Pertama,
adapun mengenai Mursi, maka secara individu sejauh informasi yg saya dapatkan, beliau orang yang baik dan sholeh. Hanya saja beliau berafiliasi ke IM saja.

Adapun untuk kritikan thd beliau secara terperinci, maka saya tidak tahu. Karena saya tidak mempunyai data-data dan referensi mengenai beliau untuk menilai. Sehingga Huznudzon kepada beliau adalah langkah yang terbaik yg harus kita ambil. Walloohu A’lam

Kedua,
kenapa Saudi mendukung As-Sisi yang telah berhasil mengkudeta Mursi, dan sekarang berkuasa di Mesir?

Sejauh yang saya tahu, di mesir itu tidak semuanya orang sholeh. Faksi-faksi Liberal dan sekuler juga banyak di sana. Maka setelah terjadi demo besar2an dan penggulingan Husni Mubarok, di mesir muncul banyak faksi yang ingin memenangkan pemilu pasca mundurnya Husni Mubarok.

Singkat cerita, partai Ikhwanul Muslimin menang dan Mursi menjadi Presiden.

Presiden Mursi yang sholeh, tampaknya ingin merombak mesir besar-besaran secara langsung, bukan secara bertahap. Bahkan ingin mengganti konstitusi Mesir, agar Mesir bisa benar2 berfihak kepada Islam.

Tentu saja disini akan langsung timbul pergolakan.

Hal ini sama seperti ibroh perkataan Aisyah, kenapa khomr, zina, dan judi baru diharomkan di fase Madinah, setelah para shahabat terbina dengan baik aqidah dan keimanannya. Dan siap untuk menerima hukum2 syariat yg diturunkan secara bertahap.

Aisyah berkata, jika hukum syariat mengenai khomr, zina dan judi itu langsung diturunkan pada awal2 Islam, maka orang2 akan langsung menolak dan berkata : Saya akan minum khomr selama-lamanya, saya akan judi terus, saya akan biasa berzina. (Au kama Qoola).

Ini karena hal-hal itu sudah menjadi kebiasaan, kebudayaan, dan perilaku sehari-hari. Jadi harus bertahap, dan dibina dulu sedikit demi sedikit.
****

Di mesir yang mengalami westernisasi yg sangat kuat, yang banyak orang sekuler liberal disitu juga, bahkan gerakan femen juga ada di situ seingat saya (gerakan feminis, yg jika demo, yang perempuan sampai bertelanjang dada) Presiden Mursi ingin langsung merubahnya seketika.

Maka tentu muncul banyak gejolak dan perlawanan. Demikian juga militer yg selama puluhan tahun lebih berada di bawah komando Presiden Hosni Mubarok yg terdahulu, tentu masih menyimpan loyalitas kepada Hosni Mubarok.

Militer di bawah As-Sisi secara de facto yang memegang kekuatan, sedangkan Mursi hanya memegang kekuatan de jure bahwa dialah presiden hasil pemenangan pemilu

Gelombang ketidak puasan ini tampaknya dimanfaatkan oleh As-Sisi dengan gerakan militer nya untuk mengkudeta Mursi. Dan akhirnya berhasil.
****
Secara fiqh, yang namanya pemimpin itu adalah siapa yg memegang kekuasaan. baik itu yg diperoleh dengan cara yang benar, ataupun cara yg salah. Termasuk di dalamnya kudeta pemberontakan itu.

Ahli Fiqh menetapkan pemenang pemberontakan itu adalah pemimpin yang sah, dan sebaiknya kita ikuti dan taati dalam hal yang ma’ruf, untuk menghindari madhorot yg lebih besar.

Hal ini sama seperti Daulah Ummayah yang berhasil dikudeta dan dikalahkan oleh Daulah Abbasiyyah. Maka para fuqoha pun membai’at fihak yg menang dan berkuasa, yakni untuk akhoffafud dhororoin (memilih madhorot yg paling ringan).

Dan di masa Daulah Abbasiyyah itu ada Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal; para imam madzhab; yang menetapkan Daulah Abbasiyyah sebagai pemimpin mereka yg wajib ditaati dalam hal yg ma’ruf. Dan “move on” dari Daulah Ummayah yang sudah kalah dan hancur itu.

Mereka tidak pernah membikir makar dan gerakan pemberontakan untuk mengembalikan kekuasaan Dinasti Ummayah
****

Adapun yang terjadi dengan Mursi yang dikudeta oleh As-Sisi, maka Saudi yang saya fahami menerapkan qaidah ini dengan mendukung As-Sisi yang secara de facto mempunyai kekuatan Militer. Ini lebih tepat dibandingkan nanti para masyarakat mesir dibunuhi oleh para Militer mesir itu sendiri.

Dan bahkan langkah ini juga dilakukan oleh Universitas Al- Azhar. Mereka menetapkan As-sisi sebagai pemimpin sah mesir dan hasil pemberontakan kudeta, dan membai’atnya.

Nah disini, terus terang para IM yang sejak awal manhajnya dalam bermuamalah terhadap waliyyul Amri sudah menyimpang dari sunnah, tidak terima akan hal itu.

Mereka masih belum bisa move on dari kenyataan yg pahit itu, yakni setelah mereka berhasil menguasai mesir yg sekian lama mereka idam-idamkan itu.

Mereka tumpahkanlah kekesalan mereka kepada Saudi yang dianggap mengkhianatinya, dan yang sudah sejak lama mereka benci karena gerakan IM itu diberangus di berbagai tempat di wilayah kekuasaan Saudi.

Maka dari itu, momen ini sangat mereka ingat dan juga mereka jadikan salah satu landasan kebencian yang sangat kepada Saudi.

Anehnya, hal itu tidak diberikan kepada Al-Azhar dengan kadar yg sama. IM jauh lebih membenci Saudi dibandingkan kepada Al-Azhar.

Demikian yg saya bisa sedikit jelaskan, walloohu A’lam.

Kira2 sudah memberikan sedikit gambaran dan pemahaman kan akh?

****
Coba antum ketik “femen egypt” di google untuk melihat sendiri betapa rusaknya mesir akibat pengaruh westenisasi…

Lihat juga pergerakan Liberal yang tumbuh subur di Mesir : https://en.wikipedia.org/wiki/Liberalism_in_Egypt

Advertisements