Kesimpulan dan pemahaman yang salah.

Secara bahasa Auliya’ itu adalah jamak dari waliy. Wali itu sudah lazim difahami oleh orang Arab mempunyai arti sebagai pemimpin juga.

Oleh karena itu pemimpin pemerintahan itu, selain secara bahasa arab disebut sebagai ulil amri, secara bahasa arab disebut juga sebagai waliyyul Amri.

Mari kita lihat kutipan kisah tafsir bil atsar dari tafsir Ibnu Katsir itu sendiri ketika menafsirkan QS. Al Maidah ayat 51.

Disitu Ibnu Katsir menukil riwayat pengingkaran Umar Bin Khoththob kepada sahabat yang mengangkat seorang non muslim untuk menjabat kedudukan pemerintahan. Hatta hanya sebagai sekretaris pemerintahan saja.

—–
Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang.

Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya.

Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat:

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” Qs. Al Maidah : 51

(Tafsir Ibni Katsir, 3/132).
——
Dalam riwayat yang berasal dari Umar itu beliau menukil Qs Al Maidah ayat 51 sebagai landasan hukum akan hal ini, sehingga Umar menentang orang non muslim menduduki jabatan pemerintahan. Apalagi menduduki pucuk pemerintahan.

Maka jelas bahwa Umar dan Ibnu Katsir juga memahami perkataan Auliya sebagai jamak dari kata Wali, dengan arti dan pemahaman sebagai pemimpin, pemegang urusan pemerintahan juga. Disamping juga arti arti lain yang sah ditunjukkan secara bahasa Arab mengenai arti kata Auliya sebagai jamak dari Wali itu.

Jadi kalimat tersebut sah digunakan untuk arti pemimpin, teman dekat, orang yang dicintai, dll; karena itu adalah kata yang musytarak. Dan semua makna itu benar dan bisa digunakan.

Naif jika dikatakan Auliya dalam ayat itu tidak bisa dan bahkan “tidak boleh” dibawa ke arti pemimpin.

Apalagi mengklaim bahwa Ibnu Katsir apalagi para sahabat radhiyalloohu ‘anhum tidak memahami ayat itu sebagai arti yang boleh dibawa ke arti pemimpin.

Riwayat Umar bin Khoththob dan penukilan riwayat tersebut oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan Qs. Maidah ayat 51 itu, sudah lebih dari cukup untuk membantah hal tersebut.

Walloohu A’lam

*****

Syukron,

Tafsir itu secara asal bisa ditafsirkan secara 4 hal :
1. Tafsir secara yang difahami secara bahasa arab, karena Allah berfirman “Qur’aanan Arobiyyan”
2. Tafsir ayat dengan ayat
3. Tafsir ayat dengan Hadits penjelasan rasulullah.
4. Tafsir dengan atsar atsar penjelasan dari para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para ulama salaf yang mengikuti manhaj mereka dengan ihsan.

Coba silahkan lihat muqoddimah tafsir Ibnu Katsir yang beliau tulis ketika menerangkan tafsir bil ma’tsur.

Kalau pernah belajar ilmu ulumul Qur’an atau Ushulut Tafsir, katakanlah yang cukup bagus dan ditulis oleh Syaikh Manna’ kholil Al Qoththon, maka banyak qaidah qaidah tafsir yang dibangun dari pemahaman bahasa Arab.

Maka dari itu, jika kita sedikit bisa bahasa Arab, maka ketika kita membaca Al Qur’an, terus terang baru kita bisa merasakan keindahannya dan mendapatkan dzauq pemahamannya.

Sekedar tambahan penjelasan, bahwa orang Arab musyrikin dulu itu mengetahui maksud Al Qur’an yang ditujukan kepada mereka, karena mereka orang Arab yang fasih dan faham bahasa Arab.

Tidak perlu bagi mereka untuk merujuk kepada tafsir ayat dengan ayat dsb nya, karena pemahaman bahasa itu cukup bagi mereka.

Advertisements