Hakikat tawakkal itu adalah mengambil jalan-jalan dan sebab-sebab usaha yang ma’qul (masuk akal) dan masyru’ (yang dibolehkan secara syariat), dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hal ini sesuai dengan cara dan petunjuk rasulullah dalam memahami tawakkal, sesuai dengan hadits di bawah ini.

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh, apakah saya ikat onta saya lalu tawakal kepada Allâh Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya ? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakkal.
[HR. At-Tirmidzi (no. 2517). Dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Takhrîj Musykilatil Faqr, no.22]

Hadits tersebut berlaku umum dan berlaku untuk segala hal. Tidak ada orang yang memahami bahwa hadits itu berlaku hanya untuk masalah unta saja, sedangkan untuk masalah sepeda motor dan mobil tidak berlaku sehingga tidak perlu untuk dikunci dan diamankan ketika ditinggalkan!

Maka dari itu pemahaman hadits ini juga berlaku untuk segala hal, termasuk juga berkaitan dengan masalah kelahiran dan operasi sesar.

Meremehkan jalan-jalan usaha, maka ini berarti adalah meremehkan dan melecehkan syariat. Sedangkan menggantungkan hasil hanya semata-mata kepada sebab, dan bukan kepada Allah, maka ini adalah kesyirikan. [Silakan lihat kitab “At Tawakkul ‘Alallooh” (Tawakkal Kepada Allah), Dr. Abdullah bin Umar Ad Dumaiji]

****
Operasi sesar jika diperkirakan secara medis akan membahayakan ibu dan anaknya jika dilakukan kelahiran secara normal, maka ini hukumnya boleh dan dibenarkan secara syari’at [baca : Ma’qul dan Masyru’]

Dalil akan hal ini adalah, selain dari hadits yang telah saya sebutkan diatas, firman Allah subhaanahu wa ta’aala

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195)

Dan juga firman Allah,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An Nisaa’: 29).

****
Sekarang bagaimanakah hukum membantu proses kelahiran dengan cara ruqyah?

Hukumnya boleh-boleh saja sepanjang ruqyahnya bukan ruqyah syirkiyyah (ruqyah syirik), dan BUKAN WAJIB.

Barangsiapa yang mewajibkannya maka dia berbuat kebid’ahan dan mengada-ada dalam agama. Dan barangsiapa yang meremehkan sebab-sebab yang ma’qul dan masyru’ (dibolehkan dalam syariat) untuk membantu proses kelahiran yang diperkirakan mengancam jiwa seseorang, maka dia telah meremehkan syariat.

Masalah unta yang diperintahkan oleh rasulullah untuk diikat dulu baru tawakkal, maka ini lebih remeh dan lebih tidak berkaitan dengan jiwa dibandingkan dengan proses melahirkan.

Kenapa saya berkata bahwa proses ruqyah untuk membantu kelahiran itu boleh-boleh saja, sepanjang tidak meremehkan sebab-sebab usaha yang ma’qul dan masyru’, dan TIDAK WAJIB?

Hal ini karena salah seorang pemuka wanita yang paling mulia dan paling utama di dunia dan di akhirat, yakni MARYAM BINTI IMRAN ‘alaihis salaam dalam proses melahirkan Nabi Isa ‘alaihis salaam sama sekali tidak dibantu dengan proses ruqyah. Baik itu dengan cara diruqyah orang lain atau diruqyah oleh malaikat, atau diruqyah secara mandiri sekalipun.

Bahkan Maryam ketika kesakitan hendak melahirkan, justru malah dibantu dengan sebab-sebab dhohir yang Ma’qul dengan cara disuruh makan buah kurma yang jatuh dinpohon oleh Malaikat yang diutus kepadanya. Lihat Qs Maryam : 23-26.

Padahal apa susahnya Malaikat tersebut meruqyah Maryam? Bukankah dulu Nabi Shalalloohu ‘alaihi wa sallam saja pernah diruqyah oleh Malaikat Jibril? Namun tentu saja pada waktu Nabi Muhammad tidak dalam masalah melahirkan anak, karena hal ini sudah sama kita fahami.

Dan ruqyah itu sudah dikenal sejak sebelum rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ada. Hanya saja memang harus dibedakan antara ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirikiyyah
****

Akan hal ini maka jelas bahwa hukum membantu proses kelahiran dengan cara ruqyah itu hukumnya boleh-boleh saja, bukan wajib. Dan barangsiapa yang meremehkan sebab-sebab yang ma’qul dan masyru’ (dibolehkan dalam syariat) untuk membantu proses kelahiran yang diperkirakan mengancam jiwa seseorang, maka berarti dia telah meremehkan syariat.

Bahkan jika dia mengait-ngaitkan tidak bolehnya melakukan tindakan sesar akan proses melahirkan yang diperkirakan akan mengalami kesusahan dan mengancam jiwa, atau mencela diambilnya sebab-sebab usaha itu dengan POKOK-POKOK KEIMANAN. Apalagi ditambah dengan mempromosikan kesalahan pemahamannya itu.

Maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan. Dan jika dia adalah orang yang bodoh, maka hendaklah diberikan nasehat dan penjelasan dengan berdasarkan ilmu.

Semoga jelas.

Walloohu A’lam
****
Tambahan :
Sebagaimana yang saya katakan tadi, menggantungkan hasil hanya semata-mata kepada sebab, dan bukan kepada Allah, ini adalah suatu kesalahan.

Maka hal ini juga berlaku kepada masalah ruqyah, karena ruqyah adalah sebab dan usaha juga. Sedangkan hasilnya terserah kepada Allah.

Maka dari itu jika ada seseorang yang pongah dengan hasil ruqyah nya, maka dia berada dalam kesalahan dalam memahami ruqyah itu sendiri.

Advertisements