Akhlak secara umum dibagi menjadi dua. Yakni akhlak kita terhadap Allah dan akhlak kita terhadap manusia.

Rasulullah ketika berkata “innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq” (sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak).

Maka apakah berarti akhlak orang arab jahiliyyah zaman dulu sebelum rasulullah diutus itu buruk semua?

Al jawab tidak

Orang arab jahiliyyah itu juga mempunyai akhlaq yang baik, seperti memuliakan tamu, menyelesaikan masalah darah dengan diyat, melindungi dengan benar orang yang mereka berikan jaminan, menyukai sifat jujur dan amanah (maka dari itu rasulullah mereka juluki dengan al amin), pemberani, dermawan, dan masih banyak lagi

Akan tetapi walau mereka mempunyai akhlak yang baik terhadap sesama manusia, mereka hanya melakukan hal itu karena kebiasaan dan adat istiadat. Bukan murni karena perintah Allah dan Rasul Nya, dan juga bukan karena buah iman kepada Allah dan Rasul Nya

Disinilah bedanya.

Dan yang perlu untuk digarisbawahi lagi, walau mereka mempunyai akhlak baik terhadap sesama manusia, mereka mempunyai akhlak yang sangat buruk terhadap Allah.

Mereka mempunyai akhlak buruk kepada Allah dengan mensyirikkan Allah; membuat buat syariat sendiri atas nama adat yang diaku aku berasal dari Allah; mengatakan mengenai Allah akan apa apa yang mereka tidak ketahui, atau mengatakan mengenai Allah yang mereka tidak memiliki keterangan wahyu dari Allah mengenai hal itu.

Ini seperti perkataan dan anggapan mereka bahwa malaikat itu adalah anak anak perempuan Allah, berhala berhala itu adalah syarikat syarikat yang Allah bolehkan untuk disembah agar lebih mendekatkan diri kepada Allah (baca: tawassul), adanya jenis hewan hewan yang sudah mencapai syarat tertentu yang harus mendapatkan perlakuan khusus, dan lain lain.

******

Dari penjelasan ini, fahamlah bagi kita maksud dari perkataan bahwa, Rasulullah itu tidaklah diutus melainkan untuk MENYEMPURNAKAN akhlaq.

Ini bukan berarti orang Arab jahiliyyah waktu itu tidak memiliki akhlak yang baik sama sekali. Bukan seperti itu pemahaman nya.

Mereka punya akhlak yang baik, di samping mereka juga punya akhlak yang buruk seperti mengubur bayi perempuan hidup hidup karena dianggap aib. Mereka punya akhlak yang baik, hanya saja perlu untuk diperbaiki landasan pemahaman dan aqidahnya sebagai dasar mereka melakukan akhlak yang baik. Dan yang paling kritis untuk diperbaiki tentu saja akhlak mereka kepada Allah.

Memperbaiki akhlaq kepada Allah itu, tentu saja dengan memperbaiki aqidah agar menjadi benar, dan berikut juga pensucian dari noda noda syirik serta keyakinan yang salah mengenai Allah.

Oleh karena itu jika kita lihat acuan perintah Allah dan Rasul Nya dalam berakhlaq yang baik kepada manusia, selalu dikaitkan dan dihubungkan dengan keimanan kita kepada Allah, keimanan kita kepada Akherat atau hari akhir, dan janji janji Allah akan perlindungan Nya serta pahala yang besar dari Nya.

Misal hadits-hadits atau ayat ayat yang menyebutkan “jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah kamu berkata yang baik atau diam”, “jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah kamu selalu berbuat baik kepada tetangga mu “,” Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar “,” Pahala orang yang sabar itu tanpa batas “, dan lain lain.

*****

Di sini kita memahami kesalahan orang yang menyempitkan pemahaman mengenai akhlak, dengan hanya terbatas kepada masalah muamalah antara manusia saja.

Padahal masalah akhlak, adab, dan muamalah antar sesama manusia itu jika tidak didasarkan kepada mencari keridhoan Allah dan pahala dari Nya, maka itu tidak akan begitu memberikan manfaat bagi akherat kita.

Hal itu tidak lain hanya untuk motif duniawi, sekedar mengikuti kebiasaan dan tradisi, untuk memperbagus hubungan antar manusia saja, berfokus hanya mencari keridhoan manusia saja, agar hati menjadi lapang dan bahagia hidup di dunia karena kebaikan kebaikan akhlak yang kita lakukan; akan tetapi hal itu tidak memberikan manfaat bagi kehidupan yang sebenarnya di Akherat.

Apalagi jika masalah akhlak kepada Allah dikesampingkan demi akhlak kepada sesama manusia, yang mana hal ini dilakukan dengan melanggar perintah Allah dan Rasul Nya.

Di sini semoga kita bisa memahami kesalahan orang yang membatasi pembahasan masalah akhlak itu, hanya terbatas kepada antar sesama manusia saja. Apalagi perkataan sebagian orang, gapapa kafir yang penting tidak korupsi.

Orang yang akhlak nya buruk kepada sesama manusia itu sebenarnya tanda bahwa dia itu memiliki akhlak yang buruk terhadap Allah.

Misal jika seseorang itu korupsi, maka itu berarti dia tidak memiliki akhlak yang baik kepada Allah dengan tidak mau qonaah kepada Allah.

Dia berbuat tidak jujur dan suka menipu, maka itu berarti dia tidak berakhlaq baik kepada Allah dengan tidak menganggap Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala ketidak jujuran dan penipuannya itu. Dan lain lain seterusnya.

Bottomline nya adalah, percuma dia terlihat soleh dan banyak melakukan ibadah kepada Allah seperti sholat, puasa, shodaqoh, umroh, dan haji; jika ternyata akhlak nya kepada Allah buruk.

Percuma walau dia seorang ustadz, ilmunya banyak, sangat mahir bahasa Arab, dan selalu diundang memberikan kajian di sana sini ; jika ternyata akhlak nya kepada Allah itu buruk.

Percuma dia ngakunya sudah ngaji dan faham sunnah, namun jika dia utang sama orang lain, dia selalu kabur dan tidak mau bayar. Dia berakhlaq buruk kepada Allah karena dia tidak takut terhadap ancaman yang berat dari Allah dan Rasul Nya, terhadap orang yang “ngemplang” dan tidak mau membayar hutang nya.

Dan seterusnya.

Semoga mudah untuk dipahami, baarokalloohu fiik.

Walloohu A’lam

Advertisements