Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Hadits ini hanya sebagai “Qorinah” (tanda tanda atau indikasi) dan “peringatan”, bukan sebagai “Hukum”.

Maksudnya adalah tidak bisa langsung dihukumi seperti itu, yakni tidak bisa dia otomatis langsung dihukumi sama seperti teman dekatnya.

Buktinya Rasulullah selalu bersama sama dengan pamannya Abu Tholib, namun Abu Tholib tetap seorang musyrikin Kafir sedangkan rasulullah tidak.

Asiyah yang menjadi istri Fir’aun, maka dia adalah tetap seorang wanita mukmin sholihah sedangkan Fir’aun tetap adalah seorang yang kafir angkuh lagi sombong.

[Salah satu faedah ilmu yang saya dapatkan dari kajian Syarh Riyadhus Sholihin oleh Ustadz Ridho Hafidzahulloh, 20 February 2016, di masjid Al Muhajirin.]

Advertisements