Saya (Kautsar Amru) berkata,
Keharusan untuk memahami dan beragama sesuai dengan cara beragamanya para sahabat inilah, yang kadang dilupakan oleh orang orang yang menyeru kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahamannya siapa?

Tentu saja menurut pemahaman para Sahabat rodhiyalloohu ‘anhum.

Sedangkan Iblis saja BISA DAN BERHASIL MENIPU Nabi Adam alaihis salaam dengan mengatasnamakan nama Allah. Maka apa susahnya menipu ummat Islam dengan mengatasnamakan Al Qur’an dan As Sunnah?

Bukankah para Ahlul Bid’ah itu juga berdalil dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang mereka fahami dengan seenaknya sendiri?

Bukankah para Leluhur Ahlul Bid’ah yang muncul pertama kali pada zaman para sahabat masih hidup sepeninggal rasulullah wafat itu, juga memakai Al Qur’an dan As Sunnah untuk memahami Islam sesuai kemauan mereka sendiri, dan juga untuk menentang pemahaman para Sahabat selaku murid murid rasulullah dalam memahami Islam?

Maka dari itu Aqidah bermanhaj dengan manhaj para sahabat dalam memahami dan mengamalkan agama Islam itu sangatlah penting.

Lihat Point 81, Kitab “Syarah Aqidah Salaf”, Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hal. 426

Keharusan bermanhaj manhaj sahabat

Advertisements