Di dalam sholat itu ada yg disebut sebagai RUKUN SHOLAT dan SUNNAH SHOLAT.

Rukun sholat itu adalah kaifiyat sholat, yang mana jika kita kurang atau tidak melakukan salah satu rukun sholat itu, maka sholat kita menjadi tidak sah atau Batal. Rukun Sholat itu secara umum ada 13 rukun.

Adapun Sunnah sholat, maka ini juga termasuk “pelengkap” kaifiyat melakukan sholat, namun ini bukan pokok. Yang mana jika kita tertinggal, lalai, atau tidak melakukan hal itu maka sholat kita tidak batal dan tetap sah.

Namun baik “rukun sholat” ataupun “Sunnah sholat”, maka sebaiknya semuanya dikerjakan karena rasulullah mengerjakan semua hal itu. Dan juga untuk mentaati perintah Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam “Sholluu kamaa roaitumunii ushollii” (Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku sholat).

Namun jika kita ingin mengetahui mengenai perincian fiqh dan hukumnya, perlu bagi kita untuk tau perbedaan antara “Rukun Sholat” yang wajib dan juga “sunnah sholat”. Yakni untuk mengetahui perbedaan akan “bobot” konsekuensi hukumnya. Nah ini muqoddimah awal yg harus kita fahami dulu.

Adapun masalah isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahud, maka sepanjang yang saya tau para ulama memasukkan hal itu sebagai sunnah sholat, bukan rukun wajib sholat.

Adapun untuk perincian sunnah sholat masalah isyarat jari ketika tasyahud ini, maka para ulama memang berbeda pendapat mengenai perinciannya. Sekarang kita akan coba bahas masalah perinciannya. (Sampai disini masih OK dan bisa mengikuti kan bu? 😀 )

****
bisaa 😀
in sya ALlah

****

Alhamdulillah
Inti pembicaraan perbedaan pendapat ini, sejauh yang saya tau, memang terdapat dua hadits yg terlihat bertentangan.

Ada hadits yg menyebutkan dengan lafadh “Yuharrikuhaa” (menggerak-gerakkannya). Dan ada juga hadits yg menggunakan lafadh “Laa yuharrikuhaa” (tidak menggerak-gerakkannya).

ARGUMEN PENDUKUNG HADITS YUHARRIKUHAA TERHADAP HADITS LAA YUHARRIKUHAA

Sebagian ulama yang pro dengan “yuharrikuhaa”, mengatakan bahwa lafadh hadits yang menggunakan lafadh “laa yuharrikuhaa” riwayat dari Abdullah bin Zubair itu shohih namun syadz (ganjil)

Mereka mengatakan bahwa dikatakan syadz, walaupun perowi2 hadits dari Abdullah bin Zubair itu tsiqoh dan sanadnya bersambung, namun dianggap menyelisihi karena disitu ada perowi yang bernama Muhammad bin ‘Ajlan.

Muhammad bin ‘Ajlan dianggap penyebab syadz ini, walaupun beliau adalah perowi yang maqbul, karena ada rowi2 lain yang juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Ajlan namun tidak menyebutkan adanya lafadh “Laa yuharrikuhaa” itu

Maka dari itu tambahan lafadz “laa yuharrikuhaa” dalam hadits tersebut, dianggap tidak bisa diterima.

Lihat : http://al-atsariyyah.com/menggerakkan-telunjuk-saat-tasyahh…

ARGUMEN PENDUKUNG HADITS LAA YUHARRIKUHAA TERHADAP HADITS YUHARRIKUHAA

Adapun untuk hadits yang hanya menyebutkan “yuharrikuhaa” riwayat Sahabat Wail bin Hujr, maka oleh para ulama yang mendukung “laa yuharrikuhaa”, dikatakan bahwa Hadits Yuharrikuhaa itu kembali kepada permasalah perowi yang bernama Zaaidah bin Qudamah.

Zaidah bin qudamah perowi “yuharrikuhaa: mengalami nasib sama seperti perowi Muhammad bin ‘Ajlan yang meriwayatkan “laa yuharrikuhaa”. Yakni walaupun Zaaidah bin Qudamah itu perowi yang tsiqoh dan maqbul, namun dalam hadits “yuharrikuhaa” ini dia dianggap menyelisihi 22 perowi lainnya yang juga sama2 meriwayatkan dari shahabat Wa’il bin Hujr.

Dianggap menyelisihi atau syadz akan lafal “yuharrikuhaa” nya karena 22 perowi lainnya, yang juga sama2 meriwayatkan dari Wail bin Hujr, tidak meriwayatkan adalah lafadz “Yuharrikuhaa” itu.

Sehingga ziyadah (tambahan) Yuharrikuhaa itu dianggap syadz dan tidak diterima, karena Zaaidah bin Qudamah dianggap menyelisihi perowi lainnya yang dianggap lebih tsiqoh dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan Zaaidah bin Qudamah itu sendiri

Lihat : https://antosalafy.wordpress.com/…/kedudukan-hadits-mengge…/

Masih bisa mengikuti kan bu?

****
iya in sya Allah bisa mas amru
wahh sistematis sekali.. abis ini mau saya simpan..😀
ayok lanjut 😀

****
Nah adapun hadits-hadits yang sama-sama disepakati oleh kedua belah ulama yang berbeda pendapat tersebut, adalah hadits bahwa ketika rasulullah ketika tasyahud maka beliau tangan kanan beliau memberikan “isyarat” dengan mengangkat jari telunjuk kanannya.

Jadi sebagai ringkasan awal :
1. Ada hadits yg hanya menyebutkan bahwa rasulullah ketika tasyahud maka beliau tangan kanan beliau memberikan “isyarat” dengan mengangkat telunjuk kanannya.

hadits ini hanya berhenti disini tanpa ada perincian dengan lafadh “yuharrikuhaa” ataupun “laa yuharrikuhaa”.

2. Hadits yang menyebutkan perincian dengan cara “yuharrikuhaa” (menggerak-gerakkan), yang kembali kepada Sahabat Wail bin Hujr.

Yang mana hadits ini para perowinya tsiqoh dan bersambung sanadnya, namun dipermasalahkan di bagian perowi Zaaidah bin Qudamah nya.

Perowi Zaaidah bin Qudamah dianggap syadz, walau dia perowi tsiqoh dan maqbul, karena dianggap menyelisihi perowi lainnya yang juga sama2 meriwayatkan dari Wail bin Hujr yang tidak menyebutkan lafal “Yuharrikuhaa” itu.

3. Hadits yang menyebutkan perincian dengan cara “Laa yuharrikuhaa” (tidak menggerak-gerakkannya), yang kembali kepada Sahabat Abdullah bin Zubair.

Yang mana hadits ini para perowinya tsiqoh dan bersambung sanadnya, namun dipermasalahkan di bagian perowi Muhammad bin ‘Ajlan.

Nasib perowi Muhammad bin ‘Ajlan dengan lafal “Laa yuharrikuhaa” nya juga sama permasalahan kritik syadz lafalnya, seperti halnya perowi Zaaidah bin Qudamah dalam hadits “Yuharrikuhaa”.

KOMPROMI HADITS DAN PENDAPAT ULAMA
Nah sekarang bagaimana cara mengkompromikan hal ini? Disinilah para ulama berbeda pendapat.

Di dalam kitab sifat sholat Nabi tulisan Syaikh Albani rohimahulloh, sebagaimana yang ibu sebutkan, maka beliau berpendapat bahwa “yuharrikuhaa” dari Zaaidah bin Qudamah itu dianggap sebagai ziyaadatuts tsiqoh (tambahan yang valid) dan maqbul untuk dijadikan landasan hukum

Akan tetapi dari sumber lain yang saya ketahui, di dalam kitab tamaamul minnah yang juga sama-sama tulisan Syaikh Albani rohimahulloh, syaikh Albani mengisyaratkan cara kompromi yang lain dengan cara “Kadang2 digerakkan dan kadang2 tidak digerakkan”. (walau tampaknya Syaikh Albani tidak mengambil cara kompromi ini).

Cara kompromi dengan menjama’ kedua hadits “Yuharrikuhaa” dan “laa yuharrikuhaa” ini yang saya pandang lebih bagus dan lebih cocok akan hal ini. Sehingga kadang2 rosulullah menggerak-gerakkannya ketika dalam suatu sholat, dan kadang2 rosulullah tidak menggerak-gerakkannya dalam sholat yang lain. Sehingga ini insya Allah hal yang mukhoyyar (boleh dipilih).

Dan ini lebih bagus dibandingkan daripada metode tarjih dengan cara adu kekuatan di antara kedua hadits tersebut. Padahal dua hadits itu secara perowi umumnya tsiqoh dan maqbul. Hanya berbeda pendapat masalah anggapan syadz karena menyelisihi rawi yang lebih kuat saja.

Pemahaman ini sama seperti halnya “sunnah sunnah” sholat yang lain, yang mana kadang2 rasulullah memberikan variasi bacaan yang lain

Seperti misal bacaan doa iftitah sebelum al fatihah, menurut yg beranggapan hukumnya sunnah karena ada juga yg berpandangan hukumnya wajib. Maka ada beberapa cara bacaan dari rasulullah.

Demikian kurang lebih yang saya fahami bu, walloohu A’lam

Advertisements