Al Aziz, sebagai istilah penguasa, disebut juga dalam QS Yusuf kepada orang kafir yang menguasai Mesir pada waktu itu.

Rasulullah juga menyebut dengan istilah “Raja” kepada Najasyi waktu menyarankan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah sebelum ke Madinah. Padahal Najasyi waktu itu belum masuk Islam.

Demikian juga surat surat politik kepada kaisar romawi, kisra, dll maka semuanya menyebut dengan pemahaman pemimpin.

Kalau hanya masalah istilah pemimpin aja secara bahasa, maka itu tidak ada masalah.

******
Tapi kalau secara istilahi sebagaimana yang disebut dalam QS An Nisaa ayat 59, maka sepertinya beda konteksnya dan tidak bisa disamakan dengan hal itu. Apalagi kalau hal itu digunakan untuk masalah permainan kata, untuk membolehkan mengangkat pemimpin kafir.

Hal itu jelas beda sekali konteks nya dan tidak bisa dijadikan alasan.

Bedakan antara fakta yang sudah terjadi, dengan hal yang belum terjadi.

Demikian juga sikap sikap terhadap hal yang sudah terjadi.

Muamalah terhadap pemimpin yang Muslim dan pemimpin yang kafir itu ada sendiri contohnya dalam kehidupan rasulullah dan para sahabat. Dan perlu juga untuk kita menimbang mashlahat madhorot.

Bedakan antara memperjuangkan idealita dengan menyikapi realita.

Dua hal itu ada contohnya dari kehidupan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Jangan terlalu cepat menyerah dalam berjuang, dan juga jangan terlalu gegabah dalam bertindak.

Advertisements