Pilihlah kata yang tepat di tempat yang tepat

Kalliminnas ala’ qodri uquulihim….berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akal mereka….

Tidak selamanya lafadz: ana, akhy, ukhty antum, tafadlol, afwan…. itu lebih baik…

Dalam kondisi tertentu anda lebih baik berucap: monggo, silakan, saya, mbak, mas, dik, panjenegan, ngapunten…mohon maaf..dst

Lafadz2 di atas terkadang lebih baik dan bahkan lebih mengena untuk orang awam, lebih meresap di dada.

Likulli maqomin maqool…setiap tempat ada perkataan yang cocok untuknya.

Jika ada yang berkata: tapi itu kan bahasa arab akhi, mana yang lebih baik bahasa arab atau bahasa indonesia?

Jawab:

1. Tidak diragukan lagi bahasa arab adalah bahasa yang mulia, bahasa Islam dan al-Qur’an…

tetapi anda berbicara dengan orang yang belum paham bahasa arab….apakah hikmah anda ngajak orang ngomong bahasa tertentu padahal ia bukan ahlinya?

Bahkan seandainya ada tiga orang jawa, yang dua bisa bahasa arab yang satu tidak bisa, maka yang dua ngk boleh berbahsa arab, karena itu dihukumi sperti berbisik sedang di situ ada orang ketiga dan itu hukumnya dilarang.

Jadi masalahnya bukan bahasa arabnya… tapi etika sosial dan sopan santunnya.

2. Yang dimaksud kemuliaan bahasa arab itu secara keseluruhan…bukan sekedar ana, ukhti, akhi, antum, afwan dst.

3. Bukan berarti kalimat akhi, afwan, ukhti, ana, antum itu jelek…bukan begitu maksudnya…sekali lagi tidak demikian maksudnya….tapi nggak harus kita pake lafadz2 seperti itu..tapi lihatlah kondisi jangan sampai dakwah ini terkesan tertutup dengan kalimat2 yang sulit dimengerti oleh orang awam…atau kurang populer di kalangan orang awam

Tapi jika di komunitas tertentu, sudah saling paham, ya ngk papa kita pake lafadz akhi, ukti, ana , antum dst.

Dan dalam komunitas tertentu tsb, jika kita tetap pake lafadz: monggo, saudara, mas, mbak, saya, pnjenengan dst…JUGA TIDAK TERCELA

Wallahu a’lam

By Ust. Fadlan Fahamsyah hafidzahulloh

Advertisements