ZAKAT FITHR

MENGINGAT KEMBALI MASALAH BEDANYA ZAKAATUL FITHRI DAN ZAKAATUL FITROH

Sebelum membahas Zakat Fithr, hendaknya pembaca melihat kembali tulisan kami pada tulisan ke 19 (Bab V, bab I) ketika membahas masalah buka puasa atau Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) atau Al-Ifthor (اَلْاِفْطَارُ ).

Di sana penulis membahas masalah perbedaan istilah Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dengan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ), dan dampak akibat pengertiannya.

Yang mana ini akan berdampak kepada “menyimpangnya” pengertian asli secara bahasa dan syariat yang diinginkan Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) dan Hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ), kepada pengertian “Kembali menjadi suci kembali” atau “kembali ke fitroh” yang umumnya difahami dan dikehendaki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Hendaklah melihat kembali tulisan kami itu jika menginginkan.

BEBERAPA ISTILAH YANG SEBENARNYA SAMA SECARA APLIKASI FIQH

Memang ada juga ulama’ yang membolehkan istilah Zakaatul Fihtroh (زَكَاةُ الْفِطْرَةِ ) sebagaimana yang popular di Indonesia, selain daripada istilah Zakaatul Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) sebagaimana yang dicontohkan oleh hadits-hadits shohih Rasulullah shalalloohu ‘Alaihi wa sallam.

Ini sebagaimana pemakaian perkataan Zakaatul Fihtroh (زَكَاةُ الْفِطْرَةِ ) atau Al-Fithroh (اَلْفِطْرَةُ ) saja, yang digunakan atau dijelaskan oleh Waki’ Ibnul Jarroh, Imam Asy-Syafi’i, Ats-Tsa’labi, Al-Mawardi, Al-Ghozali, Ibnu Qudamah, An-Nawawi, Al-Fayyumi, dan Abu Bakar al-Husaini al-Hushoni Asy-Syafi’I rohihumuhulloohu ajma’in.

Lihat : https://addariny.wordpress.com/2010/01/05/zakat-fitri-atau-zakat-fitrah-mana-yg-benar/

“Zakat Fithroh” atau “Fithroh” saja ini sebenarnya adalah istilah fiqh yang ma’lum diistilahkan oleh sebagian ulama untuk nama lain dari “Zakat Fithri”. Walaupun hadits-hadits perkataan Rasululloh selalu memakai kata Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dan tidak pernah memakai kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ )

Dinamakan Zakat Fithroh karena ini berfungsi untuk membersihkan dan menyucikan jiwa, serta untuk mengembangkan amalannya. Pengertian ini yang nanti akan penulis berikan tanggapan dan kritik atasnya.

Abu Bakar al-Husaini al-Hushoni asy-Syafi’i -rohimahulloh- (wafat 928 H):

يقال لها زكاة الفطر لأنها تجب بالفطر ويقال لها زكاة الفطرة أي الخلقة يعني زكاة البدن لأنها تزكي النفس أي تطهرها وتنمي عملها

Zakat ini disebut dengan istilah “Zakat Fitri”, karena diwajibkan dengan (masuknya hari) berbuka. Ia  juga disebut “Zakat Fitrah“, yang berarti penciptaan, maksudnya adalah zakat badan, karena ia mampu membersihkan dan menyucikan jiwa, serta mengembangkan amalannya. (Kifayatul Akhyar 273)

Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Fithrah ini adalah hadits berikut ini.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Selain dinamakan Zakat Fitrah, Zakat Fitri ini dinamakan juga dengan Zakat Badan (Zakat untuk tiap badan atau tiap individu). Dinamakan seperti itu karena zakat ini wajib untuk ditunaikan oleh seorang muslim yang mampu dari berbagai kalangan. Baik itu tua, muda, anak kecil, bayi, laki-laki, wanita, budak, dan lain-lain yang dibayarkan oleh orang yang menanggungnya.

Zakat Badan ini sama dengan istilah Zakat Nafs (Zakat untuk tiap jiwa) ataupun Zakat Ro’s (Zakat per kepala). Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Badan ini adalah hadits berikut.

Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Ada juga orang yang menamakannya dengan Zakat Ramadhan, karena ini adalah zakat khusus yang wajib untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan bagi yang mampu. Akan tetapi tampaknya istilah Zakat Ramadhan ini kurang popular sepertinya.

Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Ramadhan ini adalah hadits berikut ini,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) dengan setengah sha’ untuk Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). [Hr. Bukhori, hadits no.1415]

“Shodaqoh” dalam hadits ini yakni pada perkataan Shodaqoh fithri atau yang juga dikatakan shodaqoh romadhon (صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ ), maknanya adalah Zakat. Hal ini sebagaimana QS. At-Taubah yang menggunakan kata “Shodaqoh” untuk dibagikan kepada 8 asnaf (golongan), namun yang dimaksudkan adalah Zakat.

Jadi sebagai rangkuman awal, ada empat istilah yang sebenarnya sama saja pengertiannya dalam aplikasi amalannya, yakni :

  1. Zakat Fithri, yakni Zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dibagikan kepada yang tidak mampu, agar bisa sama-sama memiliki makanan menyambut hari raya berbuka atau Iedul Fithri.
  2. Zakat Fithroh atau Fithroh saja (sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi), yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu, untuk dikeluarkan sebelum hari raya Iedul Fithri untuk membersihkan dan menyucikan jiwanya.
  3. Zakat Badan atau Zakat Nafs atau Zakat Ro’s, yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dikeluarkan sebelum hari raya Iedul Fithri, yang dikeluarkan baik itu oleh diri sendiri ataupun oleh orang yang menanggungnya.
  4. Zakat Ramadhan, yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan sebelum sholat Iedul Fithri.

TANGGAPAN DAN KRITIK TERHADAP MAKSUD DARI ISTILAH ZAKAT FITHROH

Dalam hal penggunaan atau pemakaian berbagai macam istilah itu sebenarnya penulis tidak keberatan, karena sebenarnya yang penting adalah maksud dan tujuannya. Adapun perbedaan nama ataupun perbedaan istilah, maka itu bukanlah hal yang substansial. Hal ini sesuai dengan qaidah fiqh الأمور بمقاصدها (Tiap-tiap urusan itu dilihat dari maksudnya).

Hanya saja penulis lebih menekankan agar memakai istilah yang sebagaimana istilah yang Rasulullah berikan saja, yakni Zakaatul Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) atau zakat fithri.

Di sisi lain penulis masih tetap mempermasalahkan akan suatu istilah, jika ternyata maksud yang diinginkan oleh istilah itu “kurang sesuai” dengan penjelasan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dan istilah yang penulis hendak tanggapi dan berikan kritik adalah istilah “Zakat Fithroh” atau “Fithroh” yang popular digunakan di Indonesia ini. Yang mana dimaksudkan untuk pengertian guna membersihkan dan menyucikan jiwa, agar kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan).

Adapun jika “Zakat Fithroh” atau “Fithroh” dipakai untuk pengertian yang sama seperti yang dimaksud oleh Zakat Fithri, Zakat Badan, Zakat Nafs, Zakat Ro’s, Zakat Ramadhan; maka penulis tidak berkeberatan dengan hal itu. Namun jika dipakai untuk untuk pengertian guna membersihkan dan menyucikan jiwa agar kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan), maka penulis berkeberatan.

Kenapa keberatan?

Karena setelah dilihat lagi dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, pengertian itu sepertinya kurang tepat dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Perincian hal itu adalah sebagai berikut,

  1. Zakat Fitri itu sebenarnya dimaksudkan untuk (طُهْرَةً لِلصَّائِمِ ) pembersih atau pensuci orang-orang yang berpuasa, akan puasanya yang rusak karena perkataan kotor dan sia-sia. Jadi bukan untuk membersihkan jiwa ataupun mensucikan dosa-dosa seseorang secara umum. Ini adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang yang berhalangan puasa pun, asalkan dia termasuk orang yang mampu secara finansial, maka tetap untuk berkewajiban mengeluarkan zakat fitri. Maka apakah zakat fitri nya bisa dipergunakan untuk membersihkan puasanya yang rusak dan kotor, sedangkan dia sendiri tidak berpuasa?

Jawabnya adalah tidak, akan tetapi zakat fitri-nya itu digunakan dengan maksud untuk memberi makan orang miskin. Dan ini juga adalah maksud dari kewajiban mengeluarkan zakat fitri itu.

Kedua tujuan dari zakat fitri itu, yakni untuk membersihkan puasa yang rusak dan kotor serta untuk memberi makan orang miskin, sesuai dengan perkataan Rasulullah di bawah ini. Adapun tujuan untuk membersihkan dan menyucikan jiwa hingga kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan), sama sekali tidak pernah disebutkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘Alaihi wa sallam.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

  1. Memang terdapat ayat di dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. At Taubah : 103]

Akan tetapi konteks ayat ini untuk zakat secara umum; baik itu zakat maal (zakat harta), zakat tijaroh (perdagangan), zakat rikaz (barang temuan), dan lain-lain; bukan untuk zakat fitri secara khusus.

Adapun sesuatu hal yang umum akan tetap berlaku secara umum, hingga ada yang mengkhusukan. Sedangkan zakat fitri sudah dikhususkan lagi ternyata maksudnya oleh Rasulullah dalam sabdanya, maka jika hendak dikembalikan lagi ke makna umum maka sepertinya kurang tepat.

Terlebih lagi di dalam QS. At-Taubah ayat 103 itu tidak ada kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) sama sekali, maka bagaimana mungkin untuk zakat fitri dikhususkan dengan nama “zakat fitroh” sedangkan zakat-zakat yang lain tidak diberikan nama khusus “zakat fitroh” itu?

Kenapa nama “zakat fitroh” itu hanya dikhususkan untuk zakat fitri dan tidak untuk nama zakat yang lain? Apa dalilnya?

Terlebih lagi nama kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) itu sebenarnya bermakna suci sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan.

Katakanlah zakat fitri itu juga berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seseorang dari segala dosa-dosa dan kesalahannya, dan sebenarnya penulis tidak keberatan akan hal ini. Sebagaimana penafsiran Sa’id bin Musayyib rohimahulloh dan Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh terhadap firman Allah,

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

“Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri “[QS. Al-A’laa : 14]

Bahwa di maksudkan dari ayat ini (sesuai penafsiran Sa’id bin Musayyib rohimahulloh dan Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh) adalah zakat fithri. [[Shohih Fiqhus Sunnah, bab Zakat Fitrah, bagian hukum zakat fitrah]

Ibnu Katsir berkata,

وقد روينا عن أمير المؤمنين عمر بن عبد العزيز: أنه كان يأمر الناس بإخراج صدقة الفطر، ويتلو هذه الآية: { قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ }

“Dan sungguh telah kami riwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwasanya beliau memerintahkan orang-orang untuk mengeluarkan shodaqoh fithri (صدقة الفطر ,alias zakat fithri), sembari membacakan ayat berikut ini (قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ )

Namun kenapa dikatakan hingga sampai kembali dalam keadaan fitroh (sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan)? Terlebih lagi Ibnu Katsir mensifatkan perkataannya tersebut dengan shodaqoh fitri, bukan shodaqoh fitroh.

Padahal jika kita memiliki dosa berupa kesalahan dan kedzoliman kepada orang lain, maka hal itu tidak akan terhapus jika kita tidak meminta maaf atau minta dihalalkan. Ada juga dosa-dosa besar yang kita harus taubat dulu baru kemudian insya Allah Allah memaafkan. Maka bagaimana mungkin dikatakan dibersihkan dan disucikan jiwanya dari segala dosa-dosanya, hingga kembali suci dalam keadaan fitroh (sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan)

  1. Terdapat hadits yang mana rasulullah menyebutkan beberapa amalan yang merupakan bagian dari fitroh, akan tetapi di situ tidak disebut amalan zakat fitri sama sekali.

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Ada sepuluh hal dari fitrah (مِنَ الْفِطْرَةِ), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Dan fitroh yang disebut dalam hadits ini adalah berbeda dengan fitroh yang suci dari segala dosa, hingga suci seperti anak baru lahir. Walloohu A’lam

Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim hafidzahullah berkata,

Sunnah-sunnah fitrah adalah salah satu jenis sunnah jika dilakukan oleh seseorang maka orang tersebut disifati dengan fitrah (suci) yang dengan itu Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia. Allah Subhanahu wata’ala mensunnahkan hal itu agar menusia menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang berperilaku dan berpenampilan bagus. Sunnah-sunnah ini adalah sunnah terdahulu yang dilakukan oleh semua Nabi. Syariat semua Nabi juga mengajarkannya. Seolah-olah hal ini sudah menjadi sifat yang melekat pada diri setiap insan.

Sunnah-sunnah fitrah ini sangat erat hubungannya dengan maslahat duniawi maupun ukhrawi. Hal itu dapat diperoleh dengan memperbagus penampilan dan membersihkan tubuh baik itu secara global maupun rinci. [Shohih Fiqhus Sunnah, Bab Sunnah-sunnah Fitrah]

HUKUM DAN TUJUAN ZAKAT FITRI

Hukum dari zakat fitri adalah wajib bagi yang mampu. Hal ini dikembalikan kepada qoidah ushul fiqh masalah al-‘Amr (perintah), dari perintah rasulullah untuk menunaikan zakat fitri. Terlebih lagi Shahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu juga memberikan kabar bahwa Rasulullah men-fardhu-kan kewajiban zakat fitri ini.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memfardhukan/mewajibkan zakat fithri (قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ ) satu sha’ dari kurma atau sha’ dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum Muslimin. Dan Beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang-orang berangkat untuk shalat (‘Ied) “. [HR. Bukhari, kitab “Az-Zakaah”, bab “Farodho shodaqotul Fithri” hadits 1407]

Para ulama juga sudah ber-ijma’ akan wajibnya zakat fitri ini, sebagaimana perkataan Ibnu Mundzir [Shohih Fiqhus Sunnah]

Adapun tujuan dari zakat fitri itu ada tiga yakni,

  1. Membersihkan puasa yang rusak dan kotor (طُهْرَةً لِلصَّائِمِ ) dari segala perkataan yang kotor dan sia-sia selama berpuasa.
  2. Untuk memberi makan orang fakir miskin (وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ), agar ketika merayakan hari raya Iedul Fithri nanti mereka mempunyai makanan untuk dimakan.
  3. Untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seseorang dari segala dosa-dosa dan kesalahannya, sebagaimana tafsir Sa’id bin Musayyib dan Umar bin Abdul ‘Aziz terhadap QS. Al-A’laa : 14

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Hukum bagi orang yang mampu namun tidak mau untuk mengeluarkan zakat fitri adalah berdosa, karena ini adalah wajib. Akan tetapi untuk ancaman khusus bagi orang-orang yag tidak mau mengeluarkan zakat fitri, maka penulis belum menemukannya kecuali ancaman bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat secara umum.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً ، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ ، لَهُ زَبِيبَتَانِ ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِى شِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ ، أَنَا كَنْزُكَ » ثُمَّ تَلاَ ( لاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ )

الآيَةَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan (kewajiban) zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok karena dikepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat.

Ular itu memegang (atau menggigit tangan pemilik harta yang tidak berzakat tersebut) dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu’. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (firman Allah ta’ala,QS. Ali Imran: 180): ’Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka…dst’.” (HR Bukhari II/508 no. 1338)

JENIS MAKANAN DAN TAKARAN YANG DIKELUARKAN UNTUK ZAKAT FITRI

A. Jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitri

Jenis makanan yang harus dikeluarkan untuk membayar zakat fitri, adalah kembali kepada apa makanan pokok penduduk negeri tersebut.

عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami mengeluarkan (zakat fithri) pada hari Raya ‘Iedul fithri satu sha’ dari makanan (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ )“.

Dan berkata, Abu Sa’id: “Dan saat itu makanan kami adalah gandum jenis Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), kismis, biji-bijian atau kurma”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1414]

Itu adalah keumuman untuk berbagai macam makanan pokok pada zaman Rasulullah. Adapun untuk zaman kita dan juga dengan daerah yang terpencar-pencar, maka hal ini dikembalikan kepada keumuman makanan pokok yang biasa dimakan sehari-hari.

Untuk perincian masalah gandum, maka ternyata para shahabat memperinci kualitas dan jenis gandumnya. Sehingga zakat fithri itu adalah :

  1. Satu sho’ untuk gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) yang mana ini umumnya adalah jenis gandum yang masih menempel di tangkainya dan belum diolah, yang umumnya dimakan oleh para shahabat di Madinah (setelah diolah sendiri).
  2. Setengah sho’ untuk gandum yang berkualitas lebih bagus dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), atau yang sudah diolah hingga tinggal berupa tepung atau bijinya. Setengah sho’ jenis gandum ini adalah senilai atau sebanding dengan satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ).

Gandum yang berkualitas lebih bagus dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), dan hanya cukup dikeluarkan setengah sho’ saja untuk zakat fithri sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadits yang terjadi pada zaman shahabat, adalah :

  1. Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum )
  2. Gandum Al-Hinthoh (الْحِنْطَةُ , biji gandum)
  3. Gandum As-Samroo’ (السَّمْرَاءُ , jenis gandum dari negeri Syam yang dibawa Mu’awiyah rodhiyalloohu ‘anhu yang pernah menjabat sebagai Gubernur di daerah Syam hingga akhirnya menjadi kholifah)

Hadits-hadits mengenai Al-Burr, Al-Hinthoh, dan As-Samroo’ adalah sebagai berikut,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) dengan setengah sha’ untuk Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). [Hr. Bukhori, hadits no. 1415]

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَجَعَلَ النَّاسُ عِدْلَهُ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ

Dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tentang zakat fithri berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Berkata, ‘Abdullah radliallahu ‘anhu: “Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )) dengan dua mud untuk Gandum Al-Hinthoh (الْحِنْطَةُ , biji gandum)“. [Hr. Bukhori, hadits no. 1411]

Catatan : 1 sho’ itu adalah 4 mudd. Sehingga 2 mudd itu adalah sebanding dengan ½ sho’.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَكَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ أَبَدًا مَا عِشْتُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kami membayar zakat fithrah untuk setiap orang, baik anak kecil maupun dewasa, merdeka maupun budak, yaitu satu sha’ makanan berupa keju, atau gandum, atau kurma atau anggur kering.

Pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dia berpidato di hadapan jama’ah haji atau umrah, katanya antara lain; “Dua mudd gandum As-Samroo’ (السَّمْرَاءُ , gandum dari negeri Syam) sama dengan satu sha’ kurma.” Karena pidatonya itu maka banyak orang yang membayar zakat fithrahnya seperti itu.

Abu Sa’id berkata, “Tetapi aku tetap saja membayar seperti apa yang telah kulakukan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhir hayatku.” [Hr. Muslim,hadits no.1641]

***

Dari perbedaan khusus mengenai takaran gandum ini, maka para ulama’ berbeda pendapat.

Ada yang berpendapat semua dianggap sama dengan takaran satu sho’, ada juga yang berpendapat bahwa secara umum adalah satu sho’ namun untuk gandum khusus seperti al-burr ataupun yang lain cukup dengan ½ sho’ saja.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, maka yang penulis lebih cenderung untuk menguatkan pendapat pertama. Yakni semua dianggap sama dengan takaran satu sho’. Argumentasi akan hal tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Jika kita meneliti lebih lanjut masalah hadits-hadits jenis gandum yang dianggap zakat fithri nya cukup hanya setengah sho’, maka itu kembali kepada anggapan orang-orang yakni para shahabat setelah sepeninggal Rasulullah. Hal ini karena adanya gandum yang lebih bagus di kemudian hari yang berbeda dengan gandum yang ada pada zaman Rasulullah, maka para shahabat pun mencoba mensetarakannya.

Kenapa difahami seperti itu?

Hal ini karena hadits-hadits yang dinisbatkan kepada perintah atau zaman Rasulullah umumnya dinisbatkan dengan memakai kata gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ). Adapun perkataan gandum Al-Burr, Al-Hinthoh, ataupun As-Samroo’ disebutkan pada keterangan setelahnya.

Hal ini memberikan faedah bahwa jenis-jenis gandum itu baru ada di kemudian hari sepeninggal Rasulullah tiada. Terlebih lagi kita juga tidak mendapatkan kabar yang valid bahwa pada zaman Rasulullah juga sudah ada gandum jenis Al-Burr, Al-Hinthoh, ataupun As-Samroo’. Walloohu A’lam [Lihat juga perkataan Ibnul Mundzir mengenai hal ini]

  1. Terlebih lagi, anggapan persamaan jenis gandum yang lebih bagus yang datang di kemudian hari itu, dengan hanya cukup ½ sho’ saja zakat fithri nya, tidak semuanya disepakati oleh para shahabat. Abu Sa’id Al-Khudri tidak sepakat dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bahwa gandum as-samroo’ itu cukup dikeluarkan ½ sho’ saja. Dan Abu Sa’id Al-Khudri tetap mengeluarkan zakat Fithri dengan ukuran 1 sho’ sesuai yang beliau keluarkan pada zaman Nabi hingga akhir hayat Abu Sa’id Al-Khudri.
  2. Sehingga inilah yang lebih rojih bagi penulis, dan semuanya cukup dikembalikan kepada keumuman hadits masalah makanan (Ath-Tho’aam) yang juga riwayat Abu Sa’id Al Khudri namun dengan perkataan yang jelas dinisbatkan kepada pada zaman Nabi Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami mengeluarkan (zakat fithri) pada hari Raya ‘Iedul fithri satu sha’ dari makanan (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ )“.

Dan berkata, Abu Sa’id: “Dan saat itu makanan kami adalah gandum jenis Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), kismis, biji-bijian atau kurma”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1414]

  1. Berlaku di sini qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan).

Jika benar bahwa takaran gandum itu bisa berubah sesuai dengan kualitas jenis gandumnya, maka kenapa rasulullah tidak menjelaskannya? Kenapa ini hanya berlaku untuk gandum saja? Bukankah disebutkan ada juga bahan makanan lain seperti kurma, kismis, biji-bijian, yang juga bisa dijadikan zakat fithri? Apa alasan gandum menjadi diistimewakan dibandingkan lainnya?

Adapun penjelasan bahwa ada perkataan yang membedakan takaran gandum sesuai dengan jenisnya, maka kita bisa katakan apakah itu benar ijma’ shahabat sehingga itu bisa menjadi dalil pemerinci bagi kita, ataukah itu hanyalah ijtihad sebagian shahabat saja? Walloohu A’lam

Terlepas dari perbedaan pendapat khusus mengenai masalah gandum itu, maka untuk kita yang berada di Indonesia, cukup mengeluarkan makanan pokok kita, seperti misal beras, sebesar 1 sho’ per satu satu jiwa untuk menunaikan Zakat Fithri.

Bercermin dari perincian masalah kualitas gandum, maka hendaknya kualitas beras yang kita jadikan untuk membayar Zakat Fithri sama kualitasnya dengan beras yang sehari-hari kita makan. Jangan sampai jika sehari-hari kita makan beras kualitas super, namun untuk zakat fithri kita hanya membayarnya dengan beras kualitas standart saja.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi sallam bersabda,

نَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah adalah baik (thoyyibun) dan tidaklah menerima kecuali yang baik (thoyyiban)” [Hr. Muslim]

Thoyyib artinya adalah baik, tidak mengandung kotoran dan hal-hal yang tercela. Demikianlah seharusnya sifat dari amalan kita. Cukup bagi kita untuk merenung, apakah jika sehari-hari kita makan beras kualitas super, dan untuk zakat fitri kita menunaikannya dengan beras kualitas yang dibawahnya, itu terpuji ataukah tercela?

Kita disini tidak berbicara secara fiqh apakah ini sah atau tidak? Namun kita disini mengkhawatirkan apakah amalan ini diterima atau tidak? Walloohu A’lam

B. Takaran yang digunakan untuk zakat fitri

Setelah kita berbicara masalah “jenis makanan” dengan panjang lebar, sekarang mari kita membahas masalah takarannya. Atau dengan kata lain, sebanyak apakah yang harus kita tunaikan itu?

Sebenarnya apa sho’ dan mudd yang disebutkan oleh hadits pada zaman nabi dan para shahabat itu?

Satu mud itu adalah seukuran dua telapak tangan manusia yang sedang yang dirapatkan/disatukan, lalu dengan keduanya biasa dipakai untuk mengambil/memenuhi bahan makanan dengannya. (lihat An-Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar, 4/256)

Adapun satu sho’ adalah satu takaran wadah yang mencukupi untuk memenuhi 4 mudd.

Seberapa banyakkah takaran satu sho’ pada zaman nabi itu, jika digunakan dalam takaran atau timbangan masyarakat modern zaman sekarang ini?

Inilah yang para ulama berbeda-beda dalam menetapkannya. Karena mudd tiap orang atau tiap wilayah itu berbeda-beda, sesuai dengan ukuran dua telapak tangan manusia yang dirapatkan yang juga berbeda-beda. Maka secara otomatis takaran wadah sho’ yang sesuai dengan 4 mudd pun juga berbeda-beda.

Jika ingin secara lebih terperinci, dengan takaran atau timbangan modern zaman sekarang. Maka apa jenis makanan yang digunakan untuk dijadikan standart 1 sho’ itu? Apakah kurma, ataukah gandum, ataukah kismis? Sedangkan jenis-jenis makanan itu semua disebutkan dalam hadits.

Dan kita mengetahui dengan ilmu pengetahuan modern, bahwa berat jenis dari masing-masing makanan itu berbeda-beda. Sehingga jika makanan yang berbeda-beda itu masing-masing ditimbang dalam satu sho’ wadah takaran, tentu akan menghasilkan berat yang berbeda-beda. Maka berat manakah yang dijadikan standart?

Dari hal ini, kita bisa memahami kenapa para ulama fiqh modern berbeda-beda dalam menetapkan takaran volume ataupun takaran berat standart 1 sho’.

Mereka menetapkan secara berbeda-beda, walaupun wadah cawan ataupun gantang takaran satu mudd atau 1 sho’ itu masih diwariskan secara turun-temurun, dan bersanad ada hingga sampai zaman sekarang.

Dalam Shohih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim hafidzahullah menetapkan 1 sho’ itu setara dengan 2.157 kilogram, sesuai dengan 1 sho’ versi standart mesir.

Para Ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah yang berkedudukan di Saudi Arabia, yang mana disitu terdapat Makkah dan Madinah, berfatwa mengikuti pendapat Syaikh ibn Baz rohimahulloh bahwa 1 sho’ itu setara dengan 3 kilogram. (no fatwa : 12572)

Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh yang juga merupakan Ulama Saudi menetapkan bahwa 1 sho’ itu setara dengan 2.040 kilogram. (Syarhul Mumti’, VI/176-177)

Di Indonesia, peraturan menteri agama RI No. 52 tahun 2014, menetapkan 1 sho’ itu setara dengan 2.5 kilogram atau 3.5 liter beras atau makanan pokok. (lihat : http://simbi.kemenag.go.id/simzat/download/files/syarat_dan_tata_cara_penghitungan_zakat.pdf )

Ada lagi pendapat yang berbeda-beda mengenai ukuran 1 sho’ itu sesuai dengan pendapat para ulama madzhab, yang tidak penulis tampilkan agar tidak memperpanjang pembahasan.

Dari berbagai macam pendapat satu sho’ itu, penulis sebenarnya ingin menguatkan pendapat dengan mengikuti pengukuran Ahlul Hijaz yang mana disitu Madinah berada, dan Rasulullah tinggal disitu pada zaman dahulu kala.

Akan tetapi ketika melihat sesama ulama ahlul hijaz berbeda pendapat mengenai ukuran satu sho’, yakni antara Syaikh Ibn Baz rohimahulloh dan diikuti oleh Lajnah Daimah dengan Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh. Maka penulis ingin mencoba melihat dari kacamata lain.

Penulis lebih cenderung untuk menguatkan ketetapan peraturan pemerintah RI, yakni 2.5 kilogram atau 3.5 liter untuk ukuran 1 sho’. Hal ini karena :

  1. Ukuran mudd tiap-tiap penduduk suatu negeri bisa jadi berbeda, karena ukuran postur dan telapak tangan tiap rata-rata penduduk itu berbeda-beda. Sehingga ukuran mudd hendaklah dikembalikan kepada ukuran pemahaman ‘urf (kebiasaan) tiap-tiap penduduk suatu negeri.
  2. Kebolehan untuk mengembalikan kepada keputusan Ulil Amri wilayah masing-masing. Hal ini karena kita menemukan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan selaku ulil Amri waktu itu, pernah menetapkan gandum as-Samraa’ yang berasal dari syam “mempunyai takaran zakat fitri” yang berbeda, yakni cukup ½ sho’ saja. Walaupun tidak semua shahabat sepakat.
  3. Tidak menyalahkan fihak-fihak lain yang mengikuti pendapat ukuran 1 sho’ yang berbeda, asalkan memiliki rujukan ataupun argumentasi yang dibenarkan oleh syari’at.

Walloohu A’lam

BOLEHKAH ZAKAT FITRI DIKELUARKAN DALAM BENTUK UANG ?

Pada zaman Rasulullah dan para shahabat zakat fithri selalu dibayarkan dengan makanan sejumlah satu sho’ tanpa terkecuali. Tidak terdapat riwayat bahwa zakat fithri boleh digantikan dengan bentuk uang yang senilai dengan jumlah makanan satu sho’.

Hal itu tidak terjadi hingga sampai zaman kekhalifahan bani Ummayah, pada pemerintahan Umar bin Abdul ‘Aziz rohimahulloh. Masa ini masih termasuk pada masa Tabi’in (murid pengikut para shahabat), sehingga hanya terpaut satu generasi saja dengan generasi shahabat.

Sebagian ulama dari kalangan Tabi’in yang sependapat dengan Kholifah Umar bin Abdul Aziz dan membolehkan zakat fithri dibayarkan dengan uang adalah,

  1. Hasan Al Bashri
  2. Atha’ bin Abi Robah
  3. Abu Hanifah, imam Madzhab Hanafi (pernah berguru juga kepada Atha’ bin Abi Robah). Dan demikian juga pendapat madzhab Hanafi akan kebolehan membayarkan zakat fithri dengan uang.

Sedangkan pada zaman tabi’ut tabi’in yang sependapat adalah Sufyan Ats-Tsauri

Adapun jumhur (mayoritas) ulama lain menolak untuk membolehkan zakat fithri dibayarkan dengan uang, sehingga tetap mewajibkan harus membayarkannya dengan bahan makanan, dan bahkan mengatakan hal tersebut tidak sah.

Argumentasi fiqh para ulama yang membolehkan untuk membayarkannya dengan uang hanyalah berdasarkan istihsan (anggapan baik) semata. Ini karena tidak ada dalil dari rasulullah dan para shahabat sama sekali akan contoh dan kebolehan membayarkan zakat fithri dengan uang.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, penulis lebih menguatkan pendapat jumhur ulama yang melarang membayarkan zakat fithri dengan diganti uang, dan tetap wajib harus dibayarkan dengan bahan makanan. Argumentasi akan hal tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Pada zaman rasulullah dan pada zaman para shahabat sudah terdapat uang, yakni dirham dan dinar, akan tetapi zakat fithri tidak pernah digantikan dengan uang.
  2. Bahkan pada zaman kholifah Umar bin Khoththob dan juga kholifah Utsman bin ‘Affan, kekuasaan ummat Islam sangat berjaya, kaya, dan memiliki banyak uang. Akan tetapi zakat fithri tidak pernah digantikan dengan uang.
  3. Hingga zaman Kholifah Muawiyah bin Abi Sufyan pun, selaku pendiri kekhilafahan bani Ummayah, Muawiyah hanya berpendapat bahwa gandum as-samroo’ (gandum dari negeri Syam, karena pusat pemerintahan Muawiyah ada di Syam) hanya dibayarkan sebanyak ½ sho’ saja. Walaupun hal ini tidak disepakati oleh shahabat lainnya, yakni oleh Abu Sa’id Al Khudri. Akan tetapi Mu’awiyah tidak pernah berkata bahwa zakat fithri boleh untuk digantikan dengan uang, padahal zaman itu pemerintahan Islam juga sedang jaya-jayanya.
  4. Istihsan (anggapan baik) secara kajian ushul fiqh termasuk sumber hukum yang tidak disepakati oleh seluruh Ulama. Bahkan Imam Asy-Syafi’I sampai pernah berkata,

من استحسن فقد شرع

“Orang yang berbuat istihsan (menganggap baik suatu urusan / amalan yang tidak ada dalam Islam, tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) maka dia telah membuat syari’at.”

 

Di dalam kitab Ar-Risalah, Imam Asy-Syafi’I juga berkata,

وإنّما الاستحسان تلذذ، ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم، ولجاز أن يشرع في الدين في كلّ باب، وأن يخرج كلّ أحد لنفسه شرعاً

 

“Yang namanya istihsan (menganggap baik sebuah urusan, sebuah perbuatan, dan sebuah ucapan dalam agama yang tidak ada sebelumnya) merupakan bernikmat-nikmat. Kalau seandainya istihsan itu dibolehkan dalam agama, maka dibolehkan pula hal tersebut bagi orang-orang yang punya akal dari orang yang tidak memiliki iman (artinya: dalam kehidupan sehari-hari saja, orang yang berakal dari orang-orang kuffar tidak menganggap baik semua urusan, terlebih lagi dalam masalah agama). Seandainya dibolehkan untuk membuat syariat dalam agama di setiap bab, maka niscaya setiap orang akan membuat syariat sendiri-sendiri.”

Setelah kita memahami yang rojih dari pendapat yang melarang membayarkan zakat fithri dengan uang. Maka bagaimanakah orang-orang yang “sudah terlanjur” membayarkan zakat fithri dengan uang, padahal kita mengetahui bahwa para ulama yang menentangnya dengan tegas mengatakan bahwa zakat fithri dengan uang itu tidak sah?

Maka jawabnya adalah jika orang tersebut adalah orang awam, tidak mengetahui ilmu akan hal ini, hanya taqlid dan ikut-ikutan perkataan ulama yang membolehkannya saja. Maka zakat fithri nya sah, dan tidak perlu untuk mengulanginya lagi dengan membayarkan zakat fithri dengan makanan. Hal ini karena ada udzur bagi mereka karena ketidak tahuannya.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh islamQA yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad Sholih Al Munajjid hafidzahulloh, dan juga dengan mengutip dari fatwa Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh.

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:

“Kalau seseorang membayar zakat fitrahnya dengan uang dengan mengambil pendapat ulama di daerahnya, kemudian setelah itu dia mengetahui pendapat yang lebih kuat, maka apa yang harus dia lakukan dengan zakatnya ?

Beliau menjawab:

“Tidak ada konsekuensi apapun, bagi setiap orang yang melakukan sesuatu berdasarkan fatwa seorang alim atau dengan mengikuti fatwa para ulama di daerahnya, maka tidak masalah. Sebagai contoh: “Jika ada seorang wanita yang tidak membayar zakat perhiasannya selama bertahun-tahun, dia tidak tahu kalau perhiasannya wajib dizakati atau karena ulama di daerahnya berfatwa bahwa perhiasan tidak ada zakatnya, kemudian dia mengetahui yang sebenarnya, maka dia membayar zakatnya setelah dia mengetahuinya, dan yang sebelum itu dia tidak wajib membayarnya”. (Liqoat Al Bab Al Maftuh, No: 191, Soal nomor: 19)

Lihat : https://islamqa.info/id/109734

Adapun jika setelahnya, mereka kemudian mengetahui secara keilmuan dan meyakini ke-rojih-an perkataan ulama yang melarang zakat fithri dengan uang. Maka jika mereka “nekad” membayarkan zakat fithri dengan uang tanpa ada hal dhorurot yang membolehkannya, maka zakat fithri nya menjadi tidak sah. Walloohu A’lam

Adapun jika panitia penerima zakat fithri menyediakan fasilitas pelayanan untuk membelikan bahan makanan guna zakat fithri dengan uang yang kita berikan kepada mereka. Maka sepanjang panitia penerima zakat fithri tersebut amanah dan benar-benar uang itu untuk dibelikan bahan makanan. Maka hal ini boleh dan tidak ada masalah dengan hal ini. Walloohu A’lam

SIAPA YANG BERKEWAJIBAN UNTUK MENGELUARKAN ZAKAT FITRI

Yang dijatuhi kewajiban untuk mengeluarkan zakat fithri adalah :

  1. Setiap Muslimin dari berbagai kalangan, bahkan hingga bayi yang baru lahir, anak kecil, budak, orang merdeka, orang dewasa, dan orang lanjut usia. Maka dari inilah zakat fitri disebut juga zakat badan atau zakat nafs (zakat jiwa), karena hal ini diwajibkan kepada semua jiwa muslimin.
  2. Mampu dan bukan termasuk orang miskin. Adapun orang miskin tidak diwajibkan

Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Cara mengeluarkan zakat fithri :

  1. Bagi pribadi merdeka yang mampu mengeluarkan dan membayarkannya sendiri, hendaklah dibayarkan sendiri.
  2. Orang-orang yang berada di bawah tanggungan orang lain, maka zakat fitri nya di keluarkan oleh sang penanggungnya. Orang-orang yang berada di bawah tanggungan orang lain adalah seperti misal : bayi, anak kecil, budak, pembantu, istri, orang tua yang sudah lanjut dan tinggal bersama anaknya, dan lain-lain.

عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِي التَّمْرَ فَأَعْوَزَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنْ التَّمْرِ فَأَعْطَى شَعِيرًا فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنْ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum asy-sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (gandum asy-sya’iir (الشَّعِيرُ )) dengan setengah sha’ untuk gandum al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). Adalah Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bila berzakat dia memberikannya dengan kurma. Kemudian penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma akhirnya mereka mengeluarkan gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ).

Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikan zakatnya atas nama anak kecil maupun dewasa hingga atas nama bayi sekalipun, dan Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Iedul Fithri. [Hr. Bukhori, Kitab Az-Zakaah, hadits no. 1415]

KAPAN WAKTU UNTUK MENGELUARKAN ZAKAT FITRI

Pedoman umum untuk kapan waktu untuk mengeluarkan zakat fithri itu sebenarnya berkaitan dengan namanya sendiri, yakni Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ).

Yang dimaksud adalah, zakat fithri itu secara harfiah berarti zakat berupa makanan yang dikeluarkan dan diberikan kepada orang-orang yang berhak, agar pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) mereka mempunyai makanan untuk dimakan. Ini karena Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) sendiri artinya adalah makan tidak berpuasa lagi.

Maka dari itulah syariat menetapkan bahwa pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) itu kaum muslimin diharamkan untuk berpuasa, karena hari Iedul Fithri itu sendiri bermakna hari raya berbuka puasa atau hari raya “untuk makan-makan” setelah sebulan lamanya kita berpuasa ramadhan.

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137)

Dan tujuan zakat fithri jelas disebutkan oleh Rasulullah untuk memberi makan orang miskin,

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan Al Albani)

Setelah kita memahami hal ini, maka kita faham bahwa petunjuk kapan waktu bagi kita untuk mengeluarkan zakat fithri adalah pada waktu yang memungkinkan agar orang-orang miskin bisa mempunyai makanan untuk dimakan pada waktu hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Adapun kapannya, maka rasulullah tidak pernah memberikan jangka waktu secara pasti melainkan hanya waktu minimalnya saja, yakni hingga sebelum sholat Ied dilaksanakan.

Hal ini sesuai dengan perkataan rasulullah,

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ied maka zakat (fithri) nya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Adapun untuk praktek dari para shahabat rodhiyalloohu ‘anhum, terutama shahabat Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu, maka beliau mengeluarkan zakat fithri sehari hingga tiga hari sebelum Idul Fitri.

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا ، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.” (HR. Bukhari).

Dari Nafi’, ia berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ

“‘Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fithri.” (HR. Malik dalam Muwatho’nya no. 629, 1: 285).

****

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya “bahwa rasulullah tidak pernah memberikan jangka waktu secara pasti melainkan hanya waktu minimalnya saja, yakni hingga sebelum sholat Ied dilaksanakan”, maka sebenarnya kapankah kita boleh mulai untuk memberikan zakat fithri? Apakah boleh lebih dari satu hingga tiga hari alias melebihi dari jangka waktu yang dipraktekkan oleh shahabat Ibnu Umar?

Untuk jawabnya adalah boleh dan tidak masalah, asalkan tujuan zakat fithri agar orang-orang miskin bisa mempunyai makanan untuk dimakan pada hari raya Iedul Fithri bisa tercapai.

Hal ini dibolehkan karena adanya qorinah dari hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim, yang mana Abu Hurairah diberi tugas oleh Rasulullah menjaga zakat Fithri (di dalam haditsnya disebut dengan nama Zakat Ramadhan). Dan selama tiga hari Abu Huroiroh selalu didatangi oleh Syaithon yang menyamar sebagai manusia untuk mencuri bahan makanan zakat fithri itu, yang mana ketika ditangkap selalu mengiba agar dilepaskan dan selalu kembali lagi. Hingga pada hari ketika dilepaskan dengan balasan Abu Huroiroh diajarkan untuk membaca ayat kursi (QS. Al-Baqoroh : 255) sebelum tidur, maka Allah akan senantiasa menjaganya ketika tidur dan syaithan tidak akan berani mendekatinya hingga pagi hari.

Hadits ini cukup panjang, maka penulis sebutkan secara makna saja.

Dari hadits ini, kita bisa mengambil faedah hukum bahwa makanan zakat fithri (atau zakat romadhan) itu sudah terkumpul dari jangka waktu lebih dari tiga hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ).

Belum lagi sebenarnya dalam hadits Abu Huroiroh menjaga zakat fitri itu, sebenarnya tidak dijelaskan bahwa setelah tiga hari bertemu syaithan yang menyamar itu besoknya sudah masuk hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Jadi bisa saja hal itu terjadi pada pertengahan Romadhon ataupun yang lainnya.

Dari hadits ini, maka kita bisa beristimbath bahwa zakat fithri bisa mulai untuk dikumpulkan lebih dari tiga hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Dan penulis lebih menguatkan boleh dimulai sejak awal bulan ramadhan, karena melihat dari nama lain zakat fithri dengan zakat ramadhan sebagaimana istilah zakat ramadhan ini yang digunakan dalam hadits Abu Huroiroh ini, asalkan bisa disimpan dan dibagikan oleh panitia penerima zakat (‘Amil zakat), hingga tujuan agar orang-orang miskin bisa punya makanan dan ikut makan pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) bisa terpenuhi. Walloohu A’lam.

Jadi sebagai rangkuman kesimpulan kapan waktu kita mulai mengeluarkan zakat Fithri, agar zakat fithri nya sah dan tidak hanya bernilai shadaqah biasa saja :

  1. Pagi hari sebelum sholat Ied dimulai. Sebagaimana ini adalah batas waktu minimal yang rasulullah berikan.
  2. Satu hingga tiga hari hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Sebagaimana ini adalah praktek dari ibnu Umar.
  3. Sejak dari awal bulan Romadhon, asalkan zakat fithri nya bisa bisa disimpan dan dibagikan oleh panitia penerima zakat (‘Amil zakat), hingga tujuan agar orang-orang miskin bisa punya makanan dan ikut makan pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) bisa terpenuhi. Hal ini sebagaimana istimbath dari hadits Abu Huroiroh menjaga zakat fithri yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Walloohu A’lam

KEPADA SIAPAKAH ZAKAT FITHRI ITU DIBERIKAN DAN KHILAF PARA ULAMA DI DALAMNYA

Secara singkat ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat perihal kepada siapakah zakat fithri itu diberikan.

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa zakat fithri itu dibagikan kepada 8 golongan (8 asnaf), sebagaimana pembagian zakat lainnya secara umum dengan berdalil kepada keumuman QS At-Taubah ayat 60.
  2. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa zakat fitri itu tidak boleh untuk diberikan kepada semua kedelapan asnaf itu, kecuali untuk asnaf fakir miskin. Ini adalah pendapat ulama madzhab Malikiyyah, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qoyyim.

Dari kedua perbedaan pendapat ini, maka penulis lebih menguatkan pendapat bahwa zakat fithri ini khusus hanya untuk fakir miskin saja. Hal ini karena :

  1. Rasulullah tegas menjelaskan dalam haditsnya bahwa zakat fithri itu dipergunakan untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadits ini, Ibnu Abbas meriwayatkan dengan lafadz “فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ “ (Rasulullah menfardhukan atau mewajibkan). Jikalau zakat fithri itu juga diperuntukkan bagi selain fakir miskin, maka tentu rasulullah akan menjelaskannya.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan Al Albani)

  1. QS At-Taubah ayat 60 itu secara tinjauan ushul fiqh bersifat umum (‘Aam), sedangkan hadits rasulullah yang menjelaskan mengenai tujuan diberikannya zakat fitri itu bersifat khusus (Khoss). Dan sesuai qaidah ushul fiqh, maka dalil yang bersifat umum harus dibawa ke dalil yang bersifat khusus.

Walloohu A’lam

Sekarang timbul pertanyaan, bolehkah jika kita membagikan zakat fithri kita itu sendiri dan tidak lewat panitia pengumpul zakat fithri di masjid-masjid (sebagaimana ibroh Abu Huroiroh menjaga zakat fithri yang telah dikumpulkan)?

Maka jawabnya boleh, sebagaimana kita lihat dari hadits Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu pada pembahasan kapan waktu membagikan zakat fithri, maka beliau membagikan zakat fithri itu sendiri.

Walloohu A’lam

ADAKAH TATA CARA ATAU DO’A KHUSUS DALAM MEMBAYAR DAN MENERIMA ZAKAT FITHRI?

Di sebagian ummat Islam terdapat orang yang berlebih-lebihan yang mengatakan, bahwa ada suatu tata cara dan do’a tersendiri dalam membayar dan menerima zakat fitri.

Berdasarkan hal itu, mereka mengada-adakan suatu perkara agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabat-nya dengan mengatakan,

  1. Ada suatu bacaan niat tersendiri yang harus dilafadzkan ketika mau berniat membayar zakat fithri. Bahkan hal itu diperinci dan dibagi-bagi lagi sehingga dianggap,
  2. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan untuk diri sendiri, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  3. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama istrinya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  4. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama anak laki-lakinya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  5. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama anak perempuannya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  6. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama orang lain yang menjadi tanggungannya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  7. Ada suatu bacaan lafadh ijab qobul tertentu yang diharuskan untuk dibaca, ketika transaksi penyerahan dan penerimaan zakat fithri.
  8. Ada suatu do’a dengan lafal tertentu, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri.

Hal-hal itu semua di atas adalah hal yang diada-adakan dalam syariat Islam, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya.

Adapun untuk perincian penjelasan akan hal yang di ada-adakan itu sebagai berikut,

1. Mengenai masalah Niat, maka niat itu tempatnya ada di dalam hati. Cukup jika kita tau bahwa kita itu :

  1. Sengaja
  2. Sadar
  3. Dan mengetahui

akan apa-apa yang kita amalkan dan apa yang kita kerjakan, maka sudah dihitung ada niat di dalamnya.

Maka dari itu tidak perlu untuk dilafalkan, dan bahkan melafalkan niat itu hanyalah hal yang mengada-ada yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi w sallam beserta para shabahat-nya.

Untuk lebih memperjelas lagi, bukankah ketika kita puasa dan makan dengan sengaja, maka itu membatalkan puasa kita? Sebaliknya jika kita tidak sengaja makan atau minum, yakni tidak kita niatkan, maka hal itu tidak membatalkan puasa kita?

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Yang satu makan ketika puasa dan tidak membatalkan puasa? Sedangkan yang satunya lagi makan ketika puasa dan membatalkan puasa?

Apakah orang yang makan dan membatalkan puasa itu harus membacakan bacaan niat tertentu, agar makanan yang dimakannya itu sah untuk membatalkan puasanya? Ataukah orang itu sebenarnya BISA MENGETAHUI SECARA OTOMATIS, mana makan ketika puasa yang membatalkan puasa dan mana yang tidak membatalkan puasa?

Atau dengan kata lain,

  1. Setiap orang itu sebenarnya bisa mengetahui otomatis dengan sendirinya ada ataukah tidak niat ketika dia melakukan sesuatu.
  2. Setiap orang juga bisa membedakan antara niat yang satu dengan niat yang lain, walau sama-sama melakukan amalan yang sama.
  3. Dan bahkan setiap orang juga bisa mengukur dan membedakan, mana yang niatnya kuat dan yang niatnya lemah.

dengan tanpa perlu melafalkan suatu bacaan niat tertentu.

Dia bisa tau ada niat di dalamnya, asalkan terkumpul padanya 3 hal itu yakni : Sengaja, Sadar, dan Mengetahui; akan apa-apa yang dia kerjakan itu.

Sehingga melafalkan niat dengan bacaan tertentu untuk mengerjakan suatu amalan tertentu, yang mana ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya, maka hal itu sebenarnya hanyalah :

  1. Hal yang mengada-ada dalam syari’at Islam.
  2. Suatu hal yang merupakan tipuan syaithan untuk menimbulkan was-was.
  3. Suatu hal yang harus dijelaskan kesalahannya untuk dijauhi dan tidak dilakukan.

 

2. Adapun untuk lafadh ijab qobul tertentu yang diharuskan untuk dibaca, ketika transaksi penyerahan dan penerimaan zakat fithri, maka ini juga termasuk hal yang diada-adakan karena was-was dari syaithan. Yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya. Yang harus dijelaskan kesalahannya untuk dijauhi dan tidak dilakukan.

Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) kadang disebut juga dengan Shodaqoh Fithri (صَدَقَةَ الْفِطْرِ ), ini sebagaimana hadits dari Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu hadits riwayat Bukhori no.1415 yang pernah penulis sebutkan sebelumnya ketika membahas topik “beberapa istilah yang sebenarnya sama secara aplikasi fiqh”. Silakan lagi topik bahasan penulis sebelumnya.

Maksud penulis menyebutkan “shodaqoh fithri” ini adalah untuk diambil istimbath hukum, bahwa hukum-hukum untuk kata-kata zakat fithri itu sama dengan hukum-hukum masalah shodaqoh. Yakni dalam kaitannya dengan shodaqoh, bahwasanya TIDAK PERNAH DISYARATKAN adanya lafal ijab qobul tertentu dalam masalah shodaqoh.

Tidak pernah ketika kita memberikan shodaqoh disyaratkan harus ada lafal ijab tertentu “Saya serahkan shodaqoh saya berupa sesuatu ini, ikhlash karena Allah Ta’ala”, untuk kemudian dijawab dengan lafal qobulnya “saya terima shodaqohmu yang berupa sesuatu ini”.

Jika misal kita melakukan hal serah terima ijab qobul shodaqoh dengan cara ini kepada seorang pengemis, atau bantuan kepada orang yang sedang sangat membutuhkan, maka kita akan dianggap berlebihan dan tidak pantas!

*****

Yang terpenting adalah jika dalam proses serah terima itu :

  1. Antara satu sama lain saling mengetahui dan barang shodaqohnya jelas keberadaannya
  2. Ridho akan shodaqoh yang diberikan
  3. Dan tidak disyaratkan harus dengan lafal ijab qobul tertentu. Cukup dengan sembarang perkataan ataupun suatu perbuatan yang menggambarkan adanya transaksi serah terima shodaqoh itu.

Maka jika ada ketiga hal itu, maka itu sudah cukup. Dan inilah juga yang berlaku dalam masalah zakat fithri. Oleh karena itu fahamlah kita, kenapa rasulullah dan para shahabatnya tidak pernah mencontohkan adanya suatu lafal ijab qobul tertentu untuk serah terima zakat fithri itu.

Adapun untuk aplikasi pada zaman modern ini, jika kita menyerahkan zakat fithri kita kepada panitia penerima zakat fithri, dan terserah kita hendak berkata apa dalam proses penyerahannya yang penting kita tau sama tau, dan kemudian panitianya mencatat penerimaan kita. MAKA HAL ITU SUDAH CUKUP DAN SAH.

Hatta andaikata tidak dicatatpun dan langsung diterima, maka hal itu juga tidak masalah. Demikian juga jika langsung berikan zakat fithri itu langsung kepada orang fakir miskin. Apakah kita hendak meminta lafal qobul (penerimaan) tertentu dari sang miskin itu agar penyerahan zakat fitri kita itu sah? Ataukah kita hendak meminta surat bukti penerimaan dari sang miskin itu, maka baru zakat fitri kita sah?

  1. Untuk masalah adanya doa-doa khusus yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri. Maka sepanjang pengetahuan penulis, dari berbagai macam do’a khusus itu, do’a itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Dan juga bukan merupakan contoh do’a yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam .

Kenapa tadi dikatakan bukan merupakan contoh do’a yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam? Apakah ini berarti Rasulullah pernah mencontohkan suatu do’a ketika menerima zakat?

Al-Jawab, bahwasanya Rasulullah memang pernah diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan seorang muzakki (pemberi zakat). Hal ini sebagaimana yang Allah firman-kan di dalam QS. At-Taubah ayat 103.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. At-Taubah : 103]

Akan tetapi sebenarnya maksud ayat ini lebih kepada zakat secara umum yang berkenaan dengan masalah harta. Oleh karena itu Allah berfirman di awal ayat itu dengan perkataan “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ “ (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka). Sedangkan zakat fithri ini adalah zakat badan atau zakat jiwa, bukan zakat maal atau zakat harta.

Oleh karena itulah bayi dan anak kecil itu tetap dikenakan kewajiban zakat fithri, yang ditanggung oleh orang tuanya jika orang tuanya mampu. Maka bagaimana mungkin perkataan “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ “ (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka) itu juga bisa diberikan kepada bayi dan anak kecil sedangkan mereka tidak punya harta?

Tapi katakanlah anggap saja ayat itu juga bisa dipakai untuk masalah zakat fithri, dan tidak khusus untuk zakat yang berkenaan dengan masalah harta.

Maka jika kita lihat dari berbagai macam lafadh do’a yang dikhususkan, yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri. Maka do’a-do’a khusus itu tidak ada satu pun sama seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shalaallohu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya bagaimana sih Rasulullah mencontohkan do’a untuk muzakki, yang berkenaan dengan zakat masalah harta itu untuk melaksanakan QS. At-Taubah ayat 103?

Dalam Shohih Muslim, di Kitab Az-Zakaah (kitab ke-13), Bab “Ad-Du’aa liman ataa bish shodaqoh” (Doa untuk orang yang memberikan shodaqoh) disebutkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبِي أَبُو أَوْفَى بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى ح و حَدَّثَنَاه ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ شُعْبَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ صَلِّ عَلَيْهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Aufa ia berkata; Apabila seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa sedekahnya, maka beliau mendo’akan; “ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIHIM (Ya Allah, bershalawatlah (berilah rahmat) atas mereka).”

Kemudian bapakku Abu Aufa mendatangi beliau (dengan membawa sedekah), maka beliau pun mendo’akan: “ALLAHUMMA SHALLII ‘ALA `AALI ABII AUFA (Ya Allah berilah shalawat (rahmat) kepada keluarga Abu Aufa).” -dalam jalur lain- Telah menceritakannya kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Syu’bah dengan isnad ini, hanya saja ia berkata; “SHALLI ‘ALAIHIM (Bershalawatlah atas mereka).” [Hr. Muslim, hadits no. 1791]

Kata “shodaqoh” dalam hadits di atas maksudnya adalah “zakat”, sebagaimana kata “shodaqoh” yang berarti “zakat” dalam QS. At-Taubah ayat 60 yang menerangkan pembagian 8 asnaf zakat. Ini karena rasulullah menerima shodaqoh yang disebutkan dalam hadits itu, maka ini berarti adalah dalam rangka pengumpulan zakat. Adapun rasulullah dan keluarganya menerima hadiah, dan tidak menerima shodaqoh sebagaimana yang rasulullah terangkan dalam haditsnya yang lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

Dari Abu Hurairah bahwasanya; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi makanan, maka beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, maka beliau memakannya, dan bila dikatakan bahwa itu adalah sedekah, maka beliau tidak memakannya.” [Hr. Muslim]

****

Dari hadits implementasi do’a rasulullah bagi muzakki yang menyerahkan zakat hartanya, guna melaksanakan perintah Allah dalam QS. At-Taubah ayat 103 itu. Rasulullah hanya menyebutkan do’a yang mudah dan tidak bertele-tele. Yakni memberikan sholawat untuk mendoakan agar Allah memberikan Rahmat kepada sang muzakki.

Untuk praktek kita, jika kita menerima serah terima zakat fithri dari sang muzakki maka kita cukup mendoakan dengan do’a “Alloohumma Sholli ‘Alaikum” (Ya Allah, semoga Allah memberikan shalawat (berilah Rahmat) kepada kalian semua).

Itu dengan catatan, jika hadits dan ayat yang berkaitan dengan masalah zakat harta itu juga dianggap bisa diterapkan untuk zakat fitri yang berkaitan dengan zakat badan, yang bukan zakat harta.

Adapun mendoakan sang muzakki itu sebenarnya hukumnya sunnah saja, untuk mencontoh rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, bukan wajib.

Andaikata kita mau mendoakan dengan do’a keberkahan lainnya atau memberikan tambahan doa (karena dianggap do’a yang dicontohkan rasulullah terlalu pendek), maka hal itu juga tidak mengapa karena dikembalikan kepada keumuman QS At-Taubah ayat 103.

Dan andaikata sang penerima zakat tidak mendoakan sang muzakki pun, MAKA ZAKATNYA TETAP SAH DAN TIDAK MENGAPA AKAN HAL ITU. Walloohu A’lam

Maka dari itu jelaslah bagi kita kesalahan orang-orang yang mengkhususkan do’a khusus tertentu, yang wajib harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri.

Hendaklah hal itu dijauhi dan ditinggalkan. Cukup bagi kita contoh dari Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Walloohu A’lam

Advertisements