Jawaban sederhana adalah “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin Naar” itu satu rangkaian kesatuan.

Jika “kullu” itu diartikan “ba’dho” (sebagian), sehingga dimaksudkan hanya sebagian bid’ah saja yg sesat dan sebagian tidak sesat (baca : tidak semua), maka harusnya arti itu harus diteruskan ke kalimat “kullu” yang selanjutnya.

Yakni juga bermakna hanya yang sebagian yang sesat saja yang didalam neraka, dan sebagian kesesatan yang lain itu tidak masuk neraka.

Kenapa? Karena di dalam kalimat itu ada wawu athof yang memberikan faedah hukum yang sama di antara dua kalimat itu. Yakni di kalimat “kullu bid’atin dholalah WA kullu dholalatin fin naar”

Sehingga dibaca : Tidak semua bid’ah itu sesat, dan tidak semua kesesatan itu berada di dalam neraka.

Jadi kesimpulannya, ada kesesatan yang dibolehkan.

Jadi kenapa syi’ah dan liberal yang dijadikan kesesatan yang tidak diperbolehkan? Apa dasarnya? Kenapa dia tidak dijadikan kesesatan yang dibolehkan kan?

Kenapa juga orang yang bilang Syi’ah dan Liberal itu sesat yang tidak diperbolehkan, tidak mau toleransi terhadap orang yang bilang syi’ah dan Liberal itu sesat yang diperbolehkan?

Bukankah itu hanya khilafiah antara kesesatan yang diperbolehkan dan kesesatan yang tidak diperbolehkan?

👆Semoga ini menjawab kenapa ada “sebagian” pendukung bid’ah hasanah itu lembek terhadap syi’ah dan JIL, bahkan justru malah membelanya.

Ya karena itu adalah “kesesatan yang dibolehkan” alias kesesatan hasanah. Bahkan ada juga tidak setuju jika dinamakan sebagai “kesesatan”, mereka lebih suka beretorika dengan mengatakan bahwa ini “Khilafiah” dengan berdasarkan filsafat relativisme mereka

Nasehat Ustadz Firanda hafidzahullah :

https://www.firanda.com/…/93-syubhat-syubhat-para-pendukung…

https://www.firanda.com/…/324-ulama-syafi-iyah-mengingkari-…

Advertisements