Ini adalah point Aqidah dan Manhaj penting yang harus kita fahami bersama dalam menghormati, mencintai, dan memuliakan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Yakni,
“Bahwa di dalam memuliakan dan menghormati Nabi shallallahu alaihi wa sallam, WAJIB hukumnya mendapat persetujuan dari Allah dan Rasul Nya.

BUKAN SEENAKNYA DAN SEMAUNYA SAJA mengerjakan berbagai macam perbuatan yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul Nya”

Hal ini penting karena banyak dari sebagian orang yang terjatuh kedalam kemaksiatan, kebid’ahan, dan bahkan KESYIRIKAN dengan mengatasnamakan penghormatan, pemuliaan dan penghormatan kepada rasulullah.

Apakah ada yang masih ingat dengan shalawatan yang dilagukan dengan lagu dangdut?

Apakah ada yang tahu arti dari shalawat Naariyah yang sangat berlebihan, hingga melekatkan sifat-sifat rububiyyah yang milik Allah semata ada di rasulullah? Hingga segala kesulitan, bencana, kebutuhan, dan keinginan dianggap bisa diselesaikan dengan rasulullah?

Sedangkan dalam QS. Al A’raaf 188, rasulullah diperintahkan oleh Allah agar mengatakan bahwa rasulullah sendiri tidak mampu memberikan manfaat dan menolak madhorot bagi dirinya sendiri. Apalagi bagi orang lain?

****

Hal ini penting, yang mana bahkan para sahabat pun pernah jatuh dalam kesalahan ini karena ketidaktahuan nya (hingga mendapatkan udzur), dan langsung dikoreksi oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri!

Bahkan hal ini terjadi kepada Mu’adz bin Jabal, selaku ulama di kalangan sahabat yang paling faham masalah halal haram.

Maka bagaimana mungkin kita tetap “bersikeras” mengikuti seorang yang dianggap tokoh di masyarakat Islam, atau Kyai, atau ajengan, atau lainnya yang jauh tingkatannya berada di bawah Mu’adz bin Jabal?

Jika Mu’adz bin Jabal pernah terjatuh dalam kesalahan ini. Maka bagaimana lagi dengan orang yang selainnya?

Dan setelah mengetahui kesalahannya, masihkah kita akan mengikutinya?

Ridho Allah atau ridho manusia masyarakat sekitar kah yang kita cari?

Lihat point 88, Kitab “Syarah Aqidah Salaf”, Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, hal 468-474.

Cara Mengormati Rasulullah 1Cara Mengormati Rasulullah 2Cara Mengormati Rasulullah 3Cara Mengormati Rasulullah 4Cara Mengormati Rasulullah 5Cara Mengormati Rasulullah 6Cara Mengormati Rasulullah 7

Advertisements