ASAL-USUL PENAMAAN SHOLAT TARAWIH

Taraawiih adalah bentuk jamak dari tarwiihah, yang berarti Jalsah (duduk). Adapun yang dimaksud adalah duduk untuk beristirahat sejenak.

Dikatakan seperti itu karena Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan sholat malam pada bulan Ramadhan, duduk untuk beristirahat sejenak setelah sholat 4 rekaat. Kenapa beristirahat? Karena sholat beliau sangat panjang dan sangat lama, maka setelah selesai 4 rekaat beliau duduk untuk beristirahat sejenak, untuk kemudian dilanjutkan rekaat sholat selanjutnya lagi.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab:

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at.

Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. [HR. Bukhori]

Aisyah bertanya masalah apakah Rasulullah tidur sebelum witir, menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dan istirahat dulu sebelum melaksanakan sholat witir. Dan demikian juga hal yang difahami dengan cara yang sama, yakni perihal kenapa Aisyah mensifatkan Sholat 4 rekaat dalam waktu yang panjang, untuk kemudian dilanjutkan dengan disambung lagi 4 rekaat, dan disambung lagi dengan 3 rekaat witir. Yakni untuk menunjukkan adanya jeda istihat setelah sholat 4 rekaat itu.

Hanya saja jeda istirahat sebelum melaksanakan 3 rekaat sholat witir itu dirasa agak lama oleh Aisyah, sehingga beliau sampai bertanya apakah Rasulullah tidur ketika istirahat sebelum sholat witir tersebut. Walloohu A’lam

***

Sholat Tarawih ini sebenarnya adalah nama lain dari “sholat malam yang dilakukan pada bulan Romadhon”. Jadi sifat sholat malam baik di dalam ataupun di luar bulan Romadhon itu sebenarnya sama saja. Hanya saja khusus di dalam bulan romadhon, sholat malamnya “mempunyai nama lain” dengan sebutan sholat Tarawih.

Kenapa hanya sholat malam di bulan Romadhon saja yang mempunyai nama lain sholat Tarawih?

Ini karena umumnya di luar bulan Romadhon, Rasulullah melakukan sholat malam sendirian. Sedangkan khusus di bulan Romadhon, Rasulullah “pernah” melakukan sholat malam secara berjamaah bersama dengan para shahabat dalam waktu sholat yang sangat lama, walaupun itu hanya dilakukan tiga kali saja sepanjang hidup Rasulullah.

Karena waktu yang sangat panjang dan berjamaah itu, Rasulullah nampak terlihat di khalayak shahabat duduk istirahatnya setelah selesai empat rekaat berjamaah, untuk kemudian dilanjutkan lagi setelah selesai duduk beristirahat sejenak.

Sholat tarawih berjamaah yang hanya tiga kali ini, dikisahkan oleh Aisyah istri Nabi Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut.

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhya ‘Aisyah radliallahu ‘anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau.

Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau.

Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau.

Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah Beliau selesai shalat Fajar, Beliau menghadap kepada orang banyak kemudian Beliau membaca syahadat lalu bersabda:

“Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya”. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, tradisi shalat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu. [HR. Bukhori]

Adapun pendetailan bahwa rasulullah melakukan sholat tarawih dengan cara duduk istirahat setiap selesai 4 rekaat, adalah hadits pensifatan cara sholat Tarawih yang JUGA SAMA-SAMA DIRIWAYATKAN oleh Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa yang telah kita sebutkan sebelumnya itu.

Dari penjama’-an (pengumpulan) dua hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Aisyah itu, maka kita bisa lebih memahami kenapa khusus untuk sholat Malam pada bulan Romadhon itu, para ulama memberikan nama lain dengan sebutan Sholat Tarawih, dan tidak untuk sholat malam pada bulan lainnya. Walloohu A’lam

Walau begitu, pada hakikatnya ini sama dengan sholat malam seperti umumnya juga, hanya saja dia dilakukan di bulan Romadhon.

****

Berbicara lebih lanjut mengenai pengkhususan nama sholat Tarawih sebagai nama lain dari sholat malam di bulan Romadhon, maka sejauh yang penulis ketahui, hal ini dituliskan dan dibukukan pertama kali oleh Imam Al-Bukhori rohimahulloh, di dalam salah satu bab di dalam kitab Shohih-nya. Yakni pada kitab Shohih Bukhori kitab ke-16 tepatnya. Disitu Imam Al-Bukhori membuat kitab dengan judul “Sholaatut Taroowiih”.

Tidak diketahui secara pasti apakah Imam Bukhori yang pertama kali memunculkan nama itu? Ataukah Imam Bukhori hanya yang pertama kali menuliskan dan membukukan istilah itu, namun istilah itu sebenarnya sudah ma’ruf di kalangan para ulama pada zaman itu dan sebelumnya? Hanya saja belum sempat dituliskan namanya di salah satu jenis kitab tertentu, hingga tiba pada zamannya Imam Bukhori. Walloohu A’lam.

Kenapa hal ini dinisbatkan kepada Imam Al-Bukhori?

Hal ini karena jika melihat pada kitab-kitab Hadits yang lain, para ulama biasanya hanya menamakan bab dalam masalah sholat ini dengan nama “Qiyaam Romadhoon” atau “Qiyaam Syahr Romadhoon”.

[Qiyaam secara harfiah berarti bangkit atau berdiri, dan yang dimaksud adalah berdiri untuk Sholat. Secara keseluruhan boleh kita artikan “Sholat di bulan Romadhon”]

Seperti dalam dalam Sunan Abu Daud, di Kitab “Ash-Sholaah” (kitab ke-2), terdapat bab dengan nama“Fii Qiyaami Syahr Romadhoon”.

Dalam Sunan Ad-Darimi, di Kitab “Wa Min Kitaabish shiyaam” (Kitab ke-5), terdapat bab dengan nama “Baab fii Qiyaami Romadhoon” (Bab Sholat di bulan Romadhon).

Dalam Sunan Ibnu Majah, di Kitab “Iqoomatush sholaah wa sunnatu fiihaa” (kitab ke-6), terdapat bab dengan nama “Maa Jaa-a fii Qiyaami Syahr Romadhoon”.

Dalam Sunan An-Nasai, di Kitab “Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar” (Kitab ke-20), terdapat bab dengan nama “Qiyaamu Syahr Romadhoon”.

Adapun dalam Shohih Muslim, di Kitab “Sholaatul Musaafiriina wa Qoshruhaa” (Kitab ke-7), memang terdapat bab dengan nama “At-Targhiib fii qiyaami romadhoon wa huwa at-taroowiih”. Maka mengenai penamaan sholat tarawih oleh imam Muslim ini, karena Imam Muslim sejatinya adalah salah seorang murid dari Imam Al-Bukhori, maka penulis lebih cenderung untuk mengatakan bahwa Imam Muslim mengikuti penamaan sholat tarawih tersebut dari Imam Al-Bukhori sebagai guru beliau. Walloohu A’lam

Adapun Imam At-Tirmidzi, maka pada tulisan beliau Sunan At-Tirmidzi, beliau hanya meletakkan hadits-hadits berkaitan dengan sholat Tarawih di bulan Romadhon di kitab “Ash-Sholaah” (Kitab ke dua), pada bab-bab yang berkaitan dengan masalah sholat malam secara umum. Beliau tidak memberikan nama khusus pada bab-bab tersebut baik itu dengan nama “Sholat tarawih”, “Qiyaam Romadhon”, ataupun “Qiyaam Syahri Romadhoon”. Semua dianggap sama diberi nama dengan nama “Sholaatul lail” (sholat malam) biasa saja, baik itu di dalam romadhon ataupun di luar bulan romadhon. Beliau tidak memberikan nama khusus akan hal itu selain sholaatul lail. Lihat Sunan At-Tirmidzi kitab “Ash-Sholaah” (Kitab ke dua), dalam bab “Maa jaa-a fii fadhli sholaatil lail” dan bab “Maa jaa-a fii washfi sholaatin nabiy sholalloohu ‘alaihi wa sallam bill ail”.

Imam Al-Bukhori di sisi lain, hanya beliaulah yang terang-terangan memberikan nama lain dengan istilah Sholat Tarawih, di dalam kitab beliau. Walloohu A’lam

Adapun para ulama selain Imam Bukhori dan Imam Muslim, yang tidak memberikan istilah “sholat Tarawih” dan hanya memberikan sifat “Qiyaam Romadhoon” atau “Qiyaam Syahr Romadhoon”, umumnya mendasarkan kepada hadits di bawah ini.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

MAN QOOMA ROMADHOONA (Barangsiapa yang berdiri dan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” [Hr. Abu Daud dan selainnya]

****

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah dari masalah asal-usul penamaan sholat tarawih sebagai berikut :

  1. Sholat Tarawih itu adalah nama lain yang khusus diberikan oleh para Ulama untuk sholat malam pada bulan ramadhon. Adapun rasulullah sendiri tidak pernah memperinci dan memberikan nama dengan nama sholat Tarawih. Rasulullah hanya pernah memberikan nama dengan Sholat malam (Sholaatul lail) seperti biasa saja.
  2. Sholat Tarawih, secara umum, memiliki pembahasan dan hukum-hukum yang sama dengan pembahasan dan hukum-hukum mengenai Sholat malam.
  3. Setelah hal-hal yang dikhawatirkan oleh Rasulullah tidak ada, yakni khawatir jika turun Wahyu dan mewajibkan sholat Tarawih. Sholat Tarawih dilazimkan dengan cara berjamaah pada waktu bulan Romadhon, walau boleh juga dilakukan secara sendirian. Adapun sholat lail di luar bulan Romadhon, maka umumnya Rasulullah melakukannya secara sendirian.

SHOLAT TARAWIH PADA ZAMAN RASULULLAH DAN PADA ZAMAN KHULAFAUR ROSYIDIN

Sebelumnya telah kita jelaskan bahwasanya Rasulullah hanya pernah melakukan sholat tarawih sebanyak 3 kali saja. Yakni pada 7 hari terakhir bulan ramadhon di malam ganjil; pada malam 23, 25, dan 27 ramadhan tepatnya.

Dari sini kita bisa mengambil faedah, kenapa kok para shahabat bisa banyak berkumpul “secara spontan” waktu itu di masjid pada waktu malam hari?

Hal ini karena waktu itu sudah masuk ke 10 hari terakhir dari bulan ramadhan, dan lazim para shahabat melakukan I’tikaf guna menyambut datangnya Lailatul Qodr. Maka ketika para shahabat mengetahui rasulullah pergi ke masjid untuk melakukan shalat tarawih pada waktu malam hari, secara spontan mereka langsung mengikuti dan berjamaah bersama Rasulullah. Walloohu A’lam

Adapun pendetailan bahwa rasulullah hanya sholat tarawih “secara berjamaah” sepanjang hidupnya hanya tiga kali saja, yakni pada malam 23, 25, dan 27 ramadhan, kita dapatkan dari hadits shohih riwayat Imam An-Nasai berikut ini,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ فَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا وَلَمْ يَقُمْ حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَجَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ حَتَّى تَخَوَّفْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

Dari Abu Dzarr rodhiyalloohu ‘anhu dia berkata;

“Kami puasa Ramadlan bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan beliau tidak bangun (shalat malam) bersama kami hingga tinggal tujuh hari dari bulan Ramadlan. Lalu beliau bangun bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian pada malam keenam menjelang akhir Ramadhan beliau tidak bangun (malam)!

Maka setelah malam kelima, beliau bangun bersama kami hingga hampir lewat separuh malam. Kami berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau shalat sunnah bersama kami malam ini? ‘ Beliau menjawab: ‘Jika seseorang shalat bersama imam hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan shalat malam semalam penuh’.

Kemudian beliau tidak bangun (guna shalat malam) bersama kami.

Ketika bulan (Ramadhan) tinggal tiga hari lagi, beliau bangun untuk shalat malam bersama kami, lalu mengumpulkan keluarga dan para istrinya hingga kami khawatir kehilangan Al Falah ini.” Aku lalu bertanya; “Apakah (Al Falah) itu?” Ia menjawab; “Waktu sahur”. [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1587]

نُعَيْمُ بْنُ زِيَادٍ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ عَلَى مِنْبَرِ حِمْصَ يَقُولُ قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا نُدْرِكَ الْفَلَاحَ وَكَانُوا يُسَمُّونَهُ السُّحُورَ

Nu’aim bin Ziyad Abu Thalhah berkata; “Aku mendengar Nu’man bin Basyir berkata di atas mimbar di daerah Himsh,

‘Kami bangun untuk shalat malam bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di bulan Ramadlan pada malam dua puluh tiga sampai sepertiga malam pertama. Kemudian kami bangun (shalat malam) lagi bersama beliau pada malam kedua puluh lima sampai pertengahan malam. Kemudian kami bangun (shalat malam) lagi bersama beliau pada malam kedua puluh tujuh hingga kami mengira bahwa kami tidak mendapatkan kemenangan itu’.

Mereka menamakan kemenangan (Al Falah) itu dengan sahur.” [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1588]

***

Jadi dari hadits dan penjelasan di atas kita bisa mengetahui bahwa Sholat Tarawih “secara berjamaah dengan satu imam”, hanya pernah dilakukan oleh Rasulullah sebanyak tiga kali saja.

Alasan Rasulullah tidak melestarikan sunnah beliau itu karena beliau khawatir, jika Allah nanti akan mewajibkan sholat tarawih berjamaah itu. Dan hal itu tentu akan memberatkan ummat beliau. Alasan Rasulullah tentu juga diperkuat bahwa pada masa rasulullah melakukan sholat tarawih secara berjamaah itu, adalah pada masa-masa wahyu masih belum terputus, dan hukum-hukum syariat yang baru masih memungkinkan untuk bermunculan. Sehingga beliau takut akan hal itu. Walloohu A’lam

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya” [Hr. Bukhori]

Adapun sholat tarawih akhirnya dilakukan secara sendiri-sendiri di masjid, atau secara berjamaah namun tidak dibawah satu imam di satu masjid. Dan hal ini terus berlangsung pada zaman rasulullah, pada zaman kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga awal-awal kekhalifahan Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri rohimahulloh, ketika meriwayatkan hadits keutamaan Qiyam Ramadhon (Sholat Tarawih) di dalam shohih Bukhori.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menegakkan Ramadhan (QIYAM ROMADHAN, berdiri dan melakukan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”.

Ibnu Syihab berkata: “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan Ramadhan (QIYAM ROMADHAN, berdiri dan melakukan sholat romadhon), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu.” [Hr. Bukhori]

Kenapa tadi dikatakan,

“Adapun sholat tarawih akhirnya dilakukan secara sendiri-sendiri di masjid, atau secara berjamaah namun tidak dibawah satu imam di satu masjid. Dan hal ini terus berlangsung pada zaman rasulullah, pada zaman kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga awal-awal kekhalifahan Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu.”

Adapun yang melandasi akan hal ini, adalah hadits sikap Umar bin Khoththob pada zaman awal kekholifahan beliau berikut ini, yang mana dalam rowi hadits ini juga sama terdapat Ibnu Syihab Az-Zuhri rohimahulloh sebagai periwayat hadits.

وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata;

“Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang.

Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”.

Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam.” [Hr. Bukhori]

Jadi sunnah sholat tarawih secara berjamaah di bawah pimpinan satu imam, sebagaimana yang pernah Rasulullah lakukan sebanyak 3 kali saja, baru “dihidupkan kembali” pada zaman Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu. Adapun kekhawatiran akan diwajibkannya sholat tarawih ini sudah hilang pada zaman Umar, karena Rasulullah sudah meninggal, Wahyu telah terputus, dan syariat Islam sudah sempurna hingga tidak boleh untuk ditambah-tambahi ataupun dikurang-kurangi.

Di masa kekholifahan Abu Bakar rodhiyalloohu ‘anhu, selain masa pemerintahan yang relative pendek hanya dua tahun, beliau juga sangat sibuk dan berfokus memerangi orang-orang yang murtad dan para Nabi palsu yang bermunculan sepeninggal Rasulullah wafat. Sehingga keinginan untuk “menghidupkan kembali” sunnah sholat tarawih berjamaah di bawah pimpinan satu Imam, baru sempat tercetuskan dan dilaksanakan pada zaman Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu. Walloohu A’lam

****

Dari penjelasan-penjelasan dan hadits perkataan Umar “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam” sebelumnya itu, kita bisa mengambil faedah-faedah hukum sebagai berikut,

  1. Bahwasanya tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat malam itu hanyalah merupakan keutamaan (afdholiyyah) saja, dan bukan merupakan syarat sah nya sholat malam. Ini berlaku baik untuk sholat Tahajjud ataupun Sholat Witir, yang merupakan bagian dari sholat malam.
  1. Sholat tarawih yang dilakukan pada waktu tengah malam itu lebih utama dibandingkan sholat tarawih yang dilakukan pada awal malam setelah sholat isya. Maka dari itu Umar berkata “وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ “ (dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam)
  1. Sholat tarawih pada waktu awal malam, atau setelah sholat Isya itu sah dan diperbolehkan. Rasulullah waktu melakukan sholat tarawih berjamaah juga dimulai pada waktu awal malam. Hanya saja pada yang pertama beliau melakukan sholat tarawih berjamaah dari awal malam hingga 1/3 malam, yang kedua dari awal malam hingga ½ malam atau pertengahan malam, dan yang ketiga dari awal malam hingga hampir mendekati waktu sahur. Bandingkan dengan kondisi dan kualitas sholat tarawih kita pada zaman sekarang?
  1. Bahwasanya kata-kata bid’ah yang dimaksud dengan perkataan Umar bin khoththob pada “نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ “ (Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini ), adalah hanya bid’ah yang berarti “baru” secara bahasa Yakni suatu sunnah yang dihidupkan kembali setelah lama mati dan tidak pernah dikerjakan lagi, sehingga seakan-akan ini hal yang baru karena baru dihidupkan kembali.
  1. Jadi perkataan Umar ini tidak dibolehkan menjadi justifikasi untuk mengada-adakan suatu inovasi kebid’ahan dalam masalah manhaj, syariat, aqidah, dan ibadah. Yakni bid’ah dalam artian istilahi, atau sesuatu hal yang baru dalam masalah manhaj, syariat, aqidah, dan ibadah. Bagaimana mungkin perkataan Umar mengenai bid’ah secara bahasa dipergunakan untuk membenarkan bid’ah secara istilahi, sedangkan bid’ah yang dimaksud Umar itu ada contoh dan petunjuk dari Sunnah Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ? Dan rasulullah sendiri jelas telah mencela kebid’ahan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

Sedangkan qoidah fiqh berkata الأمور بمقاصدها (Al umuur bi maqooshidihaa, suatu urusan itu dilihat dari maksudnya)

  1. Bahwasanya sarana prasarana penunjang dalam masalah agama itu diperbolehkan, atau termasuk bid’ah yang mubah atau bahkan bid’ah yang wajib, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Karena itu hanya berkaitan dengan sarana dan prasarana yang menunjang masalah agama saja, bukan bagian dari agama yang sudah SEMPURNA itu sendiri.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Imam Malik bin Anas rohimahulloh berkata,

“Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik, maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu…” [Al-Maa-idah:[3].

(Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama” [Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan]

Maka dari itu ketika sebagian para Ulama yang berpedapat membagi dan menyebutkan adanya bid’ah hasanah yang berhukum mubah atau yang wajib itu, mereka hanya memberikan contoh-contoh yang merupakan sarana prasarana saja. Mereka tidak bermaksud untuk menjelaskan bahwa itu adalah bagian tambahan baru yang “merupakan bagian dari agama yang sudah sempurna” ini. Para ulama itu hanya memberikan contoh mengenai bid’ah hasanah yang berkaitan dengan sarana prasarana seperti misal : membangun pesantren untuk belajar Islam, membangun madrasah, meletakkan speaker pengeras suara di masjid, dan lain-lain semisal dari masalah sarana prasarana.

  1. Maka dari itu merupakan kesalahan bagi sebagian orang-orang yang memanipulasi perkataan Umar masalah bid’ah yang sebenarnya merupakan sunnah yang dihidupkan kembali itu, dan juga perkataan sebagian Ulama yang menyebutkan masalah bid’ah hasanah, guna membenarkan bolehnya memasukkan bagian-bagian ajaran dan amalan yang baru (Bid’ah), kepada agama Islam yang sudah sempurna ini.

Point ini kami tekankan, karena kami melihat banyaknya orang yang berusaha memanipulasi dan menembakkan “bola liar” akan hal ini. Nas-alullooh was salaamah

HUKUM DAN KEUTAMAAN SHOLAT TARAWIH

Hukum sholat tarawih adalah jelas, bahwanya hukumnya sunnah bukan wajib. Baik itu dilakukan dengan cara:

  1. Sholat berjamaah di masjid di bawah satu imam
  2. Membuat sholat berjamaah sendiri di luar masjid (di rumah, di tempat pertemuan, dan yang semisal)
  3. Melakukan sholat sendirian atau munfarid.

Semuanya hukumnya sunnah, akan tetapi yang beda adalah keutamaannya saja dengan perbedaan keutamaan yang jauh.

Yang paling utama adalah ikut sholat tarawih secara berjamaah di masjid, di bawah pimpinan satu imam, dan mengikuti sholat Tarawih tersebut dari awal hingga imam selesai.

Dalil akan hal ini adalah perkataan rasulullah shalloohu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

‘Jika seseorang shalat bersama imam hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan shalat malam semalam penuh’. [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1587]

Hadits riwayat An-Nasai diatas sebenarnya sudah kita sebutkan sebelumnya, yakni ketika menjelaskan masalah bahwasanya Rasulullah sholat tarawih berjamaah hanya selama 3 kali saja seumur hidupnya. Di dalam hadits itu, rasulullah menyebutkan keutamaan masalah sholat Tarawih berjamaah dengan mengikuti imam hingga selesai. Demikianlah sababul wurud hadits tersebut.

Dari sababul wurud hadits itu, kita bisa mengambil faedah hukum masalah syarat agar keutamaan itu bisa dicapai sebagai berikut,

  1. Bahwasanya keutamaan ini hanya berlaku di bulan romadhon saja, karena demikianlah konteks waktu dan sebab rasulullah menyebutkan mengenai keutamaan itu.
  2. Keutamaan ini hanya bisa dicapai dengan cara melakukan sholat Tarawih berjamaah mengikuti imam dari awal hingga selesai sholat. Tidak boleh terlambat, bolong-bolong, ataupun meninggalkan imam ketika imam belum selesai (dengan tidak ikut sholat witir dengan alasan hendak sholat malam lagi nanti misalnya).
  3. Bahwasanya ini hanya berlaku untuk sholat tarawih berjamaah di masjid saja, tidak di tempat lain. Karena demikianlah contoh aplikasi rasulullah dan yang dilaksanakan oleh para shahabat sepeninggal Rasulullah, sebagaimana peristiwa yang terjadi pada zaman Umar.

Yang mana dalam hadits zaman Umar itu disebutkan bahwa para shahabat DI MASJID ada yang sholat tarawih sendirian dan ada yang membuat jamaah dengan imam sendiri-sendiri, hingga Umar mengumpulkan menjadi satu di bawah satu Imam.

Apa perlunya para shahabat sholat tarawih di masjid berpisah dan berpencar-pencar, sebelum disatukan oleh Umar, jika keutamaan itu bisa dicapai dengan cara sholat tarawih berjamaah sendiri di rumah?

Walloohu A’lam

Adapun sholat tarawih secara berjamaah di luar masjid, dan sholat tarawih sendirian juga memiliki keutamaan sesuai dengan keumuman hadits di bawah ini, dengan catatan bahwa sholat tarawih berjamaah di luar masjid tersebut tetap lebih utama dibandingkan sholat tarawih sendirian sesuai dengan keumuman keutamaan sholat berjamaah dibandingkan sholat sendirian. Walloohu A’lam

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“MAN QOOMA ROMADHOONA (Barangsiapa yang berdiri dan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” [Hr. Abu Daud dan selainnya]

Hadits ini berlaku umum, baik itu yang melakukannya dengan cara berjamaah ataupun yang melakukan dengan cara seorang diri. Hadits ini juga berlaku untuk yang sholat berjamaah di masjid di bawah pimpinan satu imam.

JUMLAH RAKAAT UNTUK MELAKUKAN SHOLAT TARAWIH

Ini adalah topik pembahasan yang paling “populer” dalam masalah sholat tarawih sepanjang yang kami ketahui. Ini disebabkan adanya ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan pendapat yang diperbolehkan) dalam masalah ini yang masyhur. Para ulama saling berpolemik serta saling membuat tulisan untuk menguatkan masing-masing pendapatnya, dengan bingkai kacamata ilmiah dan semangat ukhuwah Islamiyyah.

Dikarenakan telah banyak ulama yang menulis hal ini, maka kami coba tampilkan intisari-intisari dan sedikit pembahasannya, serta apa-apa yang kami rojihkan saja. Adapun jika menginginkan pendetailannya, maka kami sarankan untuk kembali kepada kitab-kitab para ulama yang saling berbeda pendapat tersebut.

Inti dari permasalahan jumlah rekaat sholat tarawih ini adalah,

  1. Apakah sholat tarawih itu dibatasi dengan jumlah 11 rekaat, sebagaimana persaksian Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa mengenai terhadap sifat rekaat sholat malam Rasulullah, baik di dalam bulan romadhon ataupun di luar bulan romadhon? Sebagaimana hal ini juga dikuatkan oleh beberapa shahabat lainnya juga.
  2. Apakah sholat tarawih atau sholat malam itu sebenarnya tidak dibatasi jumlah rekaat nya, sebagaimana mafhum dari ke-mutlaq-an perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam?
  3. Ataukah sholat terawih dengan jumlah 11 rekaat itu hanya masalah afdholiyyah (keutamaan) saja karena rasulullah selalu melakukan dengan rekaat sejumlah itu, sedangkan pada hakekatnya jumlah sholat tarawih atau sholat malam itu sebenarnya tidak dibatasi dengan jumlah tertentu?

Argumen para ulama yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Argumen yang digunakan oleh para ulama yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih dengan jumlah 11 rekaat, berikut juga keberatan mereka terhadap pendapat yang menyelisihi hal itu.

  1. Perkataan Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa mengenai persaksian terhadap jumlah rekaat sholat malam rasulullah, yang mana hadits ini adalah jelas shohih tanpa ada perselisihan sama sekali.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab:

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at.

Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. [HR. Bukhori]

Hadits mengenai persaksian jumlah rokaaat sholat malam yang semisal dengan ini, juga disebutkan oleh Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu, Jabir bin Abdillah rodhiyalloohu ‘anhu, dan Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma beliau berkata,

مَاكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَحْيَى بِالنَّاسِ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka’at kemudian witir”

[Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya. Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan kami pada bulan Ramadhan 8 raka’at dan witir. Ketika malam berikutnya, kami berkumpul di masjid dengan harapan beliau shalat dengan kami. Maka kami terus berada di masjid hingga pagi, kemudian kami masuk bertanya, “Ya Rasulullah, tadi malam kami berkumpul di masjid, berharap anda shalat bersama kami,” maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku khawatir diwajibkan atas kalian. “[HR Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah, dihasankan oleh Al Albani. Lihat Shalat At Tarawih, 18; Fath Al Aziz 4/265]

Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu datang kepada Rasulullah, lalu berkata,”Ya Rasulullah, ada sesuatu yang saya kerjakan tadi malam (Ramadhan).

Beliau bertanya,”Apa itu, wahai Ubay?”

Ia menjawab,”Para wanita di rumahku berkata,’Sesungguhnya kami ini tidak membaca Al Qur’an. Bagaimana kalau kami shalat dengan shalatmu?’

Ia berkata,”Maka saya shalat dengan mereka 8 raka’at dan witir. Maka hal itu menjadi sunnah yang diridhai. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa.”[HR Abu Ya’la, Thabrani dan Ibn Nashr, dihasankan oleh Al Haitsami dan Al Albani. Lihat Shalat At-Tarawih, 68].

  1. Hadits-hadits yang menyebutkan masalah sholat tarawih lebih dari 11 rekaat itu, baik itu yang 21 ataupun 23 rekaat tidak lepas dari kritikan hadits :
  • Baik itu karena hal-hal yang menyebabkannya menjadi dhoif
  • Karena dianggap syadz (ganjil) menyelisihi hadits yang lebih shohih rowinya (walaupun sebenarnya sanad haditsnya itu maqbul)

Yakni Muhammad bin Yusuf yang meriwayatkan dari jalur Saib bin Yazid, menyebutkan dengan lafadh “11 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar dan Kholifah Utsman.

Sedangkan Yazid bin Khushaifah yang juga sama-sama meriwayatkan dari jalur Saib bin Yazid, menyebutkan dengan lafadh “20 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar dan Kholifah Utsman.

Muhammad bin Yusuf dianggap lebih kuat dan lebih terpercaya dibandingkan Yazid bin Khushaifah, karena Muhammad bin Yusuf adalah perowi yang Tsiqoh Tsabit sedangkan Yazid bin Khushaifah hanya memiliki predikat Tsiqoh saja. Maka dengan metode tarjih, hadits dari Muhammad bin Yusuf dianggap lebih kuat, sedangkan hadits dari Yazid bin Khushaifah dianggap syadz karena menyelisihi hadits dari perowi yang lebih kuat, sehingga tidak bisa dipakai sebagai dalil (walaupun sebenarnya sanad haditsnya itu maqbul)

  • Rowinya dianggap mudhthorib (goncang) karena tidak bisa menguatkan salah satu lafadh mengenai jumlah rokaat, padahal semua jalur lafadh yang berbeda itu sama-sama kembali kepada perowi tersebut.

Yakni karena adanya lagi riwayat lain dari Muhammad bin Yusuf dari jalur Saib bin Yazid yang menyebutkan dengan “21 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar.

Padahal sebelumnya ketika kasus Muhammad bin Yusuf vs Yazid bin Khushaifah, Muhammad bin Yusuf menyebutkan dengan lafadh “11 rekaat”, sedangkan Yazid bin Khushaifah dengan lafadh “20 rekaat”, dan Yazid bin Khushaifah dianggap syadz karena menyelisihi Muhammad bin Yusuf yang dianggap perowi yang lebih kuat yang sama-sama meriwayatkan dari Saib bin Yazid.

Sekarang ketika ada juga riwayat lain dari Muhammad bin Yusuf dari jalur Saib bin Yazid yang menyebutkan dengan “21 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar, maka Muhammad bin Yusuf dianggap mudhthorib (goncang) karena tidak bisa menguatkan salah satu lafadh mengenai jumlah rokaat. Di satu riwayat disebut 11 rekaat, dan di riwayat lain disebut 21 rekaat.

Maka karena Muhammad bin Yusuf sekarang juga dianggap rowi yang mudhthorib, semua riwayatnya mengenai jumlah rekaat itu tidak bisa dipakai sebagai dalil. Dan kita harus kembali kepada hadits Aisyah yang jelas keshohihannya tanpa ada perselisihan sama sekali.

Lihat kitab : “Sholaatut Taroowiih” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahulloh, dan “Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Salim bin ‘Ied al hilali hafidzahumalloh (kedua-duanya adalah murid dari Syaikh Al-Albani rohimahulloh)

  1. Mengenai riwayat adanya sholat tarawih 13 rekaat, maka dianggap hadits tersebut bisa dikompromikan dengan metode jama’ akan hadits Aisyah yang tegas menyebutkan bahwa sholat malam di dalam atau di luar bulan romadhon itu tidak lebih dari 11 rekaat.

Yang dimaksud dijama’ adalah kelebihan 2 rekaat dari 11 rekaat, hingga menjadi 13 rekaat itu, adalah :

  • Digabung dengan sholat sunnah Fajar 2 rekaat sebelum shubuh, karena lamanya sholat Tarawih yang dikisahkan pada masa Rasulullah sehingga mendekati waktu shubuh. [Lihat kitab : “Sholaatut Taroowiih” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahulloh]
  • Dilakukan 2 rekaat sholat yang ringan dulu (sholat iftitah atau sholat khofifatain) sebelum melakukan sholat tarawih 11 rekaat, sehingga total berjumlah 11 rekaat

Hal ini sesuai dengan hadits rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

[رواه مسلم :الدعاء فى صلاة الليل وقيامه]

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan.” (HR. Muslim, bab ad-Du’a fi salat al-lail wa qiyaamih)

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً. [رواه ابو داود باب فى صلاة الليل]

Dari Zaed bin Khalid al-Juhany ia berkata, sungguh saya mencermati shalat Rasulullah saw. pada suatu malam, beliau shalat dua rakaat yang ringan-ringan, kemudian shalat dua rakaat yang panjang (lama) sekali, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu kemudian melakukan witir. Maka demikianlah, shalat tigabelas rakaat.” [HR Abu Dawud, bab fi Shalat al-Lail]

[Lihat penjelasan fatwa tarjih Muhammadiyah di : http://www.fatwatarjih.com/2014/06/dalil-shalat-iftitah.html dan http://www.fatwatarjih.com/2011/06/shalat-lail-dan-shalat-iftitah.html ]

  1. Hadits mutlaq dari rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, bahwa sifat sholat malam itu adalah dua rekaat-dua rekaat, harus dibawa ke hadits Aisyah dan yang semisalnya yang men-taqyid (membatasi) kemutlakan itu menjadi 11 rekaat, atau 13 rekaat jika ditambah dengan sholat iftitah.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Argumen para ulama yang tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Argumen yang digunakan oleh para ulama yang tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih dengan jumlah 11 rekaat, berikut juga keberatan mereka terhadap pendapat yang membatasi hal itu.

  1. Adanya hadits-hadits masalah jumlah rakaat sholat tarawih pada zaman kekholifahan di zaman shahabat pasca rasulullah meninggal, yang menyebutkan bahwa jumlah rekaat yang diadakan lebih dari 11 rekaat. Ada yang 21 rekaat dan ada yang 23 rekaat.
  2. Pengamalan sholat tarawih yang menyebutkan bahwa sholat Tarawih di Mekkah dan Madinah dilakukan lebih dari 11 rekaat; baik itu 20 rekaat + 3 kali witir ataupun 36 rekaat + 3 kali witir; sebagaimana ini adalah kesaksian dari Imam Atho’ bin Abi Robah (murid dari Ibnu Abbas dan Aisyah), Imam Nafi’ (murid dari Abdullah bin Umar), Imam Daud bin Qois, Imam Malik bin Anas, dan Imam Asy-Syafi’i.
  3. Pemahaman dan pengamalan para ulama madzhab dan fatwa-fatwanya yang menganggap sholat malam itu tidak dibatasi jumlahnya, dan riwayat bahwa mereka mengamalkan sholat tarawih dengan jumlah rekaat yang lebih dari 11 rekaat.
  4. Sikap keberatan yang cukup disayangkan karena merupakan logical fallacy “argumentum ad hominem”. Yakni logical fallacy yang dilakukan dengan cara menjatuhkan kredibilitas sang pembawa argument itu, alih-alih daripada beradu argumentasi secara logis dan sehat perihal topik yang dibawakan.

Yang dimaksud adalah, implementasi sikap keberatan dari sebagian orang yang terlalu taqlid kepada madzhab, sehingga “menyerang pribadi ulama” yang lebih menguatkan pendapat yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih menjadi 11 rekaat.

Baik itu menyerang dengan mengatakan itu adalah pendapat baru yang ganjil, yang tidak pernah dikatakan oleh para Ulama sebelumnya, apalagi oleh para ulama madzhab.

Mencela ulama yang menguatkan pendapat yang membatasi jumlah rekaat sholat Tarawih, terutama kepada Syaikh Albani rohimahulloh karena pendapatnya akan hal itu. Bahkan pernah juga terlontar kalimat yang menyindir pendapat Muhammadiyah dengan berkata “Majlis Tarjih Muhammadiyah taqlid terhadap pendapatnya Albani”

Ini adalah sikap dan cara argumentasi yang sebenarnya cukup disayangkan.

Argumen para ulama yang menganggap 11 rekaat riwayat Aisyah itu hanya afdholiyyah saja, tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Pendapat inilah yang sebenarnya kami kuatkan, sesuai dengan yang kami ambil faedah dari kitab “Qiyaamul Lail fii dhouil Kitaab was Sunnah” oleh Syaikh Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthony hafidzahulloh, salah seorang murid dari Syaikn Ibn Baz rohimahulloh, dan beliau mengambil pendapat akan hal ini dari Syaikh Ibn Baz. Walloohu A’lam.

Untuk lebih menguatkan dan memuaskan mengapa kami menguatkan pendapat ini, maka berikut akan kami sampaikan point-point yang dengan berkenaan dengan dalil-dalil dan argument akan hal ini.

  1. Perihal hadits Aisyah yang dianggap membatasi (men-taqyid) hadits-hadits masalah jumlah rekaat sholat malam atau sholat tarawih itu sebenarnya kurang tepat. Lebih tepat jika hadits Aisyah itu hanya dianggap sebagai afdholiyyah (atau yang lebih utama) saja, karena hadits itu hanyalah bersifat kesaksian Aisyah dan para shahabat lainnya saja. Bukan sunnah qouliyyah yang merupakan perkataan langsung dari Rasulullah itu sendiri untuk menjelaskan hal ini.
  1. Sunnah qouliyyah langsung dari Rasulullah sendiri yang menjelaskan akan sifat rekaat sholat malam, hanya menyebutkan sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat secara mutlaq dengan tanpa membatasinya. Satu-satunya yang dibatasi adalah masalah waktunya, yakni hingga sebelum masuk shubuh, sedangkan jumlah rekaat nya tidak dibatasi.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Salah satu cara lain pemahaman beristidlal dengan hadits ini adalah, hadits ini berkaitan dengan seseorang yang majhul (tidak diketahui siapa identitasnya) menanyakan perihal sholat malam kepada Rasulullah.

Dan karena orang tersebut majhul tidak disebutkan siapa orang bertanya itu, yang mana Ibnu Umar sebagai shahabat yang meriwayatkan hadits ini pun tidak menyebutkannya karena tidak mengetahuinya, maka besar kemungkinan dia adalah salah seorang shahabat yang tidak selalu menyertai rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Atau bisa juga dia adalah seorang Arab Badui, yang sengaja jauh-jauh datang kepada Rasulullah mengenai masalah agama, untuk kemudian kembali lagi ke sukunya untuk mengabarkan kembali akan hal itu. Maka dari itulah Ibnu Umar tidak mengenali siapa dia. Dan peristiwa semacam ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Ini seperti misal hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ، فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ الْعَاقِلُ، فَيَسْأَلَهُ، وَنَحْنُ نَسْمَعُ، فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللهَ أَرْسَلَكَ، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ، وَخَلَقَ الْأَرْضَ، وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، آللَّهُ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا، وَلَيْلَتِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: ثُمَّ وَلَّى، قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ، وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Dahulu kami pernah dilarang untuk bertanya tentang apa saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sebab itu kami merasa senang apabila ada orang Arab Badui yang cukup berakal datang kemudian bertanya kepada beliau lantas kami pun mendengarkan jawabannya.

Maka suatu ketika, datanglah seorang lelaki dari penduduk kampung pedalaman. Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan bahwasanya anda telah mengaku bahwa Allah telah mengutus anda?”.

Maka Nabi menjawab, “Dia benar”.

Lalu arab badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”. Beliau menjawab, “Allah”.

Lalu dia bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”.

Nabi menjawab, “Allah”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menciptakan di atasnya segala bentuk ciptaan?”. Nabi menjawab, “Allah”.

Lalu arab badui itu mengatakan, “Demi Dzat yang telah menciptakan langit dan yang menciptakan bumi serta memancangkan gunung-gunung ini, benarkah Allah telah mengutusmu?”. Maka beliau menjawab, “Iya”.

Lalu dia kembali bertanya, “Utusanmu pun mengatakan kepada kami bahwa kami wajib untuk melakukan shalat lima waktu selama sehari semalam yang kami lalui.” Nabi mengatakan, “Dia benar”.

Lalu dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah memerintahkanmu dengan perintah ini?”. Nabi menjawab, “Iya”.

Lalu dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami berkewajiban untuk membayarkan zakat dari harta-harta kami?”. Nabi mengatakan, “Dia benar”.

Dia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang telah menyuruhmu untuk ini?”. Beliau menjawab, “Iya”.

Dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan di setiap tahunnya.” Nabi mengatakan, “Dia benar

Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah menyuruhmu dengan perintah ini?”. Beliau menjawab, “Iya”.

Dia mengatakan, “Utusanmu pun mengatakan bahwa kami wajib untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukaan perjalanan ke sana.” Nabi menjawab, “Dia benar”.

Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?”. Nabi menjawab, “Iya”.

Anas mengatakan; Kemudian dia pun berbalik seraya mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan selain itu dan aku juga tidak akan menguranginya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau dia benar-benar jujur/konsisten niscaya dia akan masuk surga”. [Hr. Muslim]

****

Adapun cara istidlal dari hadits masalah sifat sholat malam yang ditanyakan oleh orang yang majhul atau Arab badui itu adalah, apa yang Rasulullah terangkan itu adalah mencakup kemutlakan dan hal-hal yang perlu diketahui mengenai masalah sholat malam dengan tanpa perlu untuk ditambah-tambahi lagi.

Sehingga jika misal ada hal lain mengenai perincian kaifiyat sholat malam atau sholat tarawih yang orang yang majhul atau Arab badui tidak mengetahuinya, seperti misal penjelasan bahwa sholat malam itu hanya dibatasi kepada 11 rekaat saja, maka sangat tidak memungkinkan dia untuk kembali dan bertanya lagi kepada Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ataupun kepada Aisyah ataupun kepada pembesar shahabat lainnya perihal perincian pembatasan jumlah rekaat itu. Ini karena dia adalah seorang yang majhul atau Arab badui yang bertanya hanya sesuai dengan keperluannya saja.
Maka dari itu ketika Rasulullah menjawab dan menerangkan masalah sifat rekaat sholat malam dua rekaat-dua rekaat itu, maka sifat sholat malam itu akan tetap mutlaq adanya tanpa pembatasan karena Rasulullah tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dalam hal ini berlaku qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan), dalam artian jika penjelasan itu diperlukan maka tentu Rasulullah akan menjelaskannya karena itu adalah tugas Rasulullah. Adapun jika ternyata Rasulullah tidak menerangkan ataupun memperincinya, maka kemutlakan akan apa-apa yang Rasulullah jelaskan itu akan selalu tetap pada kemutlakannya.

Dari sinilah qaidah fiqh “Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan” ini lebih diunggulkan daripada qoidah fiqh “dalil yang mutlaq harus dibawa yang ke muqoyyad”. Ini karena taqyid atau pembatasannya itu, hanya berdasarkan persaksian shahabat sendiri akan sunnah fi’liyyah rasulullah. Bukan dari perkataan atau sunnah qouliyyah rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sehingga lebih tepat jika kita mengatakan bahwa apa yang disebutkan oleh Aisyah itu hanya masalah afdholiyyah (keutamaan) saja, bukan dalam rangka untuk membatasi jumlah rekaat. Terlebih lagi istri Rasulullah yang lain, yakni ummu salamah, ternyata juga memberikan informasi kesaksian yang berbeda.

Dan berlaku juga dalam hal ini qaidah fiqh bahwa “sunnah qouliyyah lebih didahulukan daripada sunnah fi’liyyah”, bagi orang yang menguatkan qaidah ini. Walloohu A’lam

  1. Masalah hadits sifat rekaat sholat Tarawih pada zaman Umar, yang berasal dari jalur sanad Saib bin Yazid namun dipermasalahkan mengenai rawi Muhammad bin Yusuf dan Yazid bin Khushaifah yang sama-sama mengambil jalur sanad dari Saib bin Yazid.

Yang mana ketika Muhammad bin Yusuf meriwayatkan dengan jumlah rekaat 11 rekaat, sedangkan Yazid bin Khushaifah meriwayatkan dengan jumlah rekaat 20 rekaat. Maka riwayat Yazid bin Khushaifah yang 20 rekaat dianggap syadz (ganjil) dan tidak bisa dijadikan dalil, karena walaupun Yazid bin Khushaifah adalah perowi yang tsiqoh namun dia menyelisihi perawi Muhammad bin Yusuf yang dianggap perowi yang lebih kuat darinya dengan kredibilitas tsiqoh tsabit (tidak hanya sekedar tsiqoh saja)

Uniknya ketika ditampilkan riwayat lain yang juga berasal dari Muhammad bin Yusuf dari jalur sanad Saib bin Yazid, yang menyebutkan jumlah rekaat 21 rekaat, yang berbeda dari riwayat Muhammad bin Yusuf dari jalur sanad Saib bin Yazid yang menyebutkan jumlah rekaat 11 rekaat; maka Muhammad bin Yusuf langsung dianggap sebagai perawi yang mudhthorib (goncang) dalam masalah hadits ini sehingga haditsnya tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Jadi satu sisi riwayat Muhammad bin Yusuf bisa dipakai sepanjang sesuai dengan 11 rekaat, dan disisi lain tidak bisa dipakai jika menyelisihi 11 rekaat.

Komentar kami akan hal ini adalah ini terjadi jika langsung digunakan metode tarjih (memiliki mana yang lebih kuat) dalam memahami dalil-dalil yang sama-sama maqbul itu. Padahal seharusnya kita coba lakukan metode jama’ terlebih dahulu dengan cara mengumpulkan dan mengkompromikan berbagai dalil-dalil yang ada (apalagi semua dalil itu sebenarnya sama-sama maqbul, walau mungkin berbeda kekuatannya), baru jika metode jama’ diperkirakan sudah tidak bisa kita lakukan lagi baru kita lakukan metode tarjih.

Apakah metode jama’ tidak bisa dilakukan dalam kasus riwayat Yazid bin Khushaifah dengan 20 rekaatnya, dan riwayat Muhammad bin Yusuf dengan 11 rekaat dan 21 rekaatnya, yang semuanya sama-sama berasal dari jalur sanad Saib bin Said?

Jawabnya adalah metode jama’ bisa dilakukan jika kita memahami bahwa hadits Rasulullah “sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat” itu berlaku secara mutlak, sebagaimana yang sudah kami tunjukkan cara istidlal dengan hadits itu pada penjelasan point nomer 3 sebelumnya.

Jika kita menerima hal itu, maka mudah bagi kita untuk menerima semua riwayat itu. Baik itu riwayat Yazid bin Khushaifah dengan 20 rekaatnya, ataupun riwayat Muhammad bin Yusuf dengan 11 rekaat dan 21 rekaatnya, yang semuanya sama-sama berasal dari jalur sanad Saib bin Said. Semuanya diterima, dianggap maqbul, dan semuanya dianggap sah sebagai dalil.

Sehingga kita bisa mengambil faedah bahwa di suatu waktu Umar bin Khoththob memerintahkan untuk melakukan sholat tarawih dengan 11 rekaat, dan di lain waktu dilakukan dengan 20 atau 21 rekaat. Walloohu A’lam

  1. Jika ada yang bertanya, apa hikmah Umar bin Khoththob menyuruh melakukan 11 rekaat, dan dilain waktu dilakukan dengan 20 atau 21 rekaat jika metode jama’ ini kita terima?

Jawabnya adalah agar imam dan para makmum tidak terlalu capek berdiri karena terlalu lama. Hal ini wajar karena pelaksanaan sholat Tarawih baik pada zaman Rasulullah ataupun pada zaman Shahabat itu umumnya berlangsung dalam waktu yang sangat lama hingga tengah malam. Bahkan hingga dekat dengan waktu sahur.

Disebutkan juga bahwa para shahabat sampai membawa tongkat dan bersandarkan dengan tongkat itu untuk menopang tubuhnya ketika sholat Tarawih, karena saking lamanya berdiri untuk melakukan sholat Tarawih.

Saib bin Yazid rahimahullah berkata,

“Umar Radhiyallahu anhu memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari Radhiyallahu anhuma agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 raka’at. Maka sang qari’ membaca dengan ratusan ayat, hingga kita bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih, melainkan sudah di ujung fajar.” [Fathul Bari, 4/250-254; Shalat At Tarawih, 11; Al ljabat Al Bahiyyah,15-18; Al Majmu’, 4/34]

Akan peristiwa hal ini, karena melihat kemampuan para shahabat yang makin tua dan makin lemah hingga sampai bersandarkan tongkat, yang mana ini berbeda dibandingkan dengan zaman Rasulullah masih hidup yang mana para shahabat tentu masih lebih muda dan lebih kuat. Maka wajar jika diperbanyak duduk pada waktu sholat Tarawih, agar tidak terlalu capek, yakni dengan cara memperbanyak rekaatnya.

Durasi waktunya tetap sama hingga sampai menjelang Fajar atau hampir sahur, hanya saja jumlah rekaatnya yang diperbanyak. Yakni yang semula hanya 11 rekaat, ditambah hingga menjadi 20 atau 21 atau 23 rekaat, agar banyak duduknya di antara rekaat itu untuk beristirahat. Maka dari itulah sholat ini dinamakan juga sebagai sholat Tarawih, yang secara harfiah bermakna sholat yang banyak istirahatnya. Walloohu A’lam

Dan untuk lebih mendukung kebijakan menambah jumlah rekaat agar banyak jumlah duduk untuk istirahatnya, maka hendaklah diketahui bahwasanya kebijakan ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَرَأَى حَبْلًا مَمْدُودًا بَيْنَ سَارِيَتَيْنِ فَقَالَ مَا هَذَا الْحَبْلُ فَقَالُوا لِزَيْنَبَ تُصَلِّي فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, dan beliau melihat seutas tali menjulur di antara dua tiang, maka beliau berkata: “Tali apa ini?”

Mereka menjawab; “Talinya Zainab. Bila ia letih ketika sedang shalat, maka ia berpegangan dengan tali itu.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lepaskanlah tali itu. Hendaknva salah seorang dari kalian shalat pada saat segar, dan bila letih maka hendaknya ia duduk.” [Hr. An Nasai, Kitab “Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar” (Kitab ke-20), bab “Al-Ikhtilaafu ‘alaa ‘Aaisyata fii ihyaail laiil”, hadits no. 1625]

Demikianlah penjelasan kami mengenai perbedaan pendapat masalah jumlah rekaat dalam melaksanakan sholat Tarawih, berikut juga apa yang kami pilih dan kuatkan dari perbedaan pendapat itu. Walloohu A’lam

MELIHAT APLIKASI NYATA PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH PADA ZAMAN KITA

Jika kita melihat aplikasi nyata dari pelaksanaan sholat Tarawih di zaman kita, terutama di negeri kita Indonesia ini, kadang kita harus berpikir sejenak apakah pembahasan jumlah rekaat sholat tarawih itu masih tepat sasaran atau tidak?

Yang dimaksud tepat sasaran atau tidak itu adalah, karena sasaran jumlah sholat Tarawih pada zaman rasulullah, zaman para Sahabat, dan seterusnya hingga zaman para imam madzhab adalah agar sholat Tarawih bisa dilakukan dalam waktu yang lama dan berkualitas, bahkan hingga dari awal malam setelah sholat isya hingga menjelang Fajar.

Maka dari itulah terjadi “modifikasi rekaat” sholat Tarawih, dari yang semula Rasulullah hanya sholat malam berjumlah 11 atau 13 rekaat sebagaimana riwayat Aisyah, dan inilah yang paling afdhol. Dan tetap 11 rekaat pada awal kekholifahan Umar bin Khothothob, hingga dimodifikasi dengan ditambah hingga berjumlah 21 atau 23 rekaat sesuai keperluan pada zaman kekholifahan Umar bin Khoththob.

Dan demikian juga para ulama madzhab memahami, sehingga ada yang memodifikasi jumlah sholat Tarawih hingga mencapai 39 rekaat.

Semua ini dilakukan dengan tujuan agar bisa “mensiasati” kecapekan berdiri terlalu lama pada waktu sholat terawih, dengan cara memperbanyak rekaatnya agar banyak selingan duduk untuk istirahatnya, dan sholat Tarawih bisa berlangsung lama hingga tengah malam ataupun hingga menjelang Fajar.

Inilah sebenarnya yang terjadi sesuai dengan apa yang kami fahami dan apa yang telah kami jelaskan.

Adapun aplikasi sholat Tarawih di zaman kita, terutama di negeri kita Indonesia ini, sangat jauh dari maksud sasaran perbincangan jumlah rekaat sholat Tarawih itu. Rata-rata pelaksanaan sholat tarawih secara umum di Indonesia ini hanya sekitar 30 menit saja, baik itu untuk sholat tarawih 11 dan 13 rekaat ataupun sholat Tarawih 21 dan 23 rekaat. Maksimal paling hanya sekitar 45 menit.

Lebih dari itu maka biasanya makmumnya akan komplain, dan sang imam akan dinasehati agar jangan lama-lama sholatnya, atau imamnya diganti, atau para makmumnya akan kabur cari masjid lain untuk sholat tarawih! Demikian yang kami lihat dari pengamatan secara kualitatif.

Melihat dari durasi yang direkomendasikan dengan hanya sekitar 30-45 menit itu, maka sebaiknya adalah memilih Sholat yang paling lama berdirinya untuk mengambil afdholiyyah nya. Dan secara otomatis itu adalah yang rekaatnya paling sedikit, yakni 11 atau 13 rekaat.

Hal ini dengan melihat pedoman hadits rasulullah berikut ini,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت

Shalat yang paling afdhol adalah yang paling lama berdirinya. [Hr. Muslim]

Apakah ini berarti jika imam melakukan sholat Tarawih dengan 21 atau 23 rekaat berdurasi 30-45 menit tidak boleh kita ikuti? Tentu saja jawabnya boleh untuk diikuti, dan insya Allah sah sholatnya. Namun jika mencari afdholiyyah sesuai dengan petunjuk Rasulullah untuk mencari yang lebih lama berdirinya, maka sebaiknya mencari yang lebih sedikit rekaatnya, yakni 11 atau 13 rekaat.

Kalau ada sholat Tarawih 21 atau 23 rekaat namun dengan durasi 2 hingga 3 jam, maka Insya Allah ini juga lebih afdhol dan lebih utama dibandingkan sholat tarawih 11 atau 13 rekaat namun dengan durasi 40-45 menit. Walloohu A’lam

APLIKASI NYATA AKAN BAHAYA SHOLAT TARAWIH EXPRESS

Adapun yang paling diwaspadai dari aplikasi nyata sholat tarawih di negeri kita ini, adalah adanya “sholat tarawih express” yang berlomba secepat-cepatnya untuk menyelesaikan sholat Tarawih dengan jumlah rekaat yang banyak.

Biasanya ini dilakukan pada sholat Tarawih dengan 21 atau 23 rekaat, kami belum pernah mengetahui sholat tarawih express dilakukan pada 11 atau 13 rekaat.

Ada bukti video sholat tarawih express di negeri kita ini, yang melakukan Sholat Tarawih 23 rekaat hanya dalam waktu 15 menit. Bahkan sholat tarawih 23 rekaat hanya dalam waktu 7 menit pun juga ada !

Untuk sholat tarawih express seperti ini, maka ini hanyalah sholat tarawih main-main saja. Sebaiknya jika menemui sholat tarawih seperti ini maka :

  1. Segera pindah dan mencari masjid yang lainnya untuk sholat tarawih yang tenang dan thuma’ninah
  2. Jika tidak ada maka sebaiknya sholat saja berjamaah sendiri di rumah beserta keluarga
  3. Jika tidak bisa, maka sholat tarawih sendirian lebih baik.

Kenapa seperti itu? Karena sholat seperti ini ditakutkan :

  1. Tidak sah sholatnya
  2. Hanya dianggap mempermainkan syariat sholat Tarawih yang suci dan sangat diperhatikan oleh para shahabat beserta para imam madzhab.

Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ada seseorang yang masuk masjid dan shalat 2 rakaat. Seusai shalat, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kala itu ada di masjid. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. beliau bersabda,

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Ulangilah shalatmu karena shalatmu batal”

Orang inipun mengulangi shalat dan datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi beliau tetap menyuruh orang ini untuk mengulangi shalatnya. Ini terjadi sampai 3 kali. Hingga orang ini putus asa dan menyatakan,

وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى

“Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara shalat yang benar kepada orang ini. Beliau mengajarkan,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau mulai shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah dengan berdiri sempurna. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari 793 dan Muslim 397).

Dalam riwayat lain disebutkan,

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang shalat yang tidak menyempurnakan rukuknya dan seperti mematuk ketika sujud. Kemudian beliau bersabda,

أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ

“Tahukah kamu orang ini. Siapa yang meninggal dengan keadaan (shalatnya) seperti ini maka dia mati di atas selain agama Muhammad. Dia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah.” (HR. Ibnu Khuzaimah 665 dan dihasankan al-Albani).

Hudzifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah melihat ada orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujud ketika shalat, dan terlalu cepat. Setelah selesai, ditegur oleh Hudzaifah, “Sudah berapa lama anda shalat semacam ini?”

Orang ini menjawab: “40 tahun.”

Hudzaifah mengatakan: “Engkau tidak dihitung shalat selama 40 tahun.” (karena shalatnya batal). Lanjut Hudzaifah:

وَلَوْ مِتَّ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَاةَ لَمِتَّ عَلَى غَيْرِ فِطْرَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Jika kamu mati dan model shalatmu masih seperti ini, maka engkau mati bukan di atas fitrah (ajaran) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”  (HR. an-Nasai 1320 dan dishahihkan al-Albani)

Maka dari itu setelah melihat hadits-hadits di atas, kita faham bahwasanya thuma’ninah atau berhenti sejenak setelah selesai menyempurnakan gerakan sholat; baik itu ruku, I’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, ataupun pada semua gerakan-gerakan sholat adalah rukun Sholat yang wajib untuk dikerjakan.

Jika salah satu rukun sholat tidak kita kerjakan, maka secara otomatis sholat kita akan menjadi batal dan tidak sah. Dan peristiwa ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah shalloohu ‘alaihi wa sallam, juga pernah terjadi pada zaman shahabat sebagaimana hadits dari Hudzaifah, maka apa yang membuat kita merasa aman bahwa hal itu tidak ada dan tidak terjadi pada zaman kita?

Padahal zaman kita tidak sama seperti zaman Rasulullah dan para shahabat, yang mana kita jauh dari memahami dan mengamalkan agama dengan benar. Maka orang yang meremehkan thuma’ninah dalam sholat Tarawih, dan hanya mengejar rekaat yang banyak dalam waktu yang cepat, maka sebenarnya syaithan telah mempermainkannya untuk mempermainkan Syariat Islam mengenai sholat Tarawih.

Walloohu A’lam

TAMBAHAN CARA-CARA PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH YANG DIADA-ADAKAN DAN TIDAK PERNAH DICONTOHKAN OLEH RASULULLAH DAN PARA SHAHABAT

Jika kita kembali kepada cara sholat Tarawih Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, maka kita lihat bahwa cara pelaksanaan sholat Tarawih beliau sangat simple dan mudah untuk difahami. Adapun pada zaman kita dewasa ini, banyak sekali tambahan cara-cara pelaksanaan sholat Tarawih “yang diselip-selipkan”, yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah, dan yang harus kita tinggalkan.

Berikut sedikit list yang kami ketahui perihal itu, yang harus kita tinggalkan dalam pelaksanaan sholat Tarawih.

  1. Melafadzkan atau membaca niat untuk melakukan sholat Tarawih. Niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan untuk diucapkan.

Asalkan kita tahu bahwa kita :

  1. Bermaksud atau menyengaja melakukan sholat tarawih
  2. Sadar bahwa kita hendak melakukan sholat tarawih
  3. Tahu bahwa kita hendak melakukan sholat tarawih

Maka sepanjang ketiga hal itu ada, maka niat sudah ada pada diri kita. Sehingga tidak perlu kita mengucapkan susunan kalimat niat untuk sholat tarawih yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam tersebut.

  1. Bacaan dan dzikir tertentu setiap selesai dua atau empat rekaat sholat Tarawih atau jumlah rekaat-rekaat tertentu. Yang mana sebagian ada yang harus disahut atau dijawab oleh para makmum sholat Tarawih, dan ada yang sebagian hanya dibaca dengan suara keras oleh “jubir” imam.

Rasulullah dan para shahabat duduk beristirahat sejenak setelah melakukan 2 rekaat atau 4 rekaat sholat tarawih yang lama itu, dengan tujuan untuk sedikit menghilangkan lelahnya berdiri lama. Bukan untuk tujuan melakukan bacaan dan dzikir tertentu yang dikeraskan, atau yang untuk saling bersahut-sahutan dengan para makmum dengan suara keras. Dan tidak ada “jubir” imam yang disuruh untuk mengucapkan hal itu dengan suara keras.

  1. Adanya doa dan dzikir tertentu sebelum memasuki sesi sholat witir. Atau pemberitahuan dengan suara keras dalam bahasa Arab bahwa akan memasuki sholat witir.
  1. Adanya doa dan dzikir tertentu, selain dari dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah, setelah selesai sholat witir.

Bacaan doa atau dzikir setelah sholat witir yang diajarkan Rasulullah adalah seperti yang disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dan itu dibaca sendiri-sendiri, serta tidak bersama-sama.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhaanal malikil qudduus dibaca 3x- [artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan]” (HR. An Nasai dan Ahmad, shahih)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma inni a’udzu bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” -dibaca 1x- [artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaikati war ruuh.’ ” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 3: 40 dan Sunan Ad-Daruquthni 4: 371. Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah yang diterima).

  1. Melafadhkan niat untuk puasa keesokan harinya bersama-sama dengan bacaan “nawaitu shouma ghodin… dan seterusnya” (Aku berniat untuk puasa esok hari… dan seterusnya).

Niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan untuk diucapkan. Asalkan kita tahu bahwa kita :

  1. Bermaksud atau menyengaja akan melakukan puasa pada esok hari
  2. Sadar bahwa kita akan melakukan puasa pada esok hari
  3. Tahu bahwa kita akan melakukan puasa pada esok hari

Maka sepanjang ketiga hal itu ada, maka niat sudah ada pada diri kita. Sehingga tidak perlu kita mengucapkan susunan kalimat niat untuk niat puasa pada esok hari yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam tersebut. Lihat juga tulisan kami yang 12, mengenai masalah Rukun Puasa yang berkaitan dengan masalah Niat Puasa [Bab V. point B]

  1. Memiliki I’tiqod atau keyakinan bahwa jika sholat tarawih pada malam kesekian akan mendapatkan keutamaan ini, dan jika malam kesekian akan mendapatkan keutamaan itu.

Hadits keutamaan tarawih pada malam sekian akan mendapatkan keutamaan ini dan malam sekian akan mendapatkan keutamaan itu berasal dari Kitab Durratun Nashihin, dan hadits itu laa ashla lahaa (tidak ada asalnya), merupakan kebohongan yang mengatasnamakan Rasulullah, alias hadits palsu. Demikian sebagaimana fatwa Lajnah Ad-Daimah ketika ditanyakan perihal hadits itu.

كلا الحديثين لا أصل له، بل هما من الأحاديث المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada sumbernya (laa ashla lahu). Bahkan, hadits tersebut merupakan kebohongan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta no. 8050, juz 4, hal 476-480]

Adapun hadits palsu yang kami maksud adalah,

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه
وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين
وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك
وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان
وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى
وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام
وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة
وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه
وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء
وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة
وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء
وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك
وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس
وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم
وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة
وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما
وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف
وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة
وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة
وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  • Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  • Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  • Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’
  • Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
  • Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.
  • Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  • Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
  • Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  • Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  • Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
  • Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  • Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  • Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
  • Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  • Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’
  • Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
  • Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  • Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
  • Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  • Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  • Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  • Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  • Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  • Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  • Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  • Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’

Hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17

Setelah kita melihat hal-hal yang diada-adakan dalam masalah Sholat tarawih, maka bagaimanakah sikap kita? Apakah sah ikut sholat Tarawih dengan adanya hal yang diada-adakan itu?

Sikap kita adalah menasehati dengan hikmah jika kita memiliki kemampuan. Jika ada masjid yang pelaksanaannya bersih dari hal-hal yang diada-adakan itu, maka boleh bagi kita untuk pindah ikut sholat tarawih di masjid itu jika tidak terjadi fitnah.

Adapun ikut sholat Tarawih yang ditambah-tambahi dengan hal yang diada-adakan itu, maka karena itu bukan berkaitan dengan rukun sholat sebagaimana masalah Sholat Tarawih Express yang sudah kita jelaskan tadi, maka sholatnya sah dan kita akan mendapatkan keutamaan sholat tarawih bersama dengan imam hingga selesai walaupun pelaksanaan sholat tarawih nya dipenuhi dengan hal-hal yang diada-adakan itu. Adapun sikap kita ketika ada hal yang diada-adakan itu ketika kita ikut sholat Tarawih disitu, maka sebaiknya kita diam dan tidak ikut-ikutan akan hal itu jika kita tidak mempunyai kemampuan untuk menasehatinya. Walloohu A’lam

BUNGA RAMPAI MASALAH SHOLAT TARAWIH

Untuk topik bunga rampai masalah sholat Tarawih ini, maka kami sajikan dengan model tanya jawab saja untuk mempersingkat penjelasan.

  1. Masalah Sholat Tarawih tengah malam

Tanya :

Terdapat sebagian pesantren atau masjid tertentu yang melaksanakan sholat Tarawih pada tengah malam, sedangkan umumnya sholat tarawih itu dilakukan pada awal malam setelah selesai sholat Isya. Apakah hal itu diperbolehkan?

Jawab :

Boleh sholat malam baik pada awal malam ataupun mulai tengah malam ataupun ketika sudah mulai masuk sepertiga malam terakhir.

Dalilnya adalah sholat Tarawih Rasulullah yang hanya dilakukan 3 kali seumur hidup beliau yang dimulai pada awal malam, dan juga perkataan Umar dalam shohih Bukhori yang menyebutkan “dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”.

Walloohu A’lam

  1. Sholat Tarawih lagi atau sholat tahajud setelah ikut sholat tarawih

Tanya :

Bolehkah kita ikut sholat Tarawih dua kali, atau mengerjakan sholat Tahajud setelah ikut sholat Tarawih?

Jawab :

Boleh, asalkan pada waktu sholat Tarawih yang kedua atau waktu sholat Tahajud setelah ikut Tarawih yang pertama, kita tidak ikut sholat witirnya.

Ini karena kita sudah ikut sholat witir pada tarawih yang pertama. Dan tidak ada sholat witir dua kali, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa sallam.

لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (Hr. Ahmad: 15704, Abu Daud: 1227, Nasa’i: 1661, dan Tirmidzi: 432; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Walloohu A’lam

Tanya :

Bolehkah kita tidak ikut sholat witir ketika sholat tarawih, dengan alasan kita nanti hendak sholat Tahajud lagi ketika sahur?

Jawab :

Sebaiknya kita ikut sholat witir pada waktu sholat Tarawih hingga selesai bersama imam dan jangan meninggalkannya. Hal ini agar kita mendapatkan keutamaan ikut sholat tarawih bersama imam hingga selesai.

Adapun ketika sholat Tahajud, maka silakan saja sholat Tahajud namun jangan melakukan witir lagi karena kita sudah ikut sholat witir bersama dengan imam.

Dengan hal ini, maka semua keutamaan insya Allah bisa kita dapatkan.

Walloohu A’lam

  1. Kultum sebelum atau setelah sholat Tarawih

Tanya :

Bolehkah mengadakan kultum ceramah sebelum atau setelah sholat Tarawih?

Jawab :
Jawabnya adalah boleh dan tidak boleh.

Boleh jika ini hanya “memanfaatkan moment” saja, tidak wajib, tidak memaksakan diri harus ada jadwal ceramah tarawih, dan para makmum faham bahwa ini bukanlah bagian dari ibadah sholat Tarawih.

Tidak boleh jika hal-hal yang disebutkan di atas tidak dipenuhi, dan para makmum sholat Tarawih tidak diedukasi untuk memahami bahwa kultum ceramah itu bukan bagian dari ibadah sholat Tarawih.

Apalagi jika sampai ditakutkan bahwa kultum ceramah sholat Tarawih ini adalah bagian ibadah Sholat sebagaimana halnya khutbah sebelum sholat Jum’at, atau khutbah setelah selesai sholat Ied.

Walloohu A’lam

  1. Wanita ikut sholat Tarawih di masjid

Tanya :

Bagaimana hukum ikut sholaat Tarawih di Masjid

Jawab :

Secara hukum asal boleh, sepanjang tidak terjadi fitnah atau madhorot dengan ikutnya wanita sholat tarawih di masjid.

Adapun jika ditakutkan terjadi fitnah atau madhorot, sebagaimana yang kadang terjadi di kalangan muda-mudi yang bercampur baur sewaktu berangkat ataupun pulang dari sholat Tarawih, atau mungkin karena ada anak bayi atau balita di rumah yang tidak mungkin ditinggal, maka hendaknya jangan ikut sholat Tarawih di masjid.

Dan hendaknya menyelenggarakan sholat Tarawih sendiri bagi para wanita di rumah tertentu, atau jika tidak ada maka hendaklah sholat Tarawih di rumah sendirian maka itu tidak masalah.

Karena adanya udzur-udzur itu, maka insya Allah para wanita itu akan tetap mendapatkan pahala ikut sholat tarawih bersama imam di masjid hingga selesai, walaupun mereka berhalangan untuk mengikutinya.

Walloohu A’lam

         5. Perincian cara sholat tarawih 4 rekaat-4 rekaat lalu witir

Tanya :

Hadits Aisyah masalah sholat malam di bulan Romadhon adalah 4 rekaat, 4 rekaat, dan ditutup witir 3 rekaat. Bagaimana cara sholat tarawih 4 rekaat itu ?

Jawab :

Ada dua cara dan perbedaan pendapat dalam cara melakukan sholat tarawih 4 rekaat itu.

  1. Dengan cara melakukan 2 rekaat salam-2 rekaat salam.

Hal ini dilakukan dengan dilandasi tafsir dari perkataan rasulullah “Sholaatul Lail matsna-matsna” (Sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat).

Sehingga hadits Aisyah yang 4 rekaat itu difahami bahwa sebenarnya yang dimaksud adalah 2 rekaat salam, 2 rekaat salam. Hanya saja ketika sudah selesai rekaat keempat, maka Rasulullah duduk dan istirahat. Sedangkan ketika masih dua rekaat awal, maka setelah salam Rasulullah langsung berdiri lagi untuk sholat lagi 2 rekaat. Walloohu A’lam

  1. Dengan cara dilakukan secara harfiah yakni 4 rekaat dan sekali salam. Hal ini karena jika ada jeda 2 rekaat-2 rekaat, maka tentu Aisyah akan memberikan penjelasan kepada kita dan tidak perlu mengatakan “فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ “ (jangan kamu tanyakan tentang bagusnya dan panjangnya). Dan lafadh dhomir yang Aisyah gunakan adalah langsung dengan dhomir munfashil muannats jamak, padahal secara bahasa Arab ada sebenarnya dhomir khusus untuk mutsanna (jumlah 2). Maka dari itu 4 rekaat itu dianggap satu kesatuan, dan demikianlah yang Aisyah persaksikan. Walloohu A’lam

Dua cara itu insya Allah sama-sama diperbolehkan dan tidak ada masalah dengan hal itu.

Adapun untuk masalah perincian lebih lanjut lagi mengenai 4 rekaat 1 kali salam, maka ada perbedaan pendapat lagi di sini. Yakni,

  1. Apakah ada tasyahud awal seperti halnya sholat Isya?
  2. Ataukah tidak ada tasyahud awal, dan langsung tasyahud akhir pada rekaat keempat lalu salam?

Dua cara itu insya Allah sama-sama diperbolehkan dan tidak ada masalah dengan hal itu. Bagi yang berpendapat ada tasyahud awal, mereka berpegang kemutlakan hadits berikut ini,

Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa berkata ketika mensifatkan cara sholat Nabi, dalam hadits yang panjang,

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ

“dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka’at.” [Hr. Muslim, dalam Kitab “Maa yajma’u Shiffatus Sholaah…”, hadits no. 768]

Adapun yang berpendapat bahwa tidak ada tasyahud awal dan langsung tasyahud akhir di rekaat terakhir, berpendapat dengan hadits lain dari Aisyah yang menerangkan kaifiyat duduk tasyahud Rasulullah ketika sholat malam,

قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلاَثََ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ وَلاَ يَجْلِسُ فِي شَيْئٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ. [رواه البخاري ومسلم]

Aisyah r.a. berkata: “Pernah Rasulullah saw shalat malam tiga belas raka’at, beliau berwitir lima raka’at dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu melainkan pada akhirnya. [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Perkataan Aisyah “وَلاَ يَجْلِسُ فِي شَيْئٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ “ (dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu melainkan pada akhirnya) bermakna bahwa tidak ada tasyahud awal dan langsung tasyahud akhir di akhir rekaat. Baik itu dalam sholat malam yang 8 rekaatnya, yakni langsung hanya ada tasyahud akhir pada rekaat ke 8. Ataupun pada sholat witir yang 5 rekaat, langsung hanya ada tasyahud akhir pada rekaat ke 5.

Pemahaman kaifiyat inilah yang dibawa untuk menjelaskan sholat Tarawih 4 rekaat 1 salam, hanya dengan sekali tasyahud akhir saja. Walloohu A’lam

Lihat juga : http://www.fatwatarjih.com/2012/02/shalat-tarawih-4-rakaat-salam-batal.html

Hadits sholat tarawih dengan 8 rekaat 1 salam yang kita sebutkan tadi, juga menjelaskan adanya “variasi” dalam cara melaksanakan Sholat malam ataupun sholat Tarawih. Maka dari itu, yang kita bahas dalam pembahasan sebelumnya adalah “perbedaan pendapat masalah batas rekaat sholat Tarawih”, bukan “variasi formasi rekaat” dalam cara pelaksanaan sholat tarawih.

Sepanjang variasi formasi rekaat itu ada dalil dan contohnya dari Rasulullah, maka hal itu tidak masalah untuk dilakukan. Hanya saja di negeri kita ini umumnya hanya mengenal “variasi 4-4-3”, dan “variasi 2 rekaat-2 rekaat lalu witir”.

Advertisements