Berkaca dari LGBT: Ahlul Hawa, atau Penyembah Hawa Nafsu, Yang Sekarang Berada Di Mana-mana

Leave a comment

Disadari atau tidak disadari, sekarang terdapat gerakan yang Masif, Terstruktur, sistematis, dan DIDANAI;

Usaha pengabsahan pendefinisian ulang KEMUNGKARAN, menurut preferensi yang dikembalikan kepada masing-masing individu, kelompok, dan golongan. (baca : sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan)

Akibatnya, kemungkaran yang dilarang oleh Allah dan Rasul Nya dimarginalkan, dan usaha “NAHI MUNKAR” menjadi ompong dan memble.

Induk dari semua ini adalah : Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, dan Hak Asasi Manusia.

Semua gerakan pendefinisian ulang kemungkaran, termasuk juga LGBT, akan menginduk dan menyusu ke sana.

Allah subhaanahu wa ta’ala sudah memperingatkan kita akan para penyembah hawa nafsu ini dalam firman-Nya,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [Qs. Al Jatsiyah : 23]

*****
Sama seperti kebid’ahan yang mempunyai syubhat syubhat berdasarkan dalil dalil yang disalah gunakan, hawa nafsu yang dipertuhankan pun juga mempunyai syubhat syubhat yang dikemas melalui kedok penjelasan pseudo ilmiah yang menipu dan dalil dalil yang disalah gunakan.

Termasuk juga dalam ini adalah LGBT. Apalagi induknya, yang mana LGBT menyusu disitu, yakni Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, dan Hak Asasi Manusia.

Mereka benar benar mempunyai syubhat syubhat, penjelasan pseudo ilmiah yang menipu, dan dalil dalil yang disalah gunakan.

Maka dari itulah mereka memiliki kondisi yang sama seperti para ahlul bid’ah, yakni mereka merasa benar dan merasa dalil dalil argumen agama mendukung serta membenarkan mereka. Jangan heran!

Oleh karena itulah, Allah berfirman dalam surat Al Jatsiyah ayat 23 itu dengan perkataan  ” وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ ” (Allah menjadikan mereka tersesat di atas ilmu)

*****

Syubhat syubhat mereka haruslah dibantah berdasarkan ilmu juga, agar jelas kebatilan “argumentasi ilmiah” mereka juga.

Inilah jihad yang besar dan berat, yakni jihad argumen dan hujjah ilmu untuk membatalkan pendefinisian ulang kemungkaran mereka yang berdasarkan hawa nafsu, yang dibalut dengan syubhat syubhat, penjelasan pseudo ilmiah yang menipu, dan dalil dalil yang disalah gunakan.

Jika tidak, maka hanya akan mati satu tumbuh seribu. Sama seperti pemikiran terorisme. Walau terorisnya mati, namun selama pemikiran terorisme nya dibiarkan tumbuh subur berkembang, maka akan selalu bermunculan teroris teroris lain yang akan menggantikannya.

Dan ini tidak hanya terbatas kepada pemikiran LGBT. Ini harus termasuk juga induk dimana mereka menyusu, yakni  Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, dan Hak Asasi Manusia.

Harus kita bantah dan terangkan duduk perkara nya.

Harus kita jelaskan bahwa argumen “Susu” atau “Kopi” itu tidak ada manfaat nya kalau sudah dicampur “Sianida” walau sedikit!

Dan jangan salah juga, bahwa kita ini juga penggemar “Susu” dan “Kopi”. Namun kita bukan penggemar “Sianida”.

Semoga jelas dan mudah untuk dipahami.  Baarokallohu Fiik

Advertisements

Masalah Wali Nikah : Buat Jaga-Jaga, Siapa Tau Ada Yang Membutuhkan Penjelasan Mengenai Hal Ini

Leave a comment

Tanya :
Seorang wanita mualaf yang tinggal di negeri kafir hendak menikah dengan seorang muslim.

Orang tua dan kerabatnya masih kafir, dan pemerintah kafir juga sehingga tidak bisa menjadi wali hakim.

Bolehkah seorang muslim atau imam di Islamic Centre, atau di komunitas Islam di negara kafir itu, menjadi wali nikah bagi wanita mualaf itu?

Jawab :
Boleh bagi seorang muslim atau imam di Islamic Centre komunitas muslim di negara kafir itu, untuk menjadi wali nikah bagi wanita mualaf itu.

Dalilnya adalah sahabat Ja’far bin Abi Tholib yang menikah ketika hijrah di negeri Habasyah. Habasyah waktu itu masih negara Kafir. Dan Ja’far tidak pulang dulu ke Makkah atau Madinah untuk menikah (mencari wali hakim bagi sang wanita).

Demikian juga dengan kisah shahabat Dihyah Al Kalbi yang menikah di negeri Ruum.

Walloohu A’lam

[Ringkasan akan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan kepada Ustadz Muhtarom hafidzahulloh, di masjid An Nuur Menara Sudirman – Jakarta, ketika kajian Syarh Riyadhus Sholihin, ba’da dhuhur, 19 Januari 2016]

******
Hal serupa juga yang difatwakan oleh Syaikh Al Munajjid hafidzahulloh, dan Lajnah Daimah.

Syaikh Al Munajjid berkata,
“Jika tidak ada penguasa muslim, maka perwaliannya dapat diserhakan kepada figure yang menjadi rujukan atau memiliki pandangan yang didengar di tengah masyarakat muslim. Misalnya kepala lambaga Islam, imam atau khatib Jumat, mereka dapat melangsungkan akad nikah untuk wanita tersebut.”

Lihat : https://islamqa.info/id/389

Lajnah Daimah berfatwa :
” Seorang wanita ahli kitab dinikahkan oleh bapaknya, jika tidak ada atau ada tapi tidak mau menjadi wali, maka yang menikahkan adalah kerabat ashabah (jalur laki-laki) yang terdekat.

Jika mereka tidak ada atau ada namun tidak mau menjadi walinya, maka yang menikahkan adalah hakim yang muslim jika ada, dan jika tidak ada maka dinikahkan oleh ketua Islamic centre terdekat; karena dalil-dalil syar’i baik dari al Qur’an maupun Sunnah menunjukkan demikian”. (Fatawa Lajnah Daimah: 18/180-181)

Lihat : https://islamqa.info/id/159297

Yang Namanya Khowarij Itu

Leave a comment

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

ومن اتصف بخصلة من خصالهم فهو منهم :

الذي يخرج على ولي الأمر هذا من الخوارج.
الذي يكفر بالكبيرة هذا من الخوارج.
الذي يستحل دماء المسلمين هذا من الخوارج.
الذي يجمع بين الأمور الثلاثة هذا هو أشد أنواع الخوارج.

Barangsiapa mengadopsi salah satu sifat Khawarij tersebut maka ia bagian dari mereka:

1. Siapa yang memberontak kepada pemerintah maka ia termasuk Khawarij.
2. Siapa yang mengkafirkan pelaku dosa besar maka ia termasuk Khawarij.
3. Siapa yang menghalalkan darah kaum muslimin maka ia termasuk Khawarij.
4. Siapa yang mengumpulkan tiga perkara tersebut maka ia termasuk jenis Khawarij yang paling parah.

[Dinukil dari: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/5700]

Copas dari : http://sofyanruray.info/situs-website-dan-media-berpaham-k…/

Penelitian Harvard University Selama 75 Tahun : Pentingnya Silaturahim dan Muamalah yang Baik

Leave a comment

http://blog.mindvalleyacademy.com/p…/harvard-happiness-study

Harvard Studied People For 75 Years & Found That Happiness Comes From One Thing…

👆Hasil penelitian ilmiah dari Harvard University selama 75 tahun, shared at TEDx, memberikan kita pelajaran akan pentingnya silaturahim dan muamalah yang baik (baca : jika diterjemahkan dalam bahasa kita)

Silakan buka link tersebut dan lihat video nya jika berminat.

Saya sendiri cukup terinspirasi akan hasil penelitian tersebut, apalagi jika kita kaitkan dengan pembahasan topik “Birr wa Shilah” yang ada dalam kitab kitab hadits.

Mari Kita Singkirkan Bashar As’ad

Leave a comment

Saudi Foreign Minister Adel al-Jubeir said on Friday the removal of Syrian President Bashar al-Assad was crucial to defeat ISIS.

Speaking at a security conference in Munich, Jubeir said Assad was responsible for the creation of ISIS by turning Syria into a “fertile ground” for its militants, in which the foreign minister described them as “psychopaths.”

He called Assad the “single most effective magnet for extremists and terrorists in the region” and said his removal was crucial for restoring stability.

“That’s our objective and we will achieve it,” he said. “Unless and until there is a change in Syria, Daesh will not be defeated in Syria, period,” he added, using the Arab name for ISIS.

Jubeir made the remarks after holding a bilateral meeting with his Russian counterpart Serge Lavrov

http://english.alarabiya.net/…/Saudi-FM-Objective-is-remova…

—-
Mantappp

Melazimkan Ziarah Kubur Pada Hari Jumat? Apalagi Datang Malam-Malam Ke Kuburan Keramat Sang Wali Untuk Tawassul Tabaruk, Cari Berkah?

Leave a comment

Kita jawab :
1. Atsar bahwa Fathimah selalu berziarah ke makam Hamzah, pamannya, itu dhoif. Bahkan mungkar. Sehingga hal ini tidak bisa dijadikan dalil ataupun landasan dalam melazimkan suatu amalan.

Pembahasan lebih terperinci, lihat penjelasan Ustadz Abul Jauzaa’ (Dony Arif Wibowo) akan hal ini : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/…/atsar-faathimah-berziar…

2. Bahkan salah seorang pendukung amalan ziarah kubur pada hari jum’at, ada juga yang melandaskan kepada atsar sama yang berasal dari Fathimah, namun disandarkan kepada kitab Tafsir Al-Qurthuby.

Akan tetapi sayang sekali atsar tersebut juga lemah. Bahkan Ustadz Abu Hudzaifah, kandidat doktoral ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah sampai berkata “amat sangat lemah sekali, kalau tidak mau dibilang palsu!”

Lihat : https://muslim.or.id/7413-ini-dalilnya-12-bolehkah-ziarah-k…

3. Bahkan ustadz Abu Fawwaz juga sudah pernah mengumpulkan hadits-hadits palsu dan dhoif jiddan (sangat lemah), yang biasa dijadikan argumen untuk melazimkan ziarah kubur pada hari jum’at, dan kemudian membahas masalah kepalsuan dan kelemahan hadits2 tersebut.

Lihat : https://abufawaz.wordpress.com/…/hadits-hadits-palsu-tent…/…

4. Atsar Ibnu Mas’ud mengenai jangka waktu ta’lim agar jangan sering2, hendaklah seminggu sekali. Agar para mustami’ (para pendengar yang mengikuti majlis Ta’lim) tidak bosan. Maka itu tidak ada hubungannya dengan ziarah ke kuburan setiap hari jum’at. Ini adalah qiyas fasid (qiyas yang rusak) atau qiyas ma’al fariq.

Hal ini karena :
a. Ta’lim atau pengajaran itu diberikan kepada orang yang masih hidup agar bisa mendapatkan ilmu, bukan kepada orang yang mati. Tidak ada orang yang mendirikan sekolah atau memberikan pelajaran ilmu kepada orang yang mati.

Sedangkan ziarah kubur itu tujuannya adalah untuk mengunjungi mayyit atau orang yang sudah mati.

b. Atsar Ibnu Mas’ud ada yang disebutkan agar memberikan pengajaran setiap hari jum’at dan ada juga yang disebutkan setiap hari kamis. Karena tujuan Atsar beliau itu adalah agar pengajian atau majlis Ta’lim itu diberikan berkala saja, jangan tiap hari. Mencegah agar manusia tidak menjadi bosan.

Sebab kalau bosan, maka faedah ilmu yang diberikan akan menjadi kurang. Demikianlah juga yang dicontohkan oleh Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud.

Sedangkan hadits2 palsu dan dhoif jiddan (sangat lemah) yang dijadikan argumen ziarah kubur itu, MENETAPKAN HARUS DILAZIMKAN PADA HARI JUM’AT SAJA. Sehingga ini adalah yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

Demikian kiranya penjelasan mengenai hal ini. Walloohu A’lam

Saudi Sambut Dajjal?

Leave a comment

https://youtu.be/Ti48uEBWuKc

👆Membangun Istana, berarti Saudi Sambut Dajjal? Simbol mata di kepolisian Saudi berarti simbol Dajjal? Jawaban ustadz Firanda terhadap konspirasi otak atik gathuk yang dipaksakan karena kedengkian terhadap Saudi

Catatan dari saya : Inilah yang saya lihat dari isi kajian sebagian ustadz Haroki ketika membahas masalah “Tanda-tanda Kiamat” ataupun masalah “Dajjal”.

Older Entries