Daftar Isi Hadiah dan Bekal Ramadhan

Leave a comment

MUQODDIMAH
DAFTAR ISI
I. ASAL USUL DAN HIKMAH PUASA
A. Kenapa “Shoum” (bahasa Arab) dinamakan dengan “Puasa” (bahasa Indonesia) di dalam bahasa Indonesia dan rumpun Melayu sekitar?

B. Syariat Puasa ini juga pernah Allah perintahkan kepada para Ahlul Kitab dari ummat terdahulu sebelum kita, sesuai dengan cara atau syariat pada masa itu, yang berbeda dengan cara dan syariat pada zaman Ummat Islam sekarang ini.

C. Kenapa puasa wajib itu jatuh pada bulan Romadhon? Kenapa tidak pada bulan lain? Apa hikmahnya?

II. PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN ROMADHON
A. Persiapan menyambut bulan Romadhon yang sesuai dengan tuntunan syari’at.

B. Persiapan menyambut bulan Romadhon yang diada-adakan dan tidak sesuai dengan syari’at

III. AGAR BULAN RAMADHAN TIDAK MENJADIKAN KITA SEBAGAI ORANG YANG DILAKNAT OLEH ALLAH
A. Pentingnya memahami dan mengilmui hal-hal yang merusak puasa kita.

IV. ADA GULA ADA SEMUT : PENTINGNYA MEMAHAMI DAN MENGILMUI KEUTAMAAN BULAN ROMADHON
A. Keutamaan bulan Romadhon bagian 1
B. Keutamaan bulan Romadhon bagian 2
C. Keutamaan bulan Romadhon bagian 3
D. Keutamaan bulan Romadhon bagian 4

V. AGAR PUASA KITA BENAR DAN SAH : PENTINGNYA MEMAHAMI DAN MENGILMUI FIQH PUASA
A. Hukum dan cara puasa Romadhon, siapa yang diwajibkan untuk berpuasa dan siapa yang tidak diwajibkan berpuasa
B. Rukun Puasa dan penjelasannya
C. Hal-hal yang membatalkan puasa yang disepakati oleh para Ulama
D. Pembatal-pembatal puasa yang diperselisihkan oleh para Ulama
E. Hal-hal yang diperbolehkan ketika puasa
F. Hal-hal yang diperbolehkan ketika puasa (Lanjutan)
G. Hal-hal yang merusak puasa
H. Sahur : Hukum, Keutamaan, Kedudukan, Waktu, dan kegiatan yang diutamakan ketika waktu sahur
I. Buka Puasa : Waktu, Keutamaan, Adab, dan perbedaan antara Al-Fithr (buka puasa) dengan Al Fitroh (Suci, kondisi awal penciptaan manusia)

VI. AMALAN-AMALAN SUNNAH YANG DIUTAMAKAN DI BULAN ROMADHON
A. Macam-macam amalan sunnah yang ditekankan untuk diperbanyak pada bulan Romadhon

B. Pembahasan masalah Sholat Tarawih
– Asal usul penamaan Sholat Tarawih
– Sholat Tarawih pada zaman Rasulullah dan pada zaman Khulafaur Rosyidin
– Hukum dan keutamaan Sholat Tarawih
– Jumlah rekaat untuk melakukan Sholat Tarawih
– Melihat aplikasi nyata pelaksanaan Sholat Tarawih pada zaman kita
– Aplikasi nyata akan bahaya Sholat Tarawih Express
– Tambahan cara-cara pelaksanaan Sholat Tarawih yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Shahabat
– Bunga rampai masalah Sholat Tarawih

C. Pembahasan masalah I’tikaf
– Pengertian I’tikaf
– Waktu I’tikaf
a. Kapan waktu I’tikaf itu?
b. I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr
c. Perbedaan pendapat ulama masalah waktu minimal untuk bisa dikatakan sebagai I’tikaf
d. Kapan mulai masuk ke masjid untuk ber-‘itikaf dan kapan keluar untuk selesai ber-I’tikaf
e. Praktek aplikasi nyata di masyarakat perihal pembahasan waktu minimal I’tikaf ini untuk I’tikaf di 10 hari terakhir bulan romadhon
– Jenis dan hukum I’tikaf
– Tempat Pelaksanaan I’tikaf
– Syarat-syarat I’tikaf
– Rukun I’tikaf
– Hal-hal yang memutus dan membatalkan I’tikaf
– Hal-hal yang diperbolehkan untuk keluar dari masjid dan tidak membatalkan I’tikaf
– Apa-apa yang disunnahkan dan dianjurkan untuk dilakukan ketika I’tikaf
– Apa-apa yang diberbolehkan ketika I’tikaf
– Bolehkah wanita ikut ber-I’tikaf di masjid?

VII. IDUL FITHRI
A. Zakat Fithri
– Mengingat kembali masalah bedanya Zakaatul Fithri dan Zakaatul Fithroh
– Beberapa istilah yang sebenarnya sama secara aplikasi fiqh
– Tanggapan dan kritik terhadap maksud dari istilah Zakat Fithroh
– Hukum dan tujuan Zakat Fithri
– Jenis makanan dan takaran yang dikeluarkan untuk Zakat Fithri
a. Jenis makanan yang dikeluarkan untuk Zakat Fithri
b. Takaran yang digunakan untuk Zakat Fithri
– Bolehkah Zakat Fithri dikeluarkan dalam bentuk uang?
– Siapa yang berkewajiban untuk mengeluarkan Zakat Fithri?
– Kapan waktu untuk mengeluarkan Zakat Fithri?
– Kepada siapakah Zakat Fithri itu diberikan dan khilaf para Ulama di dalamnya?
– Adakah tata cara atau do’a khusus dalam membayar dan menerima Zakat Fithri?

B. Idul Fithri Dan Sholat Idul Fithri
– Pengertian Idul Fithri
– Tuntunan syariat dalam masalah Idul Fithri
– Masalah Sholat Ied : Sunnah-sunnah sebelum dan ketika pergi Sholat Ied
– Masalah Sholat Ied : Tempat dan cara melakukan Sholat Ied
a. Tempat Sholat Ied
b. Cara melakukan Sholat Ied
– Masalah Sholat Ied : Hukum dan anjuran untuk mendatangi tempat Sholat Ied
– Masalah Sholat Ied : Sunnah-sunnah ketika kembali dari Sholat Ied
– Bolehkah unsur budaya masuk untuk turut merayakan kegembiraan hari raya Idul Fithri?
1. Budaya mudik untuk bersilaturahim kepada keluarga
2. Budaya makan opor ayam dan ketupat, juga mempersiapkan membikin kue-kue lebaran
3. Budaya memberikan uang kertas baru dengan nilai kecil (receh) kepada anak-anak kecil yang berkunjung ke rumah
4. Budaya bersalaman untuk kemudian saling minta maaf lahir batin
5. Budaya sungkeman
6. Budaya mengucapkan minal aaidiin wal faaiziin (kita kembali dan meraih kemenangan)
7. Budaya memahami Idul Fithri adalah momen hari dimana kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir (fithroh)
8. Budaya Halal bi Halal
9. Budaya Ziarah Kubur setelah Idul Fithri

VIII. AMALAN PADA BULAN SYAWAL SETELAH HARI RAYA IDUL FITHRI (1 SYAWWAL)
A. Amalan Secara Umum
B. Amalan Secara Khusus

IX. TULISAN-TULISAN TAMBAHAN YANG BERMANFAAT
A. Waktu minimal untuk ber-I’tikaf
B. Cara agar seluruh waktu malam Lailatul Qodr bernilai ibadah
C. Agar para wanita yang terkena haidh atau nifas dapat meraih Lailatul Qodr
D. Memahami tujuan beramal sholeh di bulan Romadhon itu perlu
E. Kesalahan arti Idul Fitri dan kesalahan menganggap diri kita kembali suci pada waktu Idul Fitri
F. Imam Istiqlal Prof. Ali Musthofa Ya’qub rohimahulloh : Ada kesalahan makna Idul Fitri
G. Sekali Lagi, Masalah Pelafalan Niat
H. Masalah Doa Hari ke 1 s/d Hari ke 30 Pada Bulan Ramadhan Yang Sering di-Share Tiap Hari
I. Keutamaan Memaafkan Kedzoliman Orang Lain dan Kebolehan Menuntutnya di Akhirat Jika Kita Tidak Memaafkannya Dan Tidak Bisa Menuntutnya Di Dunia

KHOTIMAH

Puasa – Tulisan 25

Leave a comment

AMALAN PADA BULAN SYAWAL SETELAH HARI RAYA IDUL FITHRI (1 SYAWWAL)

A. Amalan Secara Umum

Setelah selesai melakukan puasa dan berbagai macam amalan di bulan Romadhon, maka tujuan akhir kita pada bulan syawwal adalah berharap agar seluruh amalan kita itu diterima oleh Allah.

Percuma saja kita capek-capek puasa dan banyak melakukan amalan sholeh jika ternyata Allah tidak menerima amalan kita. Baik itu karena tidak sah, kurang ikhlash, ataupun karena banyak kerusakan amalan di dalamnya.

Maka dari itulah para shahabat saling mendoakan ketika bertemu satu sama lain, agar amalan-amalan mereka itu dikabulkan dan diterima Allah subhaanahu wa ta’ala.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

[Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.]

Bagaimanakah cara kita mengetahui tanda-tanda, bahwa amalan kita insya Allah semoga diterima oleh Allah? Berikut adalah tanda-tandanya, dan sama sekali bukanlah merupakan kepastian. Hanya Allah yang tahu secara pasti akan hal ini.

  1. Amalannya tetap berlanjut dan menjadi orang yang lebih baik di luar bulan Ramadhan

Dikatakan kepada Bisyr rahimahullah bahwa ada suatu kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh (di dalamnya) hanya di bulan Ramadhan saja. Maka Bisyr berkata:

”Sejelek-jelek adalah mereka, (mereka) tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang shalih adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh (di dalamnya) di sepanjang tahun.” (Latha’iful Ma’arif: 244)

Ibnu Rajab rohimahulloh berkata ketika membahas amalan puasa sunnah pada bulan syawwal,

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها

“Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’

Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية”

“Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya.

Maka, apabila Allah telah menerima (amalan dan taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya).”

  1. Berdoa agar seluruh amalannya diterima oleh Allah

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab, hal.264)

B. Amalan secara khusus

Adapun amalan khusus yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Puasa sunnah 6 hari di bulan syawwal

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.” (HR. Ahmad 23533, Muslim 1164, Turmudzi 759, dan yang lainnya)

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »

Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.”  (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Puasa enam hari di bulan syawwal boleh dilakukan setelah hari Idul Fithri (1 syawwal), adapun tata cara melakukannya boleh dengan cara enam hari berurutan ataupun enam hari terpisah sesuai keinginan kita. Yang terpenting adalah tetap dalam bulan syawwal.

Para ulama berbeda pendapat mengenai cara melakukan puasa syawwal bagi orang-orang yang mempunyai hutang puasa qodho, bagi orang-orang yang tidak melakukan puasa di bulan Ramadhan karena udzur. Ini seperti misal bagi orang-orang yang safar, orang sakit, dan wanita yang terkena haid atau nifas.

Hal ini sebenarnya lebih merupakan “masalah” bagi wanita, karena ini adalah hal yang rutin bagi mereka dan jarang bagi mereka untuk bisa sebulan penuh mendapatkan puasa Ramadhan tanpa terkena haidh.

Para ulama berbeda pendapat bagi orang-orang yang memiliki hutang puasa qodho ini.

Sebagian ulama berpendapat bahwa wajib bagi mereka untuk menyelesaikan puasa qodho’ telebih dahulu, baru kemudian boleh untuk melakukan puasa syawwal

Argumen mereka karena:

  • Puasa wajib haruslah didahulukan daripada puasa yang sunnah. Maka dari itu tidak boleh untuk melakukan yang sunnah sebelum selesai melakukan yang wajib.
  • Mereka berpendapat bahwa pada hadits itu disebutkan perkataan “ثُمَّ أَتْبَعَهُ “ (kemudian diikuti), maka dari itu perkataan “صَامَ رَمَضَانَ “ (berpuasa romadhon) sebelumnya itu harus difahami bahwa harus berpuasa ramadhan sebulan penuh atau membayar puasa qodho-nya dulu baru boleh untuk kemudian diikuti puasa 6 hari di bulan syawwal.

Sebagian ulama juga berpendapat harus melaksanakan puasa qodho dulu. Hanya saja mereka berkata bahwa jika sudah tidak memungkinkan untuk mendapatkan hari untuk puasa syawwal pada akhir bulan syawwal karena banyaknya yang harus diqodho, maka boleh puasa syawwal dulu sebelum habis bulan syawwal nya.

Sebagian ulama berkata boleh mengakhirkan puasa qodho’ dan melaksanakan puasa syawwal terlebih dahulu, karena adanya hadits dari Aisyah berikut ini,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنْ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Salamah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban”.

Yahya berkata: “Karena dia sibuk karena atau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. [Hr. Bukhori, hadits no. 1814. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud]

Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhori dalam shohih-nya pada Kitab Ash-Shoum, bab “Kapan mengganti puasa qodho ramadhon”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya pada kitab Ash-Shoum, bab “Meng-Qodho Puasa Ramadhan di bulan Sya’ban”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam sunannya pada kitab ash-shoum, bab “Mengakhirkan meng-qodho puasa Ramadhan”

****

Penulis hanya menyebutkan ketiga pendapat itu. Penulis tidak menyebutkan perkataan usul untuk mengerjakan puasa qodho dan puasa syawwal pada hari yang sama dengan cara menggabungkan niat. Hal ini tidak diperbolehkan, karena puasa qodho itu hukumnya wajib sedangkan puasa syawwal itu hukumnya sunnah. Oleh karena itu niat untuk amalan yang wajib tidak boleh untuk digabung dengan amalan yang sunnah. Hal ini tidak diperbolehkan.

Adapun dari tiga pendapat itu, maka penulis lebih cenderung menguatkan pendapat yang terakhir. Yakni boleh mengakhirkan puasa qodho’ dan melaksanakan puasa syawwal terlebih dahulu, dengan argumentasi sebagai berikut :

1. Masalah argumentasi puasa wajib harus didahulukan dibandingkan puasa sunnah, maka ini hanyalah afdholiyyah (keutamaan) saja dan bukan syarat sah.

Ini karena ada juga contoh-contoh pelaksanaan amalan yang diajarkan oleh Rasulullah, yang membolehkan untuk melaksanakan yang sunnah dulu sebelum yang wajib. Seperti misal :

  • Sholat rawatib qobliyyah yang dilakukan sebelum sholat wajib
  • Dalam melaksanakan wudhu, disunnahkan untuk mencuci tangan, kumur-kumur, dan istinsyaq (menghirup air di hidung untuk dikeluarkan lagi); yang mana semua ini hukumnya adalah sunnah. Sebelum melakukan rukun-rukun wudhu yang wajib.
  • Ketika khothbah jum’at berlangsung diperbolehkan untuk melakukan sholat tahiyatul masjid bagi jama’ah yang belum melakukannya. Bahkan Rasulullah justru pernah menghentikan khothbahnya sebentar untuk menyuruh orang yang baru datang untuk sholat tahiyatul masjid terlebih dahulu. Padahal mendengarkan khothbah itu hukumnya wajib, sedangkan sholat tahiyatul masjid itu hukumnya sunnah.

2. Masalah perkataan “ثُمَّ أَتْبَعَهُ “ (kemudian diikuti) yang difahami bahwa puasa ramadhan harus dipenuhi dulu, maka praktek Aisyah yang mengakhirkan qodho puasa tentu saja diketahui oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam membatalkan argumentasi itu.

Tidak pernah disebutkan riwayat bahwa Rasulullah kemudian melarang praktek Aisyah itu. Padahal Aisyah adalah istri Rasul, yang tentu saja beliau lebih mengetahui perihal beliau. Oleh karena dalam hal ini berlaku qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan).

 

Jika dikatakan bahwa hadits itu hanya menerangkan Aisyah mengakhirkan qodho puasa Romadhon nya pada bulan Romadhon, namun tidak dijelaskan bahwa Aisyah melakukan puasa syawwal atau tidak. Maka kita jawab, dengan keutamaan puasa syawwal yang demikian besar maka bagaimana mungkin Aisyah tidak melakukannya?

 

Dan jika dipaksa harus difahami seperti itu, maka ini berarti Aisyah tidak pernah melakukan puasa sunnah sama sekali hingga hampir setahun penuh. Yakni ketika sampai bulan sya’ban, dan setelah Aisyah membayar puasa qodho’ romadhon nya.

 

Jadi tidak hanya puasa syawwal saja yang Aisyah tinggalkan. Puasa-puasa sunnah lain seperti puasa senin-kamis, ayyamul bidh, asyuro, Arofah, dan Muharrom pun beliau tinggalkan semua karena belum melaksanakan puasa qodho’ romadhon. Hal ini tampaknya agak sulit untuk diterima.

Walloohu A’lam, demikianlah pendapat yang kami kuatkan.

  1. Menikah dan menikahkan pada bulan syawwal

‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?”

(Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” [HR. Muslim]

 

 

 

Puasa – Tulisan 24

Leave a comment

IDUL FITHRI DAN SHOLAT IEDUL FITHRI

PENGERTIAN IDUL FITHRI

‘Id (عِيْدٌ ) secara bahasa berarti hari raya atau sesuatu yang selalu berulang/kembali. Adapun Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) berarti berbuka puasa. Sehingga ketika digabung menjadi Idul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ), maka ini maksudnya “Hari Raya Berbuka Puasa”. Yakni sudah tidak melakukan puasa lagi, setelah sebulan lamanya berpuasa Ramadhan. Atau dengan kata lain, hari raya untuk makan-minum, dan berpuasa pada hari ini diharamkan.

Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini,

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137)

Jika dikatakan bahwa Al-‘Id (الْعِيْدٌ ) ini berasal dari kata Al-‘Aud (الْعَوْدُ ) yang berarti kembali atau berulang. Maka yang dimaksud adalah hari dimana kita kembali berbuka puasa, alias tidak puasa lagi. Atau kembali ke hari-hari yang mana puasa sudah tidak menjadi wajib lagi.

Dikatakan : “Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Allah memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. “ (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Adapun jika Idul Fithri kemudian dimaknai dengan “hari raya kembali menjadi suci/fithroh”, maka ini adalah suatu kesalahan. Karena kata yang disebut adalah Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) yang berarti berbuka puasa, bukan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) yang berarti suci seperti penciptaan awal atau fithroh.

Konsekuensi perbedaan ini sudah penulis bahas ketika membahas masalah bab “buka puasa”, lihat Puasa – Tulisan 19 (bab V point I pada bahasan beda Al-Fithru dengan Al-Fihrotu). Penulis juga membahasnya ketika membahas masalah “Zakat Fithri” di Puasa – Tulisan 23 (bab VI point A).

Silakan melihat kembali disana untuk pembahasan dan pemahaman konsekuensi yang lebih luas.

Sekedar tambahan untuk memperluas serba-serbi masalah istilah Idul Fitri. Khusus di Indonesia hari raya Idul Fitri sering disebut juga dengan hari raya “lebaran” atau “lebaran” Idul Fitri.

Istilah lebaran ini berasal dari bahasa jawa “lebar” yang berarti selesai, yang kemudian diberi akhiran – an. Orang jawa kadang suka menambahkan akhiran-an untuk suatu istilah aktivitas. Misal : gojekan (aktivitas gojek alias bercanda), nekeran (aktivitas bermain neker atau kelereng), dan lain-lain.

Adapun bahasa jawa yang dimaksud untuk kata “lebar” ini adalah bahasa jawa kromo inggil, bahasa jawa halus yang umum dipakai oleh kasta sosial tinggi atau ningrat . Pemakaian bahasa jawa kromo inggil “sampun lebar” yang berarti sudah selesai, maka ini sama dengan arti “wis bar” dalam bahasa jawa ngoko atau bahasa jawa kasar yang biasa dipakai rakyat jelata.

Sehingga lebaran itu secara harfiah bermakna “sudah selesai”, yakni sudah selesai puasanya setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Istilah lebaran ini kemudian diserap dan dibakukan dalam bahasa Indonesia.

TUNTUNAN SYARIAT DALAM MASALAH IDUL FITHRI

Tuntunan syari’at yang paling baku dalam menyambut Idul Fitri sebenarnya hanya ada tiga hal saja. Adapun yang lain-lain lebih kepada sunnah-sunnah, dan kembali kepada tradisi masyarakat setempat dalam menyambut Idul Fitri. Masalah sunnah-sunnah dan tradisi masyarakat setempat dalam menyambut Idul Fitri akan kita bahas dalam topik tersendiri insya Allah.

Adapun tiga tuntunan syari’at yang paling baku untuk menyambut Idul Fitri :

  1. Melihat hilal (ru’yatul hilal) pada akhir bulan Romadhon bagi yang mampu, untuk menentukan kapan waktu 1 syawwal yang merupakan hari raya Idul Fitri.

Aktivitas ru’yatul hilal ini boleh untuk dilakukan oleh siapa saja. Baik itu oleh individu, utusan organisasi Islam, ataupun badan resmi pemerintah. Akan tetapi untuk penentuan kapan waktu 1 syawwal-nya, di kembalikan kepada keputusan pemerintah setelah menimbang berbagai macam masukan hasil observasi ru’yatul hilal dari berbagai fihak itu. Hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah Shalallloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari dimana kalian semua berpuasa. Hari fitri (tanggal 1 Syawal) adalah pada hari dimana kalian semua melakukan hari raya idul Fitri, dan hari Idul Adha adalah pada hari dimana kalian semua merayakan Idul Adha.” (HR. Turmudzi 697, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2181, dan hadis ini dinilai shahih oleh Al-Albani)

أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا، وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ

Ada seorang sambil menunggang kendaraan datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ia bersaksi bahwa telah melihat hilal di sore hari. Lalu Nabi memerintahkan orang-orang untuk berbuka dan memerintahkan besok paginya berangkat ke lapangan” (HR. At Tirmidzi no.1557, Abi Daud no.1157 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mafhum daripada hadits-hadits itu adalah, pada waktu itu pemerintahan dipegang oleh Rasulullah Shalloohu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyuruh untuk melihat hilal untuk menentukan 1 syawwal guna hari raya Idul Fitri, dan ini berlaku umum sehingga baik individu, utusan ormas, ataupun utusan badan resmi pemerintah boleh untuk melakukannya.

Setelah beliau mendapatkan khabar yang shohih bahwa hilal sudah terlihat, maka beliau selaku pemerintah mempertimbangkannya dan menetapkan kapan 1 syawwal untuk hari raya Idul Fitri itu berlaku. Dan keputusan ini berlaku bagi seluruh masyarakat atau rakyat pada waktu itu.

Oleh karena itulah rasulullah berkata (الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، ) “Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari dimana kalian semua berpuasa. Hari fitri (tanggal 1 Syawal) adalah pada hari dimana kalian semua melakukan hari raya idul Fitri”, dengan menggunakan kalimat jamak (yakni pada kalimat يَوْمَ تُفْطِرُونَ) yang ditujukan kepada seluruh shahabat pada waktu itu. Walloohu A’lam

Imam At-Tirmidzi rohimahulloh berkata:

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذَا الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالفِطْرَ مَعَ الجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

“Sebagian ulama menjelaskan hadis ini, dimana beliau mengatakan: “Makna hadis ini, bahwa puasa dan hari raya dilakukan bersama Al-Jamaah (pemerintah) dan seluruh masyarakat.” (Sunan At-Tirmidzi, 3:71)

********

Sekarang jika muncul pertanyaan, apakah jika kita mengikuti suatu organisasi Islam yang menetapkan Idul Fitri berbeda dengan pemerintah karena organisasi tersebut menggunakan metode Hisab untuk menentukan 1 syawwal, maka apakah amalan kita pada hari Idul Fitri itu batal?

Maka insya Allah tidak batal, sah, akan tetapi tercela. Walloohu A’lam

Ini sebagaimana perbedaan pendapat antara Ibnu Mas’ud dan Kholifah Utsman bin ‘Affan di dalam meng-qoshor sholat ketika safar waktu haji. Ibnu Mas’ud tetap mengikuti ijtihad Kholifah Utsman untuk tidak meng-qoshor sholat ketika safar, walaupun beliau tidak setuju dan menentang keras karena Rasulullah selalu meng-qoshor sholatnya ketika safar di manapun termasuk ketika haji. Ibnu Mas’ud tetap mengikuti ijtihad Kholifah Utsman walaupun beliau sampai berkata dengan keras bahwa hanya sholat yang diqoshor menjadi dua rekaat itu yang sah dan diterima, sedangkan sholat empat rekaat yang tidak di-qoshor itu tidak.

Dari ‘Abdurrahman bin Yazid, ia berkata,

صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَقِيلَ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظِّى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

“Utsman pernah shalat bersama kami di Mina sebanyak empat raka’at. Hal itu lantas diceritakan pada ‘Abdullah bin Mas’ud, kemudian Ibnu Mas’ud beristirja’ (mengucapan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Kemudia Ibnu Mas’ud berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina sebanyak dua raka’at, bersama Abu Bakar Ash Shiddiq di Mina sebanyak dua raka’at, bersama ‘Umar bin Al Khattab di Mina sebanyak dua raka’at. Andai saja ‘Utsman mengganti empat raka’at menjadi dua raka’at yang diterima.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kholifah Utsman ber-ijtihad akan hal ini untuk mengajari para kaum Muslimin yang berkumpul di musim Haji, bahwa sholat dhuhur itu 4 rekaat bukan 2 rekaat, sholat ‘Ashar itu 4 rekaat dan bukan 2 rekaat, dan seterusnya.

Ini dilakukan karena kekuasaan Islam berkembang dengan luas dan semakin banyak orang yang masuk Islam. Sehingga jangan sampai karena mereka baru masuk Islam dan kurang faham mengenai hukum-hukum Islam, lalu menganggap Sholat Dhuhur dan Ashar itu sebenarnya hanya 2 rekaat saja bukan 4 rekaat, karena ikut sholat berjama’ah dengan Kholifah kaum Muslimin. Walloohu A’lam

Ibnu Mas’ud tetap ikut sholat empat rekaat di belakang kholifah Utsman, walau beliau berpendapat bahwa sebenarnya hal itu tidak sah dan tidak diterima. Dan ketika di hadits lain Ibnu Mas’ud ditanya kenapa dia mencela ijtihad Kholifah Utsman, namun tetap mengikuti sholat dibelakang Kholifah Utsman maka beliau menjawab, الخلاف شرٌّ “ (perselisihan itu tercela)!

عن عبد الرحمن بن يزيد قال : صلّى عثمان بمنىً أربعاً، فقال عبد اللّه بن مسعود: صليت مع النبي صلى اللّه عليه وسلم ركعتين، ومع أبي بكر ركعتين، ومع عمر ركعتين، زاد عن حفص: ومع عثمان صدراً من إمارته ثم أتمّها، …ثمَّ تفرَّقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين، قال الأعمش: فحدثني معاوية بن قرة عن أشياخه أن عبد اللّه صلى أربعاً قال: فقيل له: عبت على عثمان ثم صليت أربعاً قال: الخلاف شرٌّ.

Dari ‘Abdurrahman bin Yaziid, ia berkata : ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam)”.

Akan tetapi kemudian Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”. Maka beliau menjawab : “Khilaaf (perselisihan) itu jelek” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1960; shahih]

  1. Melakukan sholat Idul Fitri di lapangan terbuka (musholla) bersama seluruh kaum muslimin, karena ini sekaligus sebagai syi’ar ummat Islam.

Perincian mengenai sholat Ied akan penulis bahas dalam topik tersendiri insya Allah.

  1. Bergembira ria di hari raya Idul Fitri dengan makan dan minum, serta diharamkan untuk berpuasa pada hari ini.

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melihat hadits ini maka kita mafhum bahwasanya makan dan minum di hari Idul Fitri itu sebenarnya bermakna ibadah dan berpahala insya Allah, ini karena kita mengikuti aturan syari’at yang melarang untuk berpuasa pada hari itu.

Betapa gembiranya kita bahwa makan dan minum itu dihitung sebagai suatu ibadah yang berpahala, pada hari Idul Fithri ini. Sungguh suatu cara ibadah mendekatkan diri yang enak, mudah, dan menyenangkan.

MASALAH SHOLAT IED : SUNNAH-SUNNAH SEBELUM DAN KETIKA PERGI SHOLAT IED

Setelah terbit keputusan pemerintah kapan kita berhari raya Idul Fitri, maka terdapat sunnah-sunnah yang Rasulullah contohkan, yang sebaiknya kita lakukan ketika hendak pergi ke lapangan untuk melakukan Sholat Ied.

Sunnah-sunnah tersebut adalah,

  1. Memberikan zakat fithri kepada fakir miskin

Hal ini sebenarnya bukanlah suatu sunnah (contoh rasulullah) yang berhukum sunnah (yang berpahala jika dikerjakan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan). Akan tetapi ini adalah termasuk sunnah yang berhukum wajib bagi yang mampu.

Masalah zakat fithri ini sedikit penulis tuliskan lagi di sini, sekedar sebagai pengingat walau penulis sudah membahasnya secara panjang lebar di topik tersendiri. Hal ini karena Rasulullah memang membolehkan untuk memberikan zakat fithri sebelum sholat Ied dilaksanakan. Bahkan sebagian ulama berkata bahwa ini adalah waktu yang paling afdhol. Waloohu A’lam

Prakteknya adalah ketika kita hendak berangkat ke lapangan tempat sholat ied (musholla) sambil membawa zakat fithri kita, maka ketika kita melihat Fakir Miskin di sepanjang jalan kita langsung berikan zakat fithri itu langsung kepadanya melalui tangan kita sendiri.

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

 

Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ied maka zakat (fithri) nya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Bagaimana jika kita memberikan zakat fithri dengan cara memberikan kepada panitia pengumpul zakat Fithri sebelum melaksanakan sholat Ied? Hal ini insya Allah juga tidak mengapa. Walloohu A’lam

  1. Mandi sebelum berangkat sholat Ied

Ini hukumnya sunnah saja, andaikata tidak sempat mandi maka sekedar wudhu untuk sholat Ied pun juga tidak mengapa.

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih)

Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)

  1. Makan sebelum berangkat ke tempat sholat Iedul Fithri

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Dari Anas bin Malik berkata, “Pada hari raya Idul Fithri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berangkat untuk melaksanakan shalat hingga beliau makan beberapa butir kurma.”

Murajja’ bin Raja’ berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Beliau makan beberapa kurma dengan bilangan ganjil.” [Hr. Bukhori, Kitab “Al-Jum’ah”, Bab “Al-Aklu yaumal fithri qoblal khuruuj” (Makan sebelum keluar untuk sholat id pada hari raya idul fithri), hadits no. 900)

Berdasarkan hadits di atas maka disunnahkan untuk makan sekedarnya terlebih dahulu sebelum berangkat sholat Ied. DIutamakan kalau bisa makan kurma dan dengan jumlah yang ganjil. Jika tidak ada, maka makan dan minum yang lain sekadarnya juga tidak mengapa.

Ini agar kita tahu bahwa sekarang adalah hari Idul Fithri, yakni hari raya berbuka, dan kita sudah tidak berpuasa lagi. Maka dari itulah disunnahkan bagi kita untuk makan sedikit sekedarnya sebelum berangkat sholat Ied.

Adapun untuk sholat Iedul Adha berlaku hal yang sebaliknya. Yakni disunnahkan agar tidak makan dan minum dulu, hingga pulang dari sholat Iedul Adha.

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Memakai pakaian yang bagus untuk sholat Ied

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَلْبَثَ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ وَأَرْسَلْتَ إِلَيَّ بِهَذِهِ الْجُبَّةِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِيعُهَا أَوْ تُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ

Bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “‘Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian ia diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga tuan bisa memperbagus penampilan saat shalat ‘Ied atau ketika menyambut para delegasi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat).”

Kemudian Umar tidak nampak untuk beberapa waktu lamanya menurut apa yang Allah kehendaki, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengirimkan kepada ‘Umar sebuah jubah yang terbuat dari sutera. Maka Umar pun membawanya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, tuan telah memberikan pakaian ini untukku, padahal tuan telah berkata, ‘Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat) ‘. Lalu mengapa tuan mengirimnya buat saya?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya: “Juallah, atau beliau mengatakan, ‘dengannya engkau bisa memenuhi kebutuhanmu.” [Hr. Bukhari, Hadits no 896]

Faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah pada perkataan Umar bin Khoththob “يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ “ (Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga tuan bisa memperbagus penampilan saat shalat ‘Ied atau ketika menyambut para delegasi).

Rasulullah tidak berkomentar apapun mengenai anjuran Umar dalam masalah memperbagus pakaian yang digunakan untuk sholat Ied, sehingga difahami Rasulullah mensetujuinya dan ini menjadi sunnah untuk memakai pakaian yang bagus untuk sholat Ied. Walloohu A’lam

Adapun yang Rasulullah cela dan tidak setujui adalah masalah laki-laki memakai pakaian dari sutera, akan tetapi tidak terlarang untuk mengambil harganya dengan menjualnya. Ini adalah faedah lain yang bisa diambil dari hadits ini. Walloohu A’lam

Disini yang ditekankan adalah memperbagus penampilan, dengan mengenakan pakaian yang bagus. Bukan untuk membeli pakaian yang baru. Bagus tidak harus selalu baru, dan tidak perlu untuk memaksakan diri.

  1. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali).” [Hr. Bukhori, Kitab “Al-Jum’ah”, Bab “Man kholafath thoriiq idzaa roja’a yaumal ‘ied”, hadits no. 933]

Hikmah dari menempuh jalan yang berbeda ini adalah, agar bisa bertemu dengan banyak muslimin yang berbeda-beda sehingga bisa saling bersalaman dan saling mendoakan. Serta agar semakin memperluas syi’ar Islam di tempat yang berbeda. Walloohu A’lam

  1. Disunnahkan untuk pergi ke tempat sholat ‘Ied dengan cara berjalan kaki

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنْ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَخْرُجَ الرَّجُلُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ يَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ لِصَلَاةِ الْفِطْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَرْكَبَ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Dari Ali bin Abu Thalib dia berkata,

“Menurut sunnah, hendaknya kamu keluar untuk shalat Ied dengan berjalan kaki, dan memakan sesuatu sebelum keluar rumah.”

Abu Isa (yakni imam At-Tirmidzi –tamb) berkata, hadits ini hasan, dan diamalkan oleh kebanyakan para ahli ilmu bahwa mereka menyukai seseorang keluar menuju shalat Ied dengan berjalan kaki, dan makan sesuatu sebelum keluar untuk shalat Iedul Fitri. Abu Isa berkata, dan disukai juga hendaknya tidak berkendara kecuali karena udzur.

[HR. Tirmidzi, hadits no. 487]

  1. Banyak melakukan takbir pada waktu menuju ke tempat sholat Ied hingga dilaksanakan sholat Ied

Banyak melakukan takbir, atau yang di Indonesia sering disebut sebagai “takbiran”, setelah terbenam matahari pada hari terakhir romadhon dan masuk malam pertama 1 syawwal, setelah ditetapkan waktu 1 syawwal oleh pemerintah dengan cara melihat hilal (ru’yatul hilal).

Sekedar tambahan, bahwasanya perhitungan kalender waktu dalam Islam menggunakan perhitungan qomariyyah (perhitungan berdasarkan gerakan evolusi bulan, atau lunar system). Bukan menggunakan perhitungan syamsiyyah (perhitungan berdasarkan gerakan matahari, atau solar system) yang umumnya dipakai dalam penanggalan masehi (atau miladiyyah) yang dipakai untuk penanggalan di Indonesia ini.

Awal hari dalam perhitungan qomariyyah dimulai sejak matahari tenggelam dan malam adanya bulan datang, hingga matahari tenggelam lagi. Atau dengan kata lain, dihitung mulai dari maghrib ke maghrib lagi. Bukan seperti perhitungan syamsiyyah dalam penanggalan masehi, yang dimulai dari jam 00.00 hingga ke jam 24.00.

Sehingga dalam aplikasinya, hari terakhir kita berpuasa itu, yakni ketika datang maghrib dan selesai kita berpuasa, maka malamnya itu sudah dihitung masuk tanggal 1 syawwal dan masuk bulan baru. Oleh karena itu malamnya pada waktu puasa terakhir itu kita sudah tidak sholat Tarawih lagi, dan mulai boleh untuk takbiran.

Dalil untuk hal ini adalah firman Allah,

وَ لِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu menggenapkan hitungan (hari Ramadan), dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah (الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ ) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.s. Al-Baqarah:185)

Ibnu Abbas mengatakan, “Wajib bagi kaum muslimin –apabila mereka telah melihat hilal Syawal– untuk bertakbir, mengagungkan Allah sampai selesai hari raya mereka.” (Tafsir Zadul Masir untuk ayat ini)

Jadi awal waktu takbiran adalah setelah matahari terbenam pada hari terakhir romadhon. Dan berakhirnya adalah setelah selesai sholat Iedul Fithri sesuai dengan hadits berikut ini,

Dari Ibnu Abi Dzi’bin dari Az-Zuhri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan pada Idul Fithri. Beliau bertakbir hingga tiba di lapangan dan sampai selesai shalat. Setelah selesai shalat, beliau menghentikan takbir. (H.r. Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

***

Sekedar tambahan :

Waktu untuk mulai dan berakhirnya takbiran atau bertakbir itu beda antara Idul Fithri dan Idul Adha. Untuk Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 dzulhijjah, takbiran atau memperbanyak takbir itu dimulai sejak tanggal 1 dzulhijjah. Dan berakhir setelah selesai hari tasyrik, yakni pada tanggal 13 dzulhijjah.

Akan tetapi sayangnya, praktek memperbanyak takbir di Indonesia ini untuk Idul Adha ini umumnya hanya disamakan pada waktu berangkat untuk sholat Idul Adha hingga sampai hewan sembelihan selesai disembelih. Padahal sebenarnya waktunya lebih panjang dari itu. Walloohu A’lam

***

Bagaimanakah bacaan dan sifat bertakbirnya?

Adapun untuk sifatnya adalah bertakbir sendiri-sendiri di antara waktu-waktu itu, di sembarang tempat untuk memperlihatkan syi’ar kegembiraan menyambut Idul FIthri. Jadi tidak dibatasi hanya ketika berada di masjid saja, ataupun ketika dalam perjalanan menuju tempat sholat Ied hingga sholat Ied saja.

Karena sifatnya adalah sendiri-sendiri, maka tidak perlu dikomandoi untuk takbiran dan juga tidak perlu memakai pengeras suara. Apalagi dengan melakukan konvoi yang memacetkan jalanan sambil membawa bedug ke mana-mana. Hal ini justru malah membikin madhorot.

Untuk bacaan takbir maka Rasulullah memang tidak memperinci-nya. Oleh karena itu riwayat bacaan Takbir dari para shahabat pun berbeda-beda.

Misal takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud rodhiyalloohu anhu adalah :

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ، وَ الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ

(H.r. Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Lafal takbir yang lain lagi dari Ibnu Mas’ud rodhiyalloohu anhu :

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ، وَ الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ

(H.r. Ibnu Abi Syaibah)

Lafal takbir dari shahabat Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu :

لله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، و للهِ الحَمدُ ، الله ُأَكبَرُ و أَجَلُّ ، الله ُأَكبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

(H.r. Al Baihaqi, dalam As-Sunan Al-Kubra; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Lafal takbir dari shahabat Salman Al-Farisi rodhiyalloohu ‘anhu :

الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ ، الله ُأَكبَرُ  كَبِيراً

(H.r. Abdur Razaq; sanadnya dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar)

Lafal-lafal takbir dari para shahabat rodhiyalloohu ‘anhum itu adalah lafal takbir paling utama untuk kita ikuti. Akan tetapi lafal-lafal takbirnya tidak dibatasi oleh itu saja. Hal ini karena keumuman perkataan “dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah (الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ )“dari QS Al-Baqarah : 185, dan juga karena Rasulullah memang tidak pernah mengajarkan lafal takbir yang spesifik dan tertentu.

Sehingga jika ada lafal takbir yang digunakan yang selain dari riwayat dari para shahabat itu, maka hal itu insya Allah tidak mengapa. Walloohu A’lam

  1. Saling mendo’a-kan antara satu sama lain ketika bertemu

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

[Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.]

Saling mendoakan dengan do’a “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian) ” ketika saling bertemu ini, bisa dilakukan baik ketika bertemu berangkat sebelum sholat ‘Ied, ataupun ketika saling bertemu setelah sholat ‘Ied.

Do’a inilah yang tepat dengan maksud dan tujuan ibadah selama bulan Ramadhan. Karena tujuan banyak melakukan ibadah di bulan Ramadhan adalah agar kita diampuni dosanya, dan bisa meraih pahala sebanyak-banyaknya. Maka dari itulah kita saling mendoakan agar seluruh amalan kita diterima oleh Allah subhaanahu wa ta’ala.

Adapun saling mengucapkan “Selamat hari raya Idul FItri”, maka hal itu juga tidak mengapa. Baik dengan diiringi saling bersalaman dan saling berpelukan. Karena ini adalah hari raya dan hari kegembiraan, maka sudah sewajarnya untuk saling mengucapkan selamat.

Syeikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya: Apa hukum mengucapkan selamat hari raya?, apakah upacan selamat tersebut memiliki redaksi tertentu?

Beliau menjawab:

“Ucapan selamat hari raya itu boleh-boleh saja, dan tidak ada redaksi tertentu, dan apa yang biasa dilakukan dan diucapkan oleh masyarakat itu boleh-boleh saja, selama tidak mengandung dosa”.

Beliau juga berkata: “Ucapan selamat hari raya itu telah dilakukan oleh sebagian para sahabat –radhiyallahu ‘anhum-. Kalau saja kita anggap mereka tidak melakukannya, ucapan selamat itu sekarang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat, mereka saling mengucapkan selamat satu sama lain dengan datangnya hari raya, dan telah menyempurnakan puasa dan qiyam lail”.

Beliau juga ditanya: Apa hukumnya berjabat tangan, berpelukan, dan ucapan selamat seusai shalat id?

Beliau menjawab:

“Semua itu boleh dilakukan; karena umat tidak menjadikannya sebagai sarana ibadah dan bertaqarrub kepada Allah, akan tetapi mereka menjadikannya sebagai kebiasaan, dan penghormatan. Selama menjadi kebiasaan dan tidak ada larangan dari agama, maka hukum dasar kebiasaan itu mubah”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin. 16/208-210).

Lihat : https://islamqa.info/id/49021

Adapun mengenai tambahan ucapan “mohon maaf lahir batin” dan “minal aidzin wal faizin”, maka ini kembali kepada adat kebiasaan dan kebudayaan orang Indonesia. Dan ucapan ini sebenarnya tujuan dan maknanya itu salah dan tidak benar. Baik dari makna dan tujuan puasa Ramadhan, ataupun dari makna dan tujuan hari raya Idul Fitri itu sendiri.

Hal ini akan kita bahas sendiri dalam topik bolehkah unsur budaya masuk untuk turut merayakan kegembiraan hari raya Idul Fithri, insya Allah

MASALAH SHOLAT IED : TEMPAT DAN CARA MELAKUKAN SHOLAT IED

Tempat Sholat Ied

Tempat sholat Ied adalah di tanah lapang yang luas, yang mana kaum muslimin dalam jumlah banyak dapat berkumpul dan bersama-sama melaksanakan sholat Idul Fithri. Hadits-hadits yang menyebutkan dengan lafal Musholla (مُصَلَّى , yang secara harfiah berarti tempat sholat) di dalam hadits riwayat Bukhori ataupun riwayat Muslim, maka yang dimaksud adalah tanah lapang yang luas. Bukan bangunan masjid.

Ini karena terdapat hadits bahwasanya Rasulullah pernah melaksanakan sholat Ied di musholla (tanah lapang) lalu turun hujan, hingga kemudian tempat sholat Ied dipindahkan ke dalam masjid agar tidak hujan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَصَلَّى بِهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ

Dari Abu Hurairah berkata; bahwa kami pernah kehujanan pada waktu pelaksanaan shalat Ied, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya di masjid.” [HR. Abu Daud, kitab “Ash sholaah”, bab “Yusholli binnaasi al-‘iid fil masjidi idzaa kaana yaum mathor” (Sholat Ied di Masjid bersama manusia ketika hujan”, hadits no.980. Diriwayatkan juga dalam Ibnu Majah, hadits no. 1303]

Oleh karena itu hadits ini terang menjelaskan bahwa arti musholla yang dimaksud adalah tanah lapang, bukan masjid. Maka tempat yang paling utama untuk melaksanakan sholat Ied adalah di tanah lapang bukan di dalam masjid. Masjid hanya dijadikan alternative saja jikalau terjadi hujan.

Selain itu telah disebutkan sebelumnya, bahwa Rasulullah ketika berjalan berangkat ke tempat sholat Ied, beliau menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan kembalinya. Padahal rumah Rasulullah dan istri-istrinya itu sangat berdekatan di samping masjid Nabawi. Maka apa maksudnya dengan menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan kembalinya?

Hal ini tidak lain karena tempat sholat Ied itu dilakukan di tanah lapang yang jauh dari rumah Rasulullah, dan bukan dilaksanakan di masjid Nabawi.

Hikmah lain dari sholat Ied dilaksanakan di tanah lapang adalah agar syi’ar Islam makin luas dan makin tampak. Walloohu A’lam

Cara Melakukan Sholat Ied

  1. Sholat Ied dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari terbit.

أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا، وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ

Ada seorang sambil menunggang kendaraan datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ia bersaksi bahwa telah melihat hilal di sore hari. Lalu Nabi memerintahkan orang-orang untuk berbuka dan memerintahkan besok paginya berangkat ke mushola (tanah lapang)” (HR. At Tirmidzi no.1557, Abi Daud no.1157 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits yang diambil faedahnya untuk masalah waktu sholat Ied adalah pada perkataan “، وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ “ (dan memerintahkan jika telah datang waktu pagi untuk berangkat ke tanah lapang).

Para ulama memperinci, bahwa waktu pagi hari yang dimaksud itu adalah pada waktu dhuha. Yakni ketika tinggi matahari kira-kira masih setinggi tombak, dan berakhir ketika waktu zawal (waktu mulai tergelincirnya matahari ke arah barat, yakni waktu dzuhur). Maka dari itulah jangka waktu untuk sholat Ied itu sebenarnya panjang.

Berkata Ibnul Qayyim rohimahulloh:

“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Dan adalah Ibnu Umar -dengan kuatnya upaya dia untuk mengikuti sunnah Nabi- tidak keluar hingga matahari terbit” [Zadul Ma’ad 1/442]

Shiddiq Hasan Khan rohimahulloh berkata :

“Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah setelah tingginya matahari seukuran satu tombak sampai tergelincir. Dan terjadi ijma (kesepatakan) atas apa yang diambil faedah dari hadits-hadits, sekalipun tidak tegak hujjah dengan semisalnya. Adapun akhir waktunya adalah saat tergelincir matahari” [Al-Mau’idhah Al-Hasanah 43,44]

Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi rohimahulloh :

Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat Idul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat Idul Fithri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka” [Minhajul Muslim 278]

Dan khusus untuk waktu sholat iedul Fithri, maka sebaiknya diakhirkan agar masih ada waktu untuk mengeluarkan zakat Fithri. Bahkan waktu ini sebenarnya adalah waktu yang paling afdhol, sebagaimana hadits Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ied maka zakat (fithri) nya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Adapun khusus untuk sholat Iedul Adha, maka sebaiknya adalah diawalkan. Oleh karena itu Imam Al-Bukhori dalam shohih-nya, dalam kitab “Al-Jumu’ah”, membuat bab khusus berjudul “At-Tabkiiru ilaa ‘iid” (Menyegerakan pelaksanaan sholat ‘ied). Dan meriwayatkan hadits berikut ini,

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ فَقَامَ خَالِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّيَ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا أَوْ قَالَ اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِيَ جَذَعَةٌ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

Dari Al Bara’ berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (penyembelihan kurban), beliau sabdakan:

Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari Raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti itu berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah kurban.”

Tiba-tiba pamanku, Abu Burdah bin Niyar, berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan sebelum aku shalat, namun aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun.” Maka beliau pun bersabda: “Jadikanlah ia sebagai pengganti (dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat).” Atau beliau mengatakan: “Sembelihlah, namun hal itu tidak mencukupi oleh orang selainmu.” [HR. Bukhori, hadits no. 915]

Faedah hukum yang di ambil dari hadits ini adalah pada perkataan Rasulullah “أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ “ (Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari Raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan kurban). Sehingga waktu pelaksanaan sholat Iedul Adha yang paling afdhol adalah pada awal waktu, karena hadits ini berkaitan dengan sholat dhuha.

Praktek pelaksanaan waktu sholat Ied di Indonesia

Adapun waktu pelaksanaan sholat Ied di Indonesia, baik di sholat Iedul Fithri ataupun sholat Iedul Adha umumnya hampir-hampir disamakan saja. Yakni pada awal waktu, sekitar jam 06.00 – 07.00 WIB pagi hari. Tidak dibedakan antara hikmah diawalkannya waktu sholat Ied untuk Idul Adha, dan diakhirkan untuk waktu Idul Fithri.

Sangat disayangkan. Padahal dalil-dalil dari Rasulullah menunjukkan hal yang berbeda, demikian juga perkataan para Ulama.

Ataukah mungkin kebanyakan ummat Muslim di Indonesia mengambil keumuman faedah perkataan Imam Bukhori “At-Tabkiiru ilaa ‘iid” (Menyegerakan pelaksanaan sholat ‘ied) yang ditulis dalam bab di shohih bukhorinya secara umum? Sehingga menganggap itu berlaku untuk semua jenis sholat Ied. Walloohu A’lam.

  1. Tidak ada adzan dan iqomah sebelum sholat Ied

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَا لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلَا يَوْمَ الْأَضْحَى ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِينٍ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَنِي قَالَ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ أَنْ لَا أَذَانَ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الْإِمَامُ وَلَا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلَا إِقَامَةَ وَلَا نِدَاءَ وَلَا شَيْءَ لَا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلَا إِقَامَةَ

Dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al Anshari keduanya berkata; “Tidak pernah dikumandangkan adzan pada saat Iedul Fithri dan tidak pula pada saat shalat Iedul Adlha.”

Kemudian setelah itu, saya menanyakan hal itu kepadanya, maka ia pun mengabarkan kepadaku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Jabir bin Abdullah Al Anshari bahwasanya; “Tidak ada adzan untuk shalat Iedul Fithri saat Imam keluar, atau setelah keluarnya Imam. Dan tidak ada pula Iqamah, pengumuman serta tidak ada pula yang lain, tidak ada adzan dan tidak pula Iqamah.” [Hr. Muslim, hadits no. 1468]

  1. Tidak melakukan sholat sunnah baik sebelum sholat Ied ataupun setelah sholat ied

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا وَمَعَهُ بِلَالٌ

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada Hari Raya ‘Iedul Fitri, beliau melaksanakan shalat dua rakaat, tanpa melaksanakan shalat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beliau bersama Bilal radliallahu ‘anhu.” [Hr. Bukhari, hadits no. 935]

  1. Sholat Ied dilakukan sebanyak 2 rekaat, dengan cara 7 kali bertakbir (takbir zawaaid atau takbir tambahan) setelah takbiratul ikrom pada rekaat pertama, dan 5 kali bertakbir (takbir zawaaid atau takbir tambahan) setelah takbir intiqol di rekaat kedua untuk bangun dari sujud.

عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ قَالَ سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Iedul Fithri dan Adha dan biasa takbir tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua.”

Telah menceritakan kepada kami [Ibnu As Sarh] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Lahi’ah] dari [Khalid bin Yazid] dari [Ibnu Syihab] dengan sanad dan maksud yang sama, katanya; “Selain takbir untuk ruku’.” [Hr. Abu Daud, Kitab Ash-sholaah, bab “At-Takbiir fii Iidain” (Takbir pada sholat dua hari raya), hadits no. 970]

Takbir zawaaid itu (takbir tambahan) dilakukan juga dengan cara melakukan mengangkat tangan sebagaimana takbiratul ikrom, sebagaimana riwayat praktek yang dilakukan oleh Shahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu. Hal ini disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab Zaadul Ma’ad

Akan tetapi syaikh Albani rahimahulloh mengkritik di kitab Tamamul Minnah, bahwa sebenarnya riwayat Ibnu Umar mengangkat tangan untuk bertakbir pada takbir zawaid itu sebenarnya hadits nya lemah. Namun di dalam kitab ahkamul janaiz syaikh Albani rohimahulloh berkata ““Siapa yang menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka silakan ia untuk mengangkat tangan ketika bertakbir”

[Lihat kitab Ahkamul Iedain oleh Syaikh Ali Al Halabi Al Atsari hafidzhulloh]

Mungkin jika ada pertanyaan kenapa pembahasan sholat Ied ini sampai dikaitkan dengan masalah sholat jenazah, bahkan sampai membawa kitab Ahkamul Janaiz (Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah Jenazah) tulisan Syaikh Albani rohimahulloh yang lain?

Ini karena adanya hadits “cara lain” dalam masalah takbir di sholat Ied yang sama seperti di sholat jenazah, maka dari itu pembahasan masalah mengangkat tangan ketika di takbir zawaid dalam sholat Ied pun juga dibawa ke dalam pembahasan itu. Hadits yang dimaksud adalah,

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْعَاصِ سَأَلَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ وَحُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ فَقَالَ أَبُو مُوسَى كَانَ يُكَبِّرُ أَرْبَعًا تَكْبِيرَهُ عَلَى الْجَنَائِزِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ صَدَقَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى كَذَلِكَ كُنْتُ أُكَبِّرُ فِي الْبَصْرَةِ حَيْثُ كُنْتُ عَلَيْهِمْ و قَالَ أَبُو عَائِشَةَ وَأَنَا حَاضِرٌ سَعِيدَ بْنَ الْعَاصِ

Bahwa Sa’id bin Al ‘Ash bertanya kepada Abu Musa Al Asy’ari dan Hudzaifah bin Yaman; “Bagaimanakah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir pada hari raya Adha dan Fithri?”

Abu Musa menjawab; “Biasanya beliau bertakbir empat kali, sebagaimana shalat jenazah.” Hudzaifah menimpali; “Dia benar.” Abu Musa berkata; “aku juga bertakbir seperti itu ketika di Bashrah, ketika aku menjadi pemimpin mereka (penduduk Bashrah).” Abu Aisyah berkata; “Aku juga ikut hadir ketika Sa’id bin Al Ash mengajukan pertanyaan tersebut.” [Hr. Abu Daud, Kitab Ash-sholaah, bab “At-Takbiir fii Iidain” (Takbir pada sholat dua hari raya), hadits no. 973]

Ini adalah “cara lain” dalam masalah takbir. Adapun yang penulis kuatkan adalah cara 7 takbir dalam rekaat pertama, dan 5 takbir dalam rekaat kedua.

Walloohu A’lam

Adapun mengenai adanya suatu bacaan atau dzikir tersendiri di antara takbir zawaid itu, maka tidak ada riwayat dari Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi ada riwayat dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyalloohu ‘anhu yang berkata,

بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيْرَتَيْنِ حَمْدُ لِلّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَثَنَاءٌ عَلَى اللَّهِ

“Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla” [Dikatakan oleh Syaikh Ali Al-Halabi dalam kitab Ahkamul Iedain : Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus)]

Jadi boleh berdzikir untuk memuji Allah di antara takbir zawaid tersebut dengan jenis dzikir yang tidak ditentukan. Dan boleh juga untuk diam. Ini karena tidak ada petunjuk khusus dari Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini, dan Ibnu Mas’ud juga tidak memerinci masalah apa bacaan dzikir pujian dan sanjungan yang diucapkan. Walloohu A’lam

  1. Imam disunnahkan untuk membaca surat Qoof pada rekaat pertama dan surat Al-Qomar pada rekaat kedua. Atau surat Al-A’laa pada rekaat pertama dan surat Al-Ghosiyah pada rekaat kedua.

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ أَبَا وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ مَا كَانَ يَقْرَأُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ فَقَالَ كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ وَاقْتَرَبَتْ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Dari Ubaidullah bin Abdullah bahwasa Umar bin Al Khaththab pernah bertanya kepada Abu Waqid Al Laitsi, “Surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat Iedul Adlha dan Iedul Fithri?” ia menjawab, “Beliau membaca surat ‘QAAF WAL QUR`ANIL MAJIID’ (surat Qoof) dan ‘IQTARABATIS SAA’ATU WAN SYAQQAL QAMAR.(surat Al-Qomar)'” [Hr. Muslim, kitab Sholaatul ‘iedain, bab “Maa qoro-a bihi fii sholaatil ‘iedain” (apa yang dibaca pada sholat dua hari raya), hadits no. 1477]

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ و حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

Dari Nu’man bin Basyir ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu.” [Hr. Muslim, Kitab Al-Jumu’ah, bab Maa yaqro-a fii sholaatil jumu’ah (bacaan pad sholat jum’at), hadits no. 1452]

  1. Imam menyampaikan khotbah setelah selesai sholat Ied

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar, mereka semua menunaikan shalat dua hari raya sebelum khutbah. [Hr. Muslim, kitab Sholaatul ‘iedain, hadits no. 1471]

Khothbah sholat Ied ini hukumnya sunnah untuk didengarkan, dan boleh untuk ditinggalkan sebelum selesai jika ada perlu. Berbeda dengan khothbah sholat jum’at yang hukumnya wajib untuk didengarkan.

عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ حَضَرْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِنَا الْعِيدَ ثُمَّ قَالَ قَدْ قَضَيْنَا الصَّلَاةَ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

Dari ‘Atho’ dari Abdullah bin As Sa`ib ia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shalat ‘ied bersama kami kemudian bersabda:

“Kita telah selesai melaksanakan shalat, maka barangsiapa ingin duduk mendengar khutbah hendaklah ia duduk, dan barangsiapa ingin pergi hendaklah ia pergi. ” [Hr. Ibnu Majah, Kitab “Iqoomatush sholaah wa sunnatu fiihaa”, Bab “maa jaa-a fii intadzor al-khuthbah ba’dash sholaah” (Menunggu khuthbah setelah sholat (hari raya)), hadits no. 1280]

  1. Imam secara khusus mendatangi tempat sholat wanita setelah selesai khothbah, untuk memberikan nasehat khusus bagi wanita dan menghasung mereka untuk bersedekah.

ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُا أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ قَالَ ثُمَّ خَطَبَ فَرَأَى أَنَّهُ لَمْ يُسْمِعْ النِّسَاءَ فَأَتَاهُنَّ فَذَكَّرَهُنَّ وَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ وَبِلَالٌ قَائِلٌ بِثَوْبِهِ فَجَعَلَتْ الْمَرْأَةُ تُلْقِي الْخَاتَمَ وَالْخُرْصَ وَالشَّيْءَ

Ibnu Abbas berkata; “Saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ied terlebih dahulu sebelum berkhutbah. Setelah menyampaikan khutbah beliau mengira bahwa kaum wanita belum mendengarnya, maka beliau pun mendatangi mereka dan mengingatkan mereka, memberi nasehat serta memerintahkan mereka untuk bersedekah, sementara Bilal membentangkan kainnya. Akhirnya kaum wanita pun meletakkan cincin dan kalung-kalung mereka (di atas hamparan kain Bilal).” [Hr. Muslim, Kitab Sholaatul ‘iedain, hadits no. 1465]

Rasulullah mendatangi tempat sholat wanita karena ada sebab khususnya sebagaimana perkataan Ibnu Abbas “أَنَّهُ لَمْ يُسْمِعْ النِّسَاءَ فَأَتَاهُنَّ فَذَكَّرَهُنَّ وَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ “ (beliau mengira bahwa kaum wanita belum mendengarnya, maka beliau pun mendatangi mereka dan mengingatkan mereka, memberi nasehat serta memerintahkan mereka untuk bersedekah).

Yakni karena sholat Ied dan khothbah dilakukan di tempat lapang, maka sangat mungkin suara khothbah rasulullah tidak terdengar sampai di shoff wanita di belakang. Oleh karena itu, maka rasulullah pun khusus mendatangi shoff kaum wanita untuk memberikan nasehat dan menghasung mereka untuk berkhothbah.

Adapun pada zaman sekarang ini, penulis berpendapat bahwa hal itu sudah kurang relevan. Karena dengan adanya sound system yang canggih pada zaman sekarang suara khuthbah sang Imam bisa terdengar hingga sampai shoff wanita dengan jelas. Adapun untuk masalah hasungan untuk shodaqoh, biasanya pada zaman modern ini sudah disediakan kotak-kotak infaq yang khusus di tempat sholat Ied. Bahkan di sebagian pelaksanaan sholat Ied, ada petugasnya khusus yang berkeliling guna masalah shodaqoh itu. Pada bagian yang wanita ada petugasnya sendiri, dan pada yang laki-laki juga ada petugasnya sendiri.

Walloohu A’lam

MASALAH SHOLAT IED : HUKUM DAN ANJURAN UNTUK MENDATANGI TEMPAT SHOLAT IED

Para ulama berbeda pendapat masalah hukum sholat Ied. Jumhur Ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah, sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat hukumnya adalah wajib.

Letak khilaf perbedaan pendapat para ulama adalah pada bagaimana memahami hadits kuatnya hasungan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam untuk mendatangi lapangan tempat sholat Ied. Bahkan saking kuatnya hasungan itu, Rasulullah sampai menyuruh para wanita untuk ikut keluar ke tempat sholat ‘Ied yang terbuka itu.

Baik itu dari kalangan wanita remaja, wanita yang dipingit, dan juga wanita haidh. Tentu saja wanita haidh tidak ikut sholat Ied, hanya disuruh untuk hadir di tempat sholat Ied saja.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ بِالْخُرُوجِ فِي الْعِيدَيْنِ وَالْمُخَبَّأَةُ وَالْبِكْرُ قَالَتْ الْحُيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ

Dari Ummu Athiyyah ia berkata; Kami diperintahkan untuk turut keluar pada dua hari raya, demikian juga para para gadis. Dan para wanita yang sedang haid juga keluar, namun mereka berada di belakang jamaah dan ikut bertakbir bersama mereka. [Hr. Muslim, hadits no.1474]

Bahkan untuk wanita yang tidak mempunyai baju kurung (jilbab), Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sampai menyuruh agar saudari se-Islamnya yang lain meminjamkan jilbabnya yang berlebih kepada saudarinya yang tidak mempunyai, agar bisa mendatangi tempat sholat Ied.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu Athiyyah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar melakukan shalat idul fithri dan idul Adlha para gadis, wanita haid dan wanita yang sedang dipingit. Adapun mereka yang sedang haidl tidak ikut shalat, namun turut menyaksikan kebaikan dan menyambut seruan kaum muslimin.

Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki baju kurung (jilbab).” Beliau menjawab: “Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memakaikannya.” [Hr. Muslim, hadits no.1475]

Imam Bukhori sendiri bahkan sampai membuat bab berjudul “Khorojash shobbiyaanu ilaa musholla” (Keluarnya anak-anak ke tempat sholat (musholla) (pada hari raya).

Beliau berdalil dengan hadits yang berasal dari persaksian Ibnu Abbas rodhiyalloohu ‘anhu mengenai bagaimana Rasulullah secara khusus mendatangi shoff tempat sholat wanita setelah selesai khothbah Ied, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Sedangkan pada waktu itu Ibnu Abbas masih anak kecil, karena beliau termasuk shoghirush shohabah (shahabat kecil). Walloohu A’lam.

***

Dari hal-hal itulah maka sebagian ulama berpendapat bahwa hukum mendatangi sholat Ied adalah wajib, sedangkan jumhur ulama berpendapat hukumnya adalah sunnah muakkadah.

Di antara kedua pendapat itu, maka penulis lebih menguatkan pendapat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah saja. Hal ini karena adanya hadits shohih yang diriwayatkan oleh Bukhari-Musim, akan keterangan Rasulullah ketika menjawab pertanyaan seorang Arab Badui, bahwa sholat yang diwajibkan itu hanyalah sholat yang lima waktu saja. Walloohu A’lam

Akan tetapi walaupun sholat Ied itu hukumnya sunnah muakkadah, bukan wajib, hendaklah kita tidak meremehkannya. Ini karena sholat Ied itu adalah salah satu syi’ar besar, di antara syi’ar-syi’ar besar Islam lainnya yang sangat dipentingkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Uniknya di Indonesia, kadang kita menemukan fenomena orang-orang yang malas sholat 5 waktu namun ikut untuk sholat Ied! Mereka ikut karena ikut-ikutan saja, atau karena sudah membudaya, atau karena malu tidak ikut berpartisipasi dalam syi’ar besar Islam ini.

Ini adalah hal yang salah. Karena walaupun sholat Ied itu adalah salah satu syi’ar besar Islam yang tidak boleh untuk kita remehkan, namun sholat 5 waktu itu hukumnya wajib untuk dikerjakan dan kedudukannya jauh lebih tinggi prioritasnya dibandingkan sholat Ied.

Ancaman meninggalkan sholat 5 waktu juga jauh lebih besar dan lebih berbahaya, karena sholat 5 waktu merupakan salah satu rukun Islam. Adapun sholat Ied bukanlah termasuk rukun Islam, walaupun termasuk dalam syi’ar Islam yang besar.

MASALAH SHOLAT IED : SUNNAH-SUNNAH KETIKA KEMBALI DARI SHOLAT IED

Sunnah-sunnah kembali dari sholat Ied hanya ada beberapa saja, yakni :

  1. Saling mendo’a-kan antara satu sama lain ketika bertemu

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

[Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.]

Sunnah ini sama seperti pembahasan sunnah-sunnah sebelum dan ketika pergi sholat Ied.

  1. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali).” [Hr. Bukhori, Kitab “Al-Jum’ah”, Bab “Man kholafath thoriiq idzaa roja’a yaumal ‘ied”, hadits no. 933]

Sunnah ini sama seperti pembahasan sunnah-sunnah sebelum dan ketika pergi sholat Ied.

  1. Menyemarakkan kegembiraan hari raya Idul Fithri dengan makan-minum, permainan, dan hal-hal mubah lainnya.

Sunnah pada setiap hari raya ummat Islam adalah dengan cara bergembira. Dan khusus pada hari raya Idul Fithri adalah bergembira dengan cara makan-minum untuk merayakan “hari buka puasa”. Berpuasa pada hari raya Idul Fithri ini hukumnya haram.

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengenai permainan untuk menyemarakkan kemeriahan Idul Fithri, Imam Muslim di shohihnya dalam kitab Sholaatul ‘Iedain, membuat bab berjudul “Ar-rukhshoh fil la’ab alladzii laa ma’shiyah fiihi fii ayyamil ‘iid” (Keringanan untuk bolehnya melakukan permainan ketika hari Ied, selama bukan maksiat).

Dalam bab itu beliau menurunkan hadits-hadits orang-orang habasyah yang bermain tombak di halaman masjid sehabis sholat ‘ied, dua orang wanita budak yang bernyanyi dan memukul rebana/gendang kecil, dan juga perkataan ‘Aisyah agar membiarkan dirinya yang masih merupakan anak wanita kecil untuk bermain.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنًى تُغَنِّيَانِ وَتَضْرِبَانِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَجًّى بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ عَنْهُ وَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَقَالَتْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ وَأَنَا جَارِيَةٌ فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْعَرِبَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ

Dari Aisyah bahwa pada hari-hari di Mina Abu Bakar masuk ke dalam rumahnya, sementara di tempatnya terdapat dua orang budak wanita yang sedang bernyanyi dan memukul rebana, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutup diri dengan kainnya. Kemudian Abu Bakar pun menghentikan keduanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyingkap kainnya dan bersabda: “Biarkanlah keduanya, wahai Abu Bakar. Karena hari-hari ini adalah hari raya.”

Aisyah berkata; “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutupiku dengan kainnya, sementara saya sedang melihat kepada orang-orang Habasyah yang sedang bermain. Saya adalah seorang anak wanita, karena itu berilah kesempatan kepada para anak wanita untuk bermain.” [Hr. Muslim, Kitab Sholaatul ‘Iedain, bab “Ar-rukhshoh fil la’ab alladzii laa ma’shiyah fiihi fii ayyamil ‘iid”, hadits no. 1480]

قَالَتْ عَائِشَةُ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِي وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ لِكَيْ أَنْظُرَ إِلَى لَعِبِهِمْ ثُمَّ يَقُومُ مِنْ أَجْلِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ حَرِيصَةً عَلَى اللَّهْوِ

Aisyah berkata; “Demi Allah sungguh saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah sedang bermain tombak di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menutupiku dengan kainnya agar aku dapat melihat permainan mereka. Kemudian beliau berdiri (agar aku lebih leluasa melihat), sampai saya sendiri yang berhenti (setelah bosan) melihatnya. Karena itu, berilah keleluasaan kepada anak-anak wanita untuk bermain.” [Hr. Muslim, Kitab Sholaatul ‘Iedain, bab “Ar-rukhshoh fil la’ab alladzii laa ma’shiyah fiihi fii ayyamil ‘iid”, hadits no. 1481]

Dari hadits-hadits di atas, maka boleh untuk menyemarakkan dan menggembirakan hari raya Idul Fithri dengan permainan, musik, dan hal-hal mubah lainnya.

Imam Bukhori juga banyak meriwayatkan hadits-hadits semisal itu dengan penyusunan nama bab yang berbeda.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنَى تُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُمْ عُمَرُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُمْ أَمْنًا بَنِي أَرْفِدَةَ يَعْنِي مِنْ الْأَمْنِ

Dari ‘Aisyah, bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu pernah masuk menemuinya pada hari-hari saat di Mina (Tasyriq). Saat itu ada dua budak yang sedang bermain rebana, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi wajahnya dengan kain.

Kemudian Abu Bakar melarang dan menghardik kedua sahaya itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melepas kain yang menutupi wajahnya seraya bersabda: “Biarkanlah wahai Abu Bakar. Karena ini adalah Hari Raya ‘Ied.” Hari-hari itu adalah hari-hari Mina (Tasyriq).”

‘Aisyah berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi aku dengan (badannya) sedangkan aku menyaksikan orang-orang Habasyah yang sedang bermain di dalam masjid. Tiba-tiba ‘Umar menghentikan mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Biarkanlah mereka dengan jaminan Bani Arfidah, yaitu keamanan.” [Hr. Bukhori, hadits no. 934]

BOLEHKAH UNSUR BUDAYA MASUK UNTUK TURUT MERAYAKAN KEGEMBIRAAN HARI RAYA IDUL FITHRI?

Dari hadits masalah orang-orang habasyah (orang Ethiophia) bermain tombak tadi, maka kita tahu bahwa itu adalah “kebudayaan” Habasyah yang sedang dimainkan di dalam halaman masjid.

Demikian juga masalah nyanyian dan alunan rebana yang dibolehkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, walau beliau tidak menyukainya. Yang mana Abu Bakar sampai menghardik dua orang budak wanita yang memainkannya, namun rasulullah mencegahnya.

Kisah Perang Buats yang dinyanyikan oleh budak wanita itu, adalah kisah perang menangnya suku Aus atas suku Khozroj pada zaman sebelum Islam. Dan kemudian dinyanyikan dengan iringan tabuhan rebana. Oleh karena itu, ini termasuk budaya juga.

Oleh karena itu secara hukum asal, unsur budaya boleh-boleh saja masuk merayakan kegembiraan hari raya Idul Fithri, sepanjang itu bukanlah hal yang maksiat ataupun hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Walloohu A’lam.

Adapun unsur budaya yang ikut merayakan hari raya Idul Fithri, yang umumnya ada di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Budaya Mudik untuk bersilaturahim kepada keluarga

Hal ini tidak ada masalah karena bukan hal yang maksiat, dan bahkan justru diperintahkan dalam syariat Islam. Hanya saja ada kritik yang perlu untuk kita sampaikan berkaitan dengan budaya mudik ini.

  • Budaya Mudik ini seringkali mulai dilakukan sebelum hari raya Idul Fithri, karena berkaitan dengan masalah perjalanan. Dan sayangnya ini menjadikan orang-orang yang mudik kurang bisa memanfaatkan kesempatan pada hari-hari terkahir ini untuk melakukan I’tikaf. Padahal sunnah I’tikaf dan keutamaan untuk bisa meraih keutamaan Lailatul Qodr adalah suatu keutamaan Ramadhan yang sangat sayang untuk kita lewatkan.

Kalau bisa hendaknya budaya mudik itu dilakukan setelah sholat Idul Fithri saja, dan inilah tantangan bagi kita semua.

  • Budaya mudik seringkali memberikan angka kecelakaan paling besar, sepanjang sejarah event transportasi, selama setahun di Indonesia. Dan hal ini sangat disayangkan. Oleh karena itu, hendaklah budaya mudik ini jangan sampai “dipaksakan” kalau sampai membahayakan jiwa. Hal ini sangat bertentangan dengan syari’at.

 

  1. Budaya makan opor ayam dan ketupat, juga mempersiapkan membikin kue-kue lebaran untuk persiapan menyambut tamu ketika hari lebaran.

Hal ini tidak masalah, dan ini adalah hal yang bagus. Hanya saja janganlah sampai waktu untuk mempersiapkan berbagai macam makanan itu, mensia-siakan hari-hari terakhir romadhon untuk menyambut Lailatul Qodr.

  1. Budaya memberikan uang kertas baru dengan nilai kecil (receh), kepada anak-anak kecil (tetangga, kerabat, dan lain-lain) yang berkunjung ke rumah.

Hal ini mubah dan tidak mengapa. Hanya saja praktek jual beli “uang dengan uang” untuk mendapatkan uang kertas baru (receh) guna persiapan untuk diberikan kepada anak-anak kecil itu, yang mana uang kertas receh baru itu dibayar dengan harga sedikit lebih tinggi, maka itu termasuk riba yang harus dihindarkan.

Seharusnya kalau memang sudah tidak ada uang kertas baru, maka tidak mengapa dengan uang kertas yang lama dan lusuh saja dari pada harus membeli uang kertas baru dengan cara riba.

  1. Budaya bersalaman untuk kemudian saling minta maaf lahir batin

Bersalaman dan saling meminta maaf itu adalah syariat utama untuk mempererat rasa persaudaraan. Akan tetapi kalau itu hanya sah jika dilakukan :

  • Dengan niat yang tulus
  • Mengaku bersalah dan merasa menyesal
  • Dan meminta agar kedzolimannya dihalalkan.

Syariat Islam sendiri mengatur dengan memberikan opsi mengenai berbagai macam kedzoliman yang terjadi di antara manusia. Yakni :

  • Apakah hendak diselesaikan dengan cara di-qishosh dan diselesaikan dulu kedzolimannya?
  • Atau dimaafkan, berlapang dada, dan diikhlashkan saja?”

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ () وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, qishash diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.

Maka, barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,dan hendaklah ( yang diberimaaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat.

Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, baginyasiksa yang sangat pedih. Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 178—179)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham.

Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأنْفَ بِالأنْفِ وَالأذُنَ بِالأذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ))

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalam Kitab itu bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishahsnya.” [QS. Al-Maidah [5]: 45]

(( وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ))

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. Asy-Syura [42]: 40]

Sebagai contoh :

Tidak mungkin kedzoliman masalah harta dan utang diselesaikan dengan cara ucapan “maaf” saja? Dimana letak keadilan kalau seperti itu?

Kalau fihak yang terdzolimi memang benar-benar merelakan dan memaafkan, maka itu tidak masalah. Tapi kalau tidak rela untuk dimaafkan dan “dihalalkan” kedzolimannya, maka masih bisa untuk dituntut di akhirat nanti.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟” قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطِى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنٰ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يَقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِDari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata :Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tahukah kalian siapakah yang dinamakan Al-Muflis (Orang yang bangkrut) ? Para sahabat menjawab : Orang yang bangkrut menurut pendapat kami ialah orang yang tiada mempunyai dirham (uang) dan tiada pula mempunyai harta benda.Nabi bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku, datang pada hari kiamat dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat. Dia datang sedang dahulu pernah mencaci maki orang, menuduh (mencemarkan nama baik) orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang dan memukul orang (dengan tidak hak). Maka kepada orang tempat dia bersalah itu diberikan pahala amal baiknya dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baiknya. ( maka atas kezalimannya itu, pahala amal baiknya diberikan kepada orang yang dizaliminya). Apabila amal baiknya telah habis sebelum hutangnya lunas. Maka diambillah kesalahan mereka lalu dilemparkan kepadanya. Sesudah itu dia dilemparkan ke dalam neraka. [Hr.  Muslim]

Budaya maaf memaafkan yang kadang “dipaksakan” dan hanya terkesan basa-basi itu, jika hanya sekedar budaya saja maka itu tidak masalah. Adapun jika itu dijadikan momen untuk menghalalkan kedzoliman yang pernah terjadi, maka itu tergantung kepada kebesaran hati orang yang terdzolimi.

Jika fihak yang terdzolimi tidak berkenan dan tidak menyukai “aji mumpung” pemaksaan atas nama budaya ini, maka itu adalah haknya. Dan saling salam-bersalaman untuk meminta maaf ini hanya akan dianggap sebagai seremonial budaya semata saja, dan perhitungan di akhirat masih akan tetap dianggap. Walloohu A’lam

****

Memang terdapat hadits bahwa jika saling bersalaman maka akan dapat menggugurkan dosa keduanya,

Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Fokus disini adalah pada perkataan dalam hadits “غُفِرَ لَهُمَا “ (yakni, diampuni bagi keduanya). Yang mana tidak dikatakan “غُفِرَ بَيْنَهُمَا “ (yakni, diampuni diantara keduanya). Sehingga hadits itu sebenarnya bermakna, saling bersalaman itu adalah suatu dapat menggugurkan dosa keduanya. Yakni dosa mereka berdua kepada Allah. Bukan dosa kedzoliman yang terjadi diantara keduanya, yakni dosa kedzoliman antara sesama manusia.

Jika hadits itu difahami bahwa Allah akan mengampuni dosa kedzoliman antara sesama manusia, maka hadits itu akan banyak bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits lain. Walloohu A’lam

Sehingga secara kesimpulan, budaya saling bersalaman untuk meminta maaf lahir batin itu tidak otomatis akan langsung menghapuskan dosa kedzoliman antar manusia di antara keduanya. Sebagai budaya dan hanya sekedar ramah-tamah, hal itu tidak mengapa untuk dilakukan.

  1. Budaya Sungkeman

Sungkeman adalah suatu budaya jawa untuk meminta restu atau meminta maaf kepada kedua orang tua atau yang dituakan, yang dilakukan dengan cara duduk bersimpuh atau duduk jongkok sementara sang orang tua duduk di kursi. Yang sang anak bersalaman kepada kedua orang tuanya dengan kedua tangannya, sambil mencium tangan orang tuanya dan berkata-kata untuk meminta restu atau meminta maaf.

Sungkeman untuk meminta restu umumnya dilakukan ketika acara pernikahan. Sedangkan sungkeman untuk meminta maaf umumnya dilakukan setelah selesai sholat Idul Fithri.

Sungkeman di kalangan masyarakat jawa secara umum, dianggap sebagai sikap khidmat menghormati kedua orang tua. Sehingga jika seorang anak tidak mau untuk sungkeman maka dia akan dianggap tidak menghormati kedua orang tuanya.

Secara kajian Islam, seorang anak meminta maaf kepada kedua orang tuanya itu adalah hal yang baik. Bahkan -insya Allah- sang orang tua akan ikhlash dan lebih tulus untuk memaafkan kesalahan anaknya, karena itu adalah anaknya sendiri. Ini akan lebih ikhlash dibandingkan dengan acara salaman saling minta maaf kepada orang lain secara umum, yang kadang hanya untuk sekedar ramah tamah saja.

Maka dari itu, tujuan agar dihalalkan kedzoliman antar manusianya kepada kedua orang tua, insya Allah bisa tercapai.

Adapun pada masalah adat sungkeman ini, maka sebenarnya yang dipermasalahkan adalah masalah “cara meminta maaf” pada prosesinya itu. Bukan pada tujuan “meminta maaf kepada orang tua” nya.

Perincian masalah cara minta maaf dengan cara sungkeman yang diperbincangkan adalah pada:

  1. Masalah hukum mencium tangan
  2. Hukum posisi badan dan kepala waktu sungkeman yang disamakan seperti orang ruku’ atau sujud.

Hal ini diperbincangkan karena ada hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).

Adapun mencium tangan, maka ini juga dianggap sama seperti ruku’ karena hal ini dilakukan dengan cara membungkukkan badan.

Hadits ini walau dihasankan oleh syaikh Albani rohimahulloh, namun ulama lain seperti syaikh Mushthafa al-‘Adawi hafidzohulloh (murid syaikh Albani) tidak mensetujui penghasanan beliau dan menganggap bahwa hadits itu dhoif. Sehingga hadits ini tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Penulis sendiri lebih mensetujui pendho’ifan hadits ini, sehingga hadits ini tidak bisa dipakai sebagai dalil. Adapun untuk perincian masalah perbincangan hadits ini, bisa dilihat di tulisan Ustadz Abul Jauzaa’ berikut ini : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2011/06/lemah-hadits-wahai-rasulullah-apakah.html

Terlebih lagi terdapat hadits lain, yang menyebutkan bahwa shahabat Salamah al-‘Akwa pernah mencium tangan rasulullah dan beliau tidak mengingkarinya.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ بِبَغْدَادَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ التَّمَّارُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: ” بَايَعْتُ بِيَدِي هَذِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَاهَا، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ ”

Telah menceritakan Ahmad bin Al-Hasan bin ‘Abdil-Jabbaar Ash-Shuufiy di baghdaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr At-Tammaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aththaaf bin Khaalid Al-Makhzuumiy, dari ‘Abdurrahmaan bin Raziin, dari Salamah bin Al-Akwaa’, ia berkata : “Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tanganku ini, lalu kami menciumnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu” [Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Al-Muqri’ dalam Ar-Rukhshah fii Taqbiilil-Yadd no. 12; hasan]

Dan demikian juga riwayat dari para shahabat dan salaf yang lain, yang mereka pernah mencium tangan orang-orang yang dihormatinya. Lihat : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2011/06/hukum-mencium-tangan-orang-tua-atau.html

****

Terlepas dari penghasanan syaikh Albani rohimahulloh terhadap hadits itu, untuk masalah perbincangan hukum masalah cium tangan maka beliau ternyata membolehkan.

Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata :

وأما تقبيل اليد ففي الباب أحاديث وآثار كثيرة، يدل مجموعها على ثبوت ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط الآتية:-
1 – ألا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ويتطبع على التبرك بذلك، فإن النبي صلى الله عليه وسلم وإن قبلت يده فإنما كان على الندرة، وما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة كما هو معلوم من القواعد الفقهية.
2 – ألا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره، ورؤيته لنفسه كما هو الواقع مع بعض المشايخ اليوم
3 – ألا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة، كسنة المصافحة، فإنها مشروعة بفعله صلى الله عليه وسلم وقوله، وهي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر أحسن أحواله أنه جائز.

“Dan adapun mencium tangan, maka dalam bab ini terdapat hadits-hadits dan atsar-atsar yang sangat banyak yang menunjukkan dengan berkumpulnya tentang tetapnya hal itu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka kami berpandangan tentang bolehnya mencium tangan seorang ‘aalim apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  1. Agar tidak menjadikannya kebiasaan yang menjadikan seorang ‘aalim bertabiat mengulurkan tangannya kepada murid-muridnya, yang kemudian menjadi tabi’at (si murid) untuk bertabarruk dengannya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meskipun tangan beliau dicium para shahabat, maka kejadian itu sangatlah jarang. Jika demikian, maka tidak diperbolehkan menjadikan hal itu sebagai sunnah yang dilakukan secara terus-menerus sebagaimana diketahui dalam kaidah fiqhiyyah.
  2. Agar tidak membiarkan hal menjadi kesombongan seorang ‘aalim kepada yang lainnya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana hal itu terjadi pada sebagian masyaikh saat ini.
  3. Agar tidak menjadi sebab peniadaan sunnah yang telah diketahui, seperti sunnah berjabat tangan, karena itu disyari’atkan berdasarkan perbuatan dan perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dimana jabat tangan tersebut menjadi sebab gugurnya dosa-dosa dua orang yang melakukannya, sebagaimana diriwayatkan lebih dari satu hadits. Maka tidak diperbolehkan membatalkannya (sunnah jabat tangan) dengan sebab mengerjakan amalan yang keadaan terbaiknya dihukumi boleh” [Silsilah Ash-Shahiihah, 1/252-253].

***

Adapun untuk ulama yang melarang menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan, maka ini difatwakan para ulama yang berkumpul di Lajnah Daimah yang diketuai oleh Syaikh ibn Baz rohimahulloh. Implikasi dari fatwa ini, maka baik hukum cium tangan ataupun hukum sungkeman dikembalikan kepada keumuman fatwa larangan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan ini.

السؤال الثاني من الفتوى رقم ( 6779 )

Pertanyaan kedua dari fatwa no 6779

س 2 : ما حكم انحناء الرأس لمسلم عند التحية؟

Lajnah Daimah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa hukum menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada seorang muslim?

ج 2 : لا يجوز لمسلم أن يحني رأسه للتحية ، سواء كـان ذلك لمسلم أو كـافر ؛

Jawaban Lajnah Daimah, “Seorang muslim tidak boleh menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan baik kepada sesama muslim apalagi kepada orang kafir.

لأنه من فعل الأعاجم لعظمـائهم ، ولأنه شبيه بالركوع ، والركوع تحية وإعظاما لا يكون إلا لله

Hal dilarang karena dua pertimbangan:

  1. Hal itu adalah perbuatan orang-orang kafir kepada para pembesar mereka
  2. Perbuatan tersebut menyerupai gerakan ruku’ sedangkan ruku’ adalah penghormatan dan pengagungan yang tidak boleh diberikan kecuali hanya untuk Allah”

وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عبد العزيز بن عبد الله بن باز الرئيس
عبد الرزاق عفيفي نائب الرئيس
عبد الله بن غديان عضو
عبد الله بن قعود عضو

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua Lajnah Daimah, Syaikh Abdurrazaq Afifi sebagai wakil ketua, Syaikh Abdullah bin Ghadayan dan Syaikh Abdullah bin Qaud masing-masing sebagai anggota.

Lihat : http://ustadzaris.com/hukum-menundukkan-kepala-sebagai-bentuk-hormat

****

Adapun Syaikh Abdullah bin Humaid, Syaikh Abdullah Al-Jibrin, dan Syaikh Al-Albani secara umum membolehkan mencium tangan walaupun itu berkonsekuensi agak membungkuk. (untuk keterangan syaikh Albani, sudah penulis kutip pada tulisan sebelumnya)

Syaikh Abdullah bin Humaid :

حكم تقبيل يد الوالدين

Hukum Mencium Tangan Kedua Orang Tua

رقم الفتوى
8577
تاريخ الفتوى
27/9/1425 هـ — 2004-11-10

No Fatwa: 8577
Fatwa ini disampaikan pada tanggal 27 Ramadhan 1425 H atau 10 November 2004M

السؤال
هل يجوز تقبل أيادي الوالدين؟ ففي تقبيل يد الوالد أو الوالدة ما يؤدي إلى الانحناء والخضوع, ولا انحناء ولا خضوع إلا الله سبحانه وتعالى. فهل هذا حلال أم حرام؟ أفيدونا وجزاكم الله خيرًا.

Tanya: Apakah diperbolehkan mencium tangan kedua orang tua padahal untuk mencium tangan ayah atau ibu mengharuskan kita untuk membungkukkan badan (baca: ruku) dan menunjukkan sikap ketundukkan (khudhu’) padahal tidak boleh membungkukkan badan dan kutundukkan hati kecuali hanya kepada Allah. Apakah cium tangan semacam ini boleh ataukah haram?

الإجابة
تقبيل يد الوالد أو الوالدة, أباحه بعض العلماء ومنعه آخرون. وهذا لا يسمى خضوعًا ولا انحناءً لغير الله؛ لأنه لم يقصد الانحناء لغير الله, ولكن الأولى أن يقبل رأسيهما.

Jawaban:
“Mencium tangan ayah atau ibu itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan dilarang oleh sebagian ulama yang lain. Merundukkan badan yang terjadi saat mencium tangan ortu itu tidak bisa disebut sebagai merendahkan diri dan membungkuk (baca: ruku) kepada selain Allah karena pelakunya tidak meniatkan dengan hal tersebut sebagai ruku kepada selain Allah. Namun yang lebih baik adalah mencium dahi ortu.

فالإمام مالك يقول: إن تقبيل اليد هو السجدة الصغرى. والإمام الشافعي يمنع ذلك. وأباح بعض أهل العلم أيضًا تقبيل يد الوالدين, أو يد العالم. لكن الأولى ترك ذلك لله, فتقبيل رأس أمك أو رأس أبيك أفضل, ولا بأس. والله أعلم.

Imam Malik mengatakan, “Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan”. Imam Syafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan ortu atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah. Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan”.

مصدر الفتوى: فتاوى سماحة الشيخ عبد الله بن حميد ص256 رقم الفتوى في مصدرها: 272

Fatwa ini dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272.

Lihat : http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman

Syaikh Abdullah Al-Jibrin :

“Kami berpendapat bahwa cium tangan itu dibolehkan jika dengan maksud menghormati orang tua, ulama, orang shaleh, kerabat yang berusia lanjut dan semisalnya. Imam Ibnul Arabi (BUKAN Ibnu Arabi yang tokoh sufi itu -ed) menulis sebuah buku khusus mengenai cium tangan dll, bisa disimak lebih jauh di buku itu tersebut. Cium tangan terhadap kerabat yang sudah berusia lanjut dan orang shaleh adalah bentuk penghormatan bukan pengagungan dan sikap merendahkan diri (tadzallul). Memang diantaranya guru kami ada yang mengingkari dan melarang tindakan cium tangan, akan tetapi kemungkinan besar merupakan bentuk ketawadhuan beliau-beliau dan bukan karena mengharamkan hal tersebut.” (Dari Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram hal. 1020, cet. Dar Ibnul Haitsam).

Lihat : https://konsultasisyariah.com/501-bagaimana-hukum-mencium-tangan-orang-tua.html

****

Dari kedua perbedaan pendapat itu, maka penulis lebih menguatkan boleh untuk sungkeman dengan mengikuti penguatan pendapat bolehnya sedikit membungkuk untuk mencium tangan.

Hal itu diharomkan jika dimaksudkan untuk pengagungan hingga menyerupai ibadah ruku’, adapun jika untuk sekedar penghormatan maka itu diharomkan. Di sini berlaku qaidah fiqh الأمور بمقاصدها (Al umuur bi maqooshidihaa, suatu urusan itu dilihat dari maksudnya). Walloohu A’lam

Lihat juga kumpulan pendapat pro dan kontra dari para ulama yang lebih luas dari ini, mengenai masalah hukum membungkukkan badan yang ditulis oleh ustadz Abul Jauzaa’.

Lihat : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/06/hukum-membungkukkan-badan.html

  1. Budaya mengucapkan minal aaidiin wal faaiziin (Kita kembali dan meraih kemenangan)

Secara budaya dan adat istiadat hal ini tidak mengapa untuk dilakukan, adapun secara arti dan maksud dari Idul Fithri maka arti minal aidin wal faizin (Kita kembali dan meraih kemenangan) itu salah. Hendaklah kembali kepada pembahasan kami mengenai arti dan maksud Idul Fithri yang sudah kami pada beberapa tempat di tulisan kami untuk pengjelasan yang lebih lengkap. Walloohu A’lam

Yang lebih tepat adalah saling mendoakan dengan perkataan “Taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian semua). Boleh untuk ditambah “shiyaamanaa wa shiyaamakum” (puasa kami dan puasa kalian semua), ataupun dari tambahan lainnya untuk saling mendoakan.

Adapun jika ucapan doa itu dibalas dengan “aamiiin” atau “taqobbal yaa kariim” (kabulkanlah ya Allah yang Maha Mulia), maka hal itu tidak masalah. Walloohu A’lam

Bagaimana jika digabung dengan perkataan budaya yang menyalahi arti dan maksud dari Idul Fithri? Seperti misal perkataan “Selamat Idul Fithri, mohon maaf lahir bathin. Taqobbalalloohu minna wa minkum. Semoga kita semua kembali suci seperti bayi yang baru lahir di hari yang fithri ini”.

Hal itu tidak mengapa jika hanya untuk sekedar masalah budaya saja. Asalkan kita mengerti masing-masing konsekuensi, perbedaan, dan kesalahan-kesalahan dari bagian-bagian kalimat itu. Walloohu A’lam

  1. Budaya memahami Idul Fitri adalah momen hari dimana kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir (Fithroh)

Hal ini salah, dan hal ini sudah penulis terangkan di beberapa tempat di tulisan kami. Hendaklah merujuk kembali kepada pembahasan itu.

  1. Budaya Halal bi Halal

Halal bi halal artinya adalah halal dengan halal. Ini adalah kalimat khas made in Indonesia. Adapun maksudnya adalah agar saling menghalalkan kesalahan antara satu sama lain. Adapun prakteknya adalah suatu acara yang sengaja diadakan dengan mengumpulkan orang guna bersalaman untuk saling meminta maaf.

Pembahasan ini kembali kepada pembahasan budaya bersalaman untuk kemudian saling minta maaf lahir batin. Silakan merujuk kembali ke pembahasan penulis masalah itu.

  1. Budaya Ziarah Kubur setelah Idul Fithri

Secara hukum asal ziarah kubur itu boleh kapan saja, tidak harus setelah lebaran. Jika ini hanya sekedar budaya maka tidak masalah. Adapun jika ini menyebabkan masyarakat umum salah faham dan menyangka bahwa ini adalah bagian dari tuntunan syariat Islam, maka hal ini harus dijelaskan dan diluruskan kesalahannya.

Hendaklah ziarah kubur itu dilakukan hanya untuk mendoakan sang mayyit dan untuk mengingat mati saja. Tidak diperbolehkan melakukan ziarah kubur dengan tujuan untuk melakukan berbagai macam kemungkaran dan kebid’ahan di sana.

Hal ini seperti : tawassul dan tabaruk ngalap berkah kepada sang mayyit penghuni kubur, istighotsah meminta pertolongan atas berbagai musibah yang terjadi melalui perantara sang penghuni kubur, membaca Al-Qur’an di kuburan baik itu surat Yaasiiin ataupun lainnya karena kuburan itu bukan tempat untuk membaca Al-Qur’an, melakukan sholat di kuburan, dan lain-lain

 

Puasa – Tulisan 23

Leave a comment

ZAKAT FITHR

MENGINGAT KEMBALI MASALAH BEDANYA ZAKAATUL FITHRI DAN ZAKAATUL FITROH

Sebelum membahas Zakat Fithr, hendaknya pembaca melihat kembali tulisan kami pada tulisan ke 19 (Bab V, bab I) ketika membahas masalah buka puasa atau Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) atau Al-Ifthor (اَلْاِفْطَارُ ).

Di sana penulis membahas masalah perbedaan istilah Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dengan Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ), dan dampak akibat pengertiannya.

Yang mana ini akan berdampak kepada “menyimpangnya” pengertian asli secara bahasa dan syariat yang diinginkan Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) dan Hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ), kepada pengertian “Kembali menjadi suci kembali” atau “kembali ke fitroh” yang umumnya difahami dan dikehendaki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Hendaklah melihat kembali tulisan kami itu jika menginginkan.

BEBERAPA ISTILAH YANG SEBENARNYA SAMA SECARA APLIKASI FIQH

Memang ada juga ulama’ yang membolehkan istilah Zakaatul Fihtroh (زَكَاةُ الْفِطْرَةِ ) sebagaimana yang popular di Indonesia, selain daripada istilah Zakaatul Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) sebagaimana yang dicontohkan oleh hadits-hadits shohih Rasulullah shalalloohu ‘Alaihi wa sallam.

Ini sebagaimana pemakaian perkataan Zakaatul Fihtroh (زَكَاةُ الْفِطْرَةِ ) atau Al-Fithroh (اَلْفِطْرَةُ ) saja, yang digunakan atau dijelaskan oleh Waki’ Ibnul Jarroh, Imam Asy-Syafi’i, Ats-Tsa’labi, Al-Mawardi, Al-Ghozali, Ibnu Qudamah, An-Nawawi, Al-Fayyumi, dan Abu Bakar al-Husaini al-Hushoni Asy-Syafi’I rohihumuhulloohu ajma’in.

Lihat : https://addariny.wordpress.com/2010/01/05/zakat-fitri-atau-zakat-fitrah-mana-yg-benar/

“Zakat Fithroh” atau “Fithroh” saja ini sebenarnya adalah istilah fiqh yang ma’lum diistilahkan oleh sebagian ulama untuk nama lain dari “Zakat Fithri”. Walaupun hadits-hadits perkataan Rasululloh selalu memakai kata Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) dan tidak pernah memakai kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ )

Dinamakan Zakat Fithroh karena ini berfungsi untuk membersihkan dan menyucikan jiwa, serta untuk mengembangkan amalannya. Pengertian ini yang nanti akan penulis berikan tanggapan dan kritik atasnya.

Abu Bakar al-Husaini al-Hushoni asy-Syafi’i -rohimahulloh- (wafat 928 H):

يقال لها زكاة الفطر لأنها تجب بالفطر ويقال لها زكاة الفطرة أي الخلقة يعني زكاة البدن لأنها تزكي النفس أي تطهرها وتنمي عملها

Zakat ini disebut dengan istilah “Zakat Fitri”, karena diwajibkan dengan (masuknya hari) berbuka. Ia  juga disebut “Zakat Fitrah“, yang berarti penciptaan, maksudnya adalah zakat badan, karena ia mampu membersihkan dan menyucikan jiwa, serta mengembangkan amalannya. (Kifayatul Akhyar 273)

Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Fithrah ini adalah hadits berikut ini.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Selain dinamakan Zakat Fitrah, Zakat Fitri ini dinamakan juga dengan Zakat Badan (Zakat untuk tiap badan atau tiap individu). Dinamakan seperti itu karena zakat ini wajib untuk ditunaikan oleh seorang muslim yang mampu dari berbagai kalangan. Baik itu tua, muda, anak kecil, bayi, laki-laki, wanita, budak, dan lain-lain yang dibayarkan oleh orang yang menanggungnya.

Zakat Badan ini sama dengan istilah Zakat Nafs (Zakat untuk tiap jiwa) ataupun Zakat Ro’s (Zakat per kepala). Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Badan ini adalah hadits berikut.

Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Ada juga orang yang menamakannya dengan Zakat Ramadhan, karena ini adalah zakat khusus yang wajib untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan bagi yang mampu. Akan tetapi tampaknya istilah Zakat Ramadhan ini kurang popular sepertinya.

Dalil yang penulis ketahui, yang paling bisa dijadikan landasan untuk istilah Zakat Ramadhan ini adalah hadits berikut ini,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) dengan setengah sha’ untuk Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). [Hr. Bukhori, hadits no.1415]

“Shodaqoh” dalam hadits ini yakni pada perkataan Shodaqoh fithri atau yang juga dikatakan shodaqoh romadhon (صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ ), maknanya adalah Zakat. Hal ini sebagaimana QS. At-Taubah yang menggunakan kata “Shodaqoh” untuk dibagikan kepada 8 asnaf (golongan), namun yang dimaksudkan adalah Zakat.

Jadi sebagai rangkuman awal, ada empat istilah yang sebenarnya sama saja pengertiannya dalam aplikasi amalannya, yakni :

  1. Zakat Fithri, yakni Zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dibagikan kepada yang tidak mampu, agar bisa sama-sama memiliki makanan menyambut hari raya berbuka atau Iedul Fithri.
  2. Zakat Fithroh atau Fithroh saja (sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi), yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu, untuk dikeluarkan sebelum hari raya Iedul Fithri untuk membersihkan dan menyucikan jiwanya.
  3. Zakat Badan atau Zakat Nafs atau Zakat Ro’s, yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dikeluarkan sebelum hari raya Iedul Fithri, yang dikeluarkan baik itu oleh diri sendiri ataupun oleh orang yang menanggungnya.
  4. Zakat Ramadhan, yakni zakat yang diwajibkan bagi tiap individu muslim yang mampu untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan sebelum sholat Iedul Fithri.

TANGGAPAN DAN KRITIK TERHADAP MAKSUD DARI ISTILAH ZAKAT FITHROH

Dalam hal penggunaan atau pemakaian berbagai macam istilah itu sebenarnya penulis tidak keberatan, karena sebenarnya yang penting adalah maksud dan tujuannya. Adapun perbedaan nama ataupun perbedaan istilah, maka itu bukanlah hal yang substansial. Hal ini sesuai dengan qaidah fiqh الأمور بمقاصدها (Tiap-tiap urusan itu dilihat dari maksudnya).

Hanya saja penulis lebih menekankan agar memakai istilah yang sebagaimana istilah yang Rasulullah berikan saja, yakni Zakaatul Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) atau zakat fithri.

Di sisi lain penulis masih tetap mempermasalahkan akan suatu istilah, jika ternyata maksud yang diinginkan oleh istilah itu “kurang sesuai” dengan penjelasan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dan istilah yang penulis hendak tanggapi dan berikan kritik adalah istilah “Zakat Fithroh” atau “Fithroh” yang popular digunakan di Indonesia ini. Yang mana dimaksudkan untuk pengertian guna membersihkan dan menyucikan jiwa, agar kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan).

Adapun jika “Zakat Fithroh” atau “Fithroh” dipakai untuk pengertian yang sama seperti yang dimaksud oleh Zakat Fithri, Zakat Badan, Zakat Nafs, Zakat Ro’s, Zakat Ramadhan; maka penulis tidak berkeberatan dengan hal itu. Namun jika dipakai untuk untuk pengertian guna membersihkan dan menyucikan jiwa agar kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan), maka penulis berkeberatan.

Kenapa keberatan?

Karena setelah dilihat lagi dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, pengertian itu sepertinya kurang tepat dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Perincian hal itu adalah sebagai berikut,

  1. Zakat Fitri itu sebenarnya dimaksudkan untuk (طُهْرَةً لِلصَّائِمِ ) pembersih atau pensuci orang-orang yang berpuasa, akan puasanya yang rusak karena perkataan kotor dan sia-sia. Jadi bukan untuk membersihkan jiwa ataupun mensucikan dosa-dosa seseorang secara umum. Ini adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang yang berhalangan puasa pun, asalkan dia termasuk orang yang mampu secara finansial, maka tetap untuk berkewajiban mengeluarkan zakat fitri. Maka apakah zakat fitri nya bisa dipergunakan untuk membersihkan puasanya yang rusak dan kotor, sedangkan dia sendiri tidak berpuasa?

Jawabnya adalah tidak, akan tetapi zakat fitri-nya itu digunakan dengan maksud untuk memberi makan orang miskin. Dan ini juga adalah maksud dari kewajiban mengeluarkan zakat fitri itu.

Kedua tujuan dari zakat fitri itu, yakni untuk membersihkan puasa yang rusak dan kotor serta untuk memberi makan orang miskin, sesuai dengan perkataan Rasulullah di bawah ini. Adapun tujuan untuk membersihkan dan menyucikan jiwa hingga kembali ke keadaan Fitroh (Suci seperti baru awal diciptakan/dilahirkan), sama sekali tidak pernah disebutkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘Alaihi wa sallam.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

  1. Memang terdapat ayat di dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. At Taubah : 103]

Akan tetapi konteks ayat ini untuk zakat secara umum; baik itu zakat maal (zakat harta), zakat tijaroh (perdagangan), zakat rikaz (barang temuan), dan lain-lain; bukan untuk zakat fitri secara khusus.

Adapun sesuatu hal yang umum akan tetap berlaku secara umum, hingga ada yang mengkhusukan. Sedangkan zakat fitri sudah dikhususkan lagi ternyata maksudnya oleh Rasulullah dalam sabdanya, maka jika hendak dikembalikan lagi ke makna umum maka sepertinya kurang tepat.

Terlebih lagi di dalam QS. At-Taubah ayat 103 itu tidak ada kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) sama sekali, maka bagaimana mungkin untuk zakat fitri dikhususkan dengan nama “zakat fitroh” sedangkan zakat-zakat yang lain tidak diberikan nama khusus “zakat fitroh” itu?

Kenapa nama “zakat fitroh” itu hanya dikhususkan untuk zakat fitri dan tidak untuk nama zakat yang lain? Apa dalilnya?

Terlebih lagi nama kata Al-Fithrotu (اَلْفِطْرَةُ ) itu sebenarnya bermakna suci sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan.

Katakanlah zakat fitri itu juga berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seseorang dari segala dosa-dosa dan kesalahannya, dan sebenarnya penulis tidak keberatan akan hal ini. Sebagaimana penafsiran Sa’id bin Musayyib rohimahulloh dan Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh terhadap firman Allah,

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

“Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri “[QS. Al-A’laa : 14]

Bahwa di maksudkan dari ayat ini (sesuai penafsiran Sa’id bin Musayyib rohimahulloh dan Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh) adalah zakat fithri. [[Shohih Fiqhus Sunnah, bab Zakat Fitrah, bagian hukum zakat fitrah]

Ibnu Katsir berkata,

وقد روينا عن أمير المؤمنين عمر بن عبد العزيز: أنه كان يأمر الناس بإخراج صدقة الفطر، ويتلو هذه الآية: { قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ }

“Dan sungguh telah kami riwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwasanya beliau memerintahkan orang-orang untuk mengeluarkan shodaqoh fithri (صدقة الفطر ,alias zakat fithri), sembari membacakan ayat berikut ini (قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ )

Namun kenapa dikatakan hingga sampai kembali dalam keadaan fitroh (sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan)? Terlebih lagi Ibnu Katsir mensifatkan perkataannya tersebut dengan shodaqoh fitri, bukan shodaqoh fitroh.

Padahal jika kita memiliki dosa berupa kesalahan dan kedzoliman kepada orang lain, maka hal itu tidak akan terhapus jika kita tidak meminta maaf atau minta dihalalkan. Ada juga dosa-dosa besar yang kita harus taubat dulu baru kemudian insya Allah Allah memaafkan. Maka bagaimana mungkin dikatakan dibersihkan dan disucikan jiwanya dari segala dosa-dosanya, hingga kembali suci dalam keadaan fitroh (sebagaimana baru dilahirkan atau sebagaimana awal penciptaan)

  1. Terdapat hadits yang mana rasulullah menyebutkan beberapa amalan yang merupakan bagian dari fitroh, akan tetapi di situ tidak disebut amalan zakat fitri sama sekali.

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Ada sepuluh hal dari fitrah (مِنَ الْفِطْرَةِ), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Dan fitroh yang disebut dalam hadits ini adalah berbeda dengan fitroh yang suci dari segala dosa, hingga suci seperti anak baru lahir. Walloohu A’lam

Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim hafidzahullah berkata,

Sunnah-sunnah fitrah adalah salah satu jenis sunnah jika dilakukan oleh seseorang maka orang tersebut disifati dengan fitrah (suci) yang dengan itu Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia. Allah Subhanahu wata’ala mensunnahkan hal itu agar menusia menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang berperilaku dan berpenampilan bagus. Sunnah-sunnah ini adalah sunnah terdahulu yang dilakukan oleh semua Nabi. Syariat semua Nabi juga mengajarkannya. Seolah-olah hal ini sudah menjadi sifat yang melekat pada diri setiap insan.

Sunnah-sunnah fitrah ini sangat erat hubungannya dengan maslahat duniawi maupun ukhrawi. Hal itu dapat diperoleh dengan memperbagus penampilan dan membersihkan tubuh baik itu secara global maupun rinci. [Shohih Fiqhus Sunnah, Bab Sunnah-sunnah Fitrah]

HUKUM DAN TUJUAN ZAKAT FITRI

Hukum dari zakat fitri adalah wajib bagi yang mampu. Hal ini dikembalikan kepada qoidah ushul fiqh masalah al-‘Amr (perintah), dari perintah rasulullah untuk menunaikan zakat fitri. Terlebih lagi Shahabat Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu juga memberikan kabar bahwa Rasulullah men-fardhu-kan kewajiban zakat fitri ini.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memfardhukan/mewajibkan zakat fithri (قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ ) satu sha’ dari kurma atau sha’ dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum Muslimin. Dan Beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang-orang berangkat untuk shalat (‘Ied) “. [HR. Bukhari, kitab “Az-Zakaah”, bab “Farodho shodaqotul Fithri” hadits 1407]

Para ulama juga sudah ber-ijma’ akan wajibnya zakat fitri ini, sebagaimana perkataan Ibnu Mundzir [Shohih Fiqhus Sunnah]

Adapun tujuan dari zakat fitri itu ada tiga yakni,

  1. Membersihkan puasa yang rusak dan kotor (طُهْرَةً لِلصَّائِمِ ) dari segala perkataan yang kotor dan sia-sia selama berpuasa.
  2. Untuk memberi makan orang fakir miskin (وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ), agar ketika merayakan hari raya Iedul Fithri nanti mereka mempunyai makanan untuk dimakan.
  3. Untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seseorang dari segala dosa-dosa dan kesalahannya, sebagaimana tafsir Sa’id bin Musayyib dan Umar bin Abdul ‘Aziz terhadap QS. Al-A’laa : 14

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Hukum bagi orang yang mampu namun tidak mau untuk mengeluarkan zakat fitri adalah berdosa, karena ini adalah wajib. Akan tetapi untuk ancaman khusus bagi orang-orang yag tidak mau mengeluarkan zakat fitri, maka penulis belum menemukannya kecuali ancaman bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat secara umum.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً ، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ ، لَهُ زَبِيبَتَانِ ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِى شِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ ، أَنَا كَنْزُكَ » ثُمَّ تَلاَ ( لاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ )

الآيَةَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan (kewajiban) zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok karena dikepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat.

Ular itu memegang (atau menggigit tangan pemilik harta yang tidak berzakat tersebut) dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu’. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (firman Allah ta’ala,QS. Ali Imran: 180): ’Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka…dst’.” (HR Bukhari II/508 no. 1338)

JENIS MAKANAN DAN TAKARAN YANG DIKELUARKAN UNTUK ZAKAT FITRI

A. Jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitri

Jenis makanan yang harus dikeluarkan untuk membayar zakat fitri, adalah kembali kepada apa makanan pokok penduduk negeri tersebut.

عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami mengeluarkan (zakat fithri) pada hari Raya ‘Iedul fithri satu sha’ dari makanan (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ )“.

Dan berkata, Abu Sa’id: “Dan saat itu makanan kami adalah gandum jenis Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), kismis, biji-bijian atau kurma”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1414]

Itu adalah keumuman untuk berbagai macam makanan pokok pada zaman Rasulullah. Adapun untuk zaman kita dan juga dengan daerah yang terpencar-pencar, maka hal ini dikembalikan kepada keumuman makanan pokok yang biasa dimakan sehari-hari.

Untuk perincian masalah gandum, maka ternyata para shahabat memperinci kualitas dan jenis gandumnya. Sehingga zakat fithri itu adalah :

  1. Satu sho’ untuk gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) yang mana ini umumnya adalah jenis gandum yang masih menempel di tangkainya dan belum diolah, yang umumnya dimakan oleh para shahabat di Madinah (setelah diolah sendiri).
  2. Setengah sho’ untuk gandum yang berkualitas lebih bagus dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), atau yang sudah diolah hingga tinggal berupa tepung atau bijinya. Setengah sho’ jenis gandum ini adalah senilai atau sebanding dengan satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ).

Gandum yang berkualitas lebih bagus dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), dan hanya cukup dikeluarkan setengah sho’ saja untuk zakat fithri sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadits yang terjadi pada zaman shahabat, adalah :

  1. Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum )
  2. Gandum Al-Hinthoh (الْحِنْطَةُ , biji gandum)
  3. Gandum As-Samroo’ (السَّمْرَاءُ , jenis gandum dari negeri Syam yang dibawa Mu’awiyah rodhiyalloohu ‘anhu yang pernah menjabat sebagai Gubernur di daerah Syam hingga akhirnya menjadi kholifah)

Hadits-hadits mengenai Al-Burr, Al-Hinthoh, dan As-Samroo’ adalah sebagai berikut,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ) dengan setengah sha’ untuk Gandum Al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). [Hr. Bukhori, hadits no. 1415]

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَجَعَلَ النَّاسُ عِدْلَهُ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ

Dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tentang zakat fithri berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Berkata, ‘Abdullah radliallahu ‘anhu: “Kemudian orang-orang menyamakannya (satu sho’ gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ )) dengan dua mud untuk Gandum Al-Hinthoh (الْحِنْطَةُ , biji gandum)“. [Hr. Bukhori, hadits no. 1411]

Catatan : 1 sho’ itu adalah 4 mudd. Sehingga 2 mudd itu adalah sebanding dengan ½ sho’.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَكَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ أَبَدًا مَا عِشْتُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kami membayar zakat fithrah untuk setiap orang, baik anak kecil maupun dewasa, merdeka maupun budak, yaitu satu sha’ makanan berupa keju, atau gandum, atau kurma atau anggur kering.

Pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dia berpidato di hadapan jama’ah haji atau umrah, katanya antara lain; “Dua mudd gandum As-Samroo’ (السَّمْرَاءُ , gandum dari negeri Syam) sama dengan satu sha’ kurma.” Karena pidatonya itu maka banyak orang yang membayar zakat fithrahnya seperti itu.

Abu Sa’id berkata, “Tetapi aku tetap saja membayar seperti apa yang telah kulakukan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhir hayatku.” [Hr. Muslim,hadits no.1641]

***

Dari perbedaan khusus mengenai takaran gandum ini, maka para ulama’ berbeda pendapat.

Ada yang berpendapat semua dianggap sama dengan takaran satu sho’, ada juga yang berpendapat bahwa secara umum adalah satu sho’ namun untuk gandum khusus seperti al-burr ataupun yang lain cukup dengan ½ sho’ saja.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, maka yang penulis lebih cenderung untuk menguatkan pendapat pertama. Yakni semua dianggap sama dengan takaran satu sho’. Argumentasi akan hal tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Jika kita meneliti lebih lanjut masalah hadits-hadits jenis gandum yang dianggap zakat fithri nya cukup hanya setengah sho’, maka itu kembali kepada anggapan orang-orang yakni para shahabat setelah sepeninggal Rasulullah. Hal ini karena adanya gandum yang lebih bagus di kemudian hari yang berbeda dengan gandum yang ada pada zaman Rasulullah, maka para shahabat pun mencoba mensetarakannya.

Kenapa difahami seperti itu?

Hal ini karena hadits-hadits yang dinisbatkan kepada perintah atau zaman Rasulullah umumnya dinisbatkan dengan memakai kata gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ). Adapun perkataan gandum Al-Burr, Al-Hinthoh, ataupun As-Samroo’ disebutkan pada keterangan setelahnya.

Hal ini memberikan faedah bahwa jenis-jenis gandum itu baru ada di kemudian hari sepeninggal Rasulullah tiada. Terlebih lagi kita juga tidak mendapatkan kabar yang valid bahwa pada zaman Rasulullah juga sudah ada gandum jenis Al-Burr, Al-Hinthoh, ataupun As-Samroo’. Walloohu A’lam [Lihat juga perkataan Ibnul Mundzir mengenai hal ini]

  1. Terlebih lagi, anggapan persamaan jenis gandum yang lebih bagus yang datang di kemudian hari itu, dengan hanya cukup ½ sho’ saja zakat fithri nya, tidak semuanya disepakati oleh para shahabat. Abu Sa’id Al-Khudri tidak sepakat dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bahwa gandum as-samroo’ itu cukup dikeluarkan ½ sho’ saja. Dan Abu Sa’id Al-Khudri tetap mengeluarkan zakat Fithri dengan ukuran 1 sho’ sesuai yang beliau keluarkan pada zaman Nabi hingga akhir hayat Abu Sa’id Al-Khudri.
  2. Sehingga inilah yang lebih rojih bagi penulis, dan semuanya cukup dikembalikan kepada keumuman hadits masalah makanan (Ath-Tho’aam) yang juga riwayat Abu Sa’id Al Khudri namun dengan perkataan yang jelas dinisbatkan kepada pada zaman Nabi Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami mengeluarkan (zakat fithri) pada hari Raya ‘Iedul fithri satu sha’ dari makanan (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ )“.

Dan berkata, Abu Sa’id: “Dan saat itu makanan kami adalah gandum jenis Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ), kismis, biji-bijian atau kurma”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1414]

  1. Berlaku di sini qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan).

Jika benar bahwa takaran gandum itu bisa berubah sesuai dengan kualitas jenis gandumnya, maka kenapa rasulullah tidak menjelaskannya? Kenapa ini hanya berlaku untuk gandum saja? Bukankah disebutkan ada juga bahan makanan lain seperti kurma, kismis, biji-bijian, yang juga bisa dijadikan zakat fithri? Apa alasan gandum menjadi diistimewakan dibandingkan lainnya?

Adapun penjelasan bahwa ada perkataan yang membedakan takaran gandum sesuai dengan jenisnya, maka kita bisa katakan apakah itu benar ijma’ shahabat sehingga itu bisa menjadi dalil pemerinci bagi kita, ataukah itu hanyalah ijtihad sebagian shahabat saja? Walloohu A’lam

Terlepas dari perbedaan pendapat khusus mengenai masalah gandum itu, maka untuk kita yang berada di Indonesia, cukup mengeluarkan makanan pokok kita, seperti misal beras, sebesar 1 sho’ per satu satu jiwa untuk menunaikan Zakat Fithri.

Bercermin dari perincian masalah kualitas gandum, maka hendaknya kualitas beras yang kita jadikan untuk membayar Zakat Fithri sama kualitasnya dengan beras yang sehari-hari kita makan. Jangan sampai jika sehari-hari kita makan beras kualitas super, namun untuk zakat fithri kita hanya membayarnya dengan beras kualitas standart saja.

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi sallam bersabda,

نَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah adalah baik (thoyyibun) dan tidaklah menerima kecuali yang baik (thoyyiban)” [Hr. Muslim]

Thoyyib artinya adalah baik, tidak mengandung kotoran dan hal-hal yang tercela. Demikianlah seharusnya sifat dari amalan kita. Cukup bagi kita untuk merenung, apakah jika sehari-hari kita makan beras kualitas super, dan untuk zakat fitri kita menunaikannya dengan beras kualitas yang dibawahnya, itu terpuji ataukah tercela?

Kita disini tidak berbicara secara fiqh apakah ini sah atau tidak? Namun kita disini mengkhawatirkan apakah amalan ini diterima atau tidak? Walloohu A’lam

B. Takaran yang digunakan untuk zakat fitri

Setelah kita berbicara masalah “jenis makanan” dengan panjang lebar, sekarang mari kita membahas masalah takarannya. Atau dengan kata lain, sebanyak apakah yang harus kita tunaikan itu?

Sebenarnya apa sho’ dan mudd yang disebutkan oleh hadits pada zaman nabi dan para shahabat itu?

Satu mud itu adalah seukuran dua telapak tangan manusia yang sedang yang dirapatkan/disatukan, lalu dengan keduanya biasa dipakai untuk mengambil/memenuhi bahan makanan dengannya. (lihat An-Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar, 4/256)

Adapun satu sho’ adalah satu takaran wadah yang mencukupi untuk memenuhi 4 mudd.

Seberapa banyakkah takaran satu sho’ pada zaman nabi itu, jika digunakan dalam takaran atau timbangan masyarakat modern zaman sekarang ini?

Inilah yang para ulama berbeda-beda dalam menetapkannya. Karena mudd tiap orang atau tiap wilayah itu berbeda-beda, sesuai dengan ukuran dua telapak tangan manusia yang dirapatkan yang juga berbeda-beda. Maka secara otomatis takaran wadah sho’ yang sesuai dengan 4 mudd pun juga berbeda-beda.

Jika ingin secara lebih terperinci, dengan takaran atau timbangan modern zaman sekarang. Maka apa jenis makanan yang digunakan untuk dijadikan standart 1 sho’ itu? Apakah kurma, ataukah gandum, ataukah kismis? Sedangkan jenis-jenis makanan itu semua disebutkan dalam hadits.

Dan kita mengetahui dengan ilmu pengetahuan modern, bahwa berat jenis dari masing-masing makanan itu berbeda-beda. Sehingga jika makanan yang berbeda-beda itu masing-masing ditimbang dalam satu sho’ wadah takaran, tentu akan menghasilkan berat yang berbeda-beda. Maka berat manakah yang dijadikan standart?

Dari hal ini, kita bisa memahami kenapa para ulama fiqh modern berbeda-beda dalam menetapkan takaran volume ataupun takaran berat standart 1 sho’.

Mereka menetapkan secara berbeda-beda, walaupun wadah cawan ataupun gantang takaran satu mudd atau 1 sho’ itu masih diwariskan secara turun-temurun, dan bersanad ada hingga sampai zaman sekarang.

Dalam Shohih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim hafidzahullah menetapkan 1 sho’ itu setara dengan 2.157 kilogram, sesuai dengan 1 sho’ versi standart mesir.

Para Ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah yang berkedudukan di Saudi Arabia, yang mana disitu terdapat Makkah dan Madinah, berfatwa mengikuti pendapat Syaikh ibn Baz rohimahulloh bahwa 1 sho’ itu setara dengan 3 kilogram. (no fatwa : 12572)

Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh yang juga merupakan Ulama Saudi menetapkan bahwa 1 sho’ itu setara dengan 2.040 kilogram. (Syarhul Mumti’, VI/176-177)

Di Indonesia, peraturan menteri agama RI No. 52 tahun 2014, menetapkan 1 sho’ itu setara dengan 2.5 kilogram atau 3.5 liter beras atau makanan pokok. (lihat : http://simbi.kemenag.go.id/simzat/download/files/syarat_dan_tata_cara_penghitungan_zakat.pdf )

Ada lagi pendapat yang berbeda-beda mengenai ukuran 1 sho’ itu sesuai dengan pendapat para ulama madzhab, yang tidak penulis tampilkan agar tidak memperpanjang pembahasan.

Dari berbagai macam pendapat satu sho’ itu, penulis sebenarnya ingin menguatkan pendapat dengan mengikuti pengukuran Ahlul Hijaz yang mana disitu Madinah berada, dan Rasulullah tinggal disitu pada zaman dahulu kala.

Akan tetapi ketika melihat sesama ulama ahlul hijaz berbeda pendapat mengenai ukuran satu sho’, yakni antara Syaikh Ibn Baz rohimahulloh dan diikuti oleh Lajnah Daimah dengan Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh. Maka penulis ingin mencoba melihat dari kacamata lain.

Penulis lebih cenderung untuk menguatkan ketetapan peraturan pemerintah RI, yakni 2.5 kilogram atau 3.5 liter untuk ukuran 1 sho’. Hal ini karena :

  1. Ukuran mudd tiap-tiap penduduk suatu negeri bisa jadi berbeda, karena ukuran postur dan telapak tangan tiap rata-rata penduduk itu berbeda-beda. Sehingga ukuran mudd hendaklah dikembalikan kepada ukuran pemahaman ‘urf (kebiasaan) tiap-tiap penduduk suatu negeri.
  2. Kebolehan untuk mengembalikan kepada keputusan Ulil Amri wilayah masing-masing. Hal ini karena kita menemukan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan selaku ulil Amri waktu itu, pernah menetapkan gandum as-Samraa’ yang berasal dari syam “mempunyai takaran zakat fitri” yang berbeda, yakni cukup ½ sho’ saja. Walaupun tidak semua shahabat sepakat.
  3. Tidak menyalahkan fihak-fihak lain yang mengikuti pendapat ukuran 1 sho’ yang berbeda, asalkan memiliki rujukan ataupun argumentasi yang dibenarkan oleh syari’at.

Walloohu A’lam

BOLEHKAH ZAKAT FITRI DIKELUARKAN DALAM BENTUK UANG ?

Pada zaman Rasulullah dan para shahabat zakat fithri selalu dibayarkan dengan makanan sejumlah satu sho’ tanpa terkecuali. Tidak terdapat riwayat bahwa zakat fithri boleh digantikan dengan bentuk uang yang senilai dengan jumlah makanan satu sho’.

Hal itu tidak terjadi hingga sampai zaman kekhalifahan bani Ummayah, pada pemerintahan Umar bin Abdul ‘Aziz rohimahulloh. Masa ini masih termasuk pada masa Tabi’in (murid pengikut para shahabat), sehingga hanya terpaut satu generasi saja dengan generasi shahabat.

Sebagian ulama dari kalangan Tabi’in yang sependapat dengan Kholifah Umar bin Abdul Aziz dan membolehkan zakat fithri dibayarkan dengan uang adalah,

  1. Hasan Al Bashri
  2. Atha’ bin Abi Robah
  3. Abu Hanifah, imam Madzhab Hanafi (pernah berguru juga kepada Atha’ bin Abi Robah). Dan demikian juga pendapat madzhab Hanafi akan kebolehan membayarkan zakat fithri dengan uang.

Sedangkan pada zaman tabi’ut tabi’in yang sependapat adalah Sufyan Ats-Tsauri

Adapun jumhur (mayoritas) ulama lain menolak untuk membolehkan zakat fithri dibayarkan dengan uang, sehingga tetap mewajibkan harus membayarkannya dengan bahan makanan, dan bahkan mengatakan hal tersebut tidak sah.

Argumentasi fiqh para ulama yang membolehkan untuk membayarkannya dengan uang hanyalah berdasarkan istihsan (anggapan baik) semata. Ini karena tidak ada dalil dari rasulullah dan para shahabat sama sekali akan contoh dan kebolehan membayarkan zakat fithri dengan uang.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, penulis lebih menguatkan pendapat jumhur ulama yang melarang membayarkan zakat fithri dengan diganti uang, dan tetap wajib harus dibayarkan dengan bahan makanan. Argumentasi akan hal tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Pada zaman rasulullah dan pada zaman para shahabat sudah terdapat uang, yakni dirham dan dinar, akan tetapi zakat fithri tidak pernah digantikan dengan uang.
  2. Bahkan pada zaman kholifah Umar bin Khoththob dan juga kholifah Utsman bin ‘Affan, kekuasaan ummat Islam sangat berjaya, kaya, dan memiliki banyak uang. Akan tetapi zakat fithri tidak pernah digantikan dengan uang.
  3. Hingga zaman Kholifah Muawiyah bin Abi Sufyan pun, selaku pendiri kekhilafahan bani Ummayah, Muawiyah hanya berpendapat bahwa gandum as-samroo’ (gandum dari negeri Syam, karena pusat pemerintahan Muawiyah ada di Syam) hanya dibayarkan sebanyak ½ sho’ saja. Walaupun hal ini tidak disepakati oleh shahabat lainnya, yakni oleh Abu Sa’id Al Khudri. Akan tetapi Mu’awiyah tidak pernah berkata bahwa zakat fithri boleh untuk digantikan dengan uang, padahal zaman itu pemerintahan Islam juga sedang jaya-jayanya.
  4. Istihsan (anggapan baik) secara kajian ushul fiqh termasuk sumber hukum yang tidak disepakati oleh seluruh Ulama. Bahkan Imam Asy-Syafi’I sampai pernah berkata,

من استحسن فقد شرع

“Orang yang berbuat istihsan (menganggap baik suatu urusan / amalan yang tidak ada dalam Islam, tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) maka dia telah membuat syari’at.”

 

Di dalam kitab Ar-Risalah, Imam Asy-Syafi’I juga berkata,

وإنّما الاستحسان تلذذ، ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم، ولجاز أن يشرع في الدين في كلّ باب، وأن يخرج كلّ أحد لنفسه شرعاً

 

“Yang namanya istihsan (menganggap baik sebuah urusan, sebuah perbuatan, dan sebuah ucapan dalam agama yang tidak ada sebelumnya) merupakan bernikmat-nikmat. Kalau seandainya istihsan itu dibolehkan dalam agama, maka dibolehkan pula hal tersebut bagi orang-orang yang punya akal dari orang yang tidak memiliki iman (artinya: dalam kehidupan sehari-hari saja, orang yang berakal dari orang-orang kuffar tidak menganggap baik semua urusan, terlebih lagi dalam masalah agama). Seandainya dibolehkan untuk membuat syariat dalam agama di setiap bab, maka niscaya setiap orang akan membuat syariat sendiri-sendiri.”

Setelah kita memahami yang rojih dari pendapat yang melarang membayarkan zakat fithri dengan uang. Maka bagaimanakah orang-orang yang “sudah terlanjur” membayarkan zakat fithri dengan uang, padahal kita mengetahui bahwa para ulama yang menentangnya dengan tegas mengatakan bahwa zakat fithri dengan uang itu tidak sah?

Maka jawabnya adalah jika orang tersebut adalah orang awam, tidak mengetahui ilmu akan hal ini, hanya taqlid dan ikut-ikutan perkataan ulama yang membolehkannya saja. Maka zakat fithri nya sah, dan tidak perlu untuk mengulanginya lagi dengan membayarkan zakat fithri dengan makanan. Hal ini karena ada udzur bagi mereka karena ketidak tahuannya.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh islamQA yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad Sholih Al Munajjid hafidzahulloh, dan juga dengan mengutip dari fatwa Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh.

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:

“Kalau seseorang membayar zakat fitrahnya dengan uang dengan mengambil pendapat ulama di daerahnya, kemudian setelah itu dia mengetahui pendapat yang lebih kuat, maka apa yang harus dia lakukan dengan zakatnya ?

Beliau menjawab:

“Tidak ada konsekuensi apapun, bagi setiap orang yang melakukan sesuatu berdasarkan fatwa seorang alim atau dengan mengikuti fatwa para ulama di daerahnya, maka tidak masalah. Sebagai contoh: “Jika ada seorang wanita yang tidak membayar zakat perhiasannya selama bertahun-tahun, dia tidak tahu kalau perhiasannya wajib dizakati atau karena ulama di daerahnya berfatwa bahwa perhiasan tidak ada zakatnya, kemudian dia mengetahui yang sebenarnya, maka dia membayar zakatnya setelah dia mengetahuinya, dan yang sebelum itu dia tidak wajib membayarnya”. (Liqoat Al Bab Al Maftuh, No: 191, Soal nomor: 19)

Lihat : https://islamqa.info/id/109734

Adapun jika setelahnya, mereka kemudian mengetahui secara keilmuan dan meyakini ke-rojih-an perkataan ulama yang melarang zakat fithri dengan uang. Maka jika mereka “nekad” membayarkan zakat fithri dengan uang tanpa ada hal dhorurot yang membolehkannya, maka zakat fithri nya menjadi tidak sah. Walloohu A’lam

Adapun jika panitia penerima zakat fithri menyediakan fasilitas pelayanan untuk membelikan bahan makanan guna zakat fithri dengan uang yang kita berikan kepada mereka. Maka sepanjang panitia penerima zakat fithri tersebut amanah dan benar-benar uang itu untuk dibelikan bahan makanan. Maka hal ini boleh dan tidak ada masalah dengan hal ini. Walloohu A’lam

SIAPA YANG BERKEWAJIBAN UNTUK MENGELUARKAN ZAKAT FITRI

Yang dijatuhi kewajiban untuk mengeluarkan zakat fithri adalah :

  1. Setiap Muslimin dari berbagai kalangan, bahkan hingga bayi yang baru lahir, anak kecil, budak, orang merdeka, orang dewasa, dan orang lanjut usia. Maka dari inilah zakat fitri disebut juga zakat badan atau zakat nafs (zakat jiwa), karena hal ini diwajibkan kepada semua jiwa muslimin.
  2. Mampu dan bukan termasuk orang miskin. Adapun orang miskin tidak diwajibkan

Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ )dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat id. (HR. Bukhari)

Cara mengeluarkan zakat fithri :

  1. Bagi pribadi merdeka yang mampu mengeluarkan dan membayarkannya sendiri, hendaklah dibayarkan sendiri.
  2. Orang-orang yang berada di bawah tanggungan orang lain, maka zakat fitri nya di keluarkan oleh sang penanggungnya. Orang-orang yang berada di bawah tanggungan orang lain adalah seperti misal : bayi, anak kecil, budak, pembantu, istri, orang tua yang sudah lanjut dan tinggal bersama anaknya, dan lain-lain.

عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِي التَّمْرَ فَأَعْوَزَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنْ التَّمْرِ فَأَعْطَى شَعِيرًا فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنْ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum asy-sya’iir (الشَّعِيرُ )”.

Kemudian orang-orang menyamakannya (gandum asy-sya’iir (الشَّعِيرُ )) dengan setengah sha’ untuk gandum al-Burr (الْبُرُّ , biji gandum ). Adalah Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bila berzakat dia memberikannya dengan kurma. Kemudian penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma akhirnya mereka mengeluarkan gandum Asy-Sya’iir (الشَّعِيرُ ).

Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikan zakatnya atas nama anak kecil maupun dewasa hingga atas nama bayi sekalipun, dan Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Iedul Fithri. [Hr. Bukhori, Kitab Az-Zakaah, hadits no. 1415]

KAPAN WAKTU UNTUK MENGELUARKAN ZAKAT FITRI

Pedoman umum untuk kapan waktu untuk mengeluarkan zakat fithri itu sebenarnya berkaitan dengan namanya sendiri, yakni Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ).

Yang dimaksud adalah, zakat fithri itu secara harfiah berarti zakat berupa makanan yang dikeluarkan dan diberikan kepada orang-orang yang berhak, agar pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) mereka mempunyai makanan untuk dimakan. Ini karena Al-Fithru (اَلْفِطْرُ ) sendiri artinya adalah makan tidak berpuasa lagi.

Maka dari itulah syariat menetapkan bahwa pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) itu kaum muslimin diharamkan untuk berpuasa, karena hari Iedul Fithri itu sendiri bermakna hari raya berbuka puasa atau hari raya “untuk makan-makan” setelah sebulan lamanya kita berpuasa ramadhan.

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137)

Dan tujuan zakat fithri jelas disebutkan oleh Rasulullah untuk memberi makan orang miskin,

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan Al Albani)

Setelah kita memahami hal ini, maka kita faham bahwa petunjuk kapan waktu bagi kita untuk mengeluarkan zakat fithri adalah pada waktu yang memungkinkan agar orang-orang miskin bisa mempunyai makanan untuk dimakan pada waktu hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Adapun kapannya, maka rasulullah tidak pernah memberikan jangka waktu secara pasti melainkan hanya waktu minimalnya saja, yakni hingga sebelum sholat Ied dilaksanakan.

Hal ini sesuai dengan perkataan rasulullah,

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ied maka zakat (fithri) nya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan oleh Al Albani)

Adapun untuk praktek dari para shahabat rodhiyalloohu ‘anhum, terutama shahabat Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu, maka beliau mengeluarkan zakat fithri sehari hingga tiga hari sebelum Idul Fitri.

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا ، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.” (HR. Bukhari).

Dari Nafi’, ia berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ

“‘Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fithri.” (HR. Malik dalam Muwatho’nya no. 629, 1: 285).

****

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya “bahwa rasulullah tidak pernah memberikan jangka waktu secara pasti melainkan hanya waktu minimalnya saja, yakni hingga sebelum sholat Ied dilaksanakan”, maka sebenarnya kapankah kita boleh mulai untuk memberikan zakat fithri? Apakah boleh lebih dari satu hingga tiga hari alias melebihi dari jangka waktu yang dipraktekkan oleh shahabat Ibnu Umar?

Untuk jawabnya adalah boleh dan tidak masalah, asalkan tujuan zakat fithri agar orang-orang miskin bisa mempunyai makanan untuk dimakan pada hari raya Iedul Fithri bisa tercapai.

Hal ini dibolehkan karena adanya qorinah dari hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim, yang mana Abu Hurairah diberi tugas oleh Rasulullah menjaga zakat Fithri (di dalam haditsnya disebut dengan nama Zakat Ramadhan). Dan selama tiga hari Abu Huroiroh selalu didatangi oleh Syaithon yang menyamar sebagai manusia untuk mencuri bahan makanan zakat fithri itu, yang mana ketika ditangkap selalu mengiba agar dilepaskan dan selalu kembali lagi. Hingga pada hari ketika dilepaskan dengan balasan Abu Huroiroh diajarkan untuk membaca ayat kursi (QS. Al-Baqoroh : 255) sebelum tidur, maka Allah akan senantiasa menjaganya ketika tidur dan syaithan tidak akan berani mendekatinya hingga pagi hari.

Hadits ini cukup panjang, maka penulis sebutkan secara makna saja.

Dari hadits ini, kita bisa mengambil faedah hukum bahwa makanan zakat fithri (atau zakat romadhan) itu sudah terkumpul dari jangka waktu lebih dari tiga hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ).

Belum lagi sebenarnya dalam hadits Abu Huroiroh menjaga zakat fitri itu, sebenarnya tidak dijelaskan bahwa setelah tiga hari bertemu syaithan yang menyamar itu besoknya sudah masuk hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Jadi bisa saja hal itu terjadi pada pertengahan Romadhon ataupun yang lainnya.

Dari hadits ini, maka kita bisa beristimbath bahwa zakat fithri bisa mulai untuk dikumpulkan lebih dari tiga hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Dan penulis lebih menguatkan boleh dimulai sejak awal bulan ramadhan, karena melihat dari nama lain zakat fithri dengan zakat ramadhan sebagaimana istilah zakat ramadhan ini yang digunakan dalam hadits Abu Huroiroh ini, asalkan bisa disimpan dan dibagikan oleh panitia penerima zakat (‘Amil zakat), hingga tujuan agar orang-orang miskin bisa punya makanan dan ikut makan pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) bisa terpenuhi. Walloohu A’lam.

Jadi sebagai rangkuman kesimpulan kapan waktu kita mulai mengeluarkan zakat Fithri, agar zakat fithri nya sah dan tidak hanya bernilai shadaqah biasa saja :

  1. Pagi hari sebelum sholat Ied dimulai. Sebagaimana ini adalah batas waktu minimal yang rasulullah berikan.
  2. Satu hingga tiga hari hari sebelum hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ). Sebagaimana ini adalah praktek dari ibnu Umar.
  3. Sejak dari awal bulan Romadhon, asalkan zakat fithri nya bisa bisa disimpan dan dibagikan oleh panitia penerima zakat (‘Amil zakat), hingga tujuan agar orang-orang miskin bisa punya makanan dan ikut makan pada hari raya Iedul Fithri (عِيْدُ الْفِطْرِ) bisa terpenuhi. Hal ini sebagaimana istimbath dari hadits Abu Huroiroh menjaga zakat fithri yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Walloohu A’lam

KEPADA SIAPAKAH ZAKAT FITHRI ITU DIBERIKAN DAN KHILAF PARA ULAMA DI DALAMNYA

Secara singkat ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat perihal kepada siapakah zakat fithri itu diberikan.

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa zakat fithri itu dibagikan kepada 8 golongan (8 asnaf), sebagaimana pembagian zakat lainnya secara umum dengan berdalil kepada keumuman QS At-Taubah ayat 60.
  2. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa zakat fitri itu tidak boleh untuk diberikan kepada semua kedelapan asnaf itu, kecuali untuk asnaf fakir miskin. Ini adalah pendapat ulama madzhab Malikiyyah, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qoyyim.

Dari kedua perbedaan pendapat ini, maka penulis lebih menguatkan pendapat bahwa zakat fithri ini khusus hanya untuk fakir miskin saja. Hal ini karena :

  1. Rasulullah tegas menjelaskan dalam haditsnya bahwa zakat fithri itu dipergunakan untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadits ini, Ibnu Abbas meriwayatkan dengan lafadz “فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ “ (Rasulullah menfardhukan atau mewajibkan). Jikalau zakat fithri itu juga diperuntukkan bagi selain fakir miskin, maka tentu rasulullah akan menjelaskannya.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (زَكَاةَ الفِطْرِ ), sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dihasankan Al Albani)

  1. QS At-Taubah ayat 60 itu secara tinjauan ushul fiqh bersifat umum (‘Aam), sedangkan hadits rasulullah yang menjelaskan mengenai tujuan diberikannya zakat fitri itu bersifat khusus (Khoss). Dan sesuai qaidah ushul fiqh, maka dalil yang bersifat umum harus dibawa ke dalil yang bersifat khusus.

Walloohu A’lam

Sekarang timbul pertanyaan, bolehkah jika kita membagikan zakat fithri kita itu sendiri dan tidak lewat panitia pengumpul zakat fithri di masjid-masjid (sebagaimana ibroh Abu Huroiroh menjaga zakat fithri yang telah dikumpulkan)?

Maka jawabnya boleh, sebagaimana kita lihat dari hadits Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu pada pembahasan kapan waktu membagikan zakat fithri, maka beliau membagikan zakat fithri itu sendiri.

Walloohu A’lam

ADAKAH TATA CARA ATAU DO’A KHUSUS DALAM MEMBAYAR DAN MENERIMA ZAKAT FITHRI?

Di sebagian ummat Islam terdapat orang yang berlebih-lebihan yang mengatakan, bahwa ada suatu tata cara dan do’a tersendiri dalam membayar dan menerima zakat fitri.

Berdasarkan hal itu, mereka mengada-adakan suatu perkara agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabat-nya dengan mengatakan,

  1. Ada suatu bacaan niat tersendiri yang harus dilafadzkan ketika mau berniat membayar zakat fithri. Bahkan hal itu diperinci dan dibagi-bagi lagi sehingga dianggap,
  2. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan untuk diri sendiri, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  3. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama istrinya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  4. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama anak laki-lakinya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  5. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama anak perempuannya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  6. Untuk zakat fithri yang dikeluarkan atas nama orang lain yang menjadi tanggungannya, ada lafadh bacaannya niat sendiri
  7. Ada suatu bacaan lafadh ijab qobul tertentu yang diharuskan untuk dibaca, ketika transaksi penyerahan dan penerimaan zakat fithri.
  8. Ada suatu do’a dengan lafal tertentu, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri.

Hal-hal itu semua di atas adalah hal yang diada-adakan dalam syariat Islam, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya.

Adapun untuk perincian penjelasan akan hal yang di ada-adakan itu sebagai berikut,

1. Mengenai masalah Niat, maka niat itu tempatnya ada di dalam hati. Cukup jika kita tau bahwa kita itu :

  1. Sengaja
  2. Sadar
  3. Dan mengetahui

akan apa-apa yang kita amalkan dan apa yang kita kerjakan, maka sudah dihitung ada niat di dalamnya.

Maka dari itu tidak perlu untuk dilafalkan, dan bahkan melafalkan niat itu hanyalah hal yang mengada-ada yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi w sallam beserta para shabahat-nya.

Untuk lebih memperjelas lagi, bukankah ketika kita puasa dan makan dengan sengaja, maka itu membatalkan puasa kita? Sebaliknya jika kita tidak sengaja makan atau minum, yakni tidak kita niatkan, maka hal itu tidak membatalkan puasa kita?

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Yang satu makan ketika puasa dan tidak membatalkan puasa? Sedangkan yang satunya lagi makan ketika puasa dan membatalkan puasa?

Apakah orang yang makan dan membatalkan puasa itu harus membacakan bacaan niat tertentu, agar makanan yang dimakannya itu sah untuk membatalkan puasanya? Ataukah orang itu sebenarnya BISA MENGETAHUI SECARA OTOMATIS, mana makan ketika puasa yang membatalkan puasa dan mana yang tidak membatalkan puasa?

Atau dengan kata lain,

  1. Setiap orang itu sebenarnya bisa mengetahui otomatis dengan sendirinya ada ataukah tidak niat ketika dia melakukan sesuatu.
  2. Setiap orang juga bisa membedakan antara niat yang satu dengan niat yang lain, walau sama-sama melakukan amalan yang sama.
  3. Dan bahkan setiap orang juga bisa mengukur dan membedakan, mana yang niatnya kuat dan yang niatnya lemah.

dengan tanpa perlu melafalkan suatu bacaan niat tertentu.

Dia bisa tau ada niat di dalamnya, asalkan terkumpul padanya 3 hal itu yakni : Sengaja, Sadar, dan Mengetahui; akan apa-apa yang dia kerjakan itu.

Sehingga melafalkan niat dengan bacaan tertentu untuk mengerjakan suatu amalan tertentu, yang mana ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya, maka hal itu sebenarnya hanyalah :

  1. Hal yang mengada-ada dalam syari’at Islam.
  2. Suatu hal yang merupakan tipuan syaithan untuk menimbulkan was-was.
  3. Suatu hal yang harus dijelaskan kesalahannya untuk dijauhi dan tidak dilakukan.

 

2. Adapun untuk lafadh ijab qobul tertentu yang diharuskan untuk dibaca, ketika transaksi penyerahan dan penerimaan zakat fithri, maka ini juga termasuk hal yang diada-adakan karena was-was dari syaithan. Yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shalalloohu ‘alaihi wa sallam beserta para shabahat-nya. Yang harus dijelaskan kesalahannya untuk dijauhi dan tidak dilakukan.

Zakat Fithri (زَكَاةُ الْفِطْرِ ) kadang disebut juga dengan Shodaqoh Fithri (صَدَقَةَ الْفِطْرِ ), ini sebagaimana hadits dari Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu hadits riwayat Bukhori no.1415 yang pernah penulis sebutkan sebelumnya ketika membahas topik “beberapa istilah yang sebenarnya sama secara aplikasi fiqh”. Silakan lagi topik bahasan penulis sebelumnya.

Maksud penulis menyebutkan “shodaqoh fithri” ini adalah untuk diambil istimbath hukum, bahwa hukum-hukum untuk kata-kata zakat fithri itu sama dengan hukum-hukum masalah shodaqoh. Yakni dalam kaitannya dengan shodaqoh, bahwasanya TIDAK PERNAH DISYARATKAN adanya lafal ijab qobul tertentu dalam masalah shodaqoh.

Tidak pernah ketika kita memberikan shodaqoh disyaratkan harus ada lafal ijab tertentu “Saya serahkan shodaqoh saya berupa sesuatu ini, ikhlash karena Allah Ta’ala”, untuk kemudian dijawab dengan lafal qobulnya “saya terima shodaqohmu yang berupa sesuatu ini”.

Jika misal kita melakukan hal serah terima ijab qobul shodaqoh dengan cara ini kepada seorang pengemis, atau bantuan kepada orang yang sedang sangat membutuhkan, maka kita akan dianggap berlebihan dan tidak pantas!

*****

Yang terpenting adalah jika dalam proses serah terima itu :

  1. Antara satu sama lain saling mengetahui dan barang shodaqohnya jelas keberadaannya
  2. Ridho akan shodaqoh yang diberikan
  3. Dan tidak disyaratkan harus dengan lafal ijab qobul tertentu. Cukup dengan sembarang perkataan ataupun suatu perbuatan yang menggambarkan adanya transaksi serah terima shodaqoh itu.

Maka jika ada ketiga hal itu, maka itu sudah cukup. Dan inilah juga yang berlaku dalam masalah zakat fithri. Oleh karena itu fahamlah kita, kenapa rasulullah dan para shahabatnya tidak pernah mencontohkan adanya suatu lafal ijab qobul tertentu untuk serah terima zakat fithri itu.

Adapun untuk aplikasi pada zaman modern ini, jika kita menyerahkan zakat fithri kita kepada panitia penerima zakat fithri, dan terserah kita hendak berkata apa dalam proses penyerahannya yang penting kita tau sama tau, dan kemudian panitianya mencatat penerimaan kita. MAKA HAL ITU SUDAH CUKUP DAN SAH.

Hatta andaikata tidak dicatatpun dan langsung diterima, maka hal itu juga tidak masalah. Demikian juga jika langsung berikan zakat fithri itu langsung kepada orang fakir miskin. Apakah kita hendak meminta lafal qobul (penerimaan) tertentu dari sang miskin itu agar penyerahan zakat fitri kita itu sah? Ataukah kita hendak meminta surat bukti penerimaan dari sang miskin itu, maka baru zakat fitri kita sah?

  1. Untuk masalah adanya doa-doa khusus yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri. Maka sepanjang pengetahuan penulis, dari berbagai macam do’a khusus itu, do’a itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Dan juga bukan merupakan contoh do’a yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam .

Kenapa tadi dikatakan bukan merupakan contoh do’a yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam? Apakah ini berarti Rasulullah pernah mencontohkan suatu do’a ketika menerima zakat?

Al-Jawab, bahwasanya Rasulullah memang pernah diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan seorang muzakki (pemberi zakat). Hal ini sebagaimana yang Allah firman-kan di dalam QS. At-Taubah ayat 103.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. At-Taubah : 103]

Akan tetapi sebenarnya maksud ayat ini lebih kepada zakat secara umum yang berkenaan dengan masalah harta. Oleh karena itu Allah berfirman di awal ayat itu dengan perkataan “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ “ (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka). Sedangkan zakat fithri ini adalah zakat badan atau zakat jiwa, bukan zakat maal atau zakat harta.

Oleh karena itulah bayi dan anak kecil itu tetap dikenakan kewajiban zakat fithri, yang ditanggung oleh orang tuanya jika orang tuanya mampu. Maka bagaimana mungkin perkataan “خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ “ (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka) itu juga bisa diberikan kepada bayi dan anak kecil sedangkan mereka tidak punya harta?

Tapi katakanlah anggap saja ayat itu juga bisa dipakai untuk masalah zakat fithri, dan tidak khusus untuk zakat yang berkenaan dengan masalah harta.

Maka jika kita lihat dari berbagai macam lafadh do’a yang dikhususkan, yang harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri. Maka do’a-do’a khusus itu tidak ada satu pun sama seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shalaallohu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya bagaimana sih Rasulullah mencontohkan do’a untuk muzakki, yang berkenaan dengan zakat masalah harta itu untuk melaksanakan QS. At-Taubah ayat 103?

Dalam Shohih Muslim, di Kitab Az-Zakaah (kitab ke-13), Bab “Ad-Du’aa liman ataa bish shodaqoh” (Doa untuk orang yang memberikan shodaqoh) disebutkan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبِي أَبُو أَوْفَى بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى ح و حَدَّثَنَاه ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ شُعْبَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ صَلِّ عَلَيْهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Aufa ia berkata; Apabila seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa sedekahnya, maka beliau mendo’akan; “ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIHIM (Ya Allah, bershalawatlah (berilah rahmat) atas mereka).”

Kemudian bapakku Abu Aufa mendatangi beliau (dengan membawa sedekah), maka beliau pun mendo’akan: “ALLAHUMMA SHALLII ‘ALA `AALI ABII AUFA (Ya Allah berilah shalawat (rahmat) kepada keluarga Abu Aufa).” -dalam jalur lain- Telah menceritakannya kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Syu’bah dengan isnad ini, hanya saja ia berkata; “SHALLI ‘ALAIHIM (Bershalawatlah atas mereka).” [Hr. Muslim, hadits no. 1791]

Kata “shodaqoh” dalam hadits di atas maksudnya adalah “zakat”, sebagaimana kata “shodaqoh” yang berarti “zakat” dalam QS. At-Taubah ayat 60 yang menerangkan pembagian 8 asnaf zakat. Ini karena rasulullah menerima shodaqoh yang disebutkan dalam hadits itu, maka ini berarti adalah dalam rangka pengumpulan zakat. Adapun rasulullah dan keluarganya menerima hadiah, dan tidak menerima shodaqoh sebagaimana yang rasulullah terangkan dalam haditsnya yang lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

Dari Abu Hurairah bahwasanya; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi makanan, maka beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, maka beliau memakannya, dan bila dikatakan bahwa itu adalah sedekah, maka beliau tidak memakannya.” [Hr. Muslim]

****

Dari hadits implementasi do’a rasulullah bagi muzakki yang menyerahkan zakat hartanya, guna melaksanakan perintah Allah dalam QS. At-Taubah ayat 103 itu. Rasulullah hanya menyebutkan do’a yang mudah dan tidak bertele-tele. Yakni memberikan sholawat untuk mendoakan agar Allah memberikan Rahmat kepada sang muzakki.

Untuk praktek kita, jika kita menerima serah terima zakat fithri dari sang muzakki maka kita cukup mendoakan dengan do’a “Alloohumma Sholli ‘Alaikum” (Ya Allah, semoga Allah memberikan shalawat (berilah Rahmat) kepada kalian semua).

Itu dengan catatan, jika hadits dan ayat yang berkaitan dengan masalah zakat harta itu juga dianggap bisa diterapkan untuk zakat fitri yang berkaitan dengan zakat badan, yang bukan zakat harta.

Adapun mendoakan sang muzakki itu sebenarnya hukumnya sunnah saja, untuk mencontoh rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, bukan wajib.

Andaikata kita mau mendoakan dengan do’a keberkahan lainnya atau memberikan tambahan doa (karena dianggap do’a yang dicontohkan rasulullah terlalu pendek), maka hal itu juga tidak mengapa karena dikembalikan kepada keumuman QS At-Taubah ayat 103.

Dan andaikata sang penerima zakat tidak mendoakan sang muzakki pun, MAKA ZAKATNYA TETAP SAH DAN TIDAK MENGAPA AKAN HAL ITU. Walloohu A’lam

Maka dari itu jelaslah bagi kita kesalahan orang-orang yang mengkhususkan do’a khusus tertentu, yang wajib harus dibacakan oleh panitia penerima zakat fithri, untuk mendoakan orang yang menyerahkan zakat fithri.

Hendaklah hal itu dijauhi dan ditinggalkan. Cukup bagi kita contoh dari Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Walloohu A’lam

Puasa – Tulisan 22

Leave a comment

PENGERTIAN I’TIKAF

Al-I’tikaaf ( الاعتكاف ) yang kita maksud dalam konteks pembahasan ini, berasal dari kata ( عَكَفَ ) ‘akafa yang berarti perbuatan berdiam diri atau tetap pada sesuatu. Ini sesuai pemakaian bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an dalam Al-Baqarah ayat 125 dan Al-Baqarah ayat 187.

وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةً۬ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنً۬ا وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَٲهِـۧمَ مُصَلًّ۬ى‌ۖ وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِينَ وَٱلۡعَـٰكِفِينَ وَٱلرُّڪَّعِ ٱلسُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang berdiam diri (ber-i’tikaf) [وَٱلۡعَـٰكِفِينَ ], orang-orang yang ruku’, dan orang-orang yang sujud”. [QS. Al Baqarah : 125]

أُحِلَّ لَڪُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآٮِٕكُمۡ‌ۚ هُنَّ لِبَاسٌ۬ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٌ۬ لَّهُنَّ‌ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّڪُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَڪُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنكُمۡ‌ۖ فَٱلۡـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ‌ۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ‌ۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِ‌ۚ وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf) [وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ ]. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [QS. Al Baqarah : 187]

Ada juga pemakaian kata ( عَكَفَ ) ‘akafa di dalam ayat-ayat lain seperti dalam QS Al-A’raaf : 138, QS Thaha : 97, dan QS Al-Fath : 25. Akan tetapi “konteks makna” yang hendak dituju dalam ayat-ayat itu, berbeda dengan makna “berdiam diri atau menetap di masjid” sesuai dengan pembahasan I’tikaf yang hendak kita bahas. Maka dari itu ayat-ayat itu tidak penulis tampilkan, dan cukup QS. Al Baqarah ayat 125 dan 187 yang penulis tampilkan agar sesuai dengan konteks yang kita hendak kita bahas.

Adapun pengertian I’tikaf secara istilah adalah, ibadah dengan cara berdiam diri atau menetap di dalam masjid guna bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun jika berdiam diri di lingkungan masjid selama beberapa waktu, namun tidak dengan niat dan tujuan untuk bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah, maka hal itu tidak disebut sebagai ibadah I’tikaf.

Misal : bersih-bersih masjid dan lingkungan sekitarnya, namun tidak ada niat untuk I’tikaf guna bertaqorub mendekatkan diri kepada Allah, maka ini tidak bisa dianggap sebagai I’tikaf. Apalagi jika di masjid untuk tujuan melakukan kemaksiatan atau kebid’ahan, maka ini juga tidak bisa dianggap sebagai I’tikaf walaupun dia berdiam diri dan menetap di masjid untuk melakukan hal itu. Walloohu A’lam.

Adapun contoh perbuatan berdiam diri di masjid, atau I’tikaf, yang bernilai ibadah sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini,

Dari Abu ‘Abdirrahman, ia berkata: “Aku mendengar ‘Ali berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا جَلَسَ فِيْ مُصَلاَّهُ بَعْدَ الصَّلاَةِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ، وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَإِنْ جَلَسَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.

‘Sesungguhnya jika seorang hamba duduk di masjid setelah melaksanakan shalat, maka para Malaikat akan bershalawat untuknya, dan shalawat mereka kepadanya adalah dengan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’

Jika ia duduk untuk menunggu shalat, maka para Malaikat akan bershalawat kepadanya, shalawat mereka kepadanya adalah dengan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’”

[Al-Musnad (II/292 no. 1218). Syaikh Ahmad Syakir menghasankan sanadnya, lihat catatan pinggir kitab al-Musnad (XVI/32)]

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” [HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Termasuk juga keutamaan dari ibadah I’tikaf menetap di masjid ini adalah, termasuk salah satu dari 7 golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti. Yakni bagi laki-laki yang hatinya terikat dengan masjid.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ…….

“Ada tujuh golongan manusia yg akan mendapat naungan Allah pada hari yg tak ada naungan kecuali naungan-Nya,…… (hingga sampai pada) seorang laki-laki yg hatinya terpaut dengan masjid….” [Hr. Bukhori]

WAKTU I’TIKAF

  • Kapan waktu I’tikaf itu?

Waktu I’tikaf itu bisa dilakukan kapan saja, tidak harus di bulan Ramadhan, dan tidak juga harus 10 hari terakhir bulan ramadhan. Yang penting I’tikafnya dilakukan di masjid.

Dalil akan hal ini bahwasanya Imam Bukhori dalam shohihnya di kitabul I’tikaaf (kitab ke 17), membuat bab tersendiri bernama “Al-I’tikaafu fi syawwaal” (I’tikaf di bulan syawwal). Dalam bab itu Imam Bukhori meriwayatkan hadits sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ قَالَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً وَسَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَتْ قُبَّةً أُخْرَى فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْغَدَاةِ أَبْصَرَ أَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ فَقَالَ مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هَذَا آلْبِرُّ انْزِعُوهَا فَلَا أَرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِي آخِرِ الْعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf eliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radliallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu ‘Aisyah radliallahu ‘anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa.

Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: “Apa ini?” Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau).

Maka Beliau bersabda: “Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya”.

Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i’tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. [Hr. Bukhari, kitab Al-I’tikaaf, Bab Al-I’tikaafu fi syawwaal, hadits no. 1900]

Dalil lainnya adalah Umar pernah melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari dengan tidak ditentukan malam apa itu, dan Rasulullah menyuruh untuk memenuhi I’tikaf nadzar pada malam hari yang tidak ditentukan itu.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْفِ نَذْرَكَ فَاعْتَكَفَ لَيْلَةً

dari [‘Abdullah bin ‘Umar] dari [‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu] bahwa dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah bernadzar di zaman Jahiliyyah untuk beri’tikaf satu malam di Al Masjidil Haram”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Tunaikanlah nadzarmu itu”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu melaksanakan i’tikafnya pada suatu malam. [Hr. Bukhari, hadits no. 1901]

  • I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr

Sebagian orang ada yang salah faham memahami bahwa I’tikaf itu adalah ibadah khusus yang hanya dilaksanakan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan bahkan ada juga yang lebih salah faham lagi dengan memahami bahwa I’tikaf itu adalah syarat sah agar kita bisa mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr.

Hal tersebut salah, karena I’tikaf itu bisa dilakukan kapan saja. Akan tetapi memang “diutamakan” untuk melakukan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon, namun bukan untuk “dibatasi”.

Rasulullah memang selalu melazimkan untuk melakukan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon itu. Bahkan ketika beliau sudah semakin tua dan mendekati akhir hayat, beliau justru malah menambah I’tikaf beliau hingga 20 hari akhir bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

كان رسول الله r يعتكف في كل رمضان عشرة أيام ، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu I’tikaf setiap bulan Ramadhan selama 10 hari. Tapi pada tahun dimana beliau wafat, beliau I’tikaf selama 20 hari.” (HR. Al-Bukhari)

Adapun maksud dari I’tikaf itu bukan syarat sah agar bisa mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr, adalah sebagai berikut.

Barangsiapa yang melakukan Ibadah bertepatan dengan malam lailatul Qodr, baik dia melakukan ibadah itu ketika I’tikaf ataupun ketika tidak melakukan I’tikaf. Maka dia akan mendapatkan keutamaan dilipatgandakannya pahala ibadah tersebut, sesuai dengan keutamaan malam lailatul Qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Dan cara untuk memanfaatkan agar seluruh waktu dari malam Lailatul Qadr itu bernilai ibadah, adalah dengan cara I’tikaf.

Jadi I’tikaf di malam lailatul qadr itu adalah suatu afdholiyyah yang sangat utama, untuk mendapatkan seluruh waktu Lailatul Qadr agar bernilai ibadah. Akan tetapi itu bukan syarat sah untuk mendapatkan Lailatul Qadr.

Dalil akan hal ini adalah sama seperti dalil bahwa Rasulullah tidak jadi I’tikaf karena melihat “persaingan” para istri-istri beliau dalam ikut mendirikan tenda, untuk I’tikaf disamping tenda beliau. Yang mana hadits ini sudah kita sebutkan sebelumnya.

Jika seandainya I’tikaf adalah syarat sah untuk mendapatkan keutamaan lailatul Qadr, maka tentu rasulullah tidak akan membatalkan I’tikafnya pada saat 10 hari akhir bulan romadhon itu, dan tidak menggantinya pada 10 hari akhir bulan syawwal. Sedangkan kita sama-sama mengetahui bahwasanya bulan syawwal bukanlah bulan dimana Lailatul Qadr turun.

Terlebih lagi ada juga hadits yang lain yang “berlaku umum”, yang menyebutkan bagaimana Rasulullah menyambut 10 hari terakhir romadhon dengan menghidupkan malam beliau, dan membangunkan para keluarga beliau. Hadits ini berlaku umum, yakni untuk menghidupkan malam dengan ibadah apa saja dan tidak dikhususkan dengan cara harus sambil I’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1884]

Jikalau benar harus dengan cara I’tikaf, maka tentu Rasulullah harus menjelaskan ini kepada ummat. Sedangkan Rasulullah tidak pernah menjelaskan akan hal itu. Maka dari itu berlaku qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan).

Walloohu A’lam

Adapun jika sudah jelas masalah ini, maka sekarang apakah bedanya orang yang I’tikaf dengan orang yang tidak I’tikaf dalam menyambut kedatangan Lailatul Qodr. Yang jelas adalah jauh beda sekali keutamaannya.

Lailatul Qodr akan jatuh dan datang kepada semua orang, baik itu kepada :

  • Orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan cara ber-I’tikaf
  • Orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan cara tidak ber-I’tikaf, namun banyak melakukan ibadah pada malam harinya sebisanya. (yakni bagi orang-orang yang berhalangan untuk I’tikaf di masjid baik karena pekerjaannya, karena sedang haidh atau nifas bagi wanita, karena tidak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih balita di rumah, dan lain-lain)
  • Orang yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan lailatul Qodr dan tidak peduli akan hal itu.

Maka bagi orang yang I’tikaf dan benar-benar mempersiapkan melakukan berbagai macam ibadah ketika I’tikaf di dalam masjid itu, dia seperti orang yang memakai jala yang sangat besar dan bisa mendapatkan ikan-ikan keutamaan pahala di malam lailatul Qodr secara sangat maksimal.

Bagi orang yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan tidak ber-I’tikaf dan beribadah secukupnya saja, maka seperti para pemancing ikan yang mendapatkan ikan secukupnya saja. Sesuai dengan seberapa lama dia memanfaatkan waktu lailatul Qodr untuk beribadah.

Demikianlah bagi orang-orang yang beribadah secukupnya saja menyambut Lailatul Qodr dengan tidak ber-I’tikaf. Kecuali bagi orang-orang yang memang memiliki udzur syar’I, sedangkan dia sudah sangat berniat untuk ikut I’tikaf, dan dia berusaha beribadah semampunya untuk menyambut lailatul Qodr. Yang mana jika tidak ada udzur syar’I itu, maka tentu dia sudah akan ikut I’tikaf. Maka bagi orang-orang seperti ini, insya Allah dia akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang melakukan I’tikaf karena niatnya. Walloohu A’lam.

Adapun bagi orang-orang yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan lailatul Qodr dan tidak peduli akan hal itu, maka hal ini tidak perlu kita bahas.

  • Perbedaan pendapat ulama masalah waktu minimal untuk bisa dikatakan sebagai I’tikaf

Setelah kita faham bahwasanya waktu untuk I’tikaf itu tidak terbatas pada bulan ramadhan saja, dan faham bahwasanya I’tikaf adalah afdholiyyah untuk menyambut malam Lailatul Qodr akan tetapi bukan syarah sah untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr. Maka perlu juga bagi kita untuk memahami batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf.

Dalam masalah batasan minimal untuk melakukan I’tikaf ini, karena rasulullah sendiri memang tidak menjelaskan secara rinci perihal ini, maka para ulama pun saling berbeda pendapat mengenai batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf ini.

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimal untuk melakukan I’tikaf adalah 10 hari penuh. Dan 10 hari ini maksudnya adalah 10 hari penuh, baik itu siang ataupun malam semua harus I’tikaf di masjid. Jadi tidak 10 hari tapi pada malamnya saja.

Dalil akan hal ini adalah praktek rasulullah dalam melaksanakan I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhon.

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimalnya adalah sehari semalam

Dalil akan hal ini adalah perkataan Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu,

لا اعتكاف أقل من يوم وليلة

“Tidak ada i’tikaf yang kurang dari sehari semalam.” (Disebutkan Syaikhul Islam dalam Syarhul Umdah, 2:760 dan beliau nyatakatan sebagai riwayat Ishaq bin Rahuyah)

  1. Sebagian ulama berpendapat batasan waktu minimalnya adalah semalaman, yakni malamnya saja. Atau seharian saja (siangnya saja), yakni telah melewati siangnya hingga waktu buka puasa.

Dalil akan hal ini adalah nadzar I’tikaf pada waktu malam hari dari Umar bin Khoththob yang haditsnya telah penulis sebutkan sebelumnya.

Dan juga riwayat perkataan Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa:

لا اعتكاف إلا بصوم

“Tidak ada i’tikaf kecuali dengan puasa.” (HR. Ad Daruquthni dan Baihaqi)

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya batasan waktu minimalnya adalah berdiam sesaat saja, sehingga sudah memenuhi pengertian disebut sebagai berdiam diri (I’tikaf) secara bahasa.

Dan ada juga perkataan dari dari Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu, salah seorang Sahabat nabi juga sebagaimana Aisyah dan Ibnu Umar, beliau mengatakan:

إني لأمكث في المسجد الساعة، وما أمكث إلا لأعتكف

“Sesungguhnya saya berdiam beberapa saat di masjid, dan tidaklah aku berdiam kecuali untuk i’tikaf.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazaq dalam al-Mushannaf).

Dari keempat pendapat ulama diatas, penulis lebih menguatkan pendapat bahwa batas waktu minimal I’tikaf adalah berdiam sesaat saja. Yang mana ini juga adalah pendapat jumhur ulama. Adapun argumentasi penulis kenapa lebih menguatkan pendapat itu adalah sebagai berikut,

  1. Argumentasi pendapat 10 hari penuh dan pendapat 1 hari penuh (sehari semalam), bisa dijawab bahwa hal itu kurang tepat untuk dijadikan argument waktu minimal I’tikaf karena adanya hadits shohih riwayat Bukhari perihal Umar bin Khoththob yang melakukan I’tikaf pada malam hari saja. Hadits ini sudah kami sebutkan sebelumnya.
  2. Argumentasi pendapat seharian siangnya saja dengan diiringi sambil berpuasa, sebagaimana ini adalah perkataan yang dinisbatkan kepada Aisyah, juga kurang tepat untuk dijadikan argument waktu minimal I’tikaf karena adanya hadits shohih riwayat Bukhari perihal Umar bin Khoththob yang melakukan I’tikaf pada malam hari saja.

Bahkan Imam Bukhori sendiri dalam shohihnya, di Kitab Al-I’tikaaf ( kitab ke 17), membuat bab khusus berjudul “Man lam yaro ‘alaihi shouman idzaa I’tikaf” (Pendapat bahwa seseorang tidak harus puasa ketika ber-I’tikaf). Dan meletakkan hadits perihal Umar melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari disitu.

  1. Adapun hadits Umar melakukan I’tikaf nadzar pada malam hari itu, sebenarnya juga tidak secara pasti menjelaskan masalah waktu minimal untuk I’tikaf. Rasulullah hanya mensetujui dan memerintahkan Umar untuk melakukan I’tikaf, tapi rasulullah tidak secara definitive memastikan bahwa waktu minimalnya adalah itu.

Karena ketidakadaan dalil yang pasti masalah waktu minimal ini, akan tetapi karena adanya dalil yang pasti masalah keabsahan adanya ibadah I’tikaf ini di dalam Al-Qur’an. Yakni terutama di dalam QS. Al-Baqoroh ayat 187 yang sudah kami kutip sebelumnya. Maka untuk menafsirkan dan memahami makna I’tikaf dalam QS. Al-Baqarah ayat 187 itu, kita kembali ke pengertian asal bahasa Arab akan makna I’tikaf itu.

Ini karena tidak ada ayat lain atau hadits Rasulullah lain, yang secara definitive menjelaskan batas minimal waktu untuk bisa disebut sebagai I’tikaf itu.

Metode mengembalikan ke pengertian asal dalam bahasa Arab ini sesuai dengan firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa bacaan (qur’an) dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. [QS. Yusuf : 2]

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan/hukum (yang benar) dalam bahasa Arab. [QS. Ar-Ra’du : 37]

Pengertian I’tikaf secara bahasa, untuk batasan minimal bisa dikatakan sebagai I’tikaf, adalah berdiam sesaat saja. Dan inilah juga pendapat jumhur ulama. Walloohu A’lam.

  1. Terlebih lagi ada riwayat amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya dia hanya berniat berdiam diri di masjid sesaat saja untuk I’tikaf.
  1. Kenapa kita tidak langsung berdalil dengan amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu saja?

Hal ini karena yang bisa dipakai dalil itu adalah ijma’ shahabat, atau pendapat Sahabat yang tidak diingkari oleh shahabat lainnya yang lazim dinamakan ijma’ sukuty (Ijma karena diam). Apalagi setelah kita lihat lagi, amalan shahabat Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu ini ternyata berbeda pendapat dengan penjelasan dari pendapat dari Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa dan Ibnu Umar rodhiyalloohu ‘anhu.

Maka dari itu amalan Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu tidak bisa langsung dijadikan sebagai dalil, karena adanya fatwa-fatwa shahabat yang berbeda, sebelum ada argumentasi-argumentasi yang mendukunganya. Walloohu A’lam

  1. Adanya hadits-hadits amalan bentuk aplikasi I’tikaf, yang memiliki durasi waktu lebih pendek atau tidak dibatasi secara pasti (sesuka kita).

Iini seperti amalan duduk berdiam diri di dalam masjid (I’tikaf) untuk menunggu waktu sholat ataupun berdiam diri setelah selesai sholat. Termasuk juga untuk amalan menunggu sholat Isyraq, yang dengan cara menunggu dan berdzikir setelah selesai sholat shubuh berjamaah di dalam masjid.

Hadits-hadits mengenai amalan bentuk I’tikaf ini sudah penulis sebutkan, ketika membahas masalah pengertian I’tikaf. Walloohu A’lam

  • Kapan mulai masuk ke masjid untuk ber-‘itikaf dan kapan keluar untuk selesai ber-I’tikaf

Setelah kita menguatkan pendapat bahwa waktu minimal ber-I’tikaf ini hanyalah sesaat saja. Maka penjelasan ulama mengenai kapan seorang mu’takif mulai masuk ke masjid untuk ber-I’tikaf, dan kapan mu’takif keluar selesai ber-I’tikaf, agak keluar dari pendapat yang kita anggap kuat.

Yang mana penjelasan kapan mulai masuk untuk ber-I’tikaf, dan kapan keluar selesai ber-I’tikaf, sebenarnya kembali kepada pendapat bahwa batas minimal untuk beri’tikaf adalah 10 hari penuh (terutama pada 10 hari akhir romadhon).

Adapun jika menginginkan ke-afdholiyyah-an, yakni dengan cara ber-I’tikaf 10 hari penuh di akhir bulan Romadhon untuk mencontoh rosulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Maka para ulama secara umum menjelaskan bahwa para mu’takif harus masuk ke masjid untuk beri’tikaf sebelum matahari terbenam pada malam ke 21 bulan Ramadhon, dan keluar dari tempat I’tikaf setelah terbenamnya matahari dan masuk pada malam 1 syawwal. Walloohu A’lam

  • Praktek aplikasi nyata di masyarakat perihal pembahasan waktu minimal I’tikaf ini untuk I’tikaf di 10 hari terakhir bulan romadhon

Umumnya masyarakat muslim pada zaman ini, terutama di Indonesia termasuk juga penulis, selalu disibukkan dengan pekerjaannya di siang hari dan dengan keluarganya di malam hari. Baik itu pegawai, pekerja kantoran, pengusaha, pedagang, ataupun pelajar.

I’tikaf sederhana seperti berdiam di masjid menunggu datangnya waktu sholat, ataupun berdiam diri sejenak setelah selesai sholat wajib berjamaah saja kadang agak dilupakan dan sepertinya diburu-buru untuk melakukan aktivitas lain. Ini belum lagi jika kita tambah masalah menunggu waktu sholat isyroq (atau syuruq atau dhuha pada awal waktu) sambil berdzikir, setelah selesai sholat shubuh berjamaah.

Maka bagaimana lagi dengan masalah amalan I’tikaf yang paling utama, yakni I’tikaf di 10 hari akhir bulan Romadhon guna menyambut datangnya lailatul Qodr?

Pada hari-hari itu, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di Indoensia sudah disibukkan dengan mudik sebelum idul fitri. Sibuk mempersiapkan makanan, baju baru, kue-kue lebaran, dan lain-lain. Sehingga hanya beberapa orang saja sepertinya yang benar-benar mau untuk meluangkan 10 hari full untuk I’tikaf, sebagaimana contoh rosul.

Akan adanya fenomena ini, maka hendaklah kita terapkan qaidah fiqh “ماَ لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جَلُّهُ “ (Apa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya).

Hendaklah pegawai, pekerja kantoran, pengusaha, pedagang, ataupun pelajar yang berhalangan dan tidak bisa meninggalkan kegiatannya pada siang hari, datang dan melakukan I’tikaf pada malam hari di masjid.

Syukur-syukur kalau bisa semalaman full I’tikaf di masjid, dan tidak mengapa jika pagi hari I’tikafnya selesai karena ada kegiatan di luar masjid. Jikalaupun tidak bisa, maka paling tidak beberapa saat berdiam diri ber-I’tikaf di masjid pada malam hari pun juga tidak mengapa.

Yang jelas apa-apa yang tidak bisa diambil semuanya, maka janganlah ditinggalkan semuanya

JENIS DAN HUKUM I’TIKAF

Jenis I’tikaf ada dua yakni,

  • I’tikaf wajib

Yaitu I’tikaf nadzar, yang dilakukan karena sudah bernadzar untuk I’tikaf sebagaimana hadits Umar yang penulis sebutkan sebelumnya. I’tikaf seperti ini hukumnya wajib untuk dilaksanakan

  • I’tikaf sunnah

Yakni seluruh jenis I’tikaf selain I’tikaf nadzar.

Seperti I’tikaf di 10 hari akhir bulan romadhon, I’tikaf menunggu datangnya waktu sholat berjamaah, atau keinginan sendiri untuk I’tikaf di masjid yang tidak dibatasi waktunya guna mendekatkan diri kepada Allah. Walloohu A’lam

TEMPAT PELAKSANAAN I’TIKAF

Dalam QS. Al-Baqoroh ayat 187, jelas disebutkan bahwa tempat pelaksanaan I’tikaf itu adalah di masjid.

“sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf)” [وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ ].

[QS. Al-Baqoroh : 187]

Maka dari itu tidak ada, dan tidak sah, I’tikaf di tempat selain masjid. Baik itu di rumah, musholla yang dibuat di rumah, di kantor, di aula serba guna, di kios tempat jualan, dan lain-lain.

Para ulama berselisih pendapat masalah pengertian “masjid” yang dimaksud dalam ayat Al-Baqoroh ayat 187 ini, dikarenakan adanya hadits berikut ini.

Dari Huzaifah bahwa beliau mengatakan kepada Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:

الناس عكوف بين دارك ودار أبي موسى لا تغير؟! ، وقد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس » قال : عبد الله لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا

“Terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf di antara rumahmu dan rumah Abu Musa, dan anda tidak menegurnya, padahal anda tahu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada I’tikad kecuali di tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabi, dan masjid Bait al-Maqdis”?

Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin anda yang lupa dan mereka yang mengingatnya, dan mungkin anda yang keliru dan merekalah yang benar.” [HR. Ath Thahawi dalam Musykil al-Atsar 6/265, Baihaqi 4/315, dishohihkan oleh Syaikh Albani di Ahadits Shohihah, 2876.]

Sebagian ulama berpendapat bahwa bahwa syarat sah I’tikaf hanya di tiga masjid itu saja, yakni Masjidil Haram, Masjidil Nabawi, dan Masjidil Aqsho.

Sebagian ulama menganggap hadits itu hanya mauquf saja sampai kepada Hudzaifah bin Yaman, sehingga dianggap hanya pendapat Hudzaifah saja dan bukan perkataan Rasul. Hal ini karena Abdullah bin Mas’ud selaku shahabat utama juga, menyanggah perkataan Hudzaifah tersebut. Sehingga ulama ini berpendapat boleh untuk melakukan I’tikaf di luar ketiga masjid itu, karena dikembalikan kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187.

Dalam hal ini kami lebih menguatkan pendapat yang terakhir, yakni boleh I’tikaf di semua masjid dan tidak dibatasi hanya pada tiga masjid itu. Walaupun jika bisa I’tikaf di salah satu dari ketiga masjid itu tentu lebih afdhol, karena masjid-masjid itu memiliki keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki masjid-masjid lainnya. Walloohu A’lam

Lihat juga : https://islamqa.info/id/81134 dan https://islamqa.info/id/49006

Setelah selesai pembahasan bahwa I’tikaf boleh dan sah untuk dilakukan di selain 3 masjid itu. Ternyata para ulama masih memperinci lagi mengenai masjid seperti apakah yang dimaksud.

Sebagian ulama mengatakan bahwa masjid yang dimaksud adalah semua masjid tanpa kecuali, dengan berdalil kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187.

Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah masjid jami’ yang dilakukan sholat jum’at di situ, dengan bersandar kepada fatwa perincian dari Aisyah rodhiyalloohu ‘anhu dan Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhu.

Dari kedua perbedaan pendapat itu, kami lebih menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud adalah semua masjid tanpa kecuali, dengan berdalil kepada keumuman perkataan Al-Masaajid (masjid-masjid) di dalam QS. Al-Baqarah : 187. Dan inilah juga pendapat jumhur ulama.

Adapun perkataan ataupun pendapat shahabat, maka hal tersebut tidak bisa membatasi keumuman dalil dari QS. Al-Baqarah : 187 itu. Kecuali jika itu adalah ijma’ shahabat, maka hal itu sah untuk digunakan sebagai dalil. Namun penulis belum melihat adanya penguatan akan hal itu.

Mengenai argumentasi, bahwa orang yang I’tikaf boleh di semua masjid, baik itu di masjid jami’ ataupun masjid bukan jami’. Maka jika dia I’tikaf bukan di masjid bukan jami’, tentu dia akan berpontensi untuk keluar meninggalkan masjid dan mencari masjid jami’ untuk melakukan sholat jum’at. Ini karena dia I’tikaf di masjid bukan jami’.

Maka kita jawab,

  1. Bahwasanya ini termasuk udzur syar’I untuk boleh meninggalkan masjid, sehingga hal ini tidak akan memutus I’tikaf nya walaupun dia keluar masjid untuk mencari masjid jami’. Walloohu A’lam
  2. Jikalau pun ini dianggap bukan termasuk udzur syar’I, maka ini adalah konsekuensi dalam memlih pendapat berapa lama waktu minimal agar I’tikaf dianggap sah.

Jika seseorang lebih menguatkan pendapat bahwa lama waktu minimal agar I’tikaf dianggap sah adalah 10 hari penuh, dan keluar masjid non jami’ untuk mencari masjid jami’ guna sholat jum’at dianggap bukan udzur syar’i. Maka ini akan menjadi masalah, dan akan berkonsekuensi menganggap masjid yang dianggap sebagai syarat sah I’tikaf itu hanyalah masjid jami’ saja.

 

Adapun bagi pendapat yang penulis anggap kuat mengenai batas waktu minimal untuk I’tikaf, maka hal ini tidak ada masalah sekalipun seseorang ber-I’tikaf di masjid non jami’ yang tidak diadakan sholat jum’at di situ.

Tidak masalah bagi seorang mu’takif untuk memutuskan I’tikafnya guna keluar masjid mencari masjid jami untuk sholat jum’at. Dan kemudian kembali lagi, berniat lagi, dan memulai I’tikaf yang baru lagi.

 

Apakah ini tidak merepotkan dan tidak utama?

Ya, ini memang merepotkan dan tidak diutamakan. Namun bukan berarti ini tidak sah, karena kali ini kita memang sedang membahas permasalahan fiqh untuk sekedar penentuan sah atau tidaknya saja. Bukan membahas masalah mana yang lebih utama atau lebih afdhol.

Adapun dalam prakteknya, tentu saja sebaiknya memilih masjid jami’ untuk I’tikaf. Ini lebih baik dan lebih mudah untuk melaksanakan sholat jamaah dan sholat jum’at.

Walloohu A’lam

Lihat : https://konsultasisyariah.com/23085-bolehkah-itikaf-di-mushola.html

SYARAT-SYARAT I’TIKAF

Syarat bagi mu’takif (orang yang ber-I’tikaf) :

  1. Muslim
  2. Baligh
  3. Berakal (waras), tidak gila
  4. Niat untuk ber-I’tikaf

Niat itu di dalam hati yakni dengan tahu, sadar, dan sengaja dalam melakukan I’tikaf. Bukan di dalam lisan dan tidak perlu untuk dilafalkan

  1. Tidak disyaratkan harus berpuasa ketika I’tikaf, dalam artian orang yang tidak puasa juga boleh ber-I’tikaf.

Hal ini sudah sedikit kita bahas di dalam pembahasan pendapat waktu minimal I’tikaf

  1. Melakukan I’tikaf di masjid

Perbedaan pendapat mengenai tempat I’tikaf, dan masjid yang bagaimanakah yang sah digunakan untuk I’tikaf sudah kita bahas sebelumnya.

  1. Memperoleh izin dari suami bagi wanita

Dalil akan hal ini adalah Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk I’tikaf, dan kemudian ternyata diikuti oleh istri-istri beliau yang lain. Mengetahui “persaingan” yang tidak baik ini, maka Rasulullah menyuruh untuk membongkar seluruh tenda-tenda yang digunakan untuk ber-I’tikaf itu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ قَالَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً وَسَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَتْ قُبَّةً أُخْرَى فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْغَدَاةِ أَبْصَرَ أَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ فَقَالَ مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هَذَا آلْبِرُّ انْزِعُوهَا فَلَا أَرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِي آخِرِ الْعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Shubuh beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf eliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radliallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Beliau, maka Beliau mengizinkannya. Lalu ‘Aisyah radliallahu ‘anha membuat tenda khusus. Kemudian hal ini didengar oleh Hafshah, maka diapun membuat tenda serupa. Begitu juga hal ini kemudian didengar oleh Zainab maka dia pun membuat tenda yang serupa.

Ketika Beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau melihat tenda-tenda tersebut, maka Beliau berkata: “Apa ini?” Lalu Beliau diberitahu dengan apa yang telah diperbuat oleh mereka (para isteri beliau).

Maka Beliau bersabda: “Apa yang mendorong mereka sehingga beranggapan bahwa tenda-tenda ini adalah jalan kebajikan? Bongkarlah tenda-tenda itu, aku tidak mau melihatnya”.

Maka tenda-tenda itu dibongkar dan Beliau tidak meneruskan i’tikaf Ramadhan hingga kemudian Beliau melaksanakannya pada sepuluh akhir dari bulan Syawal. [Hr. Bukhari, kitab Al-I’tikaaf, Bab Al-I’tikaafu fi syawwaal, hadits no. 1900]

  1. Suci dari junub atau hadats besar (baik bagi laki-laki dan wanita), haid (bagi wanita), dan nifas (bagi wanita)

Dalil harus suci dari junub atau hadats besar adalah QS. An-Nisaa : 43,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. [QS. An-Nisaa : 43]

Dalil harus suci dari haid dan nifas bagi wanita adalah,

Dari A’isyah rodhiyalloohu ‘anhaa, beliau berkata

كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم  بإخراجهن من المسجد

“Dulu para wanita melakukan i’tikaf. Apabila mereka haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk keluar dari masjid.”

(Riwayat ini disebutkan Ibn Qudamah dalam al-Mughni 3:206 dan beliau menyatakan: Diriwayatkan oleh Abu Hafs al-Akbari. Ibnu Muflih dalam al-Furu’ 3:176 juga menyebutkan riwayat ini dan beliau nisbahkan sebagai riwayat Ibnu Batthah. Kata Ibnu Muflih: “Sanadnya baik”).

Adapun bagi wanita yang istihadhoh (keluar darah karena penyakit), dan bukan karena haidh ataupun nifas, maka dia dibolehkan untuk I’tikaf. Sesuai dengan hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ مُسْتَحَاضَةٌ فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ فَرُبَّمَا وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata; Ada seorang dari isteri-isteri Beliau yang ikut beri’tikaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mengalami istihadhah. ‘Aisyah radliallahu ‘anha melihat ada darah berwarna merah dan kekuningan sedangkan di bawahnya diletakkan baskom sementara dia mengerjakan shalat”. [Hr. Bukhari, Kitaabul I’tikaaf, hadits no. 1896]

Mengenai suci dari hadats kecil ataupun najis, maka itu tidak termasuk syarat I’tikaf dan bukan termasuk pembatal I’tikaf. Akan tetapi sebaiknya segera dibersihkan dan bersuci. Walloohu A’lam

RUKUN I’TIKAF

  1. Niat untuk melakukan I’tikaf di dalam hati

Niat itu di dalam hati yakni dengan tahu, sadar, dan sengaja dalam melakukan I’tikaf. Bukan di dalam lisan dan tidak perlu untuk dilafalkan

  1. Beri’tikaf dengan berdiam diri di dalam masjid
  2. Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan I’tikaf

Hal-hal yang membatalkan I’tikaf akan kami bahas dalam topik tersendiri setelah ini

Adapun membaca Al-Qur’an, dzikir, sholat sunnah, dan lain-lain itu hanyalah merupakan amalan-amalan sunnah yang sebaiknya dilakukan ketika melaksanakan I’tikaf. Bukan rukun atau pokok-pokok cara dalam melaksanakan I’tikaf.

I’tikaf yang dilakukan dengan tanpa membaca Al-Qur’an tetap sah disebut sebagai ibadah I’tikaf, karena hakikatnya I’tikaf memang benar-benar hanya berdiam diri di masjid untuk tujuan bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah). Hanya saja sayang jika waktu yang digunakan untuk ber-I’tikaf, tidak digunakan untuk melakukan amalan-amalan sunnah tersebut.

Penjelasan ini kami tuliskan dan kami tekankan, agar kita semua faham apa itu ibadah I’tikaf yang sesungguhnya. Bahwa sesungguhnya I’tikaf itu mudah, dan bahkan sangat mudah. Dan juga agar tidak ada anggapan awam yang salah, bahwa ketika I’tikaf itu diwajibkan harus membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Sehingga jika ada orang yang belum mampu membaca Al-Qur’an, maka dia akan urung untuk ikut I’tikaf.

Pembahasan mengenai amalan-amalan sunnah yang sebaiknya dilakukan ketika I’tikaf, akan kami bahas dalam topik tersendiri insya Allah.

HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN DAN MEMBATALKAN I’TIKAF

Yang dimaksud dengan putus dan batal I’tikaf nya disini adalah ibadah I’tikaf-nya berhenti, dan tidak sudah tidak dianggap melakukan amal sholeh untuk mendekatkan diri kepada Allah lagi.

Adapun batal yang dimaksud disini bukanlah batal sebagaimana halnya batal dalam sholat atau dalam puasa, karena kentut dan makan dengan sengaja. Yakni dianggap membatalkan amalan sholat dan puasa seluruhnya karena batal.

Amalan waktu I’tikaf sebelum melakukan hal-hal yang memutus dan membatalkan amalan I’tikaf dianggap tetap sah, dan tetap merupakan amalan sholeh. Ini karena kita merojihkan pendapat bahwa waktu minimal I’tikaf itu hanya sekejap waktu saja.

Berbeda jika kita misal menetapkan batas waktu minimal I’tikaf adalah 10 hari penuh. Maka jika pada hari kelima kita melakukan hal yang membatalkan I’tikaf, maka seluruh amalan I’tikaf 5 hari itu akan dianggap hangus dan batal juga sebagaimana sholat dan puasa yang batal. Hal ini karena batas waktu minimal syarat sah untuk disebut sebagai I’tikaf belum terpenuhi. Walloohu A’lam.

***

Jika kita karena sesuatu hal putus dan batal I’tikaf nya, dan juga karena kita berpegang kepada pendapat bahwa waktu minimal I’tikaf kita hanya sekejap waktu saja, maka apa tindakan kita?

Kalau memang kondisi kita masih memungkinkan, maka tindakan kita adalah memulai I’tikaf lagi yang baru, dengan berniat dan masuk lagi ke masjid untuk berdiam diri. Kita mulai amalan I’tikaf yang baru lagi sesuai dengan jatah waktu tersisa yang kita inginkan.

Adapun hal-hal yang memutuskan dan membatalkan I’tikaf adalah,

  1. Keluar dari dalam masjid tanpa ada udzur yang diperbolehkan oleh syari’at

Hal ini jelas, karena hal ini bertentangan dengan makna I’tikaf itu sendiri.

 

Terdapat pembahasan di kalangan ulama masalah lingkungan di dalam masjid yang masih di dalam pagar, apakah itu masih dianggap sebagai bagian masjid atau tidak? Yang mana jika kita ke halaman masjid, apakah kita dianggap memutuskan ataupun membatalkan I’tikaf kita ataukah tidak?

 

Sebagian Ulama mengatakan bahwa itu termasuk bagian luar masjid, sehingga memutus dan membatalkan I’tikaf. Sebagian lagi mengatakan itu termasuk bagian dalam masjid jika masih masuk di dalam pagar, sehingga tidak memutus dan membatalkan I’tikaf.

 

Yang penulis pandang kuat adalah halaman masjid yang masih di dalam pagar masjid, maka itu masih termasuk bagian dari masjid dan tidak membatalkan I’tikaf jika keluar dari masjid ke halaman itu. Walloohu A’lam

 

Lajnah Daimah berfatwa,

 

ما كان داخل سور المسجد فهو من المسجد، وله حكم المسجد، فرحبة المسجد من المسجد، ومكتبة المسجد من المسجد إذا كان كل منهما داخل سور المسجد

 

“Semua yang berada di dalam pagar masjid, maka termasuk bagian dari masjid, hukumnya sama dengan masjid, dengan demikian, halaman masjid juga termasuk masjid, perpustakaan masjidpun bagian dari masjid, jika semua tempat tersebut berada di dalam pagar masjid”.

 

Lihat pembahasan pendapat ulama tersebut di,

https://muslim.or.id/25983-fikih-itikaf-2.html dan https://muslim.or.id/25985-fikih-itikaf-3.html

 

  1. Hilang akal atau gila
  2. Murtad
  3. Datang waktu haid atau nifas bagi perempuan
  4. Mabuk

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” [QS. An-Nisaa : 43]

 

  1. Berjima’ atau bercampur dengan istri ketika I’tikaf

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ۗ

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berdiam diri di dalam masjid (ber-I’tikaf)” [QS. Al-Baqoroh : 187]

  1. Hal-hal lain yang menyebabkan seseorang junub selain jima’ dengan istri

HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK KELUAR DARI MASJID DAN TIDAK MEMBATALKAN I’TIKAF

Keluar dari masjid yang dianggap tidak membatalkan I’tikaf, secara umum berkisar dari hal-hal yang mencakup kepada tiga permasalahan sebagai berikut,

  1. Udzur Syari’at

Seperti misal:

  • keluar untuk melakukan sholat jum’at, karena di masjid yang dipergunakan untuk I’tikaf bukanlah masjid jami’ yang diadakan sholat jum’at disitu.
  1. Hajah Thobi’iyyah (Keperluan hajat alami manusia)

Seperti misal :

  • Keluar masjid untuk buang air kecil atau buang air besar (karena kamar mandi berada di luar lingkungan masjid misalnya)
  • Mandi

Imam Al-Bukhori dalam shohihnya, di kitab Al-I’tikaaf, membuat bab berjudul “Ghoslul Mu’takif” (Mandi untuk orang yang ber-I’tikaf), dan beliau meriwayatkan hadits berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ مِنْ الْمَسْجِدِ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

 

 

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencumbui aku ketika aku sedang haidh dan Beliau juga pernah mengeluarkan kepala Beliau dari masjid ketika sedang beri’tikaf lalu aku membasuh rambut Beliau sedangkan aku saat itu sedang haidh”. [Hr. Bukhori, hadits no. 1890]

  • Mengantar istri, karena Rasulullah keluar masjid mengantarkan istrinya Shofiyyah pulang, sehabis shofiyyah menjenguk Rasulullah I’tikaf.
  • Keluar untuk membeli atau mengambil makanan dan minuman
  1. Keluar karena adanya sesuatu yang mendesak dan dhorurot

Seperti misal :

  • Bangunan masjid hendak roboh
  • Kendaraan yang diparkir di luar masjid hendak dicuri

APA-APA YANG DISUNNAHKAN DAN DIANJURKAN UNTUK DILAKUKAN KETIKA I’TIKAF

Pada prinsipnya apa-apa yang disunnahkan dan yang dianjurkan itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah untuk taqorrub kepada Allah. Hal itu seperti :

  1. Banyak melakukan sholat sunnah, baik itu sholat sunnah mutlak ataupun sholat sunnah muqoyyad (seperti tahiyatul masjid, dhuha, qiyamul lail, dan lain-lain)
  2. Membaca Al-Qur’an
  3. Berdzikir kepada Allah sendiri-sendiri dan tanpa suara keras, baik dengan dzikir mutlaq ataupun dzikir muqoyyah (seperti dzikir pagi-petang, dzikir setelah sholat fardhu, dan lain-lain)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu (BERDZIKIR) dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.(QS. Al A’raf: 205)

  1. Berdo’a
  2. Membaca buku-buku agama
  3. Mengikuti ta’lim di masjid
  4. Melakukan puasa sunnah jika I’tikafnya melewati waktu puasa sunnah

APA-APA YANG DIPERBOLEHKAN KETIKA I’TIKAF

Boleh untuk melakukan apapun ketika I’tikaf selain dari hal-hal yang membatalkan I’tikaf dan hal-hal yang merupakan kemaksiatan. Walloohu A’lam

BOLEHKAH WANITA IKUT BERI’TIKAF DI MASJID

Wanita diperbolehkan untuk ber-i’tikaf karena para istri Rasulullah juga pernah ber-itikaf, dengan syarat:

  1. Tidak sedang Haidh atau Nifas, adapun wanita yang musthahadhoh dibolehkan

Hal ini sudah kita tampilkan haditsnya ketika membahas syarat-syarat I’tikaf

  1. Mendapatkan izin dari suami

Hal ini sudah kita tampilkan haditsnya ketika membahas syarat-syarat I’tikaf

  1. Tidak menimbulkan fitnah

Haditsnya sama seperti masalah hadits mendapatkan izin suami

Puasa – Tulisan 21

Leave a comment

ASAL-USUL PENAMAAN SHOLAT TARAWIH

Taraawiih adalah bentuk jamak dari tarwiihah, yang berarti Jalsah (duduk). Adapun yang dimaksud adalah duduk untuk beristirahat sejenak.

Dikatakan seperti itu karena Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan sholat malam pada bulan Ramadhan, duduk untuk beristirahat sejenak setelah sholat 4 rekaat. Kenapa beristirahat? Karena sholat beliau sangat panjang dan sangat lama, maka setelah selesai 4 rekaat beliau duduk untuk beristirahat sejenak, untuk kemudian dilanjutkan rekaat sholat selanjutnya lagi.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab:

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at.

Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. [HR. Bukhori]

Aisyah bertanya masalah apakah Rasulullah tidur sebelum witir, menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dan istirahat dulu sebelum melaksanakan sholat witir. Dan demikian juga hal yang difahami dengan cara yang sama, yakni perihal kenapa Aisyah mensifatkan Sholat 4 rekaat dalam waktu yang panjang, untuk kemudian dilanjutkan dengan disambung lagi 4 rekaat, dan disambung lagi dengan 3 rekaat witir. Yakni untuk menunjukkan adanya jeda istihat setelah sholat 4 rekaat itu.

Hanya saja jeda istirahat sebelum melaksanakan 3 rekaat sholat witir itu dirasa agak lama oleh Aisyah, sehingga beliau sampai bertanya apakah Rasulullah tidur ketika istirahat sebelum sholat witir tersebut. Walloohu A’lam

***

Sholat Tarawih ini sebenarnya adalah nama lain dari “sholat malam yang dilakukan pada bulan Romadhon”. Jadi sifat sholat malam baik di dalam ataupun di luar bulan Romadhon itu sebenarnya sama saja. Hanya saja khusus di dalam bulan romadhon, sholat malamnya “mempunyai nama lain” dengan sebutan sholat Tarawih.

Kenapa hanya sholat malam di bulan Romadhon saja yang mempunyai nama lain sholat Tarawih?

Ini karena umumnya di luar bulan Romadhon, Rasulullah melakukan sholat malam sendirian. Sedangkan khusus di bulan Romadhon, Rasulullah “pernah” melakukan sholat malam secara berjamaah bersama dengan para shahabat dalam waktu sholat yang sangat lama, walaupun itu hanya dilakukan tiga kali saja sepanjang hidup Rasulullah.

Karena waktu yang sangat panjang dan berjamaah itu, Rasulullah nampak terlihat di khalayak shahabat duduk istirahatnya setelah selesai empat rekaat berjamaah, untuk kemudian dilanjutkan lagi setelah selesai duduk beristirahat sejenak.

Sholat tarawih berjamaah yang hanya tiga kali ini, dikisahkan oleh Aisyah istri Nabi Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut.

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhya ‘Aisyah radliallahu ‘anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau.

Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau.

Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau.

Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah Beliau selesai shalat Fajar, Beliau menghadap kepada orang banyak kemudian Beliau membaca syahadat lalu bersabda:

“Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya”. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, tradisi shalat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu. [HR. Bukhori]

Adapun pendetailan bahwa rasulullah melakukan sholat tarawih dengan cara duduk istirahat setiap selesai 4 rekaat, adalah hadits pensifatan cara sholat Tarawih yang JUGA SAMA-SAMA DIRIWAYATKAN oleh Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa yang telah kita sebutkan sebelumnya itu.

Dari penjama’-an (pengumpulan) dua hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Aisyah itu, maka kita bisa lebih memahami kenapa khusus untuk sholat Malam pada bulan Romadhon itu, para ulama memberikan nama lain dengan sebutan Sholat Tarawih, dan tidak untuk sholat malam pada bulan lainnya. Walloohu A’lam

Walau begitu, pada hakikatnya ini sama dengan sholat malam seperti umumnya juga, hanya saja dia dilakukan di bulan Romadhon.

****

Berbicara lebih lanjut mengenai pengkhususan nama sholat Tarawih sebagai nama lain dari sholat malam di bulan Romadhon, maka sejauh yang penulis ketahui, hal ini dituliskan dan dibukukan pertama kali oleh Imam Al-Bukhori rohimahulloh, di dalam salah satu bab di dalam kitab Shohih-nya. Yakni pada kitab Shohih Bukhori kitab ke-16 tepatnya. Disitu Imam Al-Bukhori membuat kitab dengan judul “Sholaatut Taroowiih”.

Tidak diketahui secara pasti apakah Imam Bukhori yang pertama kali memunculkan nama itu? Ataukah Imam Bukhori hanya yang pertama kali menuliskan dan membukukan istilah itu, namun istilah itu sebenarnya sudah ma’ruf di kalangan para ulama pada zaman itu dan sebelumnya? Hanya saja belum sempat dituliskan namanya di salah satu jenis kitab tertentu, hingga tiba pada zamannya Imam Bukhori. Walloohu A’lam.

Kenapa hal ini dinisbatkan kepada Imam Al-Bukhori?

Hal ini karena jika melihat pada kitab-kitab Hadits yang lain, para ulama biasanya hanya menamakan bab dalam masalah sholat ini dengan nama “Qiyaam Romadhoon” atau “Qiyaam Syahr Romadhoon”.

[Qiyaam secara harfiah berarti bangkit atau berdiri, dan yang dimaksud adalah berdiri untuk Sholat. Secara keseluruhan boleh kita artikan “Sholat di bulan Romadhon”]

Seperti dalam dalam Sunan Abu Daud, di Kitab “Ash-Sholaah” (kitab ke-2), terdapat bab dengan nama“Fii Qiyaami Syahr Romadhoon”.

Dalam Sunan Ad-Darimi, di Kitab “Wa Min Kitaabish shiyaam” (Kitab ke-5), terdapat bab dengan nama “Baab fii Qiyaami Romadhoon” (Bab Sholat di bulan Romadhon).

Dalam Sunan Ibnu Majah, di Kitab “Iqoomatush sholaah wa sunnatu fiihaa” (kitab ke-6), terdapat bab dengan nama “Maa Jaa-a fii Qiyaami Syahr Romadhoon”.

Dalam Sunan An-Nasai, di Kitab “Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar” (Kitab ke-20), terdapat bab dengan nama “Qiyaamu Syahr Romadhoon”.

Adapun dalam Shohih Muslim, di Kitab “Sholaatul Musaafiriina wa Qoshruhaa” (Kitab ke-7), memang terdapat bab dengan nama “At-Targhiib fii qiyaami romadhoon wa huwa at-taroowiih”. Maka mengenai penamaan sholat tarawih oleh imam Muslim ini, karena Imam Muslim sejatinya adalah salah seorang murid dari Imam Al-Bukhori, maka penulis lebih cenderung untuk mengatakan bahwa Imam Muslim mengikuti penamaan sholat tarawih tersebut dari Imam Al-Bukhori sebagai guru beliau. Walloohu A’lam

Adapun Imam At-Tirmidzi, maka pada tulisan beliau Sunan At-Tirmidzi, beliau hanya meletakkan hadits-hadits berkaitan dengan sholat Tarawih di bulan Romadhon di kitab “Ash-Sholaah” (Kitab ke dua), pada bab-bab yang berkaitan dengan masalah sholat malam secara umum. Beliau tidak memberikan nama khusus pada bab-bab tersebut baik itu dengan nama “Sholat tarawih”, “Qiyaam Romadhon”, ataupun “Qiyaam Syahri Romadhoon”. Semua dianggap sama diberi nama dengan nama “Sholaatul lail” (sholat malam) biasa saja, baik itu di dalam romadhon ataupun di luar bulan romadhon. Beliau tidak memberikan nama khusus akan hal itu selain sholaatul lail. Lihat Sunan At-Tirmidzi kitab “Ash-Sholaah” (Kitab ke dua), dalam bab “Maa jaa-a fii fadhli sholaatil lail” dan bab “Maa jaa-a fii washfi sholaatin nabiy sholalloohu ‘alaihi wa sallam bill ail”.

Imam Al-Bukhori di sisi lain, hanya beliaulah yang terang-terangan memberikan nama lain dengan istilah Sholat Tarawih, di dalam kitab beliau. Walloohu A’lam

Adapun para ulama selain Imam Bukhori dan Imam Muslim, yang tidak memberikan istilah “sholat Tarawih” dan hanya memberikan sifat “Qiyaam Romadhoon” atau “Qiyaam Syahr Romadhoon”, umumnya mendasarkan kepada hadits di bawah ini.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

MAN QOOMA ROMADHOONA (Barangsiapa yang berdiri dan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” [Hr. Abu Daud dan selainnya]

****

Dari penjelasan-penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah dari masalah asal-usul penamaan sholat tarawih sebagai berikut :

  1. Sholat Tarawih itu adalah nama lain yang khusus diberikan oleh para Ulama untuk sholat malam pada bulan ramadhon. Adapun rasulullah sendiri tidak pernah memperinci dan memberikan nama dengan nama sholat Tarawih. Rasulullah hanya pernah memberikan nama dengan Sholat malam (Sholaatul lail) seperti biasa saja.
  2. Sholat Tarawih, secara umum, memiliki pembahasan dan hukum-hukum yang sama dengan pembahasan dan hukum-hukum mengenai Sholat malam.
  3. Setelah hal-hal yang dikhawatirkan oleh Rasulullah tidak ada, yakni khawatir jika turun Wahyu dan mewajibkan sholat Tarawih. Sholat Tarawih dilazimkan dengan cara berjamaah pada waktu bulan Romadhon, walau boleh juga dilakukan secara sendirian. Adapun sholat lail di luar bulan Romadhon, maka umumnya Rasulullah melakukannya secara sendirian.

SHOLAT TARAWIH PADA ZAMAN RASULULLAH DAN PADA ZAMAN KHULAFAUR ROSYIDIN

Sebelumnya telah kita jelaskan bahwasanya Rasulullah hanya pernah melakukan sholat tarawih sebanyak 3 kali saja. Yakni pada 7 hari terakhir bulan ramadhon di malam ganjil; pada malam 23, 25, dan 27 ramadhan tepatnya.

Dari sini kita bisa mengambil faedah, kenapa kok para shahabat bisa banyak berkumpul “secara spontan” waktu itu di masjid pada waktu malam hari?

Hal ini karena waktu itu sudah masuk ke 10 hari terakhir dari bulan ramadhan, dan lazim para shahabat melakukan I’tikaf guna menyambut datangnya Lailatul Qodr. Maka ketika para shahabat mengetahui rasulullah pergi ke masjid untuk melakukan shalat tarawih pada waktu malam hari, secara spontan mereka langsung mengikuti dan berjamaah bersama Rasulullah. Walloohu A’lam

Adapun pendetailan bahwa rasulullah hanya sholat tarawih “secara berjamaah” sepanjang hidupnya hanya tiga kali saja, yakni pada malam 23, 25, dan 27 ramadhan, kita dapatkan dari hadits shohih riwayat Imam An-Nasai berikut ini,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ فَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا وَلَمْ يَقُمْ حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَجَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ حَتَّى تَخَوَّفْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

Dari Abu Dzarr rodhiyalloohu ‘anhu dia berkata;

“Kami puasa Ramadlan bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan beliau tidak bangun (shalat malam) bersama kami hingga tinggal tujuh hari dari bulan Ramadlan. Lalu beliau bangun bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian pada malam keenam menjelang akhir Ramadhan beliau tidak bangun (malam)!

Maka setelah malam kelima, beliau bangun bersama kami hingga hampir lewat separuh malam. Kami berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau shalat sunnah bersama kami malam ini? ‘ Beliau menjawab: ‘Jika seseorang shalat bersama imam hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan shalat malam semalam penuh’.

Kemudian beliau tidak bangun (guna shalat malam) bersama kami.

Ketika bulan (Ramadhan) tinggal tiga hari lagi, beliau bangun untuk shalat malam bersama kami, lalu mengumpulkan keluarga dan para istrinya hingga kami khawatir kehilangan Al Falah ini.” Aku lalu bertanya; “Apakah (Al Falah) itu?” Ia menjawab; “Waktu sahur”. [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1587]

نُعَيْمُ بْنُ زِيَادٍ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ عَلَى مِنْبَرِ حِمْصَ يَقُولُ قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا نُدْرِكَ الْفَلَاحَ وَكَانُوا يُسَمُّونَهُ السُّحُورَ

Nu’aim bin Ziyad Abu Thalhah berkata; “Aku mendengar Nu’man bin Basyir berkata di atas mimbar di daerah Himsh,

‘Kami bangun untuk shalat malam bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di bulan Ramadlan pada malam dua puluh tiga sampai sepertiga malam pertama. Kemudian kami bangun (shalat malam) lagi bersama beliau pada malam kedua puluh lima sampai pertengahan malam. Kemudian kami bangun (shalat malam) lagi bersama beliau pada malam kedua puluh tujuh hingga kami mengira bahwa kami tidak mendapatkan kemenangan itu’.

Mereka menamakan kemenangan (Al Falah) itu dengan sahur.” [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1588]

***

Jadi dari hadits dan penjelasan di atas kita bisa mengetahui bahwa Sholat Tarawih “secara berjamaah dengan satu imam”, hanya pernah dilakukan oleh Rasulullah sebanyak tiga kali saja.

Alasan Rasulullah tidak melestarikan sunnah beliau itu karena beliau khawatir, jika Allah nanti akan mewajibkan sholat tarawih berjamaah itu. Dan hal itu tentu akan memberatkan ummat beliau. Alasan Rasulullah tentu juga diperkuat bahwa pada masa rasulullah melakukan sholat tarawih secara berjamaah itu, adalah pada masa-masa wahyu masih belum terputus, dan hukum-hukum syariat yang baru masih memungkinkan untuk bermunculan. Sehingga beliau takut akan hal itu. Walloohu A’lam

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya” [Hr. Bukhori]

Adapun sholat tarawih akhirnya dilakukan secara sendiri-sendiri di masjid, atau secara berjamaah namun tidak dibawah satu imam di satu masjid. Dan hal ini terus berlangsung pada zaman rasulullah, pada zaman kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga awal-awal kekhalifahan Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri rohimahulloh, ketika meriwayatkan hadits keutamaan Qiyam Ramadhon (Sholat Tarawih) di dalam shohih Bukhori.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menegakkan Ramadhan (QIYAM ROMADHAN, berdiri dan melakukan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”.

Ibnu Syihab berkata: “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan Ramadhan (QIYAM ROMADHAN, berdiri dan melakukan sholat romadhon), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu.” [Hr. Bukhori]

Kenapa tadi dikatakan,

“Adapun sholat tarawih akhirnya dilakukan secara sendiri-sendiri di masjid, atau secara berjamaah namun tidak dibawah satu imam di satu masjid. Dan hal ini terus berlangsung pada zaman rasulullah, pada zaman kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga awal-awal kekhalifahan Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu.”

Adapun yang melandasi akan hal ini, adalah hadits sikap Umar bin Khoththob pada zaman awal kekholifahan beliau berikut ini, yang mana dalam rowi hadits ini juga sama terdapat Ibnu Syihab Az-Zuhri rohimahulloh sebagai periwayat hadits.

وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata;

“Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang.

Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”.

Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam.” [Hr. Bukhori]

Jadi sunnah sholat tarawih secara berjamaah di bawah pimpinan satu imam, sebagaimana yang pernah Rasulullah lakukan sebanyak 3 kali saja, baru “dihidupkan kembali” pada zaman Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu. Adapun kekhawatiran akan diwajibkannya sholat tarawih ini sudah hilang pada zaman Umar, karena Rasulullah sudah meninggal, Wahyu telah terputus, dan syariat Islam sudah sempurna hingga tidak boleh untuk ditambah-tambahi ataupun dikurang-kurangi.

Di masa kekholifahan Abu Bakar rodhiyalloohu ‘anhu, selain masa pemerintahan yang relative pendek hanya dua tahun, beliau juga sangat sibuk dan berfokus memerangi orang-orang yang murtad dan para Nabi palsu yang bermunculan sepeninggal Rasulullah wafat. Sehingga keinginan untuk “menghidupkan kembali” sunnah sholat tarawih berjamaah di bawah pimpinan satu Imam, baru sempat tercetuskan dan dilaksanakan pada zaman Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu. Walloohu A’lam

****

Dari penjelasan-penjelasan dan hadits perkataan Umar “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam” sebelumnya itu, kita bisa mengambil faedah-faedah hukum sebagai berikut,

  1. Bahwasanya tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat malam itu hanyalah merupakan keutamaan (afdholiyyah) saja, dan bukan merupakan syarat sah nya sholat malam. Ini berlaku baik untuk sholat Tahajjud ataupun Sholat Witir, yang merupakan bagian dari sholat malam.
  1. Sholat tarawih yang dilakukan pada waktu tengah malam itu lebih utama dibandingkan sholat tarawih yang dilakukan pada awal malam setelah sholat isya. Maka dari itu Umar berkata “وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ “ (dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam)
  1. Sholat tarawih pada waktu awal malam, atau setelah sholat Isya itu sah dan diperbolehkan. Rasulullah waktu melakukan sholat tarawih berjamaah juga dimulai pada waktu awal malam. Hanya saja pada yang pertama beliau melakukan sholat tarawih berjamaah dari awal malam hingga 1/3 malam, yang kedua dari awal malam hingga ½ malam atau pertengahan malam, dan yang ketiga dari awal malam hingga hampir mendekati waktu sahur. Bandingkan dengan kondisi dan kualitas sholat tarawih kita pada zaman sekarang?
  1. Bahwasanya kata-kata bid’ah yang dimaksud dengan perkataan Umar bin khoththob pada “نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ “ (Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini ), adalah hanya bid’ah yang berarti “baru” secara bahasa Yakni suatu sunnah yang dihidupkan kembali setelah lama mati dan tidak pernah dikerjakan lagi, sehingga seakan-akan ini hal yang baru karena baru dihidupkan kembali.
  1. Jadi perkataan Umar ini tidak dibolehkan menjadi justifikasi untuk mengada-adakan suatu inovasi kebid’ahan dalam masalah manhaj, syariat, aqidah, dan ibadah. Yakni bid’ah dalam artian istilahi, atau sesuatu hal yang baru dalam masalah manhaj, syariat, aqidah, dan ibadah. Bagaimana mungkin perkataan Umar mengenai bid’ah secara bahasa dipergunakan untuk membenarkan bid’ah secara istilahi, sedangkan bid’ah yang dimaksud Umar itu ada contoh dan petunjuk dari Sunnah Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ? Dan rasulullah sendiri jelas telah mencela kebid’ahan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

Sedangkan qoidah fiqh berkata الأمور بمقاصدها (Al umuur bi maqooshidihaa, suatu urusan itu dilihat dari maksudnya)

  1. Bahwasanya sarana prasarana penunjang dalam masalah agama itu diperbolehkan, atau termasuk bid’ah yang mubah atau bahkan bid’ah yang wajib, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Karena itu hanya berkaitan dengan sarana dan prasarana yang menunjang masalah agama saja, bukan bagian dari agama yang sudah SEMPURNA itu sendiri.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Imam Malik bin Anas rohimahulloh berkata,

“Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik, maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu…” [Al-Maa-idah:[3].

(Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama” [Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan]

Maka dari itu ketika sebagian para Ulama yang berpedapat membagi dan menyebutkan adanya bid’ah hasanah yang berhukum mubah atau yang wajib itu, mereka hanya memberikan contoh-contoh yang merupakan sarana prasarana saja. Mereka tidak bermaksud untuk menjelaskan bahwa itu adalah bagian tambahan baru yang “merupakan bagian dari agama yang sudah sempurna” ini. Para ulama itu hanya memberikan contoh mengenai bid’ah hasanah yang berkaitan dengan sarana prasarana seperti misal : membangun pesantren untuk belajar Islam, membangun madrasah, meletakkan speaker pengeras suara di masjid, dan lain-lain semisal dari masalah sarana prasarana.

  1. Maka dari itu merupakan kesalahan bagi sebagian orang-orang yang memanipulasi perkataan Umar masalah bid’ah yang sebenarnya merupakan sunnah yang dihidupkan kembali itu, dan juga perkataan sebagian Ulama yang menyebutkan masalah bid’ah hasanah, guna membenarkan bolehnya memasukkan bagian-bagian ajaran dan amalan yang baru (Bid’ah), kepada agama Islam yang sudah sempurna ini.

Point ini kami tekankan, karena kami melihat banyaknya orang yang berusaha memanipulasi dan menembakkan “bola liar” akan hal ini. Nas-alullooh was salaamah

HUKUM DAN KEUTAMAAN SHOLAT TARAWIH

Hukum sholat tarawih adalah jelas, bahwanya hukumnya sunnah bukan wajib. Baik itu dilakukan dengan cara:

  1. Sholat berjamaah di masjid di bawah satu imam
  2. Membuat sholat berjamaah sendiri di luar masjid (di rumah, di tempat pertemuan, dan yang semisal)
  3. Melakukan sholat sendirian atau munfarid.

Semuanya hukumnya sunnah, akan tetapi yang beda adalah keutamaannya saja dengan perbedaan keutamaan yang jauh.

Yang paling utama adalah ikut sholat tarawih secara berjamaah di masjid, di bawah pimpinan satu imam, dan mengikuti sholat Tarawih tersebut dari awal hingga imam selesai.

Dalil akan hal ini adalah perkataan rasulullah shalloohu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

‘Jika seseorang shalat bersama imam hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan shalat malam semalam penuh’. [Hr. An-Nasai, dalam kitab Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar, bab Qiyaamu Syahr Romadhoon, hadits ke 1587]

Hadits riwayat An-Nasai diatas sebenarnya sudah kita sebutkan sebelumnya, yakni ketika menjelaskan masalah bahwasanya Rasulullah sholat tarawih berjamaah hanya selama 3 kali saja seumur hidupnya. Di dalam hadits itu, rasulullah menyebutkan keutamaan masalah sholat Tarawih berjamaah dengan mengikuti imam hingga selesai. Demikianlah sababul wurud hadits tersebut.

Dari sababul wurud hadits itu, kita bisa mengambil faedah hukum masalah syarat agar keutamaan itu bisa dicapai sebagai berikut,

  1. Bahwasanya keutamaan ini hanya berlaku di bulan romadhon saja, karena demikianlah konteks waktu dan sebab rasulullah menyebutkan mengenai keutamaan itu.
  2. Keutamaan ini hanya bisa dicapai dengan cara melakukan sholat Tarawih berjamaah mengikuti imam dari awal hingga selesai sholat. Tidak boleh terlambat, bolong-bolong, ataupun meninggalkan imam ketika imam belum selesai (dengan tidak ikut sholat witir dengan alasan hendak sholat malam lagi nanti misalnya).
  3. Bahwasanya ini hanya berlaku untuk sholat tarawih berjamaah di masjid saja, tidak di tempat lain. Karena demikianlah contoh aplikasi rasulullah dan yang dilaksanakan oleh para shahabat sepeninggal Rasulullah, sebagaimana peristiwa yang terjadi pada zaman Umar.

Yang mana dalam hadits zaman Umar itu disebutkan bahwa para shahabat DI MASJID ada yang sholat tarawih sendirian dan ada yang membuat jamaah dengan imam sendiri-sendiri, hingga Umar mengumpulkan menjadi satu di bawah satu Imam.

Apa perlunya para shahabat sholat tarawih di masjid berpisah dan berpencar-pencar, sebelum disatukan oleh Umar, jika keutamaan itu bisa dicapai dengan cara sholat tarawih berjamaah sendiri di rumah?

Walloohu A’lam

Adapun sholat tarawih secara berjamaah di luar masjid, dan sholat tarawih sendirian juga memiliki keutamaan sesuai dengan keumuman hadits di bawah ini, dengan catatan bahwa sholat tarawih berjamaah di luar masjid tersebut tetap lebih utama dibandingkan sholat tarawih sendirian sesuai dengan keumuman keutamaan sholat berjamaah dibandingkan sholat sendirian. Walloohu A’lam

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“MAN QOOMA ROMADHOONA (Barangsiapa yang berdiri dan sholat romadhon) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” [Hr. Abu Daud dan selainnya]

Hadits ini berlaku umum, baik itu yang melakukannya dengan cara berjamaah ataupun yang melakukan dengan cara seorang diri. Hadits ini juga berlaku untuk yang sholat berjamaah di masjid di bawah pimpinan satu imam.

JUMLAH RAKAAT UNTUK MELAKUKAN SHOLAT TARAWIH

Ini adalah topik pembahasan yang paling “populer” dalam masalah sholat tarawih sepanjang yang kami ketahui. Ini disebabkan adanya ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan pendapat yang diperbolehkan) dalam masalah ini yang masyhur. Para ulama saling berpolemik serta saling membuat tulisan untuk menguatkan masing-masing pendapatnya, dengan bingkai kacamata ilmiah dan semangat ukhuwah Islamiyyah.

Dikarenakan telah banyak ulama yang menulis hal ini, maka kami coba tampilkan intisari-intisari dan sedikit pembahasannya, serta apa-apa yang kami rojihkan saja. Adapun jika menginginkan pendetailannya, maka kami sarankan untuk kembali kepada kitab-kitab para ulama yang saling berbeda pendapat tersebut.

Inti dari permasalahan jumlah rekaat sholat tarawih ini adalah,

  1. Apakah sholat tarawih itu dibatasi dengan jumlah 11 rekaat, sebagaimana persaksian Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa mengenai terhadap sifat rekaat sholat malam Rasulullah, baik di dalam bulan romadhon ataupun di luar bulan romadhon? Sebagaimana hal ini juga dikuatkan oleh beberapa shahabat lainnya juga.
  2. Apakah sholat tarawih atau sholat malam itu sebenarnya tidak dibatasi jumlah rekaat nya, sebagaimana mafhum dari ke-mutlaq-an perkataan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam?
  3. Ataukah sholat terawih dengan jumlah 11 rekaat itu hanya masalah afdholiyyah (keutamaan) saja karena rasulullah selalu melakukan dengan rekaat sejumlah itu, sedangkan pada hakekatnya jumlah sholat tarawih atau sholat malam itu sebenarnya tidak dibatasi dengan jumlah tertentu?

Argumen para ulama yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Argumen yang digunakan oleh para ulama yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih dengan jumlah 11 rekaat, berikut juga keberatan mereka terhadap pendapat yang menyelisihi hal itu.

  1. Perkataan Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa mengenai persaksian terhadap jumlah rekaat sholat malam rasulullah, yang mana hadits ini adalah jelas shohih tanpa ada perselisihan sama sekali.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab:

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka’at.

Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”. [HR. Bukhori]

Hadits mengenai persaksian jumlah rokaaat sholat malam yang semisal dengan ini, juga disebutkan oleh Abdullah bin Umar rodhiyalloohu ‘anhu, Jabir bin Abdillah rodhiyalloohu ‘anhu, dan Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma beliau berkata,

مَاكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَحْيَى بِالنَّاسِ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka’at kemudian witir”

[Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya. Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan kami pada bulan Ramadhan 8 raka’at dan witir. Ketika malam berikutnya, kami berkumpul di masjid dengan harapan beliau shalat dengan kami. Maka kami terus berada di masjid hingga pagi, kemudian kami masuk bertanya, “Ya Rasulullah, tadi malam kami berkumpul di masjid, berharap anda shalat bersama kami,” maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku khawatir diwajibkan atas kalian. “[HR Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah, dihasankan oleh Al Albani. Lihat Shalat At Tarawih, 18; Fath Al Aziz 4/265]

Ubay bin Ka’ab rodhiyalloohu ‘anhu datang kepada Rasulullah, lalu berkata,”Ya Rasulullah, ada sesuatu yang saya kerjakan tadi malam (Ramadhan).

Beliau bertanya,”Apa itu, wahai Ubay?”

Ia menjawab,”Para wanita di rumahku berkata,’Sesungguhnya kami ini tidak membaca Al Qur’an. Bagaimana kalau kami shalat dengan shalatmu?’

Ia berkata,”Maka saya shalat dengan mereka 8 raka’at dan witir. Maka hal itu menjadi sunnah yang diridhai. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa.”[HR Abu Ya’la, Thabrani dan Ibn Nashr, dihasankan oleh Al Haitsami dan Al Albani. Lihat Shalat At-Tarawih, 68].

  1. Hadits-hadits yang menyebutkan masalah sholat tarawih lebih dari 11 rekaat itu, baik itu yang 21 ataupun 23 rekaat tidak lepas dari kritikan hadits :
  • Baik itu karena hal-hal yang menyebabkannya menjadi dhoif
  • Karena dianggap syadz (ganjil) menyelisihi hadits yang lebih shohih rowinya (walaupun sebenarnya sanad haditsnya itu maqbul)

Yakni Muhammad bin Yusuf yang meriwayatkan dari jalur Saib bin Yazid, menyebutkan dengan lafadh “11 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar dan Kholifah Utsman.

Sedangkan Yazid bin Khushaifah yang juga sama-sama meriwayatkan dari jalur Saib bin Yazid, menyebutkan dengan lafadh “20 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar dan Kholifah Utsman.

Muhammad bin Yusuf dianggap lebih kuat dan lebih terpercaya dibandingkan Yazid bin Khushaifah, karena Muhammad bin Yusuf adalah perowi yang Tsiqoh Tsabit sedangkan Yazid bin Khushaifah hanya memiliki predikat Tsiqoh saja. Maka dengan metode tarjih, hadits dari Muhammad bin Yusuf dianggap lebih kuat, sedangkan hadits dari Yazid bin Khushaifah dianggap syadz karena menyelisihi hadits dari perowi yang lebih kuat, sehingga tidak bisa dipakai sebagai dalil (walaupun sebenarnya sanad haditsnya itu maqbul)

  • Rowinya dianggap mudhthorib (goncang) karena tidak bisa menguatkan salah satu lafadh mengenai jumlah rokaat, padahal semua jalur lafadh yang berbeda itu sama-sama kembali kepada perowi tersebut.

Yakni karena adanya lagi riwayat lain dari Muhammad bin Yusuf dari jalur Saib bin Yazid yang menyebutkan dengan “21 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar.

Padahal sebelumnya ketika kasus Muhammad bin Yusuf vs Yazid bin Khushaifah, Muhammad bin Yusuf menyebutkan dengan lafadh “11 rekaat”, sedangkan Yazid bin Khushaifah dengan lafadh “20 rekaat”, dan Yazid bin Khushaifah dianggap syadz karena menyelisihi Muhammad bin Yusuf yang dianggap perowi yang lebih kuat yang sama-sama meriwayatkan dari Saib bin Yazid.

Sekarang ketika ada juga riwayat lain dari Muhammad bin Yusuf dari jalur Saib bin Yazid yang menyebutkan dengan “21 rekaat” perihal sholat Tarawih di zaman Kholifah Umar, maka Muhammad bin Yusuf dianggap mudhthorib (goncang) karena tidak bisa menguatkan salah satu lafadh mengenai jumlah rokaat. Di satu riwayat disebut 11 rekaat, dan di riwayat lain disebut 21 rekaat.

Maka karena Muhammad bin Yusuf sekarang juga dianggap rowi yang mudhthorib, semua riwayatnya mengenai jumlah rekaat itu tidak bisa dipakai sebagai dalil. Dan kita harus kembali kepada hadits Aisyah yang jelas keshohihannya tanpa ada perselisihan sama sekali.

Lihat kitab : “Sholaatut Taroowiih” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahulloh, dan “Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Salim bin ‘Ied al hilali hafidzahumalloh (kedua-duanya adalah murid dari Syaikh Al-Albani rohimahulloh)

  1. Mengenai riwayat adanya sholat tarawih 13 rekaat, maka dianggap hadits tersebut bisa dikompromikan dengan metode jama’ akan hadits Aisyah yang tegas menyebutkan bahwa sholat malam di dalam atau di luar bulan romadhon itu tidak lebih dari 11 rekaat.

Yang dimaksud dijama’ adalah kelebihan 2 rekaat dari 11 rekaat, hingga menjadi 13 rekaat itu, adalah :

  • Digabung dengan sholat sunnah Fajar 2 rekaat sebelum shubuh, karena lamanya sholat Tarawih yang dikisahkan pada masa Rasulullah sehingga mendekati waktu shubuh. [Lihat kitab : “Sholaatut Taroowiih” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahulloh]
  • Dilakukan 2 rekaat sholat yang ringan dulu (sholat iftitah atau sholat khofifatain) sebelum melakukan sholat tarawih 11 rekaat, sehingga total berjumlah 11 rekaat

Hal ini sesuai dengan hadits rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

[رواه مسلم :الدعاء فى صلاة الليل وقيامه]

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan.” (HR. Muslim, bab ad-Du’a fi salat al-lail wa qiyaamih)

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً. [رواه ابو داود باب فى صلاة الليل]

Dari Zaed bin Khalid al-Juhany ia berkata, sungguh saya mencermati shalat Rasulullah saw. pada suatu malam, beliau shalat dua rakaat yang ringan-ringan, kemudian shalat dua rakaat yang panjang (lama) sekali, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu kemudian melakukan witir. Maka demikianlah, shalat tigabelas rakaat.” [HR Abu Dawud, bab fi Shalat al-Lail]

[Lihat penjelasan fatwa tarjih Muhammadiyah di : http://www.fatwatarjih.com/2014/06/dalil-shalat-iftitah.html dan http://www.fatwatarjih.com/2011/06/shalat-lail-dan-shalat-iftitah.html ]

  1. Hadits mutlaq dari rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, bahwa sifat sholat malam itu adalah dua rekaat-dua rekaat, harus dibawa ke hadits Aisyah dan yang semisalnya yang men-taqyid (membatasi) kemutlakan itu menjadi 11 rekaat, atau 13 rekaat jika ditambah dengan sholat iftitah.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Argumen para ulama yang tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Argumen yang digunakan oleh para ulama yang tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih dengan jumlah 11 rekaat, berikut juga keberatan mereka terhadap pendapat yang membatasi hal itu.

  1. Adanya hadits-hadits masalah jumlah rakaat sholat tarawih pada zaman kekholifahan di zaman shahabat pasca rasulullah meninggal, yang menyebutkan bahwa jumlah rekaat yang diadakan lebih dari 11 rekaat. Ada yang 21 rekaat dan ada yang 23 rekaat.
  2. Pengamalan sholat tarawih yang menyebutkan bahwa sholat Tarawih di Mekkah dan Madinah dilakukan lebih dari 11 rekaat; baik itu 20 rekaat + 3 kali witir ataupun 36 rekaat + 3 kali witir; sebagaimana ini adalah kesaksian dari Imam Atho’ bin Abi Robah (murid dari Ibnu Abbas dan Aisyah), Imam Nafi’ (murid dari Abdullah bin Umar), Imam Daud bin Qois, Imam Malik bin Anas, dan Imam Asy-Syafi’i.
  3. Pemahaman dan pengamalan para ulama madzhab dan fatwa-fatwanya yang menganggap sholat malam itu tidak dibatasi jumlahnya, dan riwayat bahwa mereka mengamalkan sholat tarawih dengan jumlah rekaat yang lebih dari 11 rekaat.
  4. Sikap keberatan yang cukup disayangkan karena merupakan logical fallacy “argumentum ad hominem”. Yakni logical fallacy yang dilakukan dengan cara menjatuhkan kredibilitas sang pembawa argument itu, alih-alih daripada beradu argumentasi secara logis dan sehat perihal topik yang dibawakan.

Yang dimaksud adalah, implementasi sikap keberatan dari sebagian orang yang terlalu taqlid kepada madzhab, sehingga “menyerang pribadi ulama” yang lebih menguatkan pendapat yang membatasi jumlah rekaat sholat tarawih menjadi 11 rekaat.

Baik itu menyerang dengan mengatakan itu adalah pendapat baru yang ganjil, yang tidak pernah dikatakan oleh para Ulama sebelumnya, apalagi oleh para ulama madzhab.

Mencela ulama yang menguatkan pendapat yang membatasi jumlah rekaat sholat Tarawih, terutama kepada Syaikh Albani rohimahulloh karena pendapatnya akan hal itu. Bahkan pernah juga terlontar kalimat yang menyindir pendapat Muhammadiyah dengan berkata “Majlis Tarjih Muhammadiyah taqlid terhadap pendapatnya Albani”

Ini adalah sikap dan cara argumentasi yang sebenarnya cukup disayangkan.

Argumen para ulama yang menganggap 11 rekaat riwayat Aisyah itu hanya afdholiyyah saja, tidak membatasi jumlah rekaat sholat tarawih

Pendapat inilah yang sebenarnya kami kuatkan, sesuai dengan yang kami ambil faedah dari kitab “Qiyaamul Lail fii dhouil Kitaab was Sunnah” oleh Syaikh Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthony hafidzahulloh, salah seorang murid dari Syaikn Ibn Baz rohimahulloh, dan beliau mengambil pendapat akan hal ini dari Syaikh Ibn Baz. Walloohu A’lam.

Untuk lebih menguatkan dan memuaskan mengapa kami menguatkan pendapat ini, maka berikut akan kami sampaikan point-point yang dengan berkenaan dengan dalil-dalil dan argument akan hal ini.

  1. Perihal hadits Aisyah yang dianggap membatasi (men-taqyid) hadits-hadits masalah jumlah rekaat sholat malam atau sholat tarawih itu sebenarnya kurang tepat. Lebih tepat jika hadits Aisyah itu hanya dianggap sebagai afdholiyyah (atau yang lebih utama) saja, karena hadits itu hanyalah bersifat kesaksian Aisyah dan para shahabat lainnya saja. Bukan sunnah qouliyyah yang merupakan perkataan langsung dari Rasulullah itu sendiri untuk menjelaskan hal ini.
  1. Sunnah qouliyyah langsung dari Rasulullah sendiri yang menjelaskan akan sifat rekaat sholat malam, hanya menyebutkan sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat secara mutlaq dengan tanpa membatasinya. Satu-satunya yang dibatasi adalah masalah waktunya, yakni hingga sebelum masuk shubuh, sedangkan jumlah rekaat nya tidak dibatasi.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Salah satu cara lain pemahaman beristidlal dengan hadits ini adalah, hadits ini berkaitan dengan seseorang yang majhul (tidak diketahui siapa identitasnya) menanyakan perihal sholat malam kepada Rasulullah.

Dan karena orang tersebut majhul tidak disebutkan siapa orang bertanya itu, yang mana Ibnu Umar sebagai shahabat yang meriwayatkan hadits ini pun tidak menyebutkannya karena tidak mengetahuinya, maka besar kemungkinan dia adalah salah seorang shahabat yang tidak selalu menyertai rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Atau bisa juga dia adalah seorang Arab Badui, yang sengaja jauh-jauh datang kepada Rasulullah mengenai masalah agama, untuk kemudian kembali lagi ke sukunya untuk mengabarkan kembali akan hal itu. Maka dari itulah Ibnu Umar tidak mengenali siapa dia. Dan peristiwa semacam ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Ini seperti misal hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ، فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ الْعَاقِلُ، فَيَسْأَلَهُ، وَنَحْنُ نَسْمَعُ، فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللهَ أَرْسَلَكَ، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ؟ قَالَ: «اللهُ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ، وَخَلَقَ الْأَرْضَ، وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، آللَّهُ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا، وَلَيْلَتِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا، قَالَ: «صَدَقَ» ، قَالَ: ثُمَّ وَلَّى، قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ، وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Dahulu kami pernah dilarang untuk bertanya tentang apa saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sebab itu kami merasa senang apabila ada orang Arab Badui yang cukup berakal datang kemudian bertanya kepada beliau lantas kami pun mendengarkan jawabannya.

Maka suatu ketika, datanglah seorang lelaki dari penduduk kampung pedalaman. Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan bahwasanya anda telah mengaku bahwa Allah telah mengutus anda?”.

Maka Nabi menjawab, “Dia benar”.

Lalu arab badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”. Beliau menjawab, “Allah”.

Lalu dia bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”.

Nabi menjawab, “Allah”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menciptakan di atasnya segala bentuk ciptaan?”. Nabi menjawab, “Allah”.

Lalu arab badui itu mengatakan, “Demi Dzat yang telah menciptakan langit dan yang menciptakan bumi serta memancangkan gunung-gunung ini, benarkah Allah telah mengutusmu?”. Maka beliau menjawab, “Iya”.

Lalu dia kembali bertanya, “Utusanmu pun mengatakan kepada kami bahwa kami wajib untuk melakukan shalat lima waktu selama sehari semalam yang kami lalui.” Nabi mengatakan, “Dia benar”.

Lalu dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah memerintahkanmu dengan perintah ini?”. Nabi menjawab, “Iya”.

Lalu dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami berkewajiban untuk membayarkan zakat dari harta-harta kami?”. Nabi mengatakan, “Dia benar”.

Dia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang telah menyuruhmu untuk ini?”. Beliau menjawab, “Iya”.

Dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan di setiap tahunnya.” Nabi mengatakan, “Dia benar

Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah menyuruhmu dengan perintah ini?”. Beliau menjawab, “Iya”.

Dia mengatakan, “Utusanmu pun mengatakan bahwa kami wajib untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukaan perjalanan ke sana.” Nabi menjawab, “Dia benar”.

Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?”. Nabi menjawab, “Iya”.

Anas mengatakan; Kemudian dia pun berbalik seraya mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan selain itu dan aku juga tidak akan menguranginya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau dia benar-benar jujur/konsisten niscaya dia akan masuk surga”. [Hr. Muslim]

****

Adapun cara istidlal dari hadits masalah sifat sholat malam yang ditanyakan oleh orang yang majhul atau Arab badui itu adalah, apa yang Rasulullah terangkan itu adalah mencakup kemutlakan dan hal-hal yang perlu diketahui mengenai masalah sholat malam dengan tanpa perlu untuk ditambah-tambahi lagi.

Sehingga jika misal ada hal lain mengenai perincian kaifiyat sholat malam atau sholat tarawih yang orang yang majhul atau Arab badui tidak mengetahuinya, seperti misal penjelasan bahwa sholat malam itu hanya dibatasi kepada 11 rekaat saja, maka sangat tidak memungkinkan dia untuk kembali dan bertanya lagi kepada Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam ataupun kepada Aisyah ataupun kepada pembesar shahabat lainnya perihal perincian pembatasan jumlah rekaat itu. Ini karena dia adalah seorang yang majhul atau Arab badui yang bertanya hanya sesuai dengan keperluannya saja.
Maka dari itu ketika Rasulullah menjawab dan menerangkan masalah sifat rekaat sholat malam dua rekaat-dua rekaat itu, maka sifat sholat malam itu akan tetap mutlaq adanya tanpa pembatasan karena Rasulullah tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dalam hal ini berlaku qaidah fiqh “تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزًُ “ (Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan), dalam artian jika penjelasan itu diperlukan maka tentu Rasulullah akan menjelaskannya karena itu adalah tugas Rasulullah. Adapun jika ternyata Rasulullah tidak menerangkan ataupun memperincinya, maka kemutlakan akan apa-apa yang Rasulullah jelaskan itu akan selalu tetap pada kemutlakannya.

Dari sinilah qaidah fiqh “Tidak dibolehkan mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan” ini lebih diunggulkan daripada qoidah fiqh “dalil yang mutlaq harus dibawa yang ke muqoyyad”. Ini karena taqyid atau pembatasannya itu, hanya berdasarkan persaksian shahabat sendiri akan sunnah fi’liyyah rasulullah. Bukan dari perkataan atau sunnah qouliyyah rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sehingga lebih tepat jika kita mengatakan bahwa apa yang disebutkan oleh Aisyah itu hanya masalah afdholiyyah (keutamaan) saja, bukan dalam rangka untuk membatasi jumlah rekaat. Terlebih lagi istri Rasulullah yang lain, yakni ummu salamah, ternyata juga memberikan informasi kesaksian yang berbeda.

Dan berlaku juga dalam hal ini qaidah fiqh bahwa “sunnah qouliyyah lebih didahulukan daripada sunnah fi’liyyah”, bagi orang yang menguatkan qaidah ini. Walloohu A’lam

  1. Masalah hadits sifat rekaat sholat Tarawih pada zaman Umar, yang berasal dari jalur sanad Saib bin Yazid namun dipermasalahkan mengenai rawi Muhammad bin Yusuf dan Yazid bin Khushaifah yang sama-sama mengambil jalur sanad dari Saib bin Yazid.

Yang mana ketika Muhammad bin Yusuf meriwayatkan dengan jumlah rekaat 11 rekaat, sedangkan Yazid bin Khushaifah meriwayatkan dengan jumlah rekaat 20 rekaat. Maka riwayat Yazid bin Khushaifah yang 20 rekaat dianggap syadz (ganjil) dan tidak bisa dijadikan dalil, karena walaupun Yazid bin Khushaifah adalah perowi yang tsiqoh namun dia menyelisihi perawi Muhammad bin Yusuf yang dianggap perowi yang lebih kuat darinya dengan kredibilitas tsiqoh tsabit (tidak hanya sekedar tsiqoh saja)

Uniknya ketika ditampilkan riwayat lain yang juga berasal dari Muhammad bin Yusuf dari jalur sanad Saib bin Yazid, yang menyebutkan jumlah rekaat 21 rekaat, yang berbeda dari riwayat Muhammad bin Yusuf dari jalur sanad Saib bin Yazid yang menyebutkan jumlah rekaat 11 rekaat; maka Muhammad bin Yusuf langsung dianggap sebagai perawi yang mudhthorib (goncang) dalam masalah hadits ini sehingga haditsnya tidak bisa dipakai sebagai dalil.

Jadi satu sisi riwayat Muhammad bin Yusuf bisa dipakai sepanjang sesuai dengan 11 rekaat, dan disisi lain tidak bisa dipakai jika menyelisihi 11 rekaat.

Komentar kami akan hal ini adalah ini terjadi jika langsung digunakan metode tarjih (memiliki mana yang lebih kuat) dalam memahami dalil-dalil yang sama-sama maqbul itu. Padahal seharusnya kita coba lakukan metode jama’ terlebih dahulu dengan cara mengumpulkan dan mengkompromikan berbagai dalil-dalil yang ada (apalagi semua dalil itu sebenarnya sama-sama maqbul, walau mungkin berbeda kekuatannya), baru jika metode jama’ diperkirakan sudah tidak bisa kita lakukan lagi baru kita lakukan metode tarjih.

Apakah metode jama’ tidak bisa dilakukan dalam kasus riwayat Yazid bin Khushaifah dengan 20 rekaatnya, dan riwayat Muhammad bin Yusuf dengan 11 rekaat dan 21 rekaatnya, yang semuanya sama-sama berasal dari jalur sanad Saib bin Said?

Jawabnya adalah metode jama’ bisa dilakukan jika kita memahami bahwa hadits Rasulullah “sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat” itu berlaku secara mutlak, sebagaimana yang sudah kami tunjukkan cara istidlal dengan hadits itu pada penjelasan point nomer 3 sebelumnya.

Jika kita menerima hal itu, maka mudah bagi kita untuk menerima semua riwayat itu. Baik itu riwayat Yazid bin Khushaifah dengan 20 rekaatnya, ataupun riwayat Muhammad bin Yusuf dengan 11 rekaat dan 21 rekaatnya, yang semuanya sama-sama berasal dari jalur sanad Saib bin Said. Semuanya diterima, dianggap maqbul, dan semuanya dianggap sah sebagai dalil.

Sehingga kita bisa mengambil faedah bahwa di suatu waktu Umar bin Khoththob memerintahkan untuk melakukan sholat tarawih dengan 11 rekaat, dan di lain waktu dilakukan dengan 20 atau 21 rekaat. Walloohu A’lam

  1. Jika ada yang bertanya, apa hikmah Umar bin Khoththob menyuruh melakukan 11 rekaat, dan dilain waktu dilakukan dengan 20 atau 21 rekaat jika metode jama’ ini kita terima?

Jawabnya adalah agar imam dan para makmum tidak terlalu capek berdiri karena terlalu lama. Hal ini wajar karena pelaksanaan sholat Tarawih baik pada zaman Rasulullah ataupun pada zaman Shahabat itu umumnya berlangsung dalam waktu yang sangat lama hingga tengah malam. Bahkan hingga dekat dengan waktu sahur.

Disebutkan juga bahwa para shahabat sampai membawa tongkat dan bersandarkan dengan tongkat itu untuk menopang tubuhnya ketika sholat Tarawih, karena saking lamanya berdiri untuk melakukan sholat Tarawih.

Saib bin Yazid rahimahullah berkata,

“Umar Radhiyallahu anhu memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari Radhiyallahu anhuma agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 raka’at. Maka sang qari’ membaca dengan ratusan ayat, hingga kita bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih, melainkan sudah di ujung fajar.” [Fathul Bari, 4/250-254; Shalat At Tarawih, 11; Al ljabat Al Bahiyyah,15-18; Al Majmu’, 4/34]

Akan peristiwa hal ini, karena melihat kemampuan para shahabat yang makin tua dan makin lemah hingga sampai bersandarkan tongkat, yang mana ini berbeda dibandingkan dengan zaman Rasulullah masih hidup yang mana para shahabat tentu masih lebih muda dan lebih kuat. Maka wajar jika diperbanyak duduk pada waktu sholat Tarawih, agar tidak terlalu capek, yakni dengan cara memperbanyak rekaatnya.

Durasi waktunya tetap sama hingga sampai menjelang Fajar atau hampir sahur, hanya saja jumlah rekaatnya yang diperbanyak. Yakni yang semula hanya 11 rekaat, ditambah hingga menjadi 20 atau 21 atau 23 rekaat, agar banyak duduknya di antara rekaat itu untuk beristirahat. Maka dari itulah sholat ini dinamakan juga sebagai sholat Tarawih, yang secara harfiah bermakna sholat yang banyak istirahatnya. Walloohu A’lam

Dan untuk lebih mendukung kebijakan menambah jumlah rekaat agar banyak jumlah duduk untuk istirahatnya, maka hendaklah diketahui bahwasanya kebijakan ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَرَأَى حَبْلًا مَمْدُودًا بَيْنَ سَارِيَتَيْنِ فَقَالَ مَا هَذَا الْحَبْلُ فَقَالُوا لِزَيْنَبَ تُصَلِّي فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, dan beliau melihat seutas tali menjulur di antara dua tiang, maka beliau berkata: “Tali apa ini?”

Mereka menjawab; “Talinya Zainab. Bila ia letih ketika sedang shalat, maka ia berpegangan dengan tali itu.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lepaskanlah tali itu. Hendaknva salah seorang dari kalian shalat pada saat segar, dan bila letih maka hendaknya ia duduk.” [Hr. An Nasai, Kitab “Qiyaamul lail wa taththowu’un nahaar” (Kitab ke-20), bab “Al-Ikhtilaafu ‘alaa ‘Aaisyata fii ihyaail laiil”, hadits no. 1625]

Demikianlah penjelasan kami mengenai perbedaan pendapat masalah jumlah rekaat dalam melaksanakan sholat Tarawih, berikut juga apa yang kami pilih dan kuatkan dari perbedaan pendapat itu. Walloohu A’lam

MELIHAT APLIKASI NYATA PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH PADA ZAMAN KITA

Jika kita melihat aplikasi nyata dari pelaksanaan sholat Tarawih di zaman kita, terutama di negeri kita Indonesia ini, kadang kita harus berpikir sejenak apakah pembahasan jumlah rekaat sholat tarawih itu masih tepat sasaran atau tidak?

Yang dimaksud tepat sasaran atau tidak itu adalah, karena sasaran jumlah sholat Tarawih pada zaman rasulullah, zaman para Sahabat, dan seterusnya hingga zaman para imam madzhab adalah agar sholat Tarawih bisa dilakukan dalam waktu yang lama dan berkualitas, bahkan hingga dari awal malam setelah sholat isya hingga menjelang Fajar.

Maka dari itulah terjadi “modifikasi rekaat” sholat Tarawih, dari yang semula Rasulullah hanya sholat malam berjumlah 11 atau 13 rekaat sebagaimana riwayat Aisyah, dan inilah yang paling afdhol. Dan tetap 11 rekaat pada awal kekholifahan Umar bin Khothothob, hingga dimodifikasi dengan ditambah hingga berjumlah 21 atau 23 rekaat sesuai keperluan pada zaman kekholifahan Umar bin Khoththob.

Dan demikian juga para ulama madzhab memahami, sehingga ada yang memodifikasi jumlah sholat Tarawih hingga mencapai 39 rekaat.

Semua ini dilakukan dengan tujuan agar bisa “mensiasati” kecapekan berdiri terlalu lama pada waktu sholat terawih, dengan cara memperbanyak rekaatnya agar banyak selingan duduk untuk istirahatnya, dan sholat Tarawih bisa berlangsung lama hingga tengah malam ataupun hingga menjelang Fajar.

Inilah sebenarnya yang terjadi sesuai dengan apa yang kami fahami dan apa yang telah kami jelaskan.

Adapun aplikasi sholat Tarawih di zaman kita, terutama di negeri kita Indonesia ini, sangat jauh dari maksud sasaran perbincangan jumlah rekaat sholat Tarawih itu. Rata-rata pelaksanaan sholat tarawih secara umum di Indonesia ini hanya sekitar 30 menit saja, baik itu untuk sholat tarawih 11 dan 13 rekaat ataupun sholat Tarawih 21 dan 23 rekaat. Maksimal paling hanya sekitar 45 menit.

Lebih dari itu maka biasanya makmumnya akan komplain, dan sang imam akan dinasehati agar jangan lama-lama sholatnya, atau imamnya diganti, atau para makmumnya akan kabur cari masjid lain untuk sholat tarawih! Demikian yang kami lihat dari pengamatan secara kualitatif.

Melihat dari durasi yang direkomendasikan dengan hanya sekitar 30-45 menit itu, maka sebaiknya adalah memilih Sholat yang paling lama berdirinya untuk mengambil afdholiyyah nya. Dan secara otomatis itu adalah yang rekaatnya paling sedikit, yakni 11 atau 13 rekaat.

Hal ini dengan melihat pedoman hadits rasulullah berikut ini,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت

Shalat yang paling afdhol adalah yang paling lama berdirinya. [Hr. Muslim]

Apakah ini berarti jika imam melakukan sholat Tarawih dengan 21 atau 23 rekaat berdurasi 30-45 menit tidak boleh kita ikuti? Tentu saja jawabnya boleh untuk diikuti, dan insya Allah sah sholatnya. Namun jika mencari afdholiyyah sesuai dengan petunjuk Rasulullah untuk mencari yang lebih lama berdirinya, maka sebaiknya mencari yang lebih sedikit rekaatnya, yakni 11 atau 13 rekaat.

Kalau ada sholat Tarawih 21 atau 23 rekaat namun dengan durasi 2 hingga 3 jam, maka Insya Allah ini juga lebih afdhol dan lebih utama dibandingkan sholat tarawih 11 atau 13 rekaat namun dengan durasi 40-45 menit. Walloohu A’lam

APLIKASI NYATA AKAN BAHAYA SHOLAT TARAWIH EXPRESS

Adapun yang paling diwaspadai dari aplikasi nyata sholat tarawih di negeri kita ini, adalah adanya “sholat tarawih express” yang berlomba secepat-cepatnya untuk menyelesaikan sholat Tarawih dengan jumlah rekaat yang banyak.

Biasanya ini dilakukan pada sholat Tarawih dengan 21 atau 23 rekaat, kami belum pernah mengetahui sholat tarawih express dilakukan pada 11 atau 13 rekaat.

Ada bukti video sholat tarawih express di negeri kita ini, yang melakukan Sholat Tarawih 23 rekaat hanya dalam waktu 15 menit. Bahkan sholat tarawih 23 rekaat hanya dalam waktu 7 menit pun juga ada !

Untuk sholat tarawih express seperti ini, maka ini hanyalah sholat tarawih main-main saja. Sebaiknya jika menemui sholat tarawih seperti ini maka :

  1. Segera pindah dan mencari masjid yang lainnya untuk sholat tarawih yang tenang dan thuma’ninah
  2. Jika tidak ada maka sebaiknya sholat saja berjamaah sendiri di rumah beserta keluarga
  3. Jika tidak bisa, maka sholat tarawih sendirian lebih baik.

Kenapa seperti itu? Karena sholat seperti ini ditakutkan :

  1. Tidak sah sholatnya
  2. Hanya dianggap mempermainkan syariat sholat Tarawih yang suci dan sangat diperhatikan oleh para shahabat beserta para imam madzhab.

Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ada seseorang yang masuk masjid dan shalat 2 rakaat. Seusai shalat, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kala itu ada di masjid. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. beliau bersabda,

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Ulangilah shalatmu karena shalatmu batal”

Orang inipun mengulangi shalat dan datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi beliau tetap menyuruh orang ini untuk mengulangi shalatnya. Ini terjadi sampai 3 kali. Hingga orang ini putus asa dan menyatakan,

وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى

“Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara shalat yang benar kepada orang ini. Beliau mengajarkan,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau mulai shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah dengan berdiri sempurna. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari 793 dan Muslim 397).

Dalam riwayat lain disebutkan,

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang shalat yang tidak menyempurnakan rukuknya dan seperti mematuk ketika sujud. Kemudian beliau bersabda,

أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ

“Tahukah kamu orang ini. Siapa yang meninggal dengan keadaan (shalatnya) seperti ini maka dia mati di atas selain agama Muhammad. Dia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah.” (HR. Ibnu Khuzaimah 665 dan dihasankan al-Albani).

Hudzifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah melihat ada orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujud ketika shalat, dan terlalu cepat. Setelah selesai, ditegur oleh Hudzaifah, “Sudah berapa lama anda shalat semacam ini?”

Orang ini menjawab: “40 tahun.”

Hudzaifah mengatakan: “Engkau tidak dihitung shalat selama 40 tahun.” (karena shalatnya batal). Lanjut Hudzaifah:

وَلَوْ مِتَّ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَاةَ لَمِتَّ عَلَى غَيْرِ فِطْرَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Jika kamu mati dan model shalatmu masih seperti ini, maka engkau mati bukan di atas fitrah (ajaran) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”  (HR. an-Nasai 1320 dan dishahihkan al-Albani)

Maka dari itu setelah melihat hadits-hadits di atas, kita faham bahwasanya thuma’ninah atau berhenti sejenak setelah selesai menyempurnakan gerakan sholat; baik itu ruku, I’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, ataupun pada semua gerakan-gerakan sholat adalah rukun Sholat yang wajib untuk dikerjakan.

Jika salah satu rukun sholat tidak kita kerjakan, maka secara otomatis sholat kita akan menjadi batal dan tidak sah. Dan peristiwa ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah shalloohu ‘alaihi wa sallam, juga pernah terjadi pada zaman shahabat sebagaimana hadits dari Hudzaifah, maka apa yang membuat kita merasa aman bahwa hal itu tidak ada dan tidak terjadi pada zaman kita?

Padahal zaman kita tidak sama seperti zaman Rasulullah dan para shahabat, yang mana kita jauh dari memahami dan mengamalkan agama dengan benar. Maka orang yang meremehkan thuma’ninah dalam sholat Tarawih, dan hanya mengejar rekaat yang banyak dalam waktu yang cepat, maka sebenarnya syaithan telah mempermainkannya untuk mempermainkan Syariat Islam mengenai sholat Tarawih.

Walloohu A’lam

TAMBAHAN CARA-CARA PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH YANG DIADA-ADAKAN DAN TIDAK PERNAH DICONTOHKAN OLEH RASULULLAH DAN PARA SHAHABAT

Jika kita kembali kepada cara sholat Tarawih Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, maka kita lihat bahwa cara pelaksanaan sholat Tarawih beliau sangat simple dan mudah untuk difahami. Adapun pada zaman kita dewasa ini, banyak sekali tambahan cara-cara pelaksanaan sholat Tarawih “yang diselip-selipkan”, yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah, dan yang harus kita tinggalkan.

Berikut sedikit list yang kami ketahui perihal itu, yang harus kita tinggalkan dalam pelaksanaan sholat Tarawih.

  1. Melafadzkan atau membaca niat untuk melakukan sholat Tarawih. Niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan untuk diucapkan.

Asalkan kita tahu bahwa kita :

  1. Bermaksud atau menyengaja melakukan sholat tarawih
  2. Sadar bahwa kita hendak melakukan sholat tarawih
  3. Tahu bahwa kita hendak melakukan sholat tarawih

Maka sepanjang ketiga hal itu ada, maka niat sudah ada pada diri kita. Sehingga tidak perlu kita mengucapkan susunan kalimat niat untuk sholat tarawih yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam tersebut.

  1. Bacaan dan dzikir tertentu setiap selesai dua atau empat rekaat sholat Tarawih atau jumlah rekaat-rekaat tertentu. Yang mana sebagian ada yang harus disahut atau dijawab oleh para makmum sholat Tarawih, dan ada yang sebagian hanya dibaca dengan suara keras oleh “jubir” imam.

Rasulullah dan para shahabat duduk beristirahat sejenak setelah melakukan 2 rekaat atau 4 rekaat sholat tarawih yang lama itu, dengan tujuan untuk sedikit menghilangkan lelahnya berdiri lama. Bukan untuk tujuan melakukan bacaan dan dzikir tertentu yang dikeraskan, atau yang untuk saling bersahut-sahutan dengan para makmum dengan suara keras. Dan tidak ada “jubir” imam yang disuruh untuk mengucapkan hal itu dengan suara keras.

  1. Adanya doa dan dzikir tertentu sebelum memasuki sesi sholat witir. Atau pemberitahuan dengan suara keras dalam bahasa Arab bahwa akan memasuki sholat witir.
  1. Adanya doa dan dzikir tertentu, selain dari dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah, setelah selesai sholat witir.

Bacaan doa atau dzikir setelah sholat witir yang diajarkan Rasulullah adalah seperti yang disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dan itu dibaca sendiri-sendiri, serta tidak bersama-sama.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhaanal malikil qudduus dibaca 3x- [artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan]” (HR. An Nasai dan Ahmad, shahih)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma inni a’udzu bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” -dibaca 1x- [artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaikati war ruuh.’ ” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 3: 40 dan Sunan Ad-Daruquthni 4: 371. Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah yang diterima).

  1. Melafadhkan niat untuk puasa keesokan harinya bersama-sama dengan bacaan “nawaitu shouma ghodin… dan seterusnya” (Aku berniat untuk puasa esok hari… dan seterusnya).

Niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan untuk diucapkan. Asalkan kita tahu bahwa kita :

  1. Bermaksud atau menyengaja akan melakukan puasa pada esok hari
  2. Sadar bahwa kita akan melakukan puasa pada esok hari
  3. Tahu bahwa kita akan melakukan puasa pada esok hari

Maka sepanjang ketiga hal itu ada, maka niat sudah ada pada diri kita. Sehingga tidak perlu kita mengucapkan susunan kalimat niat untuk niat puasa pada esok hari yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam tersebut. Lihat juga tulisan kami yang 12, mengenai masalah Rukun Puasa yang berkaitan dengan masalah Niat Puasa [Bab V. point B]

  1. Memiliki I’tiqod atau keyakinan bahwa jika sholat tarawih pada malam kesekian akan mendapatkan keutamaan ini, dan jika malam kesekian akan mendapatkan keutamaan itu.

Hadits keutamaan tarawih pada malam sekian akan mendapatkan keutamaan ini dan malam sekian akan mendapatkan keutamaan itu berasal dari Kitab Durratun Nashihin, dan hadits itu laa ashla lahaa (tidak ada asalnya), merupakan kebohongan yang mengatasnamakan Rasulullah, alias hadits palsu. Demikian sebagaimana fatwa Lajnah Ad-Daimah ketika ditanyakan perihal hadits itu.

كلا الحديثين لا أصل له، بل هما من الأحاديث المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada sumbernya (laa ashla lahu). Bahkan, hadits tersebut merupakan kebohongan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta no. 8050, juz 4, hal 476-480]

Adapun hadits palsu yang kami maksud adalah,

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه
وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين
وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك
وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان
وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى
وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام
وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة
وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه
وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء
وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة
وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء
وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك
وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس
وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم
وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة
وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما
وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف
وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة
وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة
وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  • Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  • Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  • Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’
  • Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
  • Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.
  • Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  • Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
  • Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  • Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  • Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
  • Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  • Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  • Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
  • Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  • Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’
  • Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
  • Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  • Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
  • Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  • Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  • Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  • Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  • Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  • Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  • Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  • Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’

Hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17

Setelah kita melihat hal-hal yang diada-adakan dalam masalah Sholat tarawih, maka bagaimanakah sikap kita? Apakah sah ikut sholat Tarawih dengan adanya hal yang diada-adakan itu?

Sikap kita adalah menasehati dengan hikmah jika kita memiliki kemampuan. Jika ada masjid yang pelaksanaannya bersih dari hal-hal yang diada-adakan itu, maka boleh bagi kita untuk pindah ikut sholat tarawih di masjid itu jika tidak terjadi fitnah.

Adapun ikut sholat Tarawih yang ditambah-tambahi dengan hal yang diada-adakan itu, maka karena itu bukan berkaitan dengan rukun sholat sebagaimana masalah Sholat Tarawih Express yang sudah kita jelaskan tadi, maka sholatnya sah dan kita akan mendapatkan keutamaan sholat tarawih bersama dengan imam hingga selesai walaupun pelaksanaan sholat tarawih nya dipenuhi dengan hal-hal yang diada-adakan itu. Adapun sikap kita ketika ada hal yang diada-adakan itu ketika kita ikut sholat Tarawih disitu, maka sebaiknya kita diam dan tidak ikut-ikutan akan hal itu jika kita tidak mempunyai kemampuan untuk menasehatinya. Walloohu A’lam

BUNGA RAMPAI MASALAH SHOLAT TARAWIH

Untuk topik bunga rampai masalah sholat Tarawih ini, maka kami sajikan dengan model tanya jawab saja untuk mempersingkat penjelasan.

  1. Masalah Sholat Tarawih tengah malam

Tanya :

Terdapat sebagian pesantren atau masjid tertentu yang melaksanakan sholat Tarawih pada tengah malam, sedangkan umumnya sholat tarawih itu dilakukan pada awal malam setelah selesai sholat Isya. Apakah hal itu diperbolehkan?

Jawab :

Boleh sholat malam baik pada awal malam ataupun mulai tengah malam ataupun ketika sudah mulai masuk sepertiga malam terakhir.

Dalilnya adalah sholat Tarawih Rasulullah yang hanya dilakukan 3 kali seumur hidup beliau yang dimulai pada awal malam, dan juga perkataan Umar dalam shohih Bukhori yang menyebutkan “dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”.

Walloohu A’lam

  1. Sholat Tarawih lagi atau sholat tahajud setelah ikut sholat tarawih

Tanya :

Bolehkah kita ikut sholat Tarawih dua kali, atau mengerjakan sholat Tahajud setelah ikut sholat Tarawih?

Jawab :

Boleh, asalkan pada waktu sholat Tarawih yang kedua atau waktu sholat Tahajud setelah ikut Tarawih yang pertama, kita tidak ikut sholat witirnya.

Ini karena kita sudah ikut sholat witir pada tarawih yang pertama. Dan tidak ada sholat witir dua kali, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa sallam.

لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (Hr. Ahmad: 15704, Abu Daud: 1227, Nasa’i: 1661, dan Tirmidzi: 432; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Walloohu A’lam

Tanya :

Bolehkah kita tidak ikut sholat witir ketika sholat tarawih, dengan alasan kita nanti hendak sholat Tahajud lagi ketika sahur?

Jawab :

Sebaiknya kita ikut sholat witir pada waktu sholat Tarawih hingga selesai bersama imam dan jangan meninggalkannya. Hal ini agar kita mendapatkan keutamaan ikut sholat tarawih bersama imam hingga selesai.

Adapun ketika sholat Tahajud, maka silakan saja sholat Tahajud namun jangan melakukan witir lagi karena kita sudah ikut sholat witir bersama dengan imam.

Dengan hal ini, maka semua keutamaan insya Allah bisa kita dapatkan.

Walloohu A’lam

  1. Kultum sebelum atau setelah sholat Tarawih

Tanya :

Bolehkah mengadakan kultum ceramah sebelum atau setelah sholat Tarawih?

Jawab :
Jawabnya adalah boleh dan tidak boleh.

Boleh jika ini hanya “memanfaatkan moment” saja, tidak wajib, tidak memaksakan diri harus ada jadwal ceramah tarawih, dan para makmum faham bahwa ini bukanlah bagian dari ibadah sholat Tarawih.

Tidak boleh jika hal-hal yang disebutkan di atas tidak dipenuhi, dan para makmum sholat Tarawih tidak diedukasi untuk memahami bahwa kultum ceramah itu bukan bagian dari ibadah sholat Tarawih.

Apalagi jika sampai ditakutkan bahwa kultum ceramah sholat Tarawih ini adalah bagian ibadah Sholat sebagaimana halnya khutbah sebelum sholat Jum’at, atau khutbah setelah selesai sholat Ied.

Walloohu A’lam

  1. Wanita ikut sholat Tarawih di masjid

Tanya :

Bagaimana hukum ikut sholaat Tarawih di Masjid

Jawab :

Secara hukum asal boleh, sepanjang tidak terjadi fitnah atau madhorot dengan ikutnya wanita sholat tarawih di masjid.

Adapun jika ditakutkan terjadi fitnah atau madhorot, sebagaimana yang kadang terjadi di kalangan muda-mudi yang bercampur baur sewaktu berangkat ataupun pulang dari sholat Tarawih, atau mungkin karena ada anak bayi atau balita di rumah yang tidak mungkin ditinggal, maka hendaknya jangan ikut sholat Tarawih di masjid.

Dan hendaknya menyelenggarakan sholat Tarawih sendiri bagi para wanita di rumah tertentu, atau jika tidak ada maka hendaklah sholat Tarawih di rumah sendirian maka itu tidak masalah.

Karena adanya udzur-udzur itu, maka insya Allah para wanita itu akan tetap mendapatkan pahala ikut sholat tarawih bersama imam di masjid hingga selesai, walaupun mereka berhalangan untuk mengikutinya.

Walloohu A’lam

         5. Perincian cara sholat tarawih 4 rekaat-4 rekaat lalu witir

Tanya :

Hadits Aisyah masalah sholat malam di bulan Romadhon adalah 4 rekaat, 4 rekaat, dan ditutup witir 3 rekaat. Bagaimana cara sholat tarawih 4 rekaat itu ?

Jawab :

Ada dua cara dan perbedaan pendapat dalam cara melakukan sholat tarawih 4 rekaat itu.

  1. Dengan cara melakukan 2 rekaat salam-2 rekaat salam.

Hal ini dilakukan dengan dilandasi tafsir dari perkataan rasulullah “Sholaatul Lail matsna-matsna” (Sholat malam itu dua rekaat-dua rekaat).

Sehingga hadits Aisyah yang 4 rekaat itu difahami bahwa sebenarnya yang dimaksud adalah 2 rekaat salam, 2 rekaat salam. Hanya saja ketika sudah selesai rekaat keempat, maka Rasulullah duduk dan istirahat. Sedangkan ketika masih dua rekaat awal, maka setelah salam Rasulullah langsung berdiri lagi untuk sholat lagi 2 rekaat. Walloohu A’lam

  1. Dengan cara dilakukan secara harfiah yakni 4 rekaat dan sekali salam. Hal ini karena jika ada jeda 2 rekaat-2 rekaat, maka tentu Aisyah akan memberikan penjelasan kepada kita dan tidak perlu mengatakan “فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ “ (jangan kamu tanyakan tentang bagusnya dan panjangnya). Dan lafadh dhomir yang Aisyah gunakan adalah langsung dengan dhomir munfashil muannats jamak, padahal secara bahasa Arab ada sebenarnya dhomir khusus untuk mutsanna (jumlah 2). Maka dari itu 4 rekaat itu dianggap satu kesatuan, dan demikianlah yang Aisyah persaksikan. Walloohu A’lam

Dua cara itu insya Allah sama-sama diperbolehkan dan tidak ada masalah dengan hal itu.

Adapun untuk masalah perincian lebih lanjut lagi mengenai 4 rekaat 1 kali salam, maka ada perbedaan pendapat lagi di sini. Yakni,

  1. Apakah ada tasyahud awal seperti halnya sholat Isya?
  2. Ataukah tidak ada tasyahud awal, dan langsung tasyahud akhir pada rekaat keempat lalu salam?

Dua cara itu insya Allah sama-sama diperbolehkan dan tidak ada masalah dengan hal itu. Bagi yang berpendapat ada tasyahud awal, mereka berpegang kemutlakan hadits berikut ini,

Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa berkata ketika mensifatkan cara sholat Nabi, dalam hadits yang panjang,

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ

“dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka’at.” [Hr. Muslim, dalam Kitab “Maa yajma’u Shiffatus Sholaah…”, hadits no. 768]

Adapun yang berpendapat bahwa tidak ada tasyahud awal dan langsung tasyahud akhir di rekaat terakhir, berpendapat dengan hadits lain dari Aisyah yang menerangkan kaifiyat duduk tasyahud Rasulullah ketika sholat malam,

قَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلاَثََ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ وَلاَ يَجْلِسُ فِي شَيْئٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ. [رواه البخاري ومسلم]

Aisyah r.a. berkata: “Pernah Rasulullah saw shalat malam tiga belas raka’at, beliau berwitir lima raka’at dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu melainkan pada akhirnya. [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Perkataan Aisyah “وَلاَ يَجْلِسُ فِي شَيْئٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ “ (dan beliau tidak duduk antara raka’at-raka’at itu melainkan pada akhirnya) bermakna bahwa tidak ada tasyahud awal dan langsung tasyahud akhir di akhir rekaat. Baik itu dalam sholat malam yang 8 rekaatnya, yakni langsung hanya ada tasyahud akhir pada rekaat ke 8. Ataupun pada sholat witir yang 5 rekaat, langsung hanya ada tasyahud akhir pada rekaat ke 5.

Pemahaman kaifiyat inilah yang dibawa untuk menjelaskan sholat Tarawih 4 rekaat 1 salam, hanya dengan sekali tasyahud akhir saja. Walloohu A’lam

Lihat juga : http://www.fatwatarjih.com/2012/02/shalat-tarawih-4-rakaat-salam-batal.html

Hadits sholat tarawih dengan 8 rekaat 1 salam yang kita sebutkan tadi, juga menjelaskan adanya “variasi” dalam cara melaksanakan Sholat malam ataupun sholat Tarawih. Maka dari itu, yang kita bahas dalam pembahasan sebelumnya adalah “perbedaan pendapat masalah batas rekaat sholat Tarawih”, bukan “variasi formasi rekaat” dalam cara pelaksanaan sholat tarawih.

Sepanjang variasi formasi rekaat itu ada dalil dan contohnya dari Rasulullah, maka hal itu tidak masalah untuk dilakukan. Hanya saja di negeri kita ini umumnya hanya mengenal “variasi 4-4-3”, dan “variasi 2 rekaat-2 rekaat lalu witir”.

Pokok Pemahaman Yang Benar Mengenai Wali Allah

Leave a comment

Pokok-pokok pemahaman yang benar mengenai Wali :
1. Wali Allah itu adalah orang orang yang mempunyai sifat IMAN dan TAQWA. Hal ini sesuai dengan yang Allah sebutkan dalam QS Yunus :62-64

2. Wali itu bukan “JABATAN” seperti halnya “nabi” dan “rasul”, tapi “SIFAT” seperti halnya kata soleh, adil, dan sebagainya. Oleh karena itu sejak zaman rasulullah, sahabat, tabi’in, hingga tabiut tabi’in kita tidak menemukan orang yang menjabat sebagai “wali”.

3. Rasulullah tidak pernah menentukan seorang Shahabat pun secara spesifik sebagai wali Allah, karena ini adalah sifat bukan jabatan. Akan tetapi rasulullah pernah secara spesifik menyatakan Umar bin Khoththob sebagai Muhaddats (orang yang mendapatkan ilham dari Allah).

Walau Abu Bakar lebih utama dibandingkan Umar, akan tetapi Rasulullah tidak pernah menyatakan Abu Bakar sebagai Muhaddats. Maka dari itu, tidak ada satu sahabat pun yang berani meniru perbuatan rasulullah, dengan menyebut bahwa sahabat A atau B, atau tokoh A atau B, selain dari Umar, juga adalah seorang Muhaddats.

Apalagi menyebut secara spesifik bahwa orang tertentu itu sebagai wali, yang memiliki ilmu ladunni, yang langsung mendapatkan ilmu dan pemahaman dari Allah.

Bahkan pada hakikatnya, syarat sifat wali Allah itu hanya cukup dengan beriman dan bertaqwa saja, dengan tanpa menyebut kepada orang spesifik, karena wali itu bukan jabatan.

4. Wali sebagai manusia biasa yang beriman dan bertakwa itu bisa terjatuh dalam kedzoliman, kemaksiatan, keburukan, dan kesalahan. Yang mana ini harus dinasehati, diperingatkan, dilakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan harus diingkari.

Hanya saja bedanya, dia cepat untuk merasa menyesal, merasa berdosa, dan segera minta ampun kepada Allah akan dosa dosa dan kekhilafannya.

Hal ini sebagaimana yang Allah jelaskan mengenai sifat orang bertaqwa yang merupakan karakter utama dari wali Allah, di dalam QS. Ali Imran :135

5. Merupakan kesalahan jika dikatakan bahwa ciri seorang wali Allah itu adalah ma’shum terjaga dari segala dosa. Sehingga segala dosa, kesalahan, kemaksiatan, dan kenyelenehannya harus selalu “dianggap benar” ; hanya karena dia dianggap sudah menjadi wali yang ma’shum.

Padahal rasulullah sendiri tidak pernah memberikan jabatan atau gelar wali kepada sahabat tertentu secara khusus, kecuali hanya kepada Umar bin Khoththob dengan sebutan Muhaddats (orang yang mendapatkan ilham dari Allah). Dan Umar sendiri tidak ma’shum

Dan demikian juga sikap para Shahabat terhadap sahabat yang lain.

6. Maka merupakan kesalahan, jika kita menyebut orang tertentu secara spesifik dengan menggelari dan memberikan jabatan wali Allah kepada nya.

Tidak ada orang yang secara spesifik boleh untuk disebutkan sebagai orang yang mendapatkan ilmu atau ilham langsung dari Allah, sebagaimana halnya Nabi Khidir dan Umar bin Khoththob, kecuali dengan bukti penyebutan khusus perihal dirinya di dalam Al Quran dan As Sunnah sebagaimana halnya Nabi Khidir dan Umar bin Khoththob.

Bahkan dalam shohih bukhari sendiri disebutkan riwayat, bahwa Rasulullah mengingkari sikap Ummul Al-‘Ala Al Anshoriyyah yang mempersaksikan bahwa Utsman bin Madz’un yang meninggal sebagai orang SPESIFIK yang dimuliakan secara SPESIFIK oleh Allah.

Rasulullah mengingkari karena beliau sendiri tidak tahu, dan tidak mendapatkan keterangan wahyu akan masalah itu. Akan tetapi Rasulullah hanya mendoakan dan mengharapkan kebaikan kepadanya.

Tentu hal ini berbeda ketika rasulullah memberikan penyebutan khusus kepada Umar bin Khoththob sebagai Muhaddats. Yakni ini karena beliau sudah mendapatkan keterangan mengenai hal itu khusus secara spesifik kepada Umar saja.

7. Termasuk kesalahan dan kemungkaran jika orang berduyun duyun datang ke kuburan yang diaku aku sebagai wali, untuk melakukan doa tawassul dan tabarruk ke makam kuburan orang yang diaku aku sebagai wali itu.

*****
Ditulis dengan banyak mengambil faedah dan ilmu dari kitab “Kupas Tuntas Masalah Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jaelani”, tulisan dari Al Ustadz Imron AM

Older Entries