Pokok-pokok pemahaman yang benar mengenai Wali :
1. Wali Allah itu adalah orang orang yang mempunyai sifat IMAN dan TAQWA. Hal ini sesuai dengan yang Allah sebutkan dalam QS Yunus :62-64

2. Wali itu bukan “JABATAN” seperti halnya “nabi” dan “rasul”, tapi “SIFAT” seperti halnya kata soleh, adil, dan sebagainya. Oleh karena itu sejak zaman rasulullah, sahabat, tabi’in, hingga tabiut tabi’in kita tidak menemukan orang yang menjabat sebagai “wali”.

3. Rasulullah tidak pernah menentukan seorang Shahabat pun secara spesifik sebagai wali Allah, karena ini adalah sifat bukan jabatan. Akan tetapi rasulullah pernah secara spesifik menyatakan Umar bin Khoththob sebagai Muhaddats (orang yang mendapatkan ilham dari Allah).

Walau Abu Bakar lebih utama dibandingkan Umar, akan tetapi Rasulullah tidak pernah menyatakan Abu Bakar sebagai Muhaddats. Maka dari itu, tidak ada satu sahabat pun yang berani meniru perbuatan rasulullah, dengan menyebut bahwa sahabat A atau B, atau tokoh A atau B, selain dari Umar, juga adalah seorang Muhaddats.

Apalagi menyebut secara spesifik bahwa orang tertentu itu sebagai wali, yang memiliki ilmu ladunni, yang langsung mendapatkan ilmu dan pemahaman dari Allah.

Bahkan pada hakikatnya, syarat sifat wali Allah itu hanya cukup dengan beriman dan bertaqwa saja, dengan tanpa menyebut kepada orang spesifik, karena wali itu bukan jabatan.

4. Wali sebagai manusia biasa yang beriman dan bertakwa itu bisa terjatuh dalam kedzoliman, kemaksiatan, keburukan, dan kesalahan. Yang mana ini harus dinasehati, diperingatkan, dilakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan harus diingkari.

Hanya saja bedanya, dia cepat untuk merasa menyesal, merasa berdosa, dan segera minta ampun kepada Allah akan dosa dosa dan kekhilafannya.

Hal ini sebagaimana yang Allah jelaskan mengenai sifat orang bertaqwa yang merupakan karakter utama dari wali Allah, di dalam QS. Ali Imran :135

5. Merupakan kesalahan jika dikatakan bahwa ciri seorang wali Allah itu adalah ma’shum terjaga dari segala dosa. Sehingga segala dosa, kesalahan, kemaksiatan, dan kenyelenehannya harus selalu “dianggap benar” ; hanya karena dia dianggap sudah menjadi wali yang ma’shum.

Padahal rasulullah sendiri tidak pernah memberikan jabatan atau gelar wali kepada sahabat tertentu secara khusus, kecuali hanya kepada Umar bin Khoththob dengan sebutan Muhaddats (orang yang mendapatkan ilham dari Allah). Dan Umar sendiri tidak ma’shum

Dan demikian juga sikap para Shahabat terhadap sahabat yang lain.

6. Maka merupakan kesalahan, jika kita menyebut orang tertentu secara spesifik dengan menggelari dan memberikan jabatan wali Allah kepada nya.

Tidak ada orang yang secara spesifik boleh untuk disebutkan sebagai orang yang mendapatkan ilmu atau ilham langsung dari Allah, sebagaimana halnya Nabi Khidir dan Umar bin Khoththob, kecuali dengan bukti penyebutan khusus perihal dirinya di dalam Al Quran dan As Sunnah sebagaimana halnya Nabi Khidir dan Umar bin Khoththob.

Bahkan dalam shohih bukhari sendiri disebutkan riwayat, bahwa Rasulullah mengingkari sikap Ummul Al-‘Ala Al Anshoriyyah yang mempersaksikan bahwa Utsman bin Madz’un yang meninggal sebagai orang SPESIFIK yang dimuliakan secara SPESIFIK oleh Allah.

Rasulullah mengingkari karena beliau sendiri tidak tahu, dan tidak mendapatkan keterangan wahyu akan masalah itu. Akan tetapi Rasulullah hanya mendoakan dan mengharapkan kebaikan kepadanya.

Tentu hal ini berbeda ketika rasulullah memberikan penyebutan khusus kepada Umar bin Khoththob sebagai Muhaddats. Yakni ini karena beliau sudah mendapatkan keterangan mengenai hal itu khusus secara spesifik kepada Umar saja.

7. Termasuk kesalahan dan kemungkaran jika orang berduyun duyun datang ke kuburan yang diaku aku sebagai wali, untuk melakukan doa tawassul dan tabarruk ke makam kuburan orang yang diaku aku sebagai wali itu.

*****
Ditulis dengan banyak mengambil faedah dan ilmu dari kitab “Kupas Tuntas Masalah Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jaelani”, tulisan dari Al Ustadz Imron AM

Advertisements