Ada fenomena sebagian orang awam yang merasa kesusahan untuk melakukan sholat, karena beralasan nggak hafal lafadz niatnya.

Terutama ketika mau safar, yang mana dia ingin menjama’ atau meng-qoshor sholatnya. Dia bingung karena nggak hafal. Gimana mau tau dan hafal, kan nggak tiap hari safar.

Bahkan ada juga sebagian orang awam yang enggan melakukan sholat sunnah, karena tidak tahu atau tidak hafal niatnya.

*****
Orang orang seperti ini kasihan dan kerepotan…

Takalluf (memberat beratkan diri) dalam menjalankan agama, karena tidak faham ilmunya.

Yang dia tahu,
Pokoknya dulu itu waktu sekolah diajarin harus melafalkan niat ketika mau sholat gitu aja, tanpa bertanya dan belajar lebih lanjut “emang rasulullah pernah ya nyuruh atau ngajarin untuk melafalkan niat waktu mau sholat?”

*****
Sekarang gimana solusinya? Sebenarnya apa sih “niat” itu? Apa harus dilafalkan?

Niat itu artinya MENSENGAJA melakukan sesuatu, dan kita SADAR atau TAHU apa yang kita lakukan itu.

Niat itu letaknya ada di hati dan kesadaran kita, bukan di lafal perkataan kita.

Dah gitu aja. Simpel….

Untuk lebih mempermudah pemahaman, Saya coba berikan contoh sholat yang TIDAK ADA NIAT di dalamnya ya.

Misal ketika kita berdiri di bus, kita tiba tiba saja takbiratul ikram. Atau ketika sedang di kereta, kita tiba tiba saja takbiratul ikram.

Kita tidak sadar dan tidak tahu, tiba-tiba aja kita takbiratul ikram. Nah ini berarti sholatnya “tidak sengaja” dan tidak ada niat dalam melakukan hal itu.

Beda dengan orang yang sengaja sarungan, wudhu, lalu takbiratul ikram; dan tahu serta sadar apa yang dia lakukan.

Kalau ditanya (setelah sholat), apa kamu lakukan itu? dia menjawab “sedang sholat”. Maka jelas orang seperti ini ada niat di dalam hati dan kesadarannya.

Nggak mungkin kita bilang orang ini “nggak niat sholat”!

*****
Contoh orang yang tidak ada niat dan tidak sengaja sholat tadi itu memang ekstrim, dan boleh kita katakan mungkin tidak pernah ada dalam kehidupan nyata. Namun ini hanya untuk memudahkan pemahaman saja.

Ini sama dengan pendekatan pemahaman orang yang tidak sengaja tersandung lalu jatuh, dengan orang yang sengaja menjatuhkan diri dari papan lompat kolam renang. Yang satu tidak ada niat, sedangkan yang satunya lagi ada niat.

Hanya saja bedanya tadi itu saya ganti dengan kasus “tidak sengaja sholat” saja untuk mendekatkan pemahaman masalah niat.

*****
Dari pembahasan tadi maka kita bisa mengetahui bahwa ada tiga parameter akan masalah niat yang ada di hati itu :

1. Sengaja
2. Sadar
3. Tahu

Asalkan ada tiga hal itu, maka kita tahu bahwa ada niat dalam sholat kita itu.

Jadi tidak perlu repot repot harus menghafalkan dan melafalkan niat setiap mau sholat. Toh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga tidak pernah mencontohkan dan mengajarkan pelafalan niat itu.

Sedangkan rasulullah berkata “sholluu kamaa roaitumuunii ushollii” (Sholatlah kalian semua sebagaimana kalian melihat aku Sholat)

****

Sekarang sebenarnya darimanakah asal cara pelafalan niat itu, sedangkan rasulullah tidak pernah mencontohkan dan mengajarkannya?

Dan bagaimana mungkin juga kesalahan pemahaman itu menjadi “makin parah” di kalangan orang awam, yang semula hanya dikatakan “BOLEH MELAFALKAN NIAT” menjadi “WAJIB MELAFALKAN NIAT”?

Secara sederhana, ini adalah kesalahan imam Az Zubairi rohimahulloh dari madzhab syafi’i yang salah memahami perkataan Imam Asy Syafi’i rohimahulloh dalam masalah pembahasan Manasik Haji dan Umroh, yang kemudian diqiyaskan dalam masalah sholat.

Dan kesalahan ini sudah ditegur dan diperingatkan oleh imam Al Mawardi rohimahulloh dan imam An Nawawi rohimahulloh di dalam kitab-kitab mereka.

Ulama itu tidak ma’shum, namun mereka berhak untuk mendapatkan udzur akan kesalahan kesalahan mereka. Adapun yang wajib bagi kita, adalah memberikan udzur kepada mereka dan tidak mengikuti kesalahan kesalahan mereka.

Adapun untuk pertanyaan mengapa kesalahan pemahaman menjadi “makin parah” di kalangan orang awam, yang semula hanya dikatakan “BOLEH MELAFALKAN NIAT” menjadi “WAJIB MELAFALKAN NIAT”?

Jawabnya adalah karena kita kurang faham dan kita belum tahu saja.

Oleh karena itu hendaklah kita selalu menuntut ilmu. Agar dengan berdasarkan TUNTUNAN ILMU, kita bisa memahami kemudahan kemudahan dalam menjalankan Islam sesuai dengan ATURAN YANG BENAR.

Semoga bermanfaat, baarokalloohu fiik

Advertisements