Apakah Ghuluw, atau bersikap berlebih lebihan hingga melampaui batas syariat, terhadap orang sholih itu akan dapat menyebabkan kesyirikan?

Jawabnya tentu saja, ya!

Orang yang “terlalu berlebihan” dalam menghormati, memuliakan, menghargai, dan mencintai orang sholih itu akan menyebabkan kesyirikan.

Bukankah Nabi Isa ‘alaihis Salaam itu adalah seorang Nabi yang Sholih? Dan berapa banyak orang yang terjatuh ke dalam kesyirikan karena “salah bersikap” terhadap orang sholih?

Dapatkah hal ini terjadi juga terhadap orang yang salah bersikap dalam memuliakan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan juga orang orang sholeh dari kalangan kaum muslimin?

Jawabnya, tentu saja hal itu juga bisa terjadi!

Maka dari itu hendaklah kita berhati hati terhadap 4 media kesyirikan berikut ini

****

Apa saja 4 media kesyirikan itu? Mari kita simak penjelasan rasulullah berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. رواه البخاري

Dari Aisyah bahwasanya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yang mereka melihatnya ketika di Habasyah (Ethiopia) di dalamnya banyak patung, kemudian keduanya mengabarkan kepada Rasulullah salallahu alahi wasallam , lalu beliau berkata :

“Sesungguhnya mereka adalah apabila ada seorang yang sholeh dari mereka yang meninggal maka mereka membangun mesjid diatas kuburan orang tersebut dan membuat gambar/patung didalamnya, mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari رحمه الله)

Di hadits di atas ummu habibah dan ummu salamah menceritakan mengenai gereja atau “KANISAH” (dalam bahasa Arab), namun mengapa rasulullah menanggapinya dengan lafadh “MASJID”?

Jawaban akan hal ini ada dua hal yakni,
1. Gereja itu adalah laksana Masjid bagi kaum Nashrani yang digunakan untuk beribadah.

Atau dengan kata lain, Masjid adalah kata umum untuk tempat ibadah dalam konteks ini, terutama bagi orang yang mengenal Allah seperti halnya kaum muslimin dan para ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani), maka dari itu “KANISAH” (gereja) masuk ke dalam keumuman kata “MASJID” ini.

Dan karena Ahlul Kitab itu juga mengenal Allah sebagaimana halnya kaum muslimin dan kaum musyrikin Arab jahiliyyah yang juga mengenal Allah, maka Allah mengingatkan kembali kepada Ahlul kitab itu akan kalimat tauhid agar beribadah kepada Allah saja, dan agar menjauhi berbagai macam kesyirikan beribadah kepada selain Allah.

{قل ياأهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد اللهإلا وحده ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله}

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ ” (QS. Al Imron: 64)

Lihat juga QS Al Hajj : 40.

2. Digunakan kata “MASJID” untuk memperingatkan kaum muslimin bahwa hal ini juga bisa terjadi juga kepada mereka.

Maka dari itu rasulullah bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- :« لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ». يُحْذَرُ مِثْلَ مَا صَنَعُوا. رواه البخاري

Dari Aisyah Rasulullah bersabda : “Allah melaknat yahudi dan nashara, (karena) mereka menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai mesjid (untuk beribadah).”

Beliau memperingatkan (umatnya) dari seperti apa yang mereka kerjakan.” (HR. Bukhari رحمه الله)

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ « أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ ». رواه مسلم
Dari Jundub bin Abdillah berkata : aku mendengar Nabi 5 hari sebelum wafat beliau bersabda :

“Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kalian mereka mendirikan masjid (di atas) kuburan Nabi dan orang-orang shaleh mereka, ketahuilah jangan kalian menjadikan kuburan sebagai mesjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan tersebut.” (HR. Muslim رحمه الله)

Sekarang setelah melihat hadits hadits di atas, maka sebenarnya apakah 4 media kesyirikan, yang diakibatkan ghuluw terhadap orang-orang shalih itu?

Empat media kesyirikan itu adalah :
1. Masjid
2. Kuburan
3. Patung
4. Gambar

Lihat lagi hadits kisah ummu habibah dan ummu salamah menceritakan mengenai gereja atau “KANISAH” (dalam bahasa Arab) di Habasyah (Ethiopia)

*****
Masjid sebagai media kesyirikan? Bagaimana itu maksudnya?

Maksudnya adalah menyeru, berdoa, dan meminta tolong baik itu kepada rasulullah atau kepada orang orang sholeh wali wali Allah yang sudah meninggal, yang dibarengi dengan menyeru kepada Allah ketika berada di dalam masjid.

Baik itu dengan cara ditujukan langsung kepada orang soleh tersebut.

(Biasanya karena diyakini bahwa orang tersebut, karena tingginya kedudukan dan kesalehan nya kepada Allah, telah diberikan kemampuan prerogatif karamah khusus oleh Allah, agar bisa membantunya, menolongnya, melancarkan urusannya, dan memberikan berkah kepadanya. Ini Lazim disebut dengan istilah tabaruk, atau mencari berkah)

Atau dengan cara hanya sebagai perantara tawassul saja, agar nanti lewat perantaranya disampaikan lagi langsung kepada Allah.

Dan tempat atau media manakah yang lebih cocok dari hal ini selain daripada masjid? apalagi jika ada kuburan orang shalih yang dimaksud di dalam masjid itu.

Inilah maksud masjid sebagai media kesyirikan.

Yakni yang juga digunakan untuk menyeru berdoa kepada selain Allah, baik di masjid itu tidak ada kuburan orang shaleh wali Allah yang dimaksud, apalagi jika ada kuburan orang shalih di dalam masjid itu!

Maka dari itu Allah berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru seseorangpun di dalamnya di samping Allah.” (QS. Al-Jin:18)

Dan Allah juga berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Dan orang-orang yang mengambil selain Allah (berkata): “Kami tidak beribadah kepada mereka (yakni dengan cara menyeru, minta tolong, dan berdoa kepada mereka) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (QS : Az Zumar : 3)

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

“Dan mereka beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang diibadahi dengan cara menyeru, minta tolong, dan berdoa) adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

Adapun untuk contoh orang nashrani yang dulu itu adalah, dibangun gereja di atas makam seorang “SAINT” (orang suci). Plus lengkap dengan gambar gambar dan patung patung di gereja itu.

****
Selain masjid yang ada kuburan nya, maka ini akan diperparah lagi jika disertai dengan adanya gambar atau patung didalamnya.

Biasanya ini adalah gambar dari sang wali atau tokoh yang sudah meninggal itu.

Adapun zaman sekarang juga bisa dengan memasang foto dari orang shalih, wali, atau tokoh tersebut di dalam masjid.

Hal ini dimaksudkan agar lebih mempermudah membayangkan proses komunikasi untuk meminta tolong dan menyeru kepada sang wali tersebut, karena kita melihat fotonya atau gambarnya.

Adapun jika orang zaman dulu biasanya kepada patungnya atau gambarnya, namun zaman sekarang sudah berubah. Sehingga foto juga bisa dipakai.

Pertanyaannya, Mengapa?

Jawabannya adalah karena kuburan saja dirasa kurang cukup. Kita tidak bisa atau susah membayangkan seperti apa wali orang shalih yang terkubur di bawah sana, walaupun kita berada di depan kuburannya.

Oleh karena itulah ada gambar, patung, atau foto yang bisa digunakan untuk membantunya.

Maka dari itu komplitlah empat media kesyirikan itu menjadi satu!

*****
Pertanyaan, apakah harus ada keempat empat media itu hingga kesyirikan menyeru berdoa meminta tolong kepada selain Allah, bersamaan dengan meminta kepada Allah itu baru bisa terjadi?

Al jawab, tidak!

Tidak harus keempat empatnya itu ada, akan tetapi tiap satu persatu atau kombinasi dari beberapa hal itu, sudah cukup untuk menjadi media penunjang kesyirikan menyeru kepada selain Allah, karena ghuluw kepada orang shalih.

Misal,
di masjid saja walau tidak ada kuburan, gambar, dan patungnya juga bisa orang melakukan kesyirikan karena i’tiqod keyakinannya menyeru tawassul kepada orang sholeh agar bisa membantu nya, sembari dibarengi minta kepada Allah.

Atau di kuburan saja.
Baik itu kuburannya ada di dalam masjid ataupun tidak. Yakni dengan kamuflase ziarah padahal tujuannya adalah tawassul tabaruk ngalap berkah kepada kuburan itu, agar semua urusannya lancar dan barokah. Agar semua musibah dan kesusahan hilang serta bahagia.

Atau dengan lewat media gambar, patung, atau foto saja.

Agar bisa membayangkan untuk minta tolong dengan cara tawassul dan tabaruk. Atau bisa juga dengan memasang atau menggantungnya, agar lancar rezeki, tolak bala, dan mendatangkan barokah.

Jadi tidak perlu susah susah harus ke kuburan atau masjid yang ada kuburannya, karena sudah ada penggantinya.

Atau bisa juga dengan membawa tanah yang berasal dari kuburannya. Atau dengan menyimpan barang barang peninggalan atau pemberian dari orang sholeh itu, yang diyakini bertuah, keramat, memberikan barokah, yang kadang dijadikan jimat, dan bisa menolak bala.

Dan demikianlah juga keadaan orang orang syirik zaman dulu itu.

Mereka membawa patung patung berhala kecil yang dianggap simbol perwujudan dari orang soleh yang sudah meninggal, ke dalam rumahnya. Sehingga mereka tidak perlu repot repot harus selalu ke kuburan.

Mereka juga terbiasa dengan berbagai macam jimat.

****
Dari sini, semoga jelas masalah kesyirikan yang terjadi karena ghuluw terhadap orang soleh, terutama yang sudah meninggal, dengan cara tawassul dan tabaruk kepadanya.

Dan semoga jelas juga mengenai 4 media syirik yang mendukung kesyirikan karena ghuluw terhadap orang soleh itu.

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik.

Advertisements