Menolong orang lemah itu akan mendatangkan pertolongan dan rizki bagi kita.

Jika dilihat lagi akan sejarah Syaikh Ibn Baz rahimahulloh, mungkin inilah salah satu sebab dari keutamaan yang beliau dapatkan.

Bagaimana tidak beliau adalah mufti dan pemimpin para ulama di Saudi yang terkenal memiliki hutang di mana mana.

Memiliki hutang dimana mana? Bagaimana maksudnya?

Maksudnya adalah banyak sekali orang lemah yang meminta tolong kepada Syaikh ibn Baz, terutama berkaitan dengan masalah harta. Nah Syaikh ibn Baz menolong mereka namun bukan karena kaya. Namun dengan cara menanggung masalah harta yang mereka hadapi dengan cara berhutang kepada kenalan dan relasi Syaikh ibn Baz!

Ya, Syaikh ibn Baz yang jadinya berhutang. Adapun orang lemah yang dibantu, bebas dan tertolong.

Masya Allah mulianya akhlak beliau! Jadi jangan pernah dipikir hanya gara gara karena beliau mufti dan ketua Haihah Kibaarul Ulama, maka tentu gaji beliau banyak. Gaji itulah tentu saja yang digunakan untuk membayar hutang hutang beliau untuk membantu orang lemah, selain juga untuk membantu secara langsung.

Adapun bagaimana dengan kita? Kita saja kadang jika ada orang yang butuh bantuan sama kita, kadang berat. Nah Syaikh ibn Baz ini malah sampai rela berhutang kepada orang lain untuk menolong orang orang lemah itu.

NB : Tentu saja harap kisah ini jangan dimanfaatkan oleh orang orang agar mudah berhutang, dan cukup dibayar dengan “Afwan” saja agar dianggap lunas!

Hutang ya tetap hutang. Syaikh pun juga membayar hutang hutang beliau. Jadi kasusnya beda, jangan sok disama samakan.

*****

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.”[ Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 779]

al Imam an-Nasa-i di dalam Sunan-nya (al Mujtaba), Kitab al Jihad, Bab al Istinsharu bidh-Dha’if, nomor hadits (3178), dari jalan Mis’ar, dari Thalhah bin Musharrif, dari Mush’ab bin Sa’ad, dengan lafazh:

عَنْ أَبِيْهِ، أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلاً عَلَى مَنْ دُوْنَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ، فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ : ((إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ)).

Dari ayahnya (yakni, Sa’ad bin Abi Waqqash), ia menyangka bahwa dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka”.

Syaikh al Albani rahimahullah menshahihkan sanad yang dikeluarkan oleh al Imam an-Nasa-i di atas dalam beberapa kitabnya, di antaranya Shahih Sunan an-Nasa-i (2/399) dan as-Silsilah ash-Shahihah (2/409).

Advertisements