Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى، فَقاَلَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُـولَ اللهِ! إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِيْـنَ أَنْزَلَ اللهُ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيْحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُوْنَ إِلَى دِيْنِ آبَائِهِمْ.

“Tidak akan hilang malam dan siang hingga Latta dan Uzza (kembali) disembah.”

‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengira bahwa ketika Allah menurunkan ayat, ‘Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.’ Semuanya telah sempurna (berakhir).”

Beliau bersabda,
“Sesungguhnya hal itu (kemusyrikan) akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Dia mengutus angin yang lembut, lalu mewafatkan setiap orang yang memiliki keimanan seberat biji sawi dalam hatinya, sementara orang yang tidak memiliki kebaikan akan tetap ada, selanjutnya mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.”

[ Shahiih Muslim syarh an-Nawawi, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XXXIII/ 18, Syarh an-Nawawi).]

👆
Mari kita perhatikan hadits itu. Disitu disebut Latta, sedangkan asal mula Latta adalah seorang pengaduk adonan roti yang sholih, yang memberikan rotinya bagi orang yang haji.

Setelah meninggal, maka mulailah orang berdoa melalui perantara kuburannya, hingga kemudian karena susah, dibikin ornamen patung yang dianggap mewakili Latta.

Orang Arab musyrikin jahiliyyah tidak pernah menganggap Latta sebagai Rabb, karena mereka mengenal Allah. Namun mereka menyerahkan ibadah doa kepada Latta karena dianggap sebagai wasilah untuk mendekatkan diri agar doanya nanti disampaikan oleh Latta kepada Allah.

Dan hadits di atas itu adalah tanda tanda kiamat. Maka jika cara, keyakinan, dan kesyirikan model semacam itu berulang lagi ada pada zaman ini, hendaklah kita jangan heran.

*****
Lihat pula QS. Nuh ayat 23, metode wasilah melalui orang sholeh yang sudah mati itu paling awal dilakukan oleh kaum nabi Nuh.

Mereka memiliki Wadd, Suwa’, Yaghut, Ya’uq, dan Nashr yang merupakan orang orang soleh yang sudah mati.

******
Jadi mendoakan dan minta agar disampaikan doanya itu dua hal yang beda.

Hadits mendoakan orang yang sudah meninggal tadi sudah disalah gunakan.

Katakanlah orang orang mati itu mendengar permintaan dan doa orang yang masih hidup, maka seharusnya berdoa melalui perantara malaikat yang masih hidup dan juga nabi Isa yang masih hidup di langit kedua (seingat saya), harusnya lebih boleh dan lebih maqbul.

Akan tetapi Allah mengingkari hal tersebut di dalam Al Qur’an, walau mereka melakukan “titip doa” kepada malaikat itu hanya dalam rangka tawassul.

Advertisements