Sebagian pluralis, yang hobi ikut berpartisipasi merayakan hari raya agama lain berkata dengan nyinyir, “Bilangnya tidak ikut merayakan, tapi mengapa kok ikut hari liburnya?”

Kita jawab bahwa hari libur atau hari kerja itu sebenarnya hanyalah MASALAH DUNIAWI SEMATA, yang kebetulan ditetapkan oleh pemerintah.

Itu baru menjadi MASALAH AGAMA jika kita ikut merayakan dan meridhoi hari raya agama lain itu.

*****
Kita diperbolehkan untuk melakukan atau meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi, baik itu pada hari yang bertepatan dengan hari raya agama lain, atau pada hari hari biasa yang tidak bertepatan pada hari raya agama lain.

Siapa yang melarang kita makan, minum, berolahraga, dan yang semisal pada hari yang bertepatan dengan hari raya agama lain?

Kalau kita dilarang makan, maka tentu kita lapar dan menderita. Demikian juga dengan hari libur dan hari kerja.

Maka libur pada hari yang bertepatan pada hari raya agama lain itu tidak masalah, karena masalah hari kerja dan hari libur pada hari raya agama lain itu hanyalah masalah duniawi belaka.

Yang jadi masalah itu adalah jika kita ikut merayakan dan meridhoi hari raya agama lain. Adapun menghormati saja tidak masalah, karena lakum diinukum waliyadiin (bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami).

*****
Adapun kalian wahai pluralis yang ikut merayakan dan meridhoi hari raya agama lain, maka sesungguhnya kalian itulah yang sebenarnya bermasalah.

Mengapa justru kalian yang menuduh kami yang bermasalah?

Ngaca dikit ngapa sih..!

Advertisements