PENGERTIAN I’TIKAF

Al-I’tikaaf ( الاعتكاف ) yang kita maksud dalam konteks pembahasan ini, berasal dari kata ( عَكَفَ ) ‘akafa yang berarti perbuatan berdiam diri atau tetap pada sesuatu. Ini sesuai pemakaian bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an dalam Al-Baqarah ayat 125 dan Al-Baqarah ayat 187.

وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةً۬ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنً۬ا وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَٲهِـۧمَ مُصَلًّ۬ى‌ۖ وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِينَ وَٱلۡعَـٰكِفِينَ وَٱلرُّڪَّعِ ٱلسُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang berdiam diri (ber-i’tikaf) [وَٱلۡعَـٰكِفِينَ ], orang-orang yang ruku’, dan orang-orang yang sujud”. [QS. Al Baqarah : 125]

أُحِلَّ لَڪُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآٮِٕكُمۡ‌ۚ هُنَّ لِبَاسٌ۬ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٌ۬ لَّهُنَّ‌ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّڪُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَڪُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنكُمۡ‌ۖ فَٱلۡـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ‌ۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ‌ۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِ‌ۚ وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf) [وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ ]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [QS. Al Baqarah : 187]

Ada juga pemakaian kata ( عَكَفَ ) ‘akafa di dalam ayat-ayat lain seperti dalam QS Al-A’raaf : 138, QS Thaha : 97, dan QS Al-Fath : 25. Akan tetapi “konteks makna” yang hendak dituju dalam ayat-ayat itu, berbeda dengan makna “berdiam diri atau menetap di masjid” sesuai dengan pembahasan I’tikaf yang hendak kita bahas. Maka dari itu ayat-ayat itu tidak penulis tampilkan, dan cukup QS. Al Baqarah ayat 125 dan 187 yang penulis tampilkan agar sesuai dengan konteks yang kita hendak kita bahas.

Adapun pengertian I’tikaf secara istilah adalah, ibadah dengan cara berdiam diri atau menetap di dalam masjid guna bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun jika berdiam diri di lingkungan masjid selama beberapa waktu, namun tidak dengan niat dan tujuan untuk bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah, maka hal itu tidak disebut sebagai ibadah I’tikaf.

Misal : bersih-bersih masjid dan lingkungan sekitarnya, namun tidak ada niat untuk I’tikaf guna bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah, maka ini tidak bisa dianggap sebagai I’tikaf. Apalagi jika di masjid untuk tujuan melakukan kemaksiatan atau kebid’ahan, maka ini juga tidak bisa dianggap sebagai I’tikaf walaupun dia berdiam diri dan menetap di masjid untuk melakukan hal itu. Walloohu A’lam.

Adapun contoh perbuatan berdiam diri di masjid, atau I’tikaf, yang bernilai ibadah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini,

Dari Abu ‘Abdirrahman, ia berkata: “Aku mendengar ‘Ali berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا جَلَسَ فِيْ مُصَلاَّهُ بَعْدَ الصَّلاَةِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ، وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَإِنْ جَلَسَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.

‘Sesungguhnya jika seorang hamba duduk di masjid setelah melaksanakan shalat, maka para Malaikat akan bershalawat untuknya, dan shalawat mereka kepadanya adalah dengan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’

Jika ia duduk untuk menunggu shalat, maka para Malaikat akan bershalawat kepadanya, shalawat mereka kepadanya adalah dengan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’”

[Al-Musnad (II/292 no. 1218). Syaikh Ahmad Syakir menghasankan sanadnya, lihat catatan pinggir kitab al-Musnad (XVI/32)]

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” [HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Termasuk juga keutamaan dari ibadah I’tikaf menetap di masjid ini adalah, termasuk salah satu dari 7 golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti. Yakni bagi laki-laki yang hatinya terikat dengan masjid.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ…….

“Ada tujuh golongan manusia yg akan mendapat naungan Allah pada hari yg tak ada naungan kecuali naungan-Nya,…… (hingga sampai pada) seorang laki-laki yg hatinya terpaut dengan masjid….” [Hr. Bukhori]

WAKTU I’TIKAF

  • Kapan waktu I’tikaf itu?

Waktu I’tikaf itu bisa dilakukan kapan saja, tidak harus di bulan Ramadhan, dan tidak juga harus 10 hari terakhir bulan ramadhan. Yang penting I’tikafnya dilakukan di masjid.

Dalil akan hal ini bahwasanya Imam Bukhori dalam shohihnya di kitabul I’tikaaf (kitab ke 17), membuat bab tersendiri bernama “Al-I’tikaafu fi syawwaal” (I’tikaf di bulan syawwal). Dalam bab itu Imam Bukhori meriwayatkan hadits sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ قَالَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً وَسَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَتْ قُبَّةً أُخْرَى فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْغَدَاةِ أَبْصَرَ أَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ فَقَالَ مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هَذَا آلْبِرُّ انْزِعُوهَا فَلَا أَرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِي آخِرِ الْعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf eliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radliallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu ‘Aisyah radliallahu ‘anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa.

Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: “Apa ini?” Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau).

Maka Beliau bersabda: “Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya”.

Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i’tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. [Hr. Bukhari, kitab Al-I’tikaaf, Bab Al-I’tikaafu fi syawwaal, hadits no. 1900]

Dalil lainnya adalah Umar pernah melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari dengan tidak ditentukan malam apa itu, dan Rasulullah menyuruh untuk memenuhi I’tikaf nadzar pada malam hari yang tidak ditentukan itu.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْفِ نَذْرَكَ فَاعْتَكَفَ لَيْلَةً

dari [‘Abdullah bin ‘Umar] dari [‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu] bahwa dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah bernadzar di zaman Jahiliyyah untuk beri’tikaf satu malam di Al Masjidil Haram”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Tunaikanlah nadzarmu itu”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu melaksanakan i’tikafnya pada suatu malam. [Hr. Bukhari, hadits no. 1901]

  • I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr

Sebagian orang ada yang salah faham memahami bahwa I’tikaf itu adalah ibadah khusus yang hanya dilaksanakan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan bahkan ada juga yang lebih salah faham lagi dengan memahami bahwa I’tikaf itu adalah syarat sah agar kita bisa mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr.

Hal tersebut salah, karena I’tikaf itu bisa dilakukan kapan saja. Akan tetapi memang “diutamakan” untuk melakukan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon, namun bukan untuk “dibatasi”.

Rasulullah memang selalu melazimkan untuk melakukan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon itu. Bahkan ketika beliau sudah semakin tua dan mendekati akhir hayat, beliau justru malah menambah I’tikaf beliau hingga 20 hari akhir bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

كان رسول الله r يعتكف في كل رمضان عشرة أيام ، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu I’tikaf setiap bulan Ramadhan selama 10 hari. Tapi pada tahun dimana beliau wafat, beliau I’tikaf selama 20 hari.” (HR. Al-Bukhari)

Adapun maksud dari I’tikaf itu bukan syarat sah agar bisa mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr, adalah sebagai berikut.

Barangsiapa yang melakukan Ibadah bertepatan dengan malam lailatul Qodr, baik dia melakukan ibadah itu ketika I’tikaf ataupun ketika tidak melakukan I’tikaf. Maka dia akan mendapatkan keutamaan dilipatgandakannya pahala ibadah tersebut, sesuai dengan keutamaan malam lailatul Qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Dan cara untuk memanfaatkan agar seluruh waktu dari malam Lailatul Qadr itu bernilai ibadah, adalah dengan cara I’tikaf.

Jadi I’tikaf di malam lailatul qadr itu adalah suatu afdholiyyah yang sangat utama, untuk mendapatkan seluruh waktu Lailatul Qadr agar bernilai ibadah. Akan tetapi itu bukan syarat sah untuk mendapatkan Lailatul Qadr.

Dalil akan hal ini adalah sama seperti dalil bahwa Rasulullah tidak jadi I’tikaf karena melihat “persaingan” para istri-istri beliau dalam ikut mendirikan tenda, untuk I’tikaf disamping tenda beliau. Yang mana hadits ini sudah kita sebutkan sebelumnya.

Jika seandainya I’tikaf adalah syarat sah untuk mendapatkan keutamaan lailatul Qadr, maka tentu rasulullah tidak akan membatalkan I’tikafnya pada saat 10 hari akhir bulan romadhon itu, dan tidak menggantinya pada 10 hari akhir bulan syawwal. Sedangkan kita sama-sama mengetahui bahwasanya bulan syawwal bukanlah bulan dimana Lailatul Qadr turun.

Terlebih lagi ada juga hadits yang lain yang “berlaku umum”, yang menyebutkan bagaimana Rasulullah menyambut 10 hari terakhir romadhon dengan menghidupkan malam beliau, dan membangunkan para keluarga beliau. Hadits ini berlaku umum, yakni untuk menghidupkan malam dengan ibadah apa saja dan tidak dikhususkan dengan cara harus sambil I’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1884]

Jikalau benar harus dengan cara I’tikaf, maka tentu Rasulullah harus menjelaskan ini kepada ummat. Sedangkan Rasulullah tidak pernah menjelaskan akan hal itu. Maka dari itu berlaku qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan).

Walloohu A’lam

Adapun jika sudah jelas masalah ini, maka sekarang apakah bedanya orang yang I’tikaf dengan orang yang tidak I’tikaf dalam menyambut kedatangan Lailatul Qodr. Yang jelas adalah jauh beda sekali keutamaannya.

Lailatul Qodr akan jatuh dan datang kepada semua orang, baik itu kepada :

  • Orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan cara ber-I’tikaf
  • Orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan cara tidak ber-I’tikaf, namun banyak melakukan ibadah pada malam harinya sebisanya. (yakni bagi orang-orang yang berhalangan untuk I’tikaf di masjid baik karena pekerjaannya, karena sedang haidh atau nifas bagi wanita, karena tidak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih balita di rumah, dan lain-lain)
  • Orang yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan lailatul Qodr dan tidak peduli akan hal itu.

Maka bagi orang yang I’tikaf dan benar-benar mempersiapkan melakukan berbagai macam ibadah ketika I’tikaf di dalam masjid itu, dia seperti orang yang memakai jala yang sangat besar dan bisa mendapatkan ikan-ikan keutamaan pahala di malam lailatul Qodr secara sangat maksimal.

Bagi orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan tidak ber-I’tikaf dan beribadah secukupnya saja, maka seperti para pemancing ikan yang mendapatkan ikan secukupnya saja. Sesuai dengan seberapa lama dia memanfaatkan waktu lailatul Qodr untuk beribadah.

Demikianlah bagi orang-orang yang beribadah secukupnya saja menyambut Lailatul Qodr dengan tidak ber-I’tikaf. Kecuali bagi orang-orang yang memang memiliki udzur syar’I, sedangkan dia sudah sangat berniat untuk ikut I’tikaf, dan dia berusaha beribadah semampunya untuk menyambut lailatul Qodr. Yang mana jika tidak ada udzur syar’I itu, maka tentu dia sudah akan ikut I’tikaf. Maka bagi orang-orang seperti ini, insya Allah dia akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang melakukan I’tikaf karena niatnya. Walloohu A’lam.

Adapun bagi orang-orang yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan lailatul Qodr dan tidak peduli akan hal itu, maka hal ini tidak perlu kita bahas.

  • Perbedaan pendapat ulama masalah waktu minimal untuk bisa dikatakan sebagai I’tikaf

Setelah kita faham bahwasanya waktu untuk I’tikaf itu tidak terbatas pada bulan ramadhan saja, dan faham bahwasanya I’tikaf adalah afdholiyyah untuk menyambut malam Lailatul Qodr akan tetapi bukan syarah sah untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr. Maka perlu juga bagi kita untuk memahami batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf.

Dalam masalah batasan minimal untuk melakukan I’tikaf ini, karena rasulullah sendiri memang tidak menjelaskan secara rinci perihal ini, maka para ulama pun saling berbeda pendapat mengenai batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf ini.

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf adalah 10 hari penuh. Dan 10 hari ini maksudnya adalah 10 hari penuh, baik itu siang ataupun malam semua harus I’tikaf di masjid. Jadi tidak 10 hari tapi pada malamnya saja.

Dalil akan hal ini adalah praktek rasulullah dalam melaksanakan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon.

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimalnya adalah sehari semalam

Dalil akan hal ini adalah perkataan Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu,

لا اعتكاف أقل من يوم وليلة

“Tidak ada i’tikaf yang kurang dari sehari semalam.” (Disebutkan Syaikhul Islam dalam Syarhul Umdah, 2:760 dan beliau nyatakatan sebagai riwayat Ishaq bin Rahuyah)

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimalnya adalah semalaman, yakni malamnya saja. Atau seharian saja (siangnya saja), yakni telah melewati siangnya hingga waktu buka puasa.

Dalil akan hal ini adalah nadzar I’tikaf pada waktu malam hari dari Umar bin Khoththob yang haditsnya telah penulis sebutkan sebelumnya.

Dan juga riwayat perkataan Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa:

لا اعتكاف إلا بصوم

“Tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa.” (HR. Ad Daruquthni dan Baihaqi)

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya batasan waktu minimalnya adalah berdiam sesaat saja, sehingga sudah memenuhi pengertian disebut sebagai berdiam diri (I’tikaf) secara bahasa.

Dan ada juga perkataan dari dari Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu, salah seorang Sahabat nabi juga sebagaimana Aisyah dan Ibnu Umar, beliau mengatakan:

إني لأمكث في المسجد الساعة، وما أمكث إلا لأعتكف

“Sesungguhnya saya berdiam beberapa saat di masjid, dan tidaklah aku berdiam kecuali untuk i’tikaf.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazaq dalam al-Mushannaf).

Dari keempat pendapat ulama diatas, penulis lebih menguatkan pendapat bahwa batas waktu minimal I’tikaf adalah berdiam sesaat saja. Yang mana ini juga adalah pendapat jumhur ulama. Adapun argumentasi penulis kenapa lebih menguatkan pendapat itu adalah sebagai berikut,

  1. Argumentasi pendapat 10 hari penuh dan pendapat 1 hari penuh (sehari semalam), bisa dijawab bahwa hal itu kurang tepat untuk dijadikan argument waktu minimal I’tikaf karena adanya hadits shohih riwayat Bukhari perihal Umar bin Khoththob yang melakukan I’tikaf pada malam hari saja. Hadits ini sudah kami sebutkan sebelumnya.
  2. Argumentasi pendapat seharian siangnya saja dengan diiringi sambil berpuasa, sebagaimana ini adalah perkataan yang dinisbatkan kepada Aisyah, juga kurang tepat untuk dijadikan argument waktu minimal I’tikaf karena adanya hadits shohih riwayat Bukhari perihal Umar bin Khoththob yang melakukan I’tikaf pada malam hari saja.

Bahkan Imam Bukhori sendiri dalam shohihnya, di Kitab Al-I’tikaaf ( kitab ke 17), membuat bab khusus berjudul “Man lam yaro ‘alaihi shouman idzaa I’tikaf” (Pendapat bahwa seseorang tidak harus puasa ketika ber-I’tikaf). Dan meletakkan hadits perihal Umar melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari disitu.

  1. Adapun hadits Umar melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari itu, sebenarnya juga tidak secara pasti menjelaskan masalah waktu minimal untuk I’tikaf. Rasulullah hanya mensetujui dan memerintahkan Umar untuk melakukan I’tikaf, tapi rasulullah tidak secara definitive memastikan bahwa waktu minimalnya adalah itu.

Karena ketidakadaan dalil yang pasti masalah waktu minimal ini, akan tetapi karena adanya dalil yang pasti masalah keabsahan adanya ibadah I’tikaf ini di dalam Al-Qur’an. Yakni terutama di dalam QS. Al-Baqoroh ayat 187 yang sudah kami kutip sebelumnya. Maka untuk menafsirkan dan memahami makna I’tikaf dalam QS. Al-Baqarah ayat 187 itu, kita kembali ke pengertian asal bahasa Arab akan makna I’tikaf itu.

Ini karena tidak ada ayat lain atau hadits Rasulullah lain, yang secara definitive menjelaskan batas minimal waktu untuk bisa disebut sebagai I’tikaf itu.

Metode mengembalikan ke pengertian asal dalam bahasa Arab ini sesuai dengan firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa bacaan (qur’an) dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. [QS. Yusuf : 2]

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan/hukum (yang benar) dalam bahasa Arab. [QS. Ar-Ra’du : 37]

Pengertian I’tikaf secara bahasa, untuk batasan minimal bisa dikatakan sebagai I’tikaf, adalah berdiam sesaat saja. Dan inilah juga pendapat jumhur ulama. Walloohu A’lam.

  1. Terlebih lagi ada riwayat amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya dia hanya berniat berdiam diri di masjid sesaat saja untuk I’tikaf.
  1. Kenapa kita tidak langsung berdalil dengan amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu saja?

Hal ini karena yang bisa dipakai dalil itu adalah ijma’ shahabat, atau pendapat Sahabat yang tidak diingkari oleh shahabat lainnya yang lazim dinamakan ijma’ sukuty (Ijma karena diam). Apalagi setelah kita lihat lagi, amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu ini ternyata berbeda pendapat dengan penjelasan dari pendapat dari Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa dan Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu.

Maka dari itu amalan Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu tidak bisa langsung dijadikan sebagai dalil, karena adanya fatwa-fatwa shahabat yang berbeda, sebelum ada argumentasi-argumentasi yang mendukunganya. Walloohu A’lam

  1. Adanya hadits-hadits amalan bentuk aplikasi I’tikaf, yang memiliki durasi waktu lebih pendek atau tidak dibatasi secara pasti (sesuka kita).

Iini seperti amalan duduk berdiam diri di dalam masjid (I’tikaf) untuk menunggu waktu sholat ataupun berdiam diri setelah selesai sholat. Termasuk juga untuk amalan menunggu sholat Isyraq, yang dengan cara menunggu dan berdzikir setelah selesai sholat shubuh berjamaah di dalam masjid.

Hadits-hadits mengenai amalan bentuk I’tikaf ini sudah penulis sebutkan, ketika membahas masalah pengertian I’tikaf. Walloohu A’lam

  • Kapan mulai masuk ke masjid untuk ber-‘itikaf dan kapan keluar untuk selesai ber-I’tikaf

Setelah kita menguatkan pendapat bahwa waktu minimal ber-I’tikaf ini hanyalah sesaat saja. Maka penjelasan ulama mengenai kapan seorang mu’takif mulai masuk ke masjid untuk ber-I’tikaf, dan kapan mu’takif keluar selesai ber-I’tikaf, agak keluar dari pendapat yang kita anggap kuat.

Yang mana penjelasan kapan mulai masuk untuk ber-I’tikaf, dan kapan keluar selesai ber-I’tikaf, sebenarnya kembali kepada pendapat bahwa batas minimal untuk beri’tikaf adalah 10 hari penuh (terutama pada 10 hari akhir romadhon).

Adapun jika menginginkan ke-afdholiyyah-an, yakni dengan cara ber-I’tikaf 10 hari penuh di akhir bulan Romadhon untuk mencontoh rosulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Maka para ulama secara umum menjelaskan bahwa para mu’takif harus masuk ke masjid untuk beri’tikaf sebelum matahari terbenam pada malam ke 21 bulan Ramadhon, dan keluar dari tempat I’tikaf setelah terbenamnya matahari dan masuk pada malam 1 syawwal. Walloohu A’lam

  • Praktek aplikasi nyata di masyarakat perihal pembahasan waktu minimal I’tikaf ini untuk I’tikaf di 10 hari terakhir bulan romadhon

Umumnya masyarakat muslim pada zaman ini, terutama di Indonesia termasuk juga penulis, selalu disibukkan dengan pekerjaannya di siang hari dan dengan keluarganya di malam hari. Baik itu pegawai, pekerja kantoran, pengusaha, pedagang, ataupun pelajar.

I’tikaf sederhana seperti berdiam di masjid menunggu datangnya waktu sholat, ataupun berdiam diri sejenak setelah selesai sholat wajib berjamaah saja kadang agak dilupakan dan sepertinya diburu-buru untuk melakukan aktivitas lain. Ini belum lagi jika kita tambah masalah menunggu waktu sholat isyroq (atau syuruq atau dhuha pada awal waktu) sambil berdzikir, setelah selesai sholat shubuh berjamaah.

Maka bagaimana lagi dengan masalah amalan I’tikaf yang paling utama, yakni I’tikaf di 10 hari akhir bulan Romadhon guna menyambut datangnya lailatul Qodr?

Pada hari-hari itu, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di Indoensia sudah disibukkan dengan mudik sebelum idul fitri. Sibuk mempersiapkan makanan, baju baru, kue-kue lebaran, dan lain-lain. Sehingga hanya beberapa orang saja sepertinya yang benar-benar mau untuk meluangkan 10 hari full untuk I’tikaf, sebagaimana contoh rosul.

Akan adanya fenomena ini, maka hendaklah kita terapkan qaidah fiqh “ماَ لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جَلُّهُ “ (Apa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya).

Hendaklah pegawai, pekerja kantoran, pengusaha, pedagang, ataupun pelajar yang berhalangan dan tidak bisa meninggalkan kegiatannya pada siang hari, datang dan melakukan I’tikaf pada malam hari di masjid.

Syukur-syukur kalau bisa semalaman full I’tikaf di masjid, dan tidak mengapa jika pagi hari I’tikafnya selesai karena ada kegiatan di luar masjid. Jikalaupun tidak bisa, maka paling tidak beberapa saat berdiam diri ber-I’tikaf di masjid pada malam hari pun juga tidak mengapa.

Yang jelas apa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka janganlah ditinggalkan semuanya

JENIS DAN HUKUM I’TIKAF

Jenis I’tikaf ada dua yakni,

  • I’tikaf wajib

Yaitu I’tikaf nadzar, yang dilakukan karena sudah bernadzar untuk I’tikaf sebagaimana hadits Umar yang penulis sebutkan sebelumnya. I’tikaf seperti ini hukumnya wajib untuk dilaksanakan

  • I’tikaf sunnah

Yakni seluruh jenis I’tikaf selain I’tikaf nadzar.

Seperti I’tikaf di 10 hari akhir bulan romadhon, I’tikaf menunggu datangnya waktu sholat berjamaah, atau keinginan sendiri untuk I’tikaf di masjid yang tidak dibatasi waktunya guna mendekatkan diri kepada Allah. Walloohu A’lam

TEMPAT PELAKSANAAN I’TIKAF

Dalam QS. Al-Baqoroh ayat 187, jelas disebutkan bahwa tempat pelaksanaan I’tikaf itu adalah di masjid.

“sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf)” [وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ ].

[QS. Al-Baqoroh : 187]

Maka dari itu tidak ada, dan tidak sah, I’tikaf di tempat selain masjid. Baik itu di rumah, musholla yang dibuat di rumah, di kantor, di aula serba guna, di kios tempat jualan, dan lain-lain.

Para ulama berselisih pendapat masalah pengertian “masjid” yang dimaksud dalam ayat Al-Baqoroh ayat 187 ini, dikarenakan adanya hadits berikut ini.

Dari Huzaifah bahwa beliau mengatakan kepada Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:

الناس عكوف بين دارك ودار أبي موسى لا تغير؟! ، وقد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس » قال : عبد الله لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا

“Terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf di antara rumahmu dan rumah Abu Musa, dan anda tidak menegurnya, padahal anda tahu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada I’tikad kecuali di tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabi, dan masjid Bait al-Maqdis”?

Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin anda yang lupa dan mereka yang mengingatnya, dan mungkin anda yang keliru dan merekalah yang benar.” [HR. Ath Thahawi dalam Musykil al-Atsar 6/265, Baihaqi 4/315, dishohihkan oleh Syaikh Albani di Ahadits Shohihah, 2876.]

Sebagian ulama berpendapat bahwa bahwa syarat sah I’tikaf hanya di tiga masjid itu saja, yakni Masjidil Haram, Masjidil Nabawi, dan Masjidil Aqsho.

Sebagian ulama menganggap hadits itu hanya mauquf saja sampai kepada Hudzaifah bin Yaman, sehingga dianggap hanya pendapat Hudzaifah saja dan bukan perkataan Rasul. Hal ini karena Abdullah bin Mas’ud selaku shahabat utama juga, menyanggah perkataan Hudzaifah tersebut. Sehingga ulama ini berpendapat boleh untuk melakukan I’tikaf di luar ketiga masjid itu, karena dikembalikan kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187.

Dalam hal ini kami lebih menguatkan pendapat yang terakhir, yakni boleh I’tikaf di semua masjid dan tidak dibatasi hanya pada tiga masjid itu. Walaupun jika bisa I’tikaf di salah satu dari ketiga masjid itu tentu lebih afdhol, karena masjid-masjid itu memiliki keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki masjid-masjid lainnya. Walloohu A’lam

Lihat juga : https://islamqa.info/id/81134 dan https://islamqa.info/id/49006

Setelah selesai pembahasan bahwa I’tikaf boleh dan sah untuk dilakukan di selain 3 masjid itu. Ternyata para ulama masih memperinci lagi mengenai masjid seperti apakah yang dimaksud.

Sebagian ulama mengatakan bahwa masjid yang dimaksud adalah semua masjid tanpa kecuali, dengan berdalil kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187.

Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah masjid jami’ yang dilakukan sholat jum’at di situ, dengan bersandar kepada fatwa perincian dari Aisyah rodhiyalloohu ‘anhu dan Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, kami lebih menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud adalah semua masjid tanpa kecuali, dengan berdalil kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187. Dan inilah juga pendapat jumhur ulama.

Adapun perkataan ataupun pendapat shahabat, maka hal tersebut tidak bisa membatasi keumuman dalil dari QS. Al-Baqarah : 187 itu. Kecuali jika itu adalah ijma’ shahabat, maka hal itu sah untuk digunakan sebagai dalil. Namun penulis belum melihat adanya penguatan akan hal itu.

Mengenai argumentasi, bahwa orang yang I’tikaf boleh di semua masjid, baik itu di masjid jami’ ataupun masjid bukan jami’. Maka jika dia I’tikaf bukan di masjid bukan jami’, tentu dia akan berpontensi untuk keluar meninggalkan masjid dan mencari masjid jami’ untuk melakukan sholat jum’at. Ini karena dia I’tikaf di masjid bukan jami’.

Maka kita jawab,

  1. Bahwasanya ini termasuk udzur syar’I untuk boleh meninggalkan masjid, sehingga hal ini tidak akan memutus I’tikaf nya walaupun dia keluar masjid untuk mencari masjid jami’. Walloohu A’lam
  2. Jikalau pun ini dianggap bukan termasuk udzur syar’I, maka ini adalah konsekuensi dalam memlih pendapat berapa lama waktu minimal agar I’tikaf dianggap sah.

Jika seseorang lebih menguatkan pendapat bahwa lama waktu minimal agar I’tikaf dianggap sah adalah 10 hari penuh, dan keluar masjid non jami’ untuk mencari masjid jami’ guna sholat jum’at dianggap bukan udzur syar’i. Maka ini akan menjadi masalah, dan akan berkonsekuensi menganggap masjid yang dianggap sebagai syarat sah I’tikaf itu hanyalah masjid jami’ saja.

 

Adapun bagi pendapat yang penulis anggap kuat mengenai batas waktu minimal untuk I’tikaf, maka hal ini tidak ada masalah sekalipun seseorang ber-I’tikaf di masjid non jami’ yang tidak diadakan sholat jum’at di situ.

Tidak masalah bagi seorang mu’takif untuk memutuskan I’tikafnya guna keluar masjid mencari masjid jami untuk sholat jum’at. Dan kemudian kembali lagi, berniat lagi, dan memulai I’tikaf yang baru lagi.

 

Apakah ini tidak merepotkan dan tidak utama?

Ya, ini memang merepotkan dan tidak diutamakan. Namun bukan berarti ini tidak sah, karena kali ini kita memang sedang membahas permasalahan fiqh untuk sekedar penentuan sah atau tidaknya saja. Bukan membahas masalah mana yang lebih utama atau lebih afdhol.

Adapun dalam prakteknya, tentu saja sebaiknya memilih masjid jami’ untuk I’tikaf. Ini lebih baik dan lebih mudah untuk melaksanakan sholat jamaah dan sholat jum’at.

Walloohu A’lam

Lihat : https://konsultasisyariah.com/23085-bolehkah-itikaf-di-mushola.html

SYARAT-SYARAT I’TIKAF

Syarat bagi mu’takif (orang yang ber-I’tikaf) :

  1. Muslim
  2. Baligh
  3. Berakal (waras), tidak gila
  4. Niat untuk ber-I’tikaf

Niat itu di dalam hati yakni dengan tahu, sadar, dan sengaja dalam melakukan I’tikaf. Bukan di dalam lisan dan tidak perlu untuk dilafalkan

  1. Tidak disyaratkan harus berpuasa ketika I’tikaf, dalam artian orang yang tidak puasa juga boleh ber-I’tikaf.

Hal ini sudah sedikit kita bahas di dalam pembahasan pendapat waktu minimal I’tikaf

  1. Melakukan I’tikaf di masjid

Perbedaan pendapat mengenai tempat I’tikaf, dan masjid yang bagaimanakah yang sah digunakan untuk I’tikaf sudah kita bahas sebelumnya.

  1. Memperoleh izin dari suami bagi wanita

Dalil akan hal ini adalah Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk I’tikaf, dan kemudian ternyata diikuti oleh istri-istri beliau yang lain. Mengetahui “persaingan” yang tidak baik ini, maka Rasulullah menyuruh untuk membongkar seluruh tenda-tenda yang digunakan untuk ber-I’tikaf itu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ قَالَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً وَسَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَتْ قُبَّةً أُخْرَى فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْغَدَاةِ أَبْصَرَ أَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ فَقَالَ مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هَذَا آلْبِرُّ انْزِعُوهَا فَلَا أَرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِي آخِرِ الْعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf eliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radliallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu ‘Aisyah radliallahu ‘anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa.

Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: “Apa ini?” Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau).

Maka Beliau bersabda: “Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya”.

Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i’tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. [Hr. Bukhari, kitab Al-I’tikaaf, Bab Al-I’tikaafu fi syawwaal, hadits no. 1900]

  1. Suci dari junub atau hadats besar (baik bagi laki-laki dan wanita), haid (bagi wanita), dan nifas (bagi wanita)

Dalil harus suci dari junub atau hadats besar adalah QS. An-Nisaa : 43,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. [QS. An-Nisaa : 43]

Dalil harus suci dari haid dan nifas bagi wanita adalah,

Dari A’isyah rodhiyalloohu ‘anhaa, beliau berkata

كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم  بإخراجهن من المسجد

“Dulu para wanita melakukan i’tikaf. Apabila mereka haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk keluar dari masjid.”

(Riwayat ini disebutkan Ibn Qudamah dalam al-Mughni 3:206 dan beliau menyatakan: Diriwayatkan oleh Abu Hafs al-Akbari. Ibnu Muflih dalam al-Furu’ 3:176 juga menyebutkan riwayat ini dan beliau nisbahkan sebagai riwayat Ibnu Batthah. Kata Ibnu Muflih: “Sanadnya baik”).

Adapun bagi wanita yang istihadhoh (keluar darah karena penyakit), dan bukan karena haidh ataupun nifas, maka dia dibolehkan untuk I’tikaf. Sesuai dengan hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ مُسْتَحَاضَةٌ فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ فَرُبَّمَا وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata; Ada seorang dari isteri-isteri Beliau yang ikut beri’tikaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mengalami istihadhah. ‘Aisyah radliallahu ‘anha melihat ada darah berwarna merah dan kekuningan sedangkan di bawahnya diletakkan baskom sementara dia mengerjakan shalat”. [Hr. Bukhari, Kitaabul I’tikaaf, hadits no. 1896]

Mengenai suci dari hadats kecil ataupun najis, maka itu tidak termasuk syarat I’tikaf dan bukan termasuk pembatal I’tikaf. Akan tetapi sebaiknya segera dibersihkan dan bersuci. Walloohu A’lam

RUKUN I’TIKAF

  1. Niat untuk melakukan I’tikaf di dalam hati

Niat itu di dalam hati yakni dengan tahu, sadar, dan sengaja dalam melakukan I’tikaf. Bukan di dalam lisan dan tidak perlu untuk dilafalkan

  1. Beri’tikaf dengan berdiam diri di dalam masjid
  2. Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan I’tikaf

Hal-hal yang membatalkan I’tikaf akan kami bahas dalam topik tersendiri setelah ini

Adapun membaca Al-Qur’an, dzikir, sholat sunnah, dan lain-lain itu hanyalah merupakan amalan-amalan sunnah yang sebaiknya dilakukan ketika melaksanakan I’tikaf. Bukan rukun atau pokok-pokok cara dalam melaksanakan I’tikaf.

I’tikaf yang dilakukan dengan tanpa membaca Al-Qur’an tetap sah disebut sebagai ibadah I’tikaf, karena hakikatnya I’tikaf memang benar-benar hanya berdiam diri di masjid untuk tujuan bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah). Hanya saja sayang jika waktu yang digunakan untuk ber-I’tikaf, tidak digunakan untuk melakukan amalan-amalan sunnah tersebut.

Penjelasan ini kami tuliskan dan kami tekankan, agar kita semua faham apa itu ibadah I’tikaf yang sesungguhnya. Bahwa sesungguhnya I’tikaf itu mudah, dan bahkan sangat mudah. Dan juga agar tidak ada anggapan awam yang salah, bahwa ketika I’tikaf itu diwajibkan harus membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Sehingga jika ada orang yang belum mampu membaca Al-Qur’an, maka dia akan urung untuk ikut I’tikaf.

Pembahasan mengenai amalan-amalan sunnah yang sebaiknya dilakukan ketika I’tikaf, akan kami bahas dalam topik tersendiri insya Allah.

HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN DAN MEMBATALKAN I’TIKAF

Yang dimaksud dengan putus dan batal I’tikaf nya disini adalah ibadah I’tikaf-nya berhenti, dan tidak sudah tidak dianggap melakukan amal sholeh untuk mendekatkan diri kepada Allah lagi.

Adapun batal yang dimaksud disini bukanlah batal sebagaimana halnya batal dalam sholat atau dalam puasa, karena kentut dan makan dengan sengaja. Yakni dianggap membatalkan amalan sholat dan puasa seluruhnya karena batal.

Amalan waktu I’tikaf sebelum melakukan hal-hal yang memutus dan membatalkan amalan I’tikaf dianggap tetap sah, dan tetap merupakan amalan sholeh. Ini karena kita merojihkan pendapat bahwa waktu minimal I’tikaf itu hanya sekejap waktu saja.

Berbeda jika kita misal menetapkan batas waktu minimal I’tikaf adalah 10 hari penuh. Maka jika pada hari kelima kita melakukan hal yang membatalkan I’tikaf, maka seluruh amalan I’tikaf 5 hari itu akan dianggap hangus dan batal juga sebagaimana sholat dan puasa yang batal. Hal ini karena batas waktu minimal syarat sah untuk disebut sebagai I’tikaf belum terpenuhi. Walloohu A’lam.

***

Jika kita karena sesuatu hal putus dan batal I’tikaf nya, dan juga karena kita berpegang kepada pendapat bahwa waktu minimal I’tikaf kita hanya sekejap waktu saja, maka apa tindakan kita?

Kalau memang kondisi kita masih memungkinkan, maka tindakan kita adalah memulai I’tikaf lagi yang baru, dengan berniat dan masuk lagi ke masjid untuk berdiam diri. Kita mulai amalan I’tikaf yang baru lagi sesuai dengan jatah waktu tersisa yang kita inginkan.

Adapun hal-hal yang memutuskan dan membatalkan I’tikaf adalah,

  1. Keluar dari dalam masjid tanpa ada udzur yang diperbolehkan oleh syari’at

Hal ini jelas, karena hal ini bertentangan dengan makna I’tikaf itu sendiri.

 

Terdapat pembahasan di kalangan ulama masalah lingkungan di dalam masjid yang masih di dalam pagar, apakah itu masih dianggap sebagai bagian masjid atau tidak? Yang mana jika kita ke halaman masjid, apakah kita dianggap memutuskan ataupun membatalkan I’tikaf kita ataukah tidak?

 

Sebagian Ulama mengatakan bahwa itu termasuk bagian luar masjid, sehingga memutus dan membatalkan I’tikaf. Sebagian lagi mengatakan itu termasuk bagian dalam masjid jika masih masuk di dalam pagar, sehingga tidak memutus dan membatalkan I’tikaf.

 

Yang penulis pandang kuat adalah halaman masjid yang masih di dalam pagar masjid, maka itu masih termasuk bagian dari masjid dan tidak membatalkan I’tikaf jika keluar dari masjid ke halaman itu. Walloohu A’lam

 

Lajnah Daimah berfatwa,

 

ما كان داخل سور المسجد فهو من المسجد، وله حكم المسجد، فرحبة المسجد من المسجد، ومكتبة المسجد من المسجد إذا كان كل منهما داخل سور المسجد

 

“Semua yang berada di dalam pagar masjid, maka termasuk bagian dari masjid, hukumnya sama dengan masjid, dengan demikian, halaman masjid juga termasuk masjid, perpustakaan masjidpun bagian dari masjid, jika semua tempat tersebut berada di dalam pagar masjid”.

 

Lihat pembahasan pendapat ulama tersebut di,

https://muslim.or.id/25983-fikih-itikaf-2.html dan https://muslim.or.id/25985-fikih-itikaf-3.html

 

  1. Hilang akal atau gila
  2. Murtad
  3. Datang waktu haid atau nifas bagi perempuan
  4. Mabuk

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” [QS. An-Nisaa : 43]

 

  1. Berjima’ atau bercampur dengan istri ketika I’tikaf

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ۗ

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf)” [QS. Al-Baqoroh : 187]

  1. Hal-hal lain yang menyebabkan seseorang junub selain jima’ dengan istri

HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK KELUAR DARI MASJID DAN TIDAK MEMBATALKAN I’TIKAF

Keluar dari masjid yang dianggap tidak membatalkan I’tikaf, secara umum berkisar dari hal-hal yang mencakup kepada tiga permasalahan sebagai berikut,

  1. Udzur Syari’at

Seperti misal:

  • keluar untuk melakukan sholat jum’at, karena di masjid yang dipergunakan untuk I’tikaf bukanlah masjid jami’ yang diadakan sholat jum’at disitu.
  1. Hajah Thobi’iyyah (Keperluan hajat alami manusia)

Seperti misal :

  • Keluar masjid untuk buang air kecil atau buang air besar (karena kamar mandi berada di luar lingkungan masjid misalnya)
  • Mandi

Imam Al-Bukhori dalam shohihnya, di kitab Al-I’tikaaf, membuat bab berjudul “Ghoslul Mu’takif” (Mandi untuk orang yang ber-I’tikaf), dan beliau meriwayatkan hadits berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ مِنْ الْمَسْجِدِ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

 

 

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencumbui aku ketika aku sedang haidh dan Beliau juga pernah mengeluarkan kepala Beliau dari masjid ketika sedang beri’tikaf lalu aku membasuh rambut Beliau sedangkan aku saat itu sedang haidh”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1890]

  • Mengantar istri, karena Rasulullah keluar masjid mengantarkan istrinya Shofiyyah pulang, sehabis shofiyyah menjenguk Rasulullah I’tikaf.
  • Keluar untuk membeli atau mengambil makanan dan minuman
  1. Keluar karena adanya sesuatu yang mendesak dan dhorurot

Seperti misal :

  • Bangunan masjid hendak roboh
  • Kendaraan yang diparkir di luar masjid hendak dicuri

APA-APA YANG DISUNNAHKAN DAN DIANJURKAN UNTUK DILAKUKAN KETIKA I’TIKAF

Pada prinsipnya apa-apa yang disunnahkan dan yang dianjurkan itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah untuk taqorrub kepada Allah. Hal itu seperti :

  1. Banyak melakukan sholat sunnah, baik itu sholat sunnah mutlak ataupun sholat sunnah muqoyyad (seperti tahiyatul masjid, dhuha, qiyamul lail, dan lain-lain)
  2. Membaca Al-Qur’an
  3. Berdzikir kepada Allah sendiri-sendiri dan tanpa suara keras, baik dengan dzikir mutlaq ataupun dzikir muqoyyah (seperti dzikir pagi-petang, dzikir setelah sholat fardhu, dan lain-lain)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu (BERDZIKIR) dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.(QS. Al A’raf: 205)

  1. Berdo’a
  2. Membaca buku-buku agama
  3. Mengikuti ta’lim di masjid
  4. Melakukan puasa sunnah jika I’tikafnya melewati waktu puasa sunnah

APA-APA YANG DIPERBOLEHKAN KETIKA I’TIKAF

Boleh untuk melakukan apapun ketika I’tikaf selain dari hal-hal yang membatalkan I’tikaf dan hal-hal yang merupakan kemaksiatan. Walloohu A’lam

BOLEHKAH WANITA IKUT BERI’TIKAF DI MASJID

Wanita diperbolehkan untuk ber-i’tikaf karena para istri Rasulullah juga pernah ber-itikaf, dengan syarat:

  1. Tidak sedang Haidh atau Nifas, adapun wanita yang musthahadhoh dibolehkan

Hal ini sudah kita tampilkan haditsnya ketika membahas syarat-syarat I’tikaf

  1. Mendapatkan izin dari suami

Hal ini sudah kita tampilkan haditsnya ketika membahas syarat-syarat I’tikaf

  1. Tidak menimbulkan fitnah

Haditsnya sama seperti masalah hadits mendapatkan izin suami

Advertisements