Kita jawab :
1. Atsar bahwa Fathimah selalu berziarah ke makam Hamzah, pamannya, itu dhoif. Bahkan mungkar. Sehingga hal ini tidak bisa dijadikan dalil ataupun landasan dalam melazimkan suatu amalan.

Pembahasan lebih terperinci, lihat penjelasan Ustadz Abul Jauzaa’ (Dony Arif Wibowo) akan hal ini : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/…/atsar-faathimah-berziar…

2. Bahkan salah seorang pendukung amalan ziarah kubur pada hari jum’at, ada juga yang melandaskan kepada atsar sama yang berasal dari Fathimah, namun disandarkan kepada kitab Tafsir Al-Qurthuby.

Akan tetapi sayang sekali atsar tersebut juga lemah. Bahkan Ustadz Abu Hudzaifah, kandidat doktoral ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah sampai berkata “amat sangat lemah sekali, kalau tidak mau dibilang palsu!”

Lihat : https://muslim.or.id/7413-ini-dalilnya-12-bolehkah-ziarah-k…

3. Bahkan ustadz Abu Fawwaz juga sudah pernah mengumpulkan hadits-hadits palsu dan dhoif jiddan (sangat lemah), yang biasa dijadikan argumen untuk melazimkan ziarah kubur pada hari jum’at, dan kemudian membahas masalah kepalsuan dan kelemahan hadits2 tersebut.

Lihat : https://abufawaz.wordpress.com/…/hadits-hadits-palsu-tent…/…

4. Atsar Ibnu Mas’ud mengenai jangka waktu ta’lim agar jangan sering2, hendaklah seminggu sekali. Agar para mustami’ (para pendengar yang mengikuti majlis Ta’lim) tidak bosan. Maka itu tidak ada hubungannya dengan ziarah ke kuburan setiap hari jum’at. Ini adalah qiyas fasid (qiyas yang rusak) atau qiyas ma’al fariq.

Hal ini karena :
a. Ta’lim atau pengajaran itu diberikan kepada orang yang masih hidup agar bisa mendapatkan ilmu, bukan kepada orang yang mati. Tidak ada orang yang mendirikan sekolah atau memberikan pelajaran ilmu kepada orang yang mati.

Sedangkan ziarah kubur itu tujuannya adalah untuk mengunjungi mayyit atau orang yang sudah mati.

b. Atsar Ibnu Mas’ud ada yang disebutkan agar memberikan pengajaran setiap hari jum’at dan ada juga yang disebutkan setiap hari kamis. Karena tujuan Atsar beliau itu adalah agar pengajian atau majlis Ta’lim itu diberikan berkala saja, jangan tiap hari. Mencegah agar manusia tidak menjadi bosan.

Sebab kalau bosan, maka faedah ilmu yang diberikan akan menjadi kurang. Demikianlah juga yang dicontohkan oleh Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud.

Sedangkan hadits2 palsu dan dhoif jiddan (sangat lemah) yang dijadikan argumen ziarah kubur itu, MENETAPKAN HARUS DILAZIMKAN PADA HARI JUM’AT SAJA. Sehingga ini adalah yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

Demikian kiranya penjelasan mengenai hal ini. Walloohu A’lam

Advertisements