Melarang berpolitik itu beda dengan memiliki sikap politik.

Sikap politik itu bisa dengan cara memilih jalan kekuasaan, dan juga cara “belum dulu” untuk melakukan langkah jalan kekuasaan.

Sebagian orang salah faham, bahwa ketika ada orang memilih langkah untuk “belum dulu” berkecimpung dan mengajak masyarakat Islam untuk memilih langkah kekuasaan, logical fallacy mereka langsung menuduh mereka “melarang berpolitik”.

****

Jika kita memiliki pemahaman Islam yang benar dan “Murni”. Benar benar ingin membina ummat Islam dengan tanpa alasan “kepepet”.

Maka mudah bagi kita untuk memahami perbedaan sikap kenapa rasulullah ketika di fase makkah, lebih memilih sikap tidak berkecimpung dulu di kekuasaan, walaupun beliau ditawarkan kekuasaan.

Dan hadits itu sah adanya.

Dibandingkan dengan sikap rasulullah di fase madinah, setelah para sahabat “sebagai rakyat” memiliki pondasi keimanan dan pemahaman islam yang benar.

****

Maka dari itu ketika Syaikh Albani diminta oleh Ali Al Haj untuk mendukung gerakan politiknya, beliau bertanya,

“apakah semua pendukung politik atau rakyat faham masalah pertanyaan aqidah Ainallooh (dimanakah Allah) dengan benar? “(au kama qoola)

Maka Ali Al Haj mencoba berkelit dengan retorika politiknya, dan langsung disanggah oleh shaikh Albani “hentikan basa basi politik mu itu, dan jawablah pertanyaanku”

Maka Ali Al Haj pun akhirnya menjawab bahwa tidak semuanya bisa menjawab pertanyaan aqidah itu. Tidak semua memiliki pondasi aqidah dasar yang benar.

Akhirnya Partai FIZ di Aljazair pimpinan Ali Al Haj yang walau menang pemilu dengan total peraihan suara HINGGA 70 an persen.

Namun pada akhirnya langsung tumbang oleh militer. Dan inilah akibat jika rakyatnya tidak dimulai dari dididik dari pondasi aqidah yang benar, dan termasuk juga militer sebagai bagian dari rakyatnya.

Dan imbasnya kajian kajian Islam dakwah salaf menjadi ditutup, dimusuhi, dan semisal padahal sebelumnya sangat marak disana.

****

Inilah akibat dari tidak mau mengembalikan kepada ulama yang lebih mengerti keadaan umat, dan juga tahapan tahapan perkembangan nya, agar jangan layu sebelum berkembang

Jadi beda antara orang yang memiliki pemahaman Islam yang benar, yang mengerti tahapan tahapan membina masyarakat Islam, termasuk apakah sudah siap dan pantas untuk ke arena kekuasaan yang notabene masih memakai sistem demokrasi yang kufur itu. Ataukah belum.

Dengan orang orang yang tidak memiliki pemahaman Islam yang benar, berikut tahapan tahapan dalam membina umat.

Tapi kan ummat kita “kepepet”!

Ya, kalau main frame kita adalah ummat kepepet, maka yang kita bina hanyalah ummat kepepet saja.

Tapi kalau main frame kita adalah umat islam murni tanpa embel embel kepepet, maka kita akan bisa tau tahapan tahapan dan prioritas yang benar dalam membina umat.

Advertisements