah dengan amalan ketaatan kita, dan tidak bisa berkurang dengan kemaksiatan kita. Iman itu konstan. Oleh karena itu, walaupun kita telah melakukan dosa besar, ketidak taatan, dan kemaksiatan jenis apapun, hal itu tidak akan mempengaruhi keimanan kita sepanjang hati kita yakin dan kita telah mengucapkan keimanan kita dengan lisan kita.

Oleh karena itu, berbeda dengan khowarij yang sangat mudah mengkafir-kafirkan, murji’ah sangat susah dalam mengkafir-kafirkan orang lain. Kafir bagi murji’ah itu hanya terjadi jika seseorang itu riddah (murtad) pindah ke agama lain, dan dia mengucapkan pernyataan akan kemurtadannya itu.

Itulah yang senantiasa diperbandingkan oleh para Ulama Ahlus Sunnah, ketika membahas perbandingan ekstrim antara Khowarij dan murji’ah. Yakni hanya dalam masalah aqidah pemahaman mereka masalah Iman.

Para ulama tidak pernah memperbandingkan antara Khowarij dan Murji’ah dalam masalah sikap muamalah mereka terhadap pemerintah muslim. Kenapa?

Karena baik khowarij ataupun murji’ah SAMA-SAMA MEMPERBOLEHKAN MEMBERONTAK KEPADA PEMERINTAH MUSLIM. Oleh karena itu para ulama tidak pernah memperbandingkan mereka, dalam masalah sikap muamalah mereka terhadap pemerintah muslim.

Kenapa? Anda terkejut?
Ya. Anda tidak salah baca. Khowarij dan murji’ah sama-sama memperbolehkan memberontak kepada pemerintah muslim.

****
Point kedua,

Sebenarnya hal ini tidak perlu diherankan, karena baik dari perkataan ulama dan juga fakta sejarah sama-sama menyebutkan bahwa khowarij dan murji’ah itu memperbolehkan untuk memberontak kepada pemerintah muslim dan menumpahkan darah mereka.

Berikut akan kami kutip sebagian qoul ulama tersebut,

Telah berkata ‘Abdullah bin Thaahir rahimahullah mengenai Murji’ah :

يا أحمد إنكم تبغضون هؤلاء القوم جهلا، وأنا أبغضهم عن معرفة. أولا: إنهم لا يرون للسلطان طاعة الثاني: إنه ليس للإيمان عندهم قدر

“Wahai Ahmad, kamu membenci mereka (Murji’ah) tanpa didasari ilmu, sedangkan aku membenci mereka dengan dasar ilmu. Pertama, mereka (Murji’ah) tidak memandang taat kepada penguasa; dan yang kedua mereka tidak memandang bahwa qadar adalah bagian dari iman” [Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadits, hal. 68].

Telah berkata Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah :

إن قول المرجئة يخرج إلى السيف.

“Sesungguhnya perkataan Muji’ah adalah keluar (ketaatan) menuju pedang” [As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, no. 363].

Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata :

إنما أحدث الارجاء بعد هزيمة ابن الاشعث

“Paham irja’ itu hanya muncul pertama kali setelah terjadinya fitnah Ibnul-Asy’ats” [As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, no. 644].

Fitnah Ibnul Asy’ats yang dimaksud adalah peristiwa pemberontakannya kepada Kholifah Abdul Malik bin Marwan, dan Gubernurnya yang kejam Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi.

****
Point ketiga,

Oleh karena itu keheranan dan pertanyaan saya muncul, darimanakah sebenarnya “analisa dan ide” bahwa Khowarij dan Murji’ah itu juga sama-sama memiliki perbedaan manhaj dalam masalah muamalah kepada pemerintah muslim. Khususnya mengenai tema pemberontakan.

Saya mencoba menelusurinya, dan ternyata kesalahan analisa dan ide ini berasal dari Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuhal Islam dan Fajrul Islam.

Kesalahan yang mengada-ada ini sudah dibantah oleh akademisi lain, yakni Dr. Muhammad Dhiyauddin Rais, Guru Besar dan Ketua Jurusan Sejarah Islam Universitas Kairo, dalam kitab beliau An Nadzoriyyatus siyaasah al islaamiyyah.

Berikut print screen di bawah adalah terjemahan kitab beliau, tepat pada bantahan beliau terhadap “ide dan analisa” Ahmad Amin mengenai ideologi politik Murji’ah. Yang mana buku ini diterjemahkan dengan judul “Teori Politik Islam” oleh penerbit GIP.

Saya alhamdulillah juga punya buku tersebut, tapi buku itu sedang tidak ada di tempat.

****
Point keempat,

Mungkin kita heran, kenapa murji’ah itu sampai membolehkan pemberontakan? Bukankah pemberontakan itu hanya boleh jika pemerintah itu kafir?

Kita jawab,
Itu adalah pola pandang yang kurang tepat. Murji’ah membolehkan pemberontakan walaupun pemerintahnya tidak kafir. Kenapa? Karena pola pandang mereka bukan berasal dari apakah pemerintah itu kafir atau tidak. Tapi kepada apakah perbuatan pemberontakan dan pembunuhan itu mempengaruhi keimanan mereka atau tidak.

Karena mereka memandang hal itu tidak akan mempengaruhi keimanan mereka, hal itu tidak akan membuat iman mereka turun atau naik.

Dan kalau bahasa sederhananya, insya Allah hal itu akan diampuni oleh Allah, karena bukankah tujuan kita baik dan juga hati kita penuh keyakinan serta lisan kita mengucapkan iman. Maka dari pola pandang inilah bagi mereka memberontak itu boleh-boleh saja, walaupun mereka tidak mengkafirkan pemerintah yang mereka berontak itu. Walloohu A’lam.

****
Semoga apa yang kami tulis ini mudah difahami dan bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik.

Murjiah dan Pemberontakan terhadap pemerintah Muslim

Polemik Mengenai Pokemon Go

Leave a comment

Bagi yang terbiasa ilmiah argumentatif dalam memahami dalil dan fatwa, maka mudah baginya untuk rujuk dalam masalah pokemon go.

Karena memang itu nature ilmiahnya, dan itu bukan aib baginya.

Apalagi setelah fihak otoritatif ternyata membantah telah mengeluarkan fatwa baru untuk masalah itu, dan meminta berbagai media untuk meluruskan kesalahan pemberitaan

Tapi bagi yang terbiasa dengan teori konspirasi, maka hal itu akan bertentangan dengan nature nya.

Pembelaan Terhadap dr. Zakir Naik

Leave a comment

Bantahan ustadz Firanda terhadap tahdzir serampangan yang tidak benar kepada dr. Zakir Naik hafidzahulloh

Lihat : https://www.youtube.com/watch?v=VUIR6mMrraY&feature=youtu.be

Bantahan ustadz Abul Jauzaa’ terhadap tahdzir serampangan yang tidak benar kepada dr. Zakir Naik hafidzahulloh

Lihat : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2016/07/zakir-naik-sesat.html?m=1

Demokrasi dan problematikanya

Leave a comment

Bagaimana ulil Amri yang terpilih dari hasil pemilihan umum demokrasi? Bukankah demokrasi itu syirik akbar?

*****
Jawaban akan pertanyaan itu akan kami jawab nanti di akhir penjelasan kami. Berikut akan kami kedepankan dulu penjelasan duduk perkaranya, agar jangan sampai “jumping to the conclusion” dan menimbulkan kesalahan yang fatal.

*****
Point satu :

Ya, demokrasi itu merupakan sistem kufur yang tergolong syirik akbar secara umum, akan tetapi pelakunya tidak otomatis menjadi kafir kecuali dengan perincian.

Dikatakan syirik akbar karena demokrasi membolehkan untuk membuat dan meresmikan aturan tandingan, atau aturan yang menentang syariat Islam yang jelas.

Sehingga sistem demokrasi itu mensetarakan posisinya dengan Allah sang pembuat aturan syariat, disinilah kesyirikan itu terjadi.

Demokrasi itu bisa menjadi syirik akbar, jika dijadikan sebagai dasar acuan voting untuk menerima atau menolak suatu aturan syariat.

Misal :

Islam tegas membuat aturan bahwa khomr itu haram. Jika kemudian diajukan voting demokrasi untuk menentukan apakah khomr itu halal atau haram, maka ini adalah syirik akbar karena syariat sudah jelas mengharamkannya. Dan tidak ada pilihan lain akan hal ini.

Dia mensyirikkan Allah sebagai penetap aturan syariat, dengan hawa nafsu manusia voting suara melalui sistem demokrasi.

Dia hendak mentabdil (mengganti) syariat Allah, dengan menisbatkan kebolehan menghalalkan yang haram atau sebaliknya sebagai hal yang diinginkan Allah.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain yang dianggap setara atau bahkan lebih tinggi dari aturan syariat.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain, karena dianggap syariat itu sudah tidak sesuai zaman dan boleh diganti dengan aturan lain yang sesuai kondisi zaman.

Ingat sekali lagi,
kami baru membahas sistem demokrasi dan konsekuensi nya secara umum. Kami belum membahas masalah “pelaku demokrasi” itu sendiri.

Jangan jumping to the conclusion dulu dalam hal ini. Dua hal itu adalah dua hal yang berbeda pembahasan nya.

****
Point dua :

Adapun jika demokrasi digunakan untuk menvoting suatu kebijakan yang tidak menyelisihi, tidak diatur secara jelas, dan tidak bertentangan dengan aturan syariat.

Maka hal ini dibolehkan dan mubah saja.

Karena ini kembali kepada qaidah umum hukum asal masalah keduniawian. Yang mana hukum asal keduniawian itu mubah hingga ada dalil yang melarang.

Demikian juga telah dijelaskan oleh Syaikh Ali al Halabi hafidzahullooh.

****
Point tiga :

Sekarang setelah kita tahu bahwa ada demokrasi yang haram dan bahkan merupakan syirik besar, dan ada juga demokrasi yang hukumnya mubah saja. Maka bagaimana kah hukum pelaku demokrasi dalam masalah yang haram dan merupakan syirik besar itu?

(Adapun untuk pelaku masalah demokrasi dalam hal yang mubah tidak kita bahas, karena hal itu sudah jelas.)

Hukum pelaku demokrasi dalam hal yang haram dan merupakan syirik besar itu dibagi menjadi dua :

1. Jika dia melakukan voting demokrasi dalam hal yang diharamkan, dengan tujuan dan keyakinan untuk mentabdil (mengganti) syariat Allah, dengan menisbatkan kebolehan menghalalkan yang haram atau sebaliknya, sebagai hal yang diinginkan Allah.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain yang dianggap setara atau bahkan lebih tinggi dari aturan syariat.

Atau mentabdil (mengganti) syariat dengan aturan lain, karena dianggap syariat itu sudah tidak sesuai zaman dan boleh diganti dengan aturan lain yang sesuai kondisi zaman.

Atau sengaja karena untuk menentang syariat aturan Allah, dengan membolehkan atau menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan sebaliknya.

Maka orang seperti ini telah melakukan syirik besar, dan menjadi kafir jika terpenuhi sebab, syarat, dan tidak adanya udzur padanya.

2. Jika dia melakukan voting demokrasi dalam hal yang diharamkan, karena mengikuti hawa nafsunya untuk bermaksiat dan dia mengaku bahwa dia salah dan berdosa.

Atau karena tidak faham, adanya syubhat, dan adanya udzur bagi dia.

Atau karena dipaksa atau terpaksa, sedangkan dia sebenarnya tidak ridho dan mengakui bahwa itu salah dan dosa.

Atau karena masalah suap agar mendapatkan uang sehingga dia menjual suaranya. Sedangkan dia sebenarnya faham bahwa itu tidak boleh dan mengaku berdosa.

Maka orang seperti ini tidak dikafirkan, dan dia termasuk orang muslim pendosa atau fasiq, atau termasuk orang muslim yang mendapatkan udzur atas kesalahannya.

****
Point empat :

Sekarang bagaimana kedudukan seorang muslim yang terpilih menjadi ulil Amri, melalui sistem demokrasi yang kufur dan syirik akbar ini?

Sebelumnya hendaklah diingat bahwa ada perbedaan dalam:
– Masalah menjadikan demokrasi sebagai penentu dalam masalah penentuan hukum
– Dengan demokrasi dalam masalah pemilihan pemimpin.

Masalah penentuan hukum itu tegas bahwa hal itu adalah hak wewenang Allah, dalam hal-hal yang sudah disyariatkan. Adapun untuk suatu aturan yang tidak diatur secara tegas dan terperinci di dalam syariat, maka itu kembali kepada tiga hal :
1. Ijtihad fiqh
2. Pertimbangan mashlahat dan madhorot
3. Kewenangan Ulil Amri dalam memberikan keputusan dan kebijakannya.

Sedangkan dalam masalah memilih pemimpin, syariat tidak memberikan penegasan bahwa jika tidak melalui mekanisme yang sesuai sunnah, maka dia adalah pemimpin yang tidak sah.

Satu-satunya yang bisa membatalkan kepemimpinan seseorang muslim yang tersebut dengan tegas di dalam sunnah, adalah jika dia menjadi kafir.

Mekanisme pemilihan ulil Amri menurut sunnah secara umum, hanya melalui 2 mekanisme saja :

1. Secara mandat dari pemimpin sebelumnya

2. Secara pemilihan oleh Ahlul halli wal aqdi. Baik itu secara musyawarah mufakat, ataupun mewakilkan hal pilih Ahlul halli wal Aqdi kepada salah satu calon untuk kemudian divoting.

(ingat, ini suara Ahlul halli wal aqdi. Bukan suara tiap rakyat one man one vote).

Lihat al ahkaamus sulthooniyyah tulisan imam al mawardi.

Adapun selain cara itu, secara umum, kita masukkan ke dalam mekanisme yang haram, namun hasilnya sah jika seorang muslim itu memiliki kekuasaan dan kekuatan.

Baik itu melalui pengambil alihan kekuasaan, ataupun melalui mekanisme voting demokrasi seluruh rakyat one man one vote seperti yang kita bahas ini.

Keharaman voting langsung baru bisa berubah jika dharurot, atau dalam rangka memilih madhorot yang lebih kecil, atau dengan melihat pertimbangan mashlahat dan madhorot.

****
Point lima :

Jadi menjawab Bagaimana ulil Amri yang terpilih dari hasil pemilihan umum demokrasi?

Mana pemimpin itu sah menjadi ulil Amri, walaupun melalui mekanisme yang haram.

Dalil akan hal ini adalah,
1. Hadits riwayat muslim dan lainnya untuk tetap mematuhi ulil Amri dalam hal yang ma’ruf, walaupun dia adalah seorang budak habasyah yang hitam legam.

Padahal seorang budak itu tidak bisa menjadi kandidat ulil Amri. Dan syariat menjelaskan bahwa syarat ulil Amri itu adalah orang merdeka dan keturunan Quraisy.

Maka dari itu mekanisme terpilihnya budak itu tentu dari pemberontakan yang haram. Karena ulil Amri sebelumnya tidak mungkin memberikan mandat kepadanya, dan Ahlul halli wal aqdi tidak mungkin memilihnya.

2. Ijma bahwa Kholifah Ali adalah Kholifah yang sah, walaupun dia dibaiat oleh para pemberontak dan pembunuh Kholifah utsman.

Dan sahabat yang lain di madinah, diseret dan dipaksa oleh para pemberontak dan pembunuh Kholifah utsman, untuk membaiat kholifah Ali.

3. Qiyas bahwa perzinaan itu haram, akan tetapi anak yang dihasilkan dari perzinaan itu suci dan tidak berdosa.

****
Semoga hal ini jelas dan bermanfaat bagi kita semua.Baarokalloohu fiik.

Walloohu A’lam

Older Entries