Rokok itu statusnya sama kayak Bid’ah, yakni sama-sama diakui madhorotnya.

Menghukumi perokok itu pun juga sama aplikasi pemahamannya dengan menghukumi orang yang melakukan kebid’ahan, yakni dia dihukumi telah melakukan hal yang berpotensi merusak kesehatannya dan membahayakan jiwanya.

Namun apakah setiap perokok langsung divonis kondisi kesehatannya dengan vonis “Kamu adalah penderita TBC”, “Kamu kena penyakit kronis”, “Kamu akan diambil pita suaramu, sama seperti perokok yang itu”, “Hidupmu paling tidak sampai 5 tahun lagi”, dan vonis-vonis pesakitan lainnya?

Tentu saja jawabnya tidak. Hanya orang yang “ghuluw” yang melakukan hal ini. Demikian juga dengan menilai “kondisi kesehatan” orang yang melakukan kebid’ahan.

Tidak bisa dia langsung kita vonis bahwa dia orang sesat, dia ahlul bid’ah, dia penghuni neraka, dan lain-lain dengan semena-mena, walaupun perbuatannya sesat. Kenapa?

Karena bisa saja dia itu hanya orang yang ikut-ikutan saja, tidak faham duduk perkaranya, ilmunya kurang, dan lain-lain; maka orang yang memiliki udzur seperti ini, tidak bisa langsung divonis “kondisi kesehatannya” sebagai orang yang keluar dari ahlus sunnah dan berubah menjadi Ahlul Bid’ah, walau dia melakukan perbuatan kesesatan karena ketidak fahamannya.

Kalau bahasa fiqhnya, vonisnya itu harus memenuhi tiga hal :
1. Terpenuhi sebab-sebabnya
2. Terpenuhi syarat-syaratnya
3. Dan tidak adanya “penghalang” atau udzurnya.

Jika peringatan pemerintah “Rokok itu membunuhmu” itu benar, maka peringatan rasulullah pun “Tiap-tiap bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan itu tempatnya di neraka” itu pun juga benar.

Hanya saja aplikasi pemahamannya tidak “sedangkal” dan “sekonyol” orang-orang yang menuduh bahwa Ahlus sunnah yang mendakwahkan ilmu itu hobbynya hanya membid’ah-bid’ahkan orang lain, kerjaannya hanya menyesat-nyesatkan orang lain, menuduh bahwa dia menganggap hanya dia yang paling suci sendiri yang masuk surga sedangkan yang lain itu masuk neraka karena melakukan kebid’ahan, dan tuduhan-tuduhan bodoh lainnya. (Baca : Hate Speech).

Maka dari itu kampanye anti rokok itu benar, kita membenci asap rokok yang dikeluarkan oleh para perokok itu pun juga benar, dan kita memberikan peringatan kepada para perokok itu pun juga benar.

Demikian juga ketika kita mendakwahkan sunnah dan anti bid’ah itu juga benar, kita membenci kebid’ahan yang dilakukan oleh saudara kita itu juga benar, dan kita memberikan peringatan, nasehat, ilmu, pemahaman dengan cara yang hikmah kepada kaum muslimin yang melakukan kebid’ahan itu pun juga benar.

Hanya orang bodoh dan pengikut hawa nafsu saja, yang menganggap bahwa orang yang mendakwahkan sunnah, berdiri di atas ilmu, dan berusaha untuk menghapus kebid’ahan itu berarti dia itu orang yang hobbynya hanya membid’ah-bid’ahkan orang lain, kerjaannya hanya menyesat-nyesatkan orang lain, menuduh bahwa dia menganggap hanya dia yang paling suci sendiri yang masuk surga sedangkan yang lain itu masuk neraka karena melakukan kebid’ahan, dan tuduhan-tuduhan “konyol” dan “dangkal” lainnya. (Baca : Hate Speech).

Di dalam shohih Bukhari Muslim, rasulullah mengisahkan bahwa ada orang yang mewasiatkan kepada anak-anaknya agar jika dia mati maka hendaklah dia dibakar hingga menjadi Abu. Lalu Abu itu hendaklah disebar ke laut. Dia berkata bahwa jika melakukan hal itu, maka Allah tidak akan mampu untuk membangkitkannya di hari kiamat kelak.

Keyakinan ini tentu saja adalah keyakinan kufur, dia meragukan rububiyyah Allah, dan dia bisa dihukumi kafir.

Maka pada hari kiamat Allah pun membangkitkannya, dan Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Maka ditanyakanlah kenapa dia melakukan hal itu? Maka dia menjawab bahwa dia melakukan hal itu karena takut kepada Allah. Dia beranggapan bahwa jika dia melakukan hal itu, maka dia bisa bebas dari segala dosa yang dia lakukan dan terbebas dari murka Allah.

Akan udzur yang jujur namun “salah” ini, Allah memaafkannya dan justru malah memasukkannya ke dalam surga.

Dari hadits shohih inilah kita bisa mengambil ilmu mengenai masalah harus terpenuhinya sebab, syarat, dan tidak adanya penghalang (udzur) dalam menvonis “kondisi kesehatan” seseorang.

Dari sinilah juga kita bisa mengambil pemahaman, bahwasanya Ahlus sunnah itu sebenarnya adalah orang yang paling sayang terhadap saudaranya Ahlus sunnah lainnya, yang “tergelincir” ke dalam kebid’ahan. Dia menasehati itu karena “care” dan sayang, bukan karena benci dan dengki.

Yang namanya saudara itu tentu akan selalu berusaha untuk menolong saudaranya yang lain, baik itu diminta ataupun tidak.

Emang ada orang yang dia tidak sadar dia mau ditabrak mobil, harus kita tolong kalau dia sudah minta tolong kepada kita? Yah keburu ketabrak mobil dan tewas donk dia….. Yah minimal luka-luka lah….

Emang ada perokok yang baru boleh kita nasehati dan kampanyekan gerakan anti rokok, jika dia sudah minta tolong sama kita?

Demikianlah juga keadaan masyarakat kita yang memang “cukup mengenaskan” dengan banyak yang merokok. Yang cukup mengenaskan, karena banyak pemahaman dan amalan kebid’ahan dimana-mana…..

Yang cukup mengenaskan, karena banyak orang yang tidak mengenali cara memahami dan menjalankan agama Islam sebagaimana yang diajarkan oleh rasulullah dan para shahabatnya.

Atas hal inilah, maka Ahlus sunnah bangkit dan berdakwah dengan berdasarkan sunnah dan ilmu, untuk memberikan nasehat dan kasih sayang kepada saudaranya Ahlus Sunnah yang lainnya yang terdzolimi……

Cinta itu memang hal yang paling mudah untuk disalah fahami…..

Advertisements