Kenapa sih kok kita harus “capek-capek” beribadah dan menyembah Allah?
Kenapa juga kita harus mentaati segala perintah, larangan, dan aturan yang telah Allah tetapkan ?

Sesungguhnya kita “capek-capek” beribadah kepada Allah itu bukan karena Allah butuh sama kita. Allah nggak butuh sama semua ibadah kita. Allah juga nggak butuh semua ketaatan kita.

Andaikata semua manusia sejak awal pertama kali diciptakan hingga yang terakhir sebelum kiamat, semuanya kafir, tidak beribadah kepada Allah, tidak mengenal Allah dan tidak menyembah Allah, durhaka dan selalu bermaksiat kepada Allah, maka itu semua tidaklah mengurangi kerajaan Allah sedikit pun.

Demikian juga sebaliknya.

Andaikata semua manusia sejak awal pertama kali diciptakan hingga yang terakhir sebelum kiamat, semuanya beriman semua. Sholeh-sholeh semua. Ibadahnya sangat hebat dan khusyu’. Ta’at terhadap seluruh perintah dan larangan Allah. Maka itu semua juga tidak akan menambah kekuasaan kerajaan Allah sedikit pun.

Allah sudah memiliki sifat dan nama Maha Mulia (Al ‘Aziiz), Maha Berkuasa (Al Qodiir) dan Maha Terpuji (Al Hamiid) sejak dari awal (Al Awwal) hingga akhirnya (Al aakhir). Inilah nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang kita fahami dari Asmaul Husna (Nama-nama Allah yang sangat indah).

Nama-nama dan sifat-sifat Allah itu tidak ada hubungannya dengan ada atau tidak adanya manusia.

Demikian juga andai ada manusia yang ta’at dan beriman, maka itu tidak akan menambah kemuliaan Allah sedikitpun. Dan sebaliknya juga, jika ada manusia yang durhaka sekalipun, maka itu juga tidak akan mengurangi ke maha muliaan dan ke maha terpujinya Allah sedikitpun.

********
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu.

Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.

Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.

Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan. [Hr. Muslim]

Allah Ta’ala berfirman,

إِن تَكْفُرُواْ أَنتُمْ وَمَن فِي الأَرْضِ جَمِيعاً فَإِنَّ اللّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS: Ibrahim: 8)

*********

Orang yang memahami Allah hanya dengan berdasarkan pemahaman “transaksional”, maka dia berada dalam pemahaman yang menyimpang. Jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa Allah butuh sama kita.

Setelah memahami pemahaman awal yang mendasar ini, sekarang kita kembali ke pertanyaan awal, apa manfaatnya kita beribadah kepada Allah? Apa untungnya kita harus mentaati segala perintah, larangan, dan aturan yang telah Allah tetapkan?

Toh Allah tidak butuh itu semua?….
Ya benar, Allah tidak butuh itu semua. Akan tetapi kita yang butuh itu semua.

*********

Ibarat seorang dokter yang menuliskan resep obat bagi kita, dan kemudian kita bandel tidak mau minum obat itu. Maka apakah dokter itu menjadi tercela karena kita membangkang tidak mau minum resep obat yang telah diberikan? Al jawab, tidak. Kita yang butuh akan obat itu, bukan sang dokternya.

Jika seorang dokter telah memberikan panduan pola hidup sehat, dan kemudian kita tidak mau menurutinya. Bahkan malah merokok dan suka minum makan junk food. Maka apakah dokter itu disalahkan dan menjadi tercela, ketika kita sakit akibat pola hidup kita yang tidak sehat itu? Al jawab, tidak. Kita yang butuh akan pola hidup yang sehat itu.

*********

Demikianlah juga ketika Allah menurunkan wahyu Al Qur’an dengan rahmat dan kasih sayang Nya, dan mengutus Rasulullah untuk menyampaikan dan menjelaskannya dengan hadits-haditsnya.

Yang mana di dalamnya Allah menerangkan mengenai diriNya, bahwa Dialah Rabb pencipta semesta Alam, yang mempunyai sifat-sifat dan nama nama Asmaul Husna yang Maha Terpuji dan Maha Mulia. Bahwa Dialah ilah (Tuhan) satu-satunya yang haq, yang harus manusia sembah dan ibadahi.

Yang mana kita butuh akan ilmu, bukti, dan pemahaman mengenai itu semua. Keotentikan penjelasan-penjelasan yang langsung berasal dari Allah itu; dan yang bukan dari hasil pemikiran, filsafat, atau kreativitas manusia; maka itu semua adalah rahmat Allah yang sangat kita butuhkan.

Tanpanya, maka kita hanya akan memenuhi kebutuhan kita untuk menyembah dan beribadah dengan membikin-bikin “sesembahan-sesembahan” sendiri (dalam arti yang luas), sesuai dengan kreativitas pemikiran, filsafat, dan kemampuan kita untuk “menghubung-hubungkan” sesuatu.

Bahkan orang atheis pun sebenarnya juga melakukan penyembahan dan peribadahan (dalam arti yang luas), karena itu adalah salah satu kebutuhan sifat alami manusia yang tidak bisa dihindari. Hanya saja mereka melakukan penyembahan dan peribadahan dengan cara menuhankan diri sendiri, atau menuhankan hasil pemikiran yang mereka ikuti. “Cogito Ergo Sum” kata mereka, “Saya berpikir, maka saya ada”.

Maka semua yang terkandung di dalam Al Qur’an, dan yang dijelaskan oleh Rasulullah di dalam haditsnya, itu adalah rahmat dan panduan yang menjelaskan dan menyediakan semua kebutuhan kita. Panduan yang menerangkan hakikat dan tujuan hidup kita. Aturan perintah dan larangan yang bermanfaat dan yang sangat kita butuhkan. Bahkan di dalamnya juga terdapat penyembuh bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ
“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44)

********
Manusia itu butuh untuk disayangi oleh orang tuanya, butuh untuk dididik oleh orang tuanya, butuh untuk mengenal siapa orang tuanya, butuh untuk dibimbing, dijelaskan, dan disediakan segala sarana prasarana untuk menunjang kebutuhan hidupnya.

Demikian juga manusia itu butuh untuk disayangi dengan diberikan rahmat oleh Rabb Tuhan penciptanya. Butuh untuk dididik oleh Rabb-nya, butuh untuk mengenal siapa Rabb-nya, butuh untuk dibimbing, dijelaskan, dan disediakan segala sarana prasarana untuk menunjang kebutuhan hidupnya.

Dan Allah telah memberikan itu semua baik kepada orang kafir ataupun orang yang beriman, sesuai dengan namanya “Ar Rahman” yang berarti kasih sayangnya meliputi segala sesuatu. Bahkan termasuk kepada orang kafir juga. Buktinya orang kafir diberikan rizqy juga oleh Allah, dan juga disediakan segala sarana prasarana untuk menunjang kebutuhan hidupnya di dunia.

Dan juga Allah mempunyai nama Ar Rahiim, yang berarti rahmat kasih sayang yang bersifat khusus ditujukan untuk orang-orang yang beriman saja.

Bimbingan, petunjuk, kabar gembira, ancaman, perintah, larangan, kisah dan ibrah, dan semua yang ada di dalam Al Qur’an itu adalah berisi semua hal yang kita butuhkan.

Kita beribadah dan menyembah Allah, maka itu adalah manfaat dan kebutuhan bagi kita. Kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya, maka itu akan memberikan manfaat, pemenuhan kebutuhan, mashlahat, terhidar dari bahaya dam kemadhorotan, dan memberikan kebarokahan bagi diri kita.

Singkat kata, kita butuh untuk semua itu.

*********

Anda merasa galau? Anda merasa tidak tau hidup ini untuk apa? Anda merasa kehilangan tujuan hidup ? Anda merasa butuh panduan hidup? Anda merasa kosong, sepi, hampa, dan tidak disayangi?

Maka itulah kebutuhan anda. Kalau anda butuh, maka anda akan cari. Kalau anda tidak butuh, maka anda tidak akan mempertanyakannya.

Anda boleh “menipu diri” dengan berpura-pura mengabaikannya dan tidak berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan anda. Akan tetapi selama anda mempertanyakannya, maka itulah sebenarnya “kebutuhan” anda.

Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Advertisements